All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
82. Orang yang sama tapi berbeda karakter ...


__ADS_3

Pagi harinya ...


"Kai ... Sayang, bangun Nak?" ujar madam Glori sembari mengelus punggung sang putra.


"Eeeeuughhhh ..." Perlahan Kai mengerjab lalu merubah posisinya. "Mama?!"


"Bangun Nak. Kita harus siap-siap ke Kota A," kata Madam Gloria.


"Apa Mama akan langsung berangkat ke Jerman setelah sampai di bandara ke Kota A?" tanya Kai.


"Iya, Nak," jawab madam Glori dengan seulas senyum.


Kai langsung memeluk madam Glori. "Mah, aku akan menyusul," bisik Kai.


Madam Gloria hanya mengangguk pelan. Sedetik kemudian Kai beranjak dari tempat tidur lalu ke kamar mandi.


Sepeninggal Kai, madam Gloria langsung merapikan tempat tidur putranya lalu segera menyiapkan pakaiannya.


.


.


.


Dua jam berlalu ...


Kini keduanya sudah berada di bandara Kota X dan sedang menuju ke arah pesawat yang akan mereka tumpangi.


Sesaat setelah duduk di kursi pesawat, Kai kembali teringat Culun. Sudut bibirnya langsung melukis senyum membayangkan wajah gadis itu.


"Gadis bar-bar itu, berkatnya aku bisa tertidur tanpa harus meminum obat penenang," gumam Kai dalam hatinya.


"Kai, ada apa? Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya sang mama.


"Nggak apa-apa, Mah," jawabnya lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi pesawat.


"Apa kamu sudah bertemu gadis itu?" tanya madam Glori lagi.


"Kemarin malam Mah, sayangnya dia menghilang lagi," jelas Kai. "Tapi mama nggak perlu khawatir, aku masih berusaha mencarinya."


"Kai, mama hanya bisa mendoakanmu. Tolong jangan kecewain mama."


Kai hanya mengangguk pelan lalu menggenggam jemari madam Glori. "Iya, Mah."


.


.


.


.


Daniel yang baru saja masuk ke ruang kerja Tara, langsung terkejut mendapati ruangan itu terlihat sangat berantakan.


"Tara apa-apaan sih! Pantasan saja ponselnya nggak aktif modelnya sudah seperti ini," gerutu Daniel sambil geleng-geleng kepala menatap benda pipih itu yang sudah retak. "Tapi ke mana anak itu? Semalam dia juga nggak ada di apartemennya? Apa dia ke apartemen El?"


Daniel hanya bisa menerka-nerka lalu menghubungi salah satu OB untuk membersihkan ruangan itu.


Ia pun meninggalkan tempat itu. Sesaat setelah berada di dalam mobil, Daniel langsung meninggalkan kantor. Tujuannya kini tentu saja ke apartemen El.


"Pasti Tara ada di sana," gumamnya. "El, sebenarnya ada di mana dirimu? Jika kamu tahu keadaan Tara sekarang, kamu pasti shock."


*******


Setibanya di apartemen El, Daniel hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak ruangan itu masih tampak berantakan.


Ia kembali menghubungi salah satu jasa petugas kebersihan apartemen. Setelah itu ia menaiki tangga menuju kamar utama.


"Sudah kuduga dia pasti di sini," gumam Daniel lalu menghampiri Tara kemudian menepuk punggungnya.


"Tara!"

__ADS_1


"Hmm ..."


"Apa kamu sudah nggak waras, hah! Ini rumah atau tempat pelampiasan emosi? Sudah seminggu lebih ruangan ini masih belum berantakan!" gerutu Daniel sekaligus merasa kesal.


"Biarkan saja apa peduliku?! Lagian yang punya unit ini sudah nggak menempatinya. So, biarkan saja," kata Tara dengan santainya.


Ia pun bangkit dari tempat tidur kemudian memindai sekeliling lalu menghela nafasnya kasar.


"Aku membencinya Daniel. Dia nggak ada bedanya dengan wanita murahan lainya, dia munafik!" ucap Tara.


Daniel mengerutkan keningnya sekaligus merasa cukup terkejut mendengar ucapan Tara.


"Sudahlah, aku sudah malas membicarakannya bahkan mengingatnya. Yang ada aku malah membencinya," lanjut Tara.


Setelah itu ia berlalu begitu saja meninggalkan Daniel. Sedetik kemudian, Daniel ikut menyusul.


Tak lama berselang setelah keduanya duduk di sofa, suara bel pintu terdengar nyaring.


Daniel menghampiri pintu lalu membukanya.


"Mbak ... tolong bersihkan semua ruangan ini," perintah Daniel.


"Baik, Pak," balas petugas kebersihan itu.


"Oh ya Mbak, semua baju dan aksesoris wanita yang ada di walk in closet, silakan di ambil saja semuanya. Soalnya benda itu sudah nggak berguna di sini," timpal Tara dengan nada dingin.


"Baik, Pak."


Setelah itu, Tara beranjak dari tempat duduknya lalu berlalu begitu saja meninggalkan Daniel.


"Kenapa dia tiba-tiba saja bersikap dingin?" gumam Daniel. "Oh ya, Mbak, lakukan saja seperti yang diperintahkan tadi dan ini untuk Mbak,"


Daniel meletakkan beberapa lembar uang kertas di atas meja sofa lalu ikut menyusul Tara.


.


.


.


.


Sambil menunggu pesawat selanjutnya, Kai tampak mengobrol santai dengan madam Glori.


"Kai, maafkan mama, ya." Madam Gloria menggenggam tangan putranya itu. "Bukannya Mama nggak ingin berlama-lama tinggal di sini bersamamu. Mama juga harus mengurus Resort dan butik kita yang ada di Jerman."


