All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
47. Konferensi pers ...


__ADS_3

Keesokkan harinya ...


"Sayang, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya momy Arini.


"Iya Mom, Pah. Datanglah ke kantor jam dua belas siang."


Tara kembali menghela nafasnya lalu meraih surat pengunduran dirinya yang akan ia serahkan kepada Kai.


"Nanti aku akan menghubungi Momy dan Papa lagi."


Pak Mulia dan Bu Arini hanya mengangguk sekaligus merasa heran dengan sikap sang putra yang tidak seperti biasanya. Hari ini dia tampak serius dan benar-benar menunjukkan sikap seorang pemimpin.


"Ya sudah, apapun keputusanmu, kami turut senang dan bangga padamu," kata Pak Mulia lalu memeluk Putra semata wayangnya itu sambil menepuk punggungnya.


Setelah itu, Tara meninggalkan kedua orang tuanya di hunian mewah itu.


Di sepanjang perjalanan menuju kantor, Tara terus memikirkan El dan sesekali mengusap wajahnya kasar.


"El, kamu di mana? Kenapa kamu tega meninggalkan aku tanpa pamit? Bagaimana keadaanmu sekarang? Kamu tinggal di mana dan kuliah mu nanti bagaimana?" Tara terus bertanya-tanya dan terlihat sangat khawatir memikirkan gadis itu


Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Ia pun menoleh ke arah benda pipih itu.


"Daniel?" lirihnya.


"Ya Dan, gimana? Apa kamu sudah mendapat informasi?"


"Ya, hanya ada satu nomer yang El hubungi. Layanan pemesanan tiket di salah satu bandara. Aku sudah hubungi nomer itu dan bertanya, apakah pemesan tiket namanya ada di manifest penerbangan atau tidak. Aku juga bertanya nama lengkap El, tapi pegawainya bilang gak ada nama penumpang yang bernama Ellin Davina," jelas Daniel.


Lagi-lagi Tara menghela nafasnya kasar sekaligus kecewa.


"Tara, apa kamu masih di sana? Kamu tahu kan, El itu wanita smart, sepertinya dia menggunakan identitas palsu. Oh ya nomor ponselnya masih nggak aktif. Sepertinya dia sudah mengganti nomor ponselnya."


"Ya, aku juga berpikir seperti itu. Untuk sementara biarkan saja dulu. Aku ingin menyelesaikan masalahku dulu dengan Kai. Setelah aku merasa cukup tenang. Aku akan memikirkan cara dan rencana selanjutnya."

__ADS_1


"Baiklah, apapun itu aku tetap mendukungmu."


Setelah itu Tara memutuskan panggilan telfon.


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya Tara tiba juga di kantor Kai. Setelah memastikan ia dalam kondisi baik-baik saja barulah ia melangkah masuk ke arah pintu otomatis.


Saat berada di dalam lift, kedua tangannya terus terkepal menahan emosi dan amarah hanya karena membayangkan wajah boss-nya itu.


Begitu pintu lift terbuka, tanpa basa-basi Tara melangkah keluar lalu menghampiri pintu ruang kerja Kai.


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia langsung membuka pintu lalu menghampiri meja kerja Kai lalu meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja bakal ex bosnya itu.


Kai hanya mengerutkan keningnya sekaligus bingung. Sedetik kemudian ia meraih surat itu lalu membacanya.


"Apa kamu serius?" tanyanya.


"Menurutmu?!"


Kai meremas surat pengunduran dirinya itu lalu membuangnya ke dalam tong sampah.


Mendengar ucapan Kai, Tara langsung mencengkeram jas pria blasteran itu seraya menatapnya dengan tatapan menghunus.


"Whatever, kamu terima atau tidak, i don't care. Asal kamu tahu saja perusahaanmu ini tidak ada apa-apanya dengan Perusahaan B.A.M dan sebentar lagi aku akan bekerja di sana," jelasnya seolah mengejek.


Kai langsung mendorongnya dengan perasaan geram bercampur kesal mendengar ucapannya.


