All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
113. Ternyata dia polos banget ...


__ADS_3

"Sayang, sedang apa kalian ..." Suara lembut itu menyapa keduanya.


"Mama ..." Sebut Kai sambil menatap El. Seringai penuh arti langsung terbit di bibirnya.


"Mama, tunggu kalian berdua di ruang santai," tegas madam Glori lalu meninggalkan keduanya di kamar itu.


"Waaah ... Sayang ... camer kamu datang," bisik Kai lalu mengecup bibir El. "Ayo ... mama pasti senang bertemu denganmu."


El hanya menurut lalu menggenggam jemarinya. Keduanya pun turun lalu menghampiri mama yang tampak sedang duduk di sofa.


"Mah," sapa Kai. Ia berjongkok lalu memeluk sang mama.


"Kenapa kamu nggak mengabari mama jika calon mantu mama kini sedang bersamamu?" Mama Glori kemudian menatap El lalu memanggilnya. "Sayang, kemarilah."


El menghampiri madam Glori lalu duduk di sampingnya kemudian langsung dipeluk.


"Sayang, tolong maafkan semua kesalahan, perlakuan kasar serta sikap arogan Kai padamu. Apapun yang pernah Kai lakukan baik yang ia sengaja maupun tidak, mama mohon maafkanlah putra mama satu-satunya ini," ucap lirih mama Glori dengan suara bergetar.


"Aku sudah memaafkan Kai, Mah." El mengelus punggung mama Glori sedangkan Kai langsung memeluk keduanya.


"Mama, ayo bujuk El supaya mau menikah denganku secepatnya. Mumpung mama lagi di sini."


Setelah melepas pelukannya. Kai ikut duduk di samping mama Glori.


"Kenapa mama nggak mengabari jika mama akan datang kemari?"


"Nggak apa-apa Sayang. Sebenarnya Mama bermalam di kota A kemarin sekalian ingin memberi selamat kepada Tara dan istrinya. Sayangnya mereka sudah berangkat ke Maldives," jelas mama Glori.


Hening sejenak ...


"Jadi ... kapan kalian akan menikah?" tanya mama Glori menyelidik.


Kai dan El terdiam. Mama Glori menatap keduanya bergantian dengan tatapan curiga. "Mama nggak akan membiarkan kalian begini terus."


"Enam bulan lagi, Mah. Itu, kata El." Kai membuka suara.


Mama mengernyit. "What!!! Enam bulan, nggak bisa?! Apa kalian sedang bercanda?!"


"Tapi Mah ...."


"Nggak ada tapi-tapi," Mama Gloria memotong ucapan El. "Pokoknya, mama kasih waktu satu bulan dari sekarang. Kalian harus mempersiapkan pernikahan kalian, titik," tegas mama tak ingin di bantah.


Kai tersenyum tipis. Dalam hatinya bersorak kegirangan, sedangkan El malah dilema karena memikirkan kuliahnya.


"Thanks, mah. Kehadiran mama sedikit membantuku."


"Mah ... kami memutuskan akan menikah di Jerman saja.


"Tapi kenapa, Nak?"


"Mah ... kami sudah membuat perjanjian. Aku ingin merahasiakan pernikahan kami sampai aku selesai kuliah," jelas El sambil menggenggam jemari mama Glori. "Itulah mengapa kami memutuskan menikah di Jerman saja."


"Jika keinginan kalian seperti itu, mama nggak masalah. Yang penting kalian harus menikah secepatnya," pungkas mama Glori.

__ADS_1


.


.


.


.


Jauh dari kota X ...


Tara dan Dian tampak sedang menginap di salah Resort mewah di pulau itu, tepatnya di Joali Maldives, Pulau Muravandhoo Raa Atoll.


Salah satu resort yang menyuguhkan pemandangan yang begitu indah. Apalagi setelah bangun tidur keduanya akan disapa langsung oleh pesona lautan yang biru dan udara pantai yang semilir.


Dian dan Tara juga bisa menikmati sunset di Aura Bar dan ketika makan malam keduanya bisa mencoba sajian di Restoran Jepang Saoke.


Tempat yang tepat untuk menikmati honeymoon bagi keduanya.


Jika di kota X sudah menunjukkan jam tujuh malam namun di pulau Maldives baru menunjukkan jam lima sore, yang artinya kota X lebih cepat beberapa jam dari pulau Maldives.


Saat ini Tara tampak sedang menikmati pemandangan indah yang langsung mengarah ke arah matahari di aura bar resort.


"El, aku tahu kamu sangat menyukai tempat-tempat seperti ini. I'ts so beautiful island."


Tara terus mengedarkan pandangannya mengagumi pesona keindahan pulau itu.


"Tara ... pulau ini indah banget," bisik Dian lalu memeluknya. "El, benar. Maldives merupakan salah satu pulau terindah di dunia. Aku merasa kita seperti berada di surga dunia," bisiknya lagi. "Apa kamu juga menyukai pulau ini?"


"Dian, entah aku harus bagaimana, apakah harus bahagia atau tidak. Maafkan aku. Sebisa mungkin aku akan mencoba menerima dirimu masuk ke dalam kehidupanku," gumam Tara dalam hatinya. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


Ia kembali teringat ucapan El saat gadis itu menjabat tangannya di resepsi pernikahannya.