"Mama sangat berharap kamu segera membawa calon menantu mama ke sana nantinya."


Madam Gloria mengelus rambut Kai seraya memeluknya. "Kau ... jika papa masih hidup dia pasti akan sangat kecewa padamu," ucap lirih madam Glori disertai dengan jatuhnya dua bulir bening dari kelopak matanya.


"Maafkan aku, Mah," sesal Kai.


"Jangan minta maaf pada mama tapi minta maaflah pada gadis itu. Jika perlu mama yang akan meminta maaf padanya atas semua kesalahan yang telah kamu lakukan padanya."


"Mah ..."


"Nggak apa-apa Nak," bisik madam Glori lalu melepas dekapannya.


Kai menatap lekat wajah sang mama. Mengusap air mata lalu mengecup pipinya. "Sudah waktunya mama berangkat," kata Kai setelah mendengar pengumuman.


Madam Gloria hanya mengangguk. Sebelum meninggalkan Kai, ia mengelus lengan putranya. "Kai, jaga kesehatanmu, Nak. Jangan lupa minum obat seperti yang telah dianjurkan dokter Mike."


"Iya Mah."


Setelah itu, Madam Glori pun meninggalkan Kai. Tak lama kemudian Alex menghampirinya.


"Tuan!" sapanya. "Maaf, saya sedikit telat," sesalnya.


"Tidak apa-apa, Alex. Apa Mona sudah tiba di kantor?" tanya Kai.


"Iya Tuan."

__ADS_1


"Good, kalau begitu kita langsung ke kantor saja," perintah Kai.


"Baik Tuan."


.


.


.


Setibanya di kantor ...


Kai langsung menuju ke ruangan kerja lalu mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya.


Tak lama berselang pintu ruangannya diketuk. Tampak Alex dan Mona menghampirinya setelah membuka pintu.


Kai langsung beranjak dari kursi kerjanya lalu duduk di single sofa.


"Mona, aku punya tugas penting untukmu," cetusnya.


"Tugas apa Tuan?" tanya Mona dengan alis yang saling bertaut.


"Alex ..." Kai menoleh ke arah Alex mengisyaratkan sesuatu.


Alex langsung menggeser sebuah map ke arah Mona.


Mona meraih amplop itu sambil mengerutkan keningnya. "Apa ini?"


"Bukalah lalu baca data dan biodata gadis itu," perintah Kai.


Mona hanya menurut patuh. Ia pun mengeluarkan isi amplop lalu mengamati dengan teliti.


"Ellin Davina? Bukankah gadis ini salah satu mahasiswi paling berpretasi di kampus Kota A? Jika aku nggak salah, dia calon dokter," Kata Mona sembari mengarahkan pandangannya ke arah Kai.


"Hmm ... aku ingin kamu selidiki gadis yang satunya lagi," balas Kai.


"Maksud Tuan ...? Gadis di foto ini?" Mona kembali bertanya lalu menunjukkan foto El yang berambut keriting, berkacamata tebal dan wajah berbintik-bintik coklat. Kontras sangat berbeda dengan foto aslinya.


"Hmm." Kai mengangguk pelan.


"Tuan ... Anda sedang nggak bercanda kan?!" cecar Mona.


"Nggak, aku serius," jawab Kai dengan tegas. "Gadis di foto itu, sekarang tinggal di Kota X dan kuliah di Universitas W Fakultas kedokteran."


"Lalu ..."


"Tugasmu adalah menjadi salah satu mahasiswi di kampus tempatnya kuliah. Aku ingin kamu dekati dia dan menjadi temannya. Pancing dia untuk mengungkap siapa dia sebenarnya," tegas Kai dengan wajah serius. "Entah mengapa aku merasa Ellin Davina dan gadis berambut keriting itu adalah orang yang sama," pungkas Kai.


"Tapi Tuan ..."


"Nggak ada tapi-tapi. Aku sudah mengurus dan mengatur semuanya. Begitu pun dengan tempat tinggal kamu di Kota X. Kamu hanya tinggal masuk dan menjadi mahasiswi di kampus X. Walaupun hanya berpura-pura," jelas Kai.


"Aku tahu kamu pintar memancing emosi seseorang menjadi melow. Tapi kamu harus sabar jika berhadapan dengan gadis itu karena dia sedikit sulit membuka diri."


"Yang harus kamu perhatikan adalah punggungnya. Jika dia memiliki tatto black rose bertangkai panjang hingga ke tulang punggungnya, berarti instingku nggak salah," jelas Kai panjang lebar.


Alex dan Mona saling berpandangan. Keduanya merasa heran dengan sikap sang boss.


"Aku percaya padamu Mona," kata Kai lalu menatap Alex.


"Alex, selama beberapa bulan kedepan, aku akan sangat sibuk harus bolak balik Kota A dan Jerman karena urusan bisnis. Belum lagi aku harus memantau perkembangan proyek rumah sakit yang sedang berjalan di Kota X."


"Semua urusan kantor aku percayakan padamu Alex. Aku berharap kalian berdua nggak mengecewakan aku," pungkas Kai penuh harap.


"Baik, Pak!" ucap keduanya serentak.


"Sekarang kalian boleh keluar," perintah Kai. Mona dan Alex hanya mengangguk lalu meninggalkannya.


Sepeninggal kedua karyawannya itu, Kai beranjak dari tempat duduknya. menghampiri kaca besar ruangannya lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"El and Culun ... orang yang sama tapi berbeda karakter. Instingku mengatakan jika kalian adalah orang yang sama," gumam Kai.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2