
Setibanya di kediaman mama Glori. El tampak tercengang menatap rumah mewah khas Eropa itu.
Kagum sekaligus merasa minder. Apalagi ia merasa dirinya seperti tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga Kai yang notabene berasal dari keluarga berada.
"Sayang," tegur Kai. "Ada apa?"
"Nggak apa-apa. Aku merasa nggak pantas saja menjadi bagian dari keluargamu," ucap El lirih.
"Apanya yang nggak pantas. Aku memilihmu itu berarti kamu pantas menjadi bagian dari keluarga Abraham," bisik Kai.
El menatap manik hazel Kai. Bagaikan mimpi karena sebentar lagi ia akan menjadi istri dari seorang Kai Intezar Abraham. Pria yang awalnya begitu dibencinya.
Seketika matanya meneteskan air mata.
"Sayang, jangan menangis. Apa kamu nggak bahagia kita akan menikah? Apa kamu nggak bahagia akan menjadi istriku? Menghabiskan waktumu bersamaku serta anak-anak kita nantinya?" bisik Kai lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Ehem ... ehem ..."
Suara deheman Damian seketika membuat Kai dan El menoleh sekaligus mengurai pelukan keduanya.
"Apa sih, Damian. Ganggu saja," kesal Kai.
Damian hanya terkekeh mendengar ucapan sepupunya itu.
"Kai, El ... aku punya ide," usulnya.
"Apa?" tanya El.
"Bagaimana jika malam ini kita ke bar bareng-bareng. Sekalian ajak Lois dan Mike," usulnya lagi.
"Damian, nggak malam ini. Kami masih capek," sanggah Kai sekaligus menolak ajakan Damian.
"Ok, nggak apa-apa. Ya sudah, aku pulang dulu," pamit Damian.
"Ngapain pulang nginap di sini saja. Lagian di rumahmu nggak ada yang nungguin. Yang ada hanya bantal guling," ledek Kai lalu tertawa.
"Ck ... apaan sih?!" kesal Damian sambil menggelengkan kepala.
"Oh ya. Sayang, sebaiknya kita jodohin saja Lois dengan Damian. Lagian dia sudah lama menduda," cetus Kai sambil menatap sepupunya itu.
"What!" El ikut menatap Damian.
"Ck ... aku pulang," pamit Damian lalu membuka pintu mobilnya.
"Ngapain buru-buru," goda Kai lalu tertawa.
*******
Satu jam kemudian ...
Mama Glori tampak mengajak El dan Lois ke kamar tamu.
__ADS_1
Jauh dalam sudut hati Lois, ia mengagumi sosok wanita paruh baya itu. Tampak jelas jika calon mertua El itu sangat menyayanginya.
Sosoknya yang hangat, ramah serta tidak membeda-bedakan status, membuatnya
ingin memiliki mertua seperti mama Glori.
"Sayang ... Lois ... istirahatlah, Nak," seru mama Glori sesaat setelah mereka berada di dalam kamar.
"Iya, Mah."
"Iya, Tante."
Setelah itu mama Glori meninggalkan keduanya di kamar itu. Sementara Kai dan Mike berada di mini bar sambil berbincang-bincang.
"Mike, aku merasa kondisi kesehatanku semakin menurun. Semalam aku merasakan nyeri sekaligus mual," aku Kai.
"Apa kamu rutin meminum obat yang aku resepkan?" tanya Mike.
"Ya." Kai terdiam sejenak membayangkan wajah El.
"Kai, kemungkinan terburuk kamu harus di operasi. Maksudku dengan transplantasi hati. Tapi kita harus mencari pendonor terlebih dulu," jelas Mike sambil menatapnya.
Kai bergeming, tanpa terasa air matanya lolos begitu saja. Lagi-lagi wajah El bermain di benaknya.
"Kai, bertahanlah demi El. Aku yakin kamu bisa melewati masa-masa sulitmu." Mike menyemangatinya.
"Thanks, Mike. Tolong tetap rahasiakan ini dari El. Aku nggak mau dia khawatir," ucap Kai dengan lirih.
"Baiklah. Tapi aku nggak bisa menjamin. Kamu tahu kan, El itu calon dokter. Diagnosisnya selalu tepat," pungkas Mike.
