All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
185.


__ADS_3

Baru saja Kai akan menuntun El ke kamar mandi, pintu kamar rawat dibuka seseorang dan ternyata seorang perawat yang sedang membawa baju pasien untuk El.


Dialog dalam bahasa Jerman, udah di translate ya. Berhubung author tidak bisa bahasa Jerman.πŸ˜†πŸ€­βœŒοΈ


"Selamat siang, Tuan, Nyonya. Saya membawa baju ganti untuk Nyonya," kata suster dengan seulas senyum ramah.


"Terima kasih, Suster," sahut Damar. "Maaf istri saya tidak bisa berbahasa Jerman," jelas Kai.


"Tidak apa-apa, Tuan," balas suster lagi. "Sebaiknya Nyonya mengganti pakaian dulu, sebentar lagi dokter akan kemari memeriksa, Nyonya.


"Ok, baiklah," jawab Kai mewakili lalu meraih pakaian yang di berikan padanya.


Sedangkan El, ia hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nyonya," ucap suster lalu meninggalkan keduanya.


Sepeninggal suster, Kai terkekeh menatap istrinya lalu mengelus pipinya dengan sayang.


"Makanya, kalau daddy triplets ajarin bahasa Jerman jangan malas-malasan," ledek Kai. "Soalnya itu juga berguna jika kita masih lama tinggal di sini"


El hanya diam dengan wajah cemberut.


"Iya Om," kesalnya.


Lagi-lagi Kai terkekeh lalu membantunya ke kamar mandi sambil membawa pakaian gantinya.


"Sssssttttt ...Sayang," ringisnya lagi sambil mencengkram kemeja Kai karena kembali merasakan kontraksi.


Tak ingin berlama-lama, Kai perlahan melepas dress yang El kenakan dan semua pakaian dalamnya hingga menampakkan tubuh polosnya.


"My triplets ... kita akan segera bertemu, Sayang," bisik Kai lalu mengecup perut buncit istrinya sembari mengelusnya dengan gemas. Setelah itu ia memakaikan pakaian pasien yang sama bentuknya dengan daster.


Sedangkan dress dan dalaman El ia masukkan ke tempat pakaian kotor.


Dengan seringai tipis, Kai berbisik ke telinga istrinya dengan nada menggoda.


"Apa perlu aku menjenguk triplets dulu, Sayang? Hitung-hitung untuk memperlancar jalan lahirnya triplets," ucap Kai tanpa dosa.


Seketika mata El melotot tajam menatap suaminya. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya suaminya itu sempat berpikiran mesum. Ia pun memukul dada liatnya karena kesal.


"Dasar player. Sempat-sempatnya mikirