All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
39. Siapa yang mengirim kalian ...?


__ADS_3

"Perasaan ku kok, jadi nggak enak gini ya," gumamnya. "Sepertinya ada yang mengawasi ku." Ia melangkah menghampiri motornya.


Dan benar saja, saat ia ingin memakai helmnya, tiba-tiba ia diserang dari belakang namun dengan sigap ia menghindar.


Prok ... prok ... prok ...


Ia bertepuk tangan dengan senyum sinis setelah tahu siapa yang menyerangnya. Ia menatap pria yang sedang berdiri berhadapan dengannya.


"Ho ... ho ... dua pria pecundang. Beraninya hanya dengan seorang wanita. Mirisnya dua lawan satu," kata El lalu meletakkan helmnya.


Mendengar ucapan El yang seolah meremehkan. Keduanya merasa geram. Tampak salah satunya mengeluarkan pisau.


Tanpa aba-aba pria itu menyerangnya. Namun dengan sigap El menghindar dan menangkap tangan pria itu lalu memutar dan menendang pria satunya lagi.


Merasa belum puas, ia terus diserang. Karena tak ingin buang-buang tenaga, ia cukup menendang dan memukul bagian titik lemah musuh tepat mengenai hati dan kaki. Keduanya langsung tersungkur.


''Aaarrrrrgggghhhh .... Aaarrrrrgggghhh." Suara erangan kesakitan keduanya seketika menggema di area parkiran itu.


Dengan santainya El memungut pisau milik pria itu dengan sorot mata tajam, senyum yang menyiratkan arti lalu menghampiri keduanya.


Ia berjongkok lalu memainkan pisau itu secara bergantian di wajah pria itu. Bahkan seolah-olah ia ingin mencungkil biji mata keduanya.


"Siapa kalian, hmm ... siapa yang membayar kalian untuk mencelakaiku, hah!" geramnya. "Jawab!!!" bentaknya lagi sambil menekan ujung pisau di wajah mereka dengan tatapan membunuh.


Keduanya bergeming yang terdengar hanyalah ringisan kesakitan dan ketakutan saat ia mulai menyayat wajah mereka .


"Jangan biarkan naluri psikopatku muncul secara alami. Aku bahkan tak segan-segan melukai dan membunuh kalian berdua tanpa ampun," desisnya lalu kembali menyayat wajah keduanya bergantian sambil tertawa ala psikopat.


"Aaarrrrrgggghhhh .... Aaarrrrrgggghhhh ...."


Lagi-lagi suara teriakkan, erangan kesakitan keduanya menggema. Mereka semakin ketakutan saat El semakin menekan pisau itu di wajah mereka bergantian. Gadis itu terus tertawa mendengar erangan kesakitan keduanya dan seakan menikmati perbuatannya ketika darah segar mulai mengalir dari wajah kedua pria itu.


Setelah merasa puas, ia merogoh paksa kantong celana pria itu lalu menyuruhnya menelfon orang yang mengirim mereka.


"Sekarang sebutkan nama kontak orang yang mengirim kalian untuk mencelakaiku!!" geramnya.


"Mmm-mmbak Ta-Tasya," ucapnya dengan suara bergetar dan terbata.


Saat El sedang mencari nama kontak itu, Seseorang memanggilnya dari kejauhan.


"El!! Sedang apa kamu di sana?!" tanya Tara sedikit berteriak.

__ADS_1


El menoleh sejenak lalu kembali menatap keduanya.


"Katakan pada boss mu itu, jika dia ingin mencelakai ku jangan menyuruh orang, melainkan suruh dia datang sendiri kepadaku. Bersyukurlah kalian terselamatkan olehnya," kata El lalu menoleh ke arah Tara. "Aku peringatkan .... jangan pernah muncul lagi di hadapanku, mengerti?!!!" ancamnya dengan sorot mata tajam .


Setelah itu, ia meletakkan ponsel milik pria itu lalu menghampiri Tara yang sedang memperhatikannya.


"El ... kamu habis ngapain? Kok, bajumu dan rambutmu basah?" tanya Tara keheranan.


El hanya menggelengkan kepalanya. Namun merasa heran karena ia masih berada di kantor tempatnya bekerja di jam segitu.