"Jangan sia-siakan gadis sebaik dan selembut Dian. Cintailah dia, sayangi dia dan bahagiakan dia."


Tara memejamkan matanya. "Aku akan mencoba," gumamnya lagi dalam hatinya.


****


Malam harinya Tara mengajak Dian makan malam di salah satu restoran mewah yang terdapat di resort itu.


Untuk sesaat, Tara sempat tertegun menatap istrinya yang terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna pink yang membalut tubuhnya.


"Tara," sebut Dian sesaat setelah keduanya duduk di salah satu meja yang telah disiapkan.


"Hmm." Tara tersenyum tipis.


"Jujur saja, sebelum mengenal El, aku nggak percaya diri mengenakan gaun seperti ini. Justru El lah yang menginpirasiku. Aku sangat mengaguminya. Selain pintar, cantik dia juga sangat mandiri," puji Dian.


Tara hanya bergeming mendengar ucapan istrinya bahkan dalam hatinya ia mengakui jika El memang seperti itu.


"Dian, ayo ... sebaiknya kita makan dulu. Kita lanjut ngobrolnya lagi nanti setelah kita selesai makan," cetus Tara.


"Baiklah."

__ADS_1


Keduanya mulai menyantap makan malam mereka hingga tuntas. Selesai makan malam, Tara kembali mengajak Dian ke salah satu bar yang terdapat di resort itu.


Baru saja masuk ke dalam bar, Dian langsung merasakan pusing karena tidak terbiasa dengan tempat seperti itu. Tara hanya tersenyum lucu menatap istrinya.


"Ternyata dia polos banget."


"Temani aku sebentar saja," bisik Tara tepat ke telinga Dian dan di jawab dengan anggukan.


Ia mengajak Dian duduk di salah satu sofa bar itu lalu memesan minuman yang biasa ia minum sekaligus memesankan Dian jus.


"Tara, apa minuman ini aman untukku?" tanya Dian sambil menatap jus yang baru saja di letakkan di depannya.


"Aman Dian, itu hanya orange jus," jelas Tara. "Tapi ... jangan minum yang ini." Tara menunjuk minumannya. "Tenyata dia sangat tabu dengan tempat-tempat seperti ini, bahkan dia nggak bisa membedakan mana minuman beralkohol," batinnya.


Dian bergeming sambil memperhatikan orang-orang yang datang ke bar itu. Sesekali ia melirik Tara yang dengan santainya meneguk minumannya.


*******


Malam semakin larut, bahkan sudah beberapa kali Dian mengajak Tara kembali ke kamar namun pria itu masih betah berada di tempat itu dengan terus meneguk minumannya.


Merasa kepalanya sudah agak pening, barulah ia mengajak Dian kembali ke kamar.


Sesaat setelah berada di kamarnya, Tara langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya. Sedangkan Dian, ia langsung mengganti pakaiannya dengan lingerie dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Tak lama berselang Tara keluar dari kamar mandi sekaligus begitu tertegun menatap istrinya yang sedang berbaring mengenakan baju haram. πŸ”₯πŸ˜†πŸ˜†


"Damn!!!" Seketika hasratnya mulai merasuki otaknya. Di tambah lagi kepalanya yang sedikit pening efek minuman yang terus diteguknya tadi.


Ia mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur sekaligus menciptakan suasana cahaya temaram. Suasana seperti itu malah semakin membuat hasratnya naik ke ubun-ubun.


Ia pun menatap wajah istrinya kemudian mengelus pipi dan bibirnya. Dian merasa gugup dengan sentuhan lembut suaminya itu.


Perlahan tapi pasti Tara mengecup kening istrinya lalu turun ke bibir yang awalnya hanya ciuman biasa namun semakin lama ia semakin menuntut.


Puas bermain di bibir, Tara kembali mengecap leher, turun ke tulang selangka bahkan tangan nakalnya tak tinggal diam semakin liar menjelajah menggerayangi tubuh istrinya.


Ia semakin menggila ketika Dian mulai


men*desah bahkan tak menolak setiap sentuhan yang diberikannya.


Entah sejak kapan pakaian keduanya lepas. Membuat keduanya kini benar-benar polos.


"Maaf, ini akan sedikit sakit," bisik Tara dengan suara berat serta nafas memburu. Sebelum melakukan penyatuan diri, ia mengecup kening istrinya lalu turun ke bibir.


Dian hanya mengangguk. Memejamkan matanya tanpa sadar mencakar punggung tegap suaminya ketika Tara melakukan penyatuan diri dan mulai memacunya.


Kamar itu menjadi saksi bisu sepasang pengantin baru melakukan penyatuan diri. Bahkan suara erangan bersahutan dengan desa*han keduanya mewarnai sekaligus memenuhi ruangan itu hingga keduanya sama-sama mencapai puncak kli*ma*ks.


"Terima kasih, Dian," bisik Tara lalu mengecup kening, mata, pipi dan terakhir ke bibir. Ia pun membawa Dian masuk ke dalam pelukannya. "Tidurlah," bisiknya lalu memejamkan matanya.


Dian hanya mengulas senyum sambil mengangguk sekaligus merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2