All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
74. Kamu ini kenapa sih?!


__ADS_3

Tadinya El ingin langsung pulang ke rumah kontrakannya. Namun ia urungkan karena ia mengubah haluan ke salah satu Mall di kota X.


Sesaat setelah berada di pusat perbelanjaan itu, ia pun berkeliling untuk menghilangkan rasa bosannya.


Hingga langkah kakinya terhenti di salah satu wahana bermain anak-anak.


Senyumnya langsung mengembang ketika memandangi anak-anak yang tengah asik bermain dengan orang tuanya.


Lama ia berada di tempat itu sebelum akhirnya ia ke salah satu restoran yang ada di tempat itu lalu memesan makanan.


Sesaat kemudian bahunya di tepuk seseorang.


Ia pun menoleh. "Candra?! Sedang apa kamu di sini?" tanyanya.


"Aku lagi temani adik dan ponakanku bermain," jawabnya sembari mengarahkan telunjuknya ke arah adiknya yang sedang menemani anaknya bermain.


El hanya membulatkan mulutnya. "Ooo."


"Kamu ngapain di sini? Sendiri pula."


"Nggak ngapa-ngapain. Hanya berkeliling dan melihat-lihat. Aku bosan, jadi aku ke sini saja." El terkekeh lalu menyedot minumannya.


"Kamu nggak kerja?"


"Kerja, tadi masuk shift pagi. Jadi aku punya waktu untuk berkeliling," jelas El.


"Gitu ya." Candra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Habis ini kamu mau ke mana lagi?" tanya Candra.


"Pulang," jawab El singkat. "Emang kenapa?"


"Nggak apa-apa."


Setelah menghabiskan makanannya, El akhirnya berpamitan. Ia pun meninggalkan Candra yang masih menatapnya.


.


.


.


Setibanya di rumah ...


El langsung mengambil handuk lalu ke kamar mandi. Membersihkan badannya yang sudah terasa lengket dan bau keringat.


Beberapa menit kemudian ...


Ia sudah tampak lebih fresh dan sudah berpakaian apa adanya. Setelah itu, ia pun berbaring dan menatap langit-langit kamarnya.


"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan si bule bastard itu? Tidak di Kota A bahkan bertemu kembali dengannya di sini? Sebenarnya ada urusan apa dia di kota ini? Oh God, takdir apa yang sudah kau buat untukku? Aku membencinya tapi aku juga dapat melihat sisi baik dan lembut dari pria brengsek itu," gumamnya.


Ia memejamkan matanya dan kembali terbayang saat ia mengerjai Kai di Kota A. Ia langsung terbahak lalu membuka matanya.


Namun terdiam ketika mengingat pria itu mengerang kesakitan dan terus memegang perutnya bahkan sampai berkeringat dingin.


"Cih, ngapain juga aku peduli padanya," ucap El lirih.


********


Keesokan harinya pukul 12.30 siang ...


Seperti hari-hari sebelumnya, El sudah rapi dengan seragam kerjanya. Setelah memakai jaket, helm dan tas ranselnya, ia pun menyalakan motornya.


"Mbak Lun, motor baru, ya?" tanya tetangganya.

__ADS_1


El tersenyum. "Nggak, motor lama, Mbak. Waktu aku pindah ke kota ini, aku nggak sempat urus pengirimannya. Jadi kemarin, pas aku libur kuliah aku sekalian urus motor ini di kota A," jelas El.


"Ooo ... wah, boleh dong, sekali-kali aku pinjam," kata tetangganya lagi.


"Boleh kok, Mbak. Dengan senang hati," sahut El dengan seulas senyum. "Oh ya, aku berangkat kerja dulu ya," pamit El.


.


.


.


.


Setibanya di restoran, El memarkir motornya lalu menenteng helmnya masuk ke dalam restoran. Ia menaruh helmnya di atas lokernya lalu ke toilet. Setelah mengganti celananya dengan rok, El kembali ke loker dan kembali beraktivitas seperti biasanya.


Dengan telaten ia merapikan meja dan kursi restoran dan juga menata vas bunga yang terdapat di atas meja. Setelah menyelesaikan pekerjaannya ia kembali bergabung dengan rekan seprofesinya.


"Lun, apa libur kuliahmu masih lama?" tanya Ali.


"Sekitar tiga empat hari lagi, Al. Emang kenapa?"


"Nggak apa-apa." Ali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Menjelang siang, mereka kembali disibukkan dengan aktifitas masing-masing. El yang baru saja kembali mengantar makanan kembali dipanggil oleh temannya.


"Lun, kemari lah. Aku ingin meminta bantuan mu."


El menghampiri temannya. "Bantuan apa?" tanyanya sambil meletakkan nampan.


"Tolong antar box makanan ini ke kantor Mas Candra, tepatnya di Aryatama Group. Kamu pakai motor restoran saja," kata temannya.


Mendengar nama Candra, El langsung memutar bola matanya malas. "Kamu saja, aku masih banyak kerjaan," tolak El malas.


"Lun, please. Sekali ini saja." Temannya memohon.


"Cih, malas banget aku ke sana. Pasti ujung-ujungnya bakal lama. Ngeselin bangat!" gerutunya.


Ia pun melangkah pelan sambil menenteng paper bag itu. Sambil melangkah, ia menghitung langkahnya satu demi satu.


Bruukkk ....