Melihat wajah kesal sahabatnya itu, Tara tersenyum sinis. Karena sudah tidak bisa menahan emosinya yang sejak kemarin dipendamnya, ia langsung memberikan satu bogem mentah ke wajah Kai. Merasa belum puas ia kembali meninjunya bertubi-tubi.


Kai yang tidak ingin kalah ikut membalas pukulan darinya. Seketika itu juga ruangan itu menjadi arena adu jotos mereka berdua. Setelah merasa puas menghajar Kai, barulah ia berhenti lalu melepasnya.


"Dengarkan aku baik-baik pria brengsek!! Pria bajingan sepertimu memang pantas di berikan pelajaran seperti itu bahkan bagiku itu belum cukup. Rasa sakit akibat pukulanku yang kamu rasakan saat ini, belum ada apa-apanya dengan rasa sakit dan luka yang telah kamu torehkan di hati El. Aku sudah peringatkan kepadamu sedikit saja kamu menyentuh dan menyakitinya maka aku tidak akan segan-segan membalasmu," geramnya.


Mendengar ucapan Tara, Kai berdiri lalu mengusap bibir dan hidungnya yang mengeluarkan darah lalu tersenyum sinis.

__ADS_1


"I don't care, Tara, yang jelas El akan segera menjadi milikku. Apa kamu ingin tahu, hmm? Aku sudah menanam benihku di rahimnya. Akan aku pastikan sebulan dari sekarang gadis itu akan kembali dan meminta pertanggung jawaban dariku. Jika sudah seperti itu kamu mau apa?" ucap Kai penuh percaya diri.


Lagi-lagi Tara mendaratkan bogem mentah ke wajah pria blasteran itu karena merasa jengkel mendengar ucapannya.


"Jangan mimpi kamu! El nggak akan pernah menginjakkan kakinya lagi ke tempat laknat ini. Jika pun iya, aku ingin dengar sendiri kabar baik itu dari mulutmu, jika El datang dan meminta tanggungjawab darimu," balasnya sambil tersenyum mengejek.


Setelah selesai berucap, Tara merapikan jasnya lalu meninggalkan ruangan itu yang terlihat berantakan.


Kai hanya terdiam lalu mengusap bibir dan hidungnya yang masih mengeluarkan darah.


******


Siang harinya, seperti yang sudah direncanakan, terlihat semua wartawan yang sejak tadi sudah menunggu, merasa sudah tidak sabaran ingin meliput.


Setelah menunggu sejak pagi, akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu pun menampakkan batang hidungnya.


Pak Mulia, Bu Arini, Tara, dan Daniel pun duduk di tempat yang sudah disiapkan untuk melakukan konferensi pers.


Setelah itu Pak Mulia berdiri dan memberi sedikit kata-kata sambutan serta berterima kasih kepada semua wartawan dan awak media yang sudah mau bersabar menunggunya.


"Baiklah hari ini, saya akan memperkenalkan putra semata wayang saya sekaligus menjawab semua rasa penasaran rekan-rekan wartawan sekalian, siapa sebenarnya sosok anak kami yang sebenarnya."


Pak Mulia menatap Tara lalu memintanya berdiri untuk memperkenalkan dirinya di depan awak media.


"Sosoknya ada di sebelah saya, dia juga sekaligus pemilik dan pemimpin di Perusahaan B.A.M tempat di mana kalian berada sekarang. B.A.M sendiri adalah inisial dari nama Putra saya yaitu Bima Argantara Mulia," jelas Pak Mulia.


Semua karyawan yang ikut menyaksikan live konferensi pers itu langsung heboh. Bukan cuman karyawannya saja tapi publik juga termasuk Kai, teman-teman El yang pernah menjadi partner kerjanya di club' malam termasuk Mike, dan Lois.


Setelah selesai melakukan konferensi pers, Tara dan orang tuanya langsung meninggalkan tempat itu.


Jauh dari tempat Tara berada, ada sosok El yang terlihat mengulas senyum menatap wajah pria yang di cintainya itu lewat monitor laptopnya.


"Tara, akhirnya kamu memperkenalkan siapa dirimu di hadapan publik. Aku hanya bisa berdoa semoga kamu tetap menjadi pria yang rendah hati," lirihnya lalu menyeka air matanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2