"Kai, sebaiknya kita istirahat," cetus Mike dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Kai.
Keduanya sama-sama melangkah ke arah kamar yang berbeda. Sebelum masuk ke kamarnya, Kai terlebih dulu berhenti di depan kamar El dan Lois.
Membuka pintu sembari menatap gadis itu yang terlihat sudah tertidur. Ia mengulas senyum lalu kembali menutup pintu. Melanjutkan langkahnya ke arah kamarnya.
.
.
.
.
Keesokan harinya ...
Ketika yang lain sudah bangun, El masih betah memejamkan matanya.
Bukan tanpa alasan, sebelumnya ia belum pernah melakukan perjalanan jauh seperti kemarin.
Berbeda halnya dengan Mike, Lois, juga Kai yang sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh.
__ADS_1
Ketika mereka akan sarapan, mama Glori mencari keberadaan calon menantunya itu.
"Loh, El mana?" tanya mama Glori.
"Masih tidur Tante, sepertinya dia benar-benar kecapean," jawab Lois lalu terkekeh.
Mama Glori tersenyum. "Ya sudah, kita sarapan saja dulu," usul mama Glori.
"Biar aku melihatnya dulu," kata Kai.
Mama Glori hanya mengangguk. Setelah itu mereka kembali melanjutkan sarapan.
Sesaat setelah berada di dalam kamar, Kai langsung tersenyum.
"Apa kamu merasa jauh lebih segar sekarang?" tanya Kai seraya menghampiri El.
"Ya tapi kepalaku masih sakit," jawab El. "Sayang, apa kamu nggak lelah, hampir dua minggu sekali kamu harus bolak balik dari sini ke kota A lalu lanjut lagi ke kota X?"
"Nggak sayang. Aku sudah terbiasa. Kamu juga akan terbiasa nantinya," jawab Kai.
"Aku nggak akan sanggup," balas El. "Sayang, aku masih penasaran dengan Damian."
Alis Kai terangkat lalu menatapnya lekat. "Kenapa? Apa karena dia duda?" tanya Kai.
"Hmm."
"Sayang, tiga tahun yang lalu istrinya meninggal karena pendarahan setelah melahirkan. Bahkan putrinya juga nggak bisa diselamatkan. Sejak saat itu, Damian masih betah menyendiri," jelas Kai.
"Oh God, kasian banget," ucap El setengah berbisik.
"Cepat kenakan pakaianmu. Apa kamu nggak takut aku memakanmu? Kebetulan aku belum sarapan," goda Kai
"Ya sudah, kamu keluar gih?" usir El lalu mendorongnya hingga ke depan pintu.
*********
Setelah selesai sarapan mereka tampak berkumpul di ruang tamu sekaligus membahas rencana pernikahan El dan Kai.
"Sayang ... tiga hari lagi kalian akan menikah, mama sudah menyiapkan beberapa gaun serta setelan jas untuk kalian," kata mama Glori.
"Mah, aku pengen gaunnya yang simple saja nggak berlebihan. Lagian wedding party-nya hanya kita dan keluarga dekat saja kan yang hadir?" tutur El.
"Iya, Sayang. Mama hanya mengundang keluarga dekat dan beberapa teman bisnis mama saja. Mama ingin tahu seperti apa konsep pernikahan yang kalian inginkan?" tanya mama Glori.
"Aku ikut El saja, Mah." Kai meliriknya lalu menggenggam tangannya.
"Aku ingin konsepnya outdoor dengan tema bunga, Mah," cetus El.
"Baiklah ... besok kita ke butik dulu. Mama juga sudah menyiapkan gaun dan setelan jas untuk Lois dan Mike," kata mama lalu tersenyum.
"Wah, makasih ya, Tante," ucap Lois sembringah.
__ADS_1
Mama Glori mengangguk kemudian menatap El. "Sayang, terima kasih sudah mau memaafkan putra mama juga mau menerimanya menjadi pendamping hidupmu. Mama ikut berbahagia untuk kalian. Jika saja papa masih hidup dia pasti ikut bahagia," ucap lirih mama Glori.
...----------------...