Ia menabrak seseorang lalu berhenti sejenak lalu mendongak.


"Ah, maaf Nyonya,," ucap El sembari membungkukkan badannya.


"Tidak apa-apa. Lain kali kalau jalan jangan menunduk seperti itu ya," kata Madam Glori dengan seulas senyum.


El hanya mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya ke arah parkiran motor. Sesaat kemudian, ia pun mulai memacu motor matic itu menuju kantor Candra.


Karena sempat terjebak macet, ia sedikit terlambat. "Biarin saja dia kelaparan." El menyeringai.


Setibanya di kantor candra, ia menghampiri resepsionis lalu bertanya, "Selamat siang Mbak, saya dari Cecilia Restoran mau mengantarkan makanan pesanan Pak Abichandra Aryatama ke ruangannya."


"Langsung ke arah lift khusus saja, Mbak. Ruangan Pak Abichandra ada di lantai 6.'' Resepsionis mengarahkan telunjuknya ke arah lift khusus.


"Bareng sama aku saja, Mbak," ucap Kai yang baru saja tiba dengan seringai tipis menatap El.


"Cih, lagi-lagi bertemu sama si bule bastard ini. Ada urusan apa dia di kantor ini. Menyebalkan!"


El memutar bola matanya malas lalu cepat-cepat melangkahkan kakinya ke arah lift khusus. Kai ikut melangkah cepat mengejarnya.


Dengan secepat kilat ia menahan pintu lift yang akan tertutup dengan kaki panjangnya. "Sudah dibilang kita bareng saja," kesal Kai.

__ADS_1


El hanya bergeming seolah tak peduli mendengar ucapan yang terdengar kesal dari pria blasteran itu.


Aroma parfum El yang menyeruak memenuhi ruangan sempit itu seketika masuk ke indra penciumannya. "El, aku sangat merindukanmu. Wangi parfum ini selalu mengingatkanku padamu," bisik Kai dengan mata terpejam.


Deg ..


El langsung menoleh ke arah Kai yang masih memejamkan matanya. Namun sedetik kemudian, ia segera hadapkan wajahnya ke depan.


"Bagaimana bisa dia sangat hafal dengan wangi parfum ku?" batin El.


Ting ....


Pintu lift terbuka. El langsung meninggalkan Kai yang masih memejamkan matanya. Ia pun buru-buru mencari ruangan Candra.


"Culun! Kamu gimana sih?! Kenapa nggak mengajakku keluar!" kesal Kai.


"Bukan urusanku," ketus El lalu meninggalkannya.


"El ... tunggu!" panggil Kai tanpa sadar.


Deg ...


Langkah El terhenti namun ia tak menoleh ke belakang. "Apa dia tahu jika aku ini El?" gumamnya dalam hati.


Kai mengerutkan alisnya ketika menatap El yang tiba-tiba berhenti. Namun sedetik kemudian El kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu ruang kerja Candra.


Tok ... tok ... tok ...


Candra langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu lalu mengulas senyum.


"Culun ..." sapanya.


"Candra, ini pesanan makan siangmu." El sempat melirik design gambar yang tergeletak di atas meja sofa. "Oh ya, aku sekalian pamit."


"Baiklah, makasih ya," ucap Candra dan dijawab dengan anggukan oleh El.


El kembali meninggalkan ruangan itu. Saat ia berada di depan pintu, ia kaget karena tangannya di tarik oleh Kai lalu menyandarkannya di tembok lalu mengungkungnya.


"Kamu ini kenapa sih?!!" ucap El dengan kesal.


"Katakan padaku kenapa kamu berhenti ketika aku memanggil nama El? Apa itu kamu? Aku semakin curiga jika kamu ini El yang aku cari dan sedang menjadi orang lain," bisik Kai sambil menatap lekat wajah El.


Dengan susah payah El menelan salivanya. "Lepasin nggak?!! Aku bakal teriak jika kamu nggak lepasin aku!"


Kai menyeringai. "Teriak saja jika kamu ingin teriak. Who cares," tantang Kai dengan santainya.


Seolah tertantang, El ingin berteriak namun dengan cepat Kai langsung membungkamnya dengan ciuman lalu mel*lu*mat bibir tipisnya dengan rakus.


El spontan memukul-mukul dada Kai. Setelah merasa puas, barulah Kai melepas tautan bibirnya lalu memeluknya.


"Katakan yang sejujurnya jika kamu adalah El," bisik Kai dan kembali mencium ceruk lehernya.


El hanya bergeming namun merasa geram. Sedetik kemudian ia kembali mendorong dada pria itu. "Lepaskan aku bastard!"


"Ok." Kai melepasnya dengan seringai penuh arti.


El kembali menatap manik hazelnya lalu turun ke bibirnya. "Jika kamu melakukannya lagi, aku akan menggigit bibirmu itu sampai berdarah.'


"Silakan saja, aku ingin merasakan bagaimana gigitan bibirmu itu," tantang Kai dengan santainya lalu kembali mendekatkan bibirnya.


"Kamu!" geram El.


Ia menahan bibir Kai dengan jarinya kemudian mendorong dadanya. Karena merasa percuma berdebat dengan Kai, akhirnya ia meninggalkannya dengan perasaan geram.

__ADS_1


Sepeninggal El, Kai langsung tersenyum sembari memegang bibirnya sambil menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia membuka pintu ruang kerja Candra.


...----------------...


__ADS_2