"Aku mau pulang. Rasanya badanku sudah lengket banget dengan keringat ini. Ingat kalau ke Bronze jangan minum lagi. Cukup satu gelas saja, Ok," pesan El mengingatkannya. Setelah itu, ia kembali menghampiri motornya.


Karena merasa perasaannya sedang berkecamuk, ia memainkan gas motornya. Setelah merasa puas, barulah ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


Tara hanya memperhatikan gelagat aneh gadis itu. Ia merasa jika El tidak baik-baik saja.


"Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku. El, seperti apa karaktermu yang sebenarnya? Terkadang aku merasa kamu bukan seperti dirimu," gumamnya sedikit merasa khawatir dengan kejiwaan gadis itu.


Di sepanjang perjalanan, El kembali tersenyum sinis mengingat nama Tasya.


Jangan salahkan aku jika sampai aku benar-benar membuatmu cacat.


Ia merasa kesal saat harus berhenti di lampu merah.


Sambil menunggu lampu berganti warna. El mengeluarkan ponselnya lalu melihat jam.


"Sudah jam 20:00 ... oh God, aku ingin segera merendam tubuhku ini dengan air hangat untuk merelaksasi pikiranku," bisiknya.


Setelah lampu berganti warna, El langsung mengebut tanpa menghiraukan omelan pengendara lain. Karena yang ada di benak gadis itu sekarang adalah ingin segera sampai di apartemennya.


Sesaat setelah sampai di parkiran khusus motor apartemen, El memarkir motornya. Setelah itu ia melepas helm lalu menentengnya masuk ke dalam lift.


Setelah sampai di depan pintu unitnya, ia l langsung menekan akses code.


Karena sudah merasa tidak sabaran, ia langsung berlari kecil menapaki tangga menuju kamarnya dan langsung ke kamar mandi mengisi bathup dengan air hangat.


Sambil menunggu, ia melepas bajunya satu persatu hingga lalu mengambil handuk dan membalut tubuhnya.


Ia kembali masuk ke kamar mandi lalu masuk ke dalam bathtub untuk merendam tubuhnya.


Sambil memejamkan matanya, El menyandarkan punggungnya sambil menikmati sensasinair hangat yang merendam tubuhnya.

__ADS_1


Hampir setengah jam lamanya El berendam lalu membilas badannya di bawah air shower hangat.


Setelah merasa puas mengguyur tubuhnya di bawah shower air hangat, barulah ia keluar dari kamar mandi.


"Haaaaa .... segarnya."


Ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap lalu memejamkan matanya.


"Badanku lumayan sakit, oh God ... aku ingin tidur sebentar saja," lirihnya.


Tak lama kemudian ia pun tertidur dengan posisi tengkurap.


****


Jam 12 tengah malam barulah ia terbangun.


Ia pun bangkit dari tempat tidurnya lalu mengenakan pakaian kemudian ke pantry dan mengambil air minum. Setelah meneguk air, ia mengambil beberapa cemilan lalu membawa ke kamar.


Ia membuka laptopnya yang berada di meja sofa sambil mengecek beberapa informasi kampus yang ingin di ketahuinya sekalian kampus yang menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi dan kurang mampu.


Setelah itu, ia kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan memijit pangkal hidungnya.


"Semoga semuanya lancar-lancar saja. Hanya sebulan saja lagi," gumamnya. "El ... bersabarlah," ucapnya sambil memejamkan matanya.


Ia kembali Larut dengan pikirannya sendiri hingga ia disadarkan oleh suara pria yang begitu dikenalnya menyapanya.


"El, are you okay?" tanyanya.


"Tara, kemarilah aku butuh pelukanmu," pintanya dengan lirih.


Tara hanya menurutinya lalu duduk di sampingnya. Tanpa pikir panjang ia langsung membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya sembari mengecup keningnya.


"Kamu kenapa? Sepertinya kamu tidak baik-baik saja. Aku mengkhawatirkanmu," bisik Tara. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


El hanya bergeming.


Cukuplah aku yang tahu Tara, aku sudah banyak menyusahkan dirimu.


"El ...." bisiknya lagi lalu mengelus punggung gadis bertatto itu.


Lagi-lagi El hanya bergeming dalam pelukannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2