
Siang harinya, sebelum menemui Vira di salah satu pusat perbelanjaan, terlebih dulu El memesan makanan untuk suaminya.
Sambil menunggu Kai selesai meeting, El tampak berdiri di depan kaca besar ruang kerja suaminya.
"Perusahaan sebesar ini, mampu di kendalikan olehnya, walau dari jarak jauh? Sayang, aku salut padamu. Termasuk asisten pilihanmu," gumam El lalu tersenyum tipis.
"Apa anak-anak kita juga akan sehebat dirimu? Entahlah. Jika sifat mereka lebih dominan denganku, itu artinya mereka memiliki jiwa bebas, suka dunia otomotif dan bidang kesehatan. Tapi jika sepertimu, mereka akan sangat menyukai dunia bisnis," lanjut El lagi.
"Mikirin apa?" bisik Kai tiba-tiba sambil memeluknya dari belakang.
"Kapan kamu masuk? Kok aku nggak dengar kamu buka pintu," cecarnya.
"Itu karena kamu asik melamun," jawab Kai.
El berbalik dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya sembari mengelusnya.
"Aku hanya berpikir, jika anak-anak kita memiliki sifat seperti mu, mereka pasti sangat menyukai dunia bisnis. Tapi jika seperti aku mereka ..."
Ucapannya terpotong karena Kai langsung menyela.
"Akan bar-bar sepertimu," ledek Kai lalu tertawa.
"Iiiiihhhh .... Sayang!! Nggak begitu juga," protes El.
"Lalu."
"Mereka pasti menyukai dunia otomotif dan kesehatan," imbuhnya.
"Nggak masalah Sayang. Sebagai orang tua kita harus tetap mendukung mereka nantinya," bisik kau lalu mengecup kening istrinya.
Tok ... tok ... tok ...
El mendongak lalu berbisik, "Itu pasti kurir. Aku yang memesankan makanan untukmu."
"Thanks, Sayang," ucapnya lalu melepas pelukannya kemudian menghampiri pintu lalu membukanya.
Setelah meraih paper bag makanan, Kai menoleh ke arah istrinya mengisyaratkan jika ia tidak memiliki uang cash.
El hanya terkekeh merasa gemas lalu meraih dompet dari dalam tasnya. Setelah itu ia menghampiri kurir lalu menyerahkan sejumlah uang.
"Ini kebanyakan, Nyonya," kata sang kurir.
"Nggak apa-apa, anggap saja itu rezeki buat kamu."
"Terima kasih, Nyonya." El hanya mengangguk lalu tersenyum padanya.
"Sayang, aku berangkat sekarang ya," izinnya.
"Baiklah, biar Alex yang mengantarmu ke Mall itu," kata Kai.
.
.
.
Setibanya di parkiran Mall ...
"Thanks ya, Lex."
"Sama-sama Nona El."
Setelah keluar dari mobil, El melangkah pelan menuju mall itu lalu mencari keberadaan Vira di lantai tiga mall. Tepatnya di toko perlengkapan bayi dan baju anak-anak.
__ADS_1
Setelah melewati beberapa toko, akhirnya ia bertemu juga dengan gadis itu yang terlihat sangat antusias memilih baju anak-anak.
"Vir!! Woahhh ... kamu kelihatannya antusias banget sih? Persiapan ya?" canda El.
"Yaaa ... begitulah," celetuknya lalu mengelus gemas perut El yang sudah terlihat membuncit. "Anyway El, semakin hari kamu semakin cantik saja sih. Gemes banget lihat kamu sekarang yang terlihat chubby," aku Vira.
Keduanya terkekeh sambil memilah baju untuk baby Bara. "Vir, lihat deh. Jas ini imut banget. Aku ingin baby Bara mengenakan jas ini saat ultah pertamanya nanti," kata El.
"Hmm ... benar juga. Warnanya juga bagus abu-abu lagi," timpal Vira.
El meraih jas itu lalu mencari sepatu yang cocok, tak lupa ia membeli beberapa pasang baju untuk baby Bara.
"El."
"Hmm."
"Seminggu lagi aku dan Daniel akan menikah. Maaf aku baru memberitahumu. Abisnya kamu sibuk terus," jelas Vira.
"Really?" pekik El. "Congratulation my Dear," ucap El lalu memeluk temannya itu.
"Yes El. Resepsinya akan diadakan di salah satu hotel bintang lima milik Kai. Undangan bakal di sebar mulai besok," jelas Vira.
"Sekali lagi, selamat ya, Vir. Aku ikut bahagia mendengarnya," ucap El dengan tulus.
"Terima kasih El. Ya sudah, ayo kita ke kasir," ajaknya sambil membawa belanjaannya.
Setelah melakukan transaksi pembayaran, keduanya bergegas meninggalkan toko itu. Vira dan El kembali melanjutkan perjalanan ke kediaman Dian.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, Vira dan El akhirnya tiba juga di kediaman Dian. El mengulas senyum menatap rumah mewah berlantai dua itu.
"Hmm, simple but luxurious," gumam El.
"El ... yuk," ajak Vira
Ting tong ... ting tong ...
Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh asisten rumah tangga Dian.
"Maaf, kami temannya Nyonya Tara. Apa dia ada di rumah?" tanya El dengan ramah lalu tersenyum.
Bukannya menjawab, ART itu malah menatap kagum pada El.
"Bi, siapa?!" tanya Dian dari dalam rumah.
Seketika ART itu tersadar. "Teman Nyonya," jawabnya.
Tanpa menunggu lama Dian langsung keluar. Seketika matanya berkaca-kaca menatap El dan langsung memeluknya.
"Kenapa kamu baru datang? Ini sudah sebulan berlalu sejak terakhir aku melahirkan," bisiknya dengan suara tercekat.
"Maaf, aku sibuk di kampus. Apalagi aku menambah mata kuliah. Aku ingin segera menyelesaikan kuliahku," jelas El seraya mengelus punggung Dian.
"Dian, apa kamu tidak ingin mengajak tamu mu masuk ke rumahmu?" tegur Vira.
"Eh ... iya ... maaf Vira, soalnya kami baru bertemu lagi sejak terakhir El berada di kota ini tiga bulan yang lalu," jelas Dian lalu mengajak Vira dan El ke ruang tamu.
"Dian, aku bawakan hadiah buat baby Bara," kata El lalu memberikan Dian paper bag yang di bawanya.
"Aku juga," timpal Vira lalu terkekeh.
"Terima kasih," ucap Dian. "Boleh aku unboxing El?"
"Sure," jawab El.
__ADS_1
Dian mengeluarkan isi paper bag dari El. "Ya ampun El. Lucu banget," gemes Dian ketika membuka box baju berisi jas bayi.
"Dian, saat baby Bara ultah yang pertama, pakaikan ya," pinta El.
"Pastinya," imbuh Dian.
"Aku ingin bertemu dengannya," pinta El.
"Yuk, kita ke kamarnya," ajak Dian sambil membawa paper bag dari El dan Vira.
Sesaat setelah berada di kamar baby Bara, El langsung tersenyum menatap bayi mungil itu.
"Gemes banget," gumamnya. Tanpa permisi ia menggendong bayi mungil itu lalu menciumi pipinya bertubi-tubi.
Dian dan Vira hanya terkekeh menatapnya.
"Sayang ... kamu tampan banget sih? Mirip banget sama papa Tara," kata El.
"Ya iyalah, yang cetak kan Tara, jadi miriplah," timpal Vira.
El terkekeh dan kembali menatap baby Bara dan terus mengajaknya bicara meski bayi itu belum mengerti apa-apa.
"El, turun yuk," ajak Dian dan Vira.
"Aku masih ingin di sini dengan baby Bara," tolak El sambil menepuk-nepuk bokong bayi mungil itu.
"Aku pengen tidur bareng sebentar dengannya," cetus El.
"Ya sudah, kami tinggal dulu ya," kata Dian.
El hanya mengangguk. Sepeninggal Dian dan Vira, El meletakkan baby Bara di atas ranjang lalu ikut berbaring sambil memainkan jemari mungilnya.
"Sayang ... mau ya jadi teman triplets nanti. Aunty sudah nggak sabar ingin melihat kalian tumbuh besar bersama dan menjadi sahabat baik tanpa ada rasa dendam," lirih El lalu mengecup pipi baby Bara.
"Aunty berharap kamu jangan seperti uncle Kai. Gara-gara obsesi pada wanita yang sama, persahabatannya dengan papamu hancur." El seolah mencurahkan isi hatinya dan sesekali mencium jemari mungil bayi tampan itu.
Tiga puluh menit kemudian, setelah baby Bara kembali tertidur, perlahan El ikut memejamkan matanya.
Sedangkan Dian dan Vira berada di dapur membuat sesuatu untuk di makan.
Satu jam berlalu tepatnya pukul 14.00, terdengar suara Tara dan Daniel menyapa keduanya yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga.
"Dian ..."
"Vira ..."
"Kalian sudah pulang?" sahut Dian.
"Dan, kok kamu tahu aku ada di sini?" tanya Vira.
"Siapa bilang?" dalihnya lalu duduk disamping sang calon istri.
"Oh ya, kalian lanjut saja, aku ke atas dulu ganti baju," pamit Tara dan Dian hanya mengangguk.
Sesaat setelah berada di dalam kamarnya, ia langsung melepas pakaian kantornya dan menggantinya dengan celana rumahan, tanpa mengenakan baju seperti biasanya.
"Sebaiknya aku ke kamar Bara dulu," desisnya sambil membayangkan wajah mungil putranya itu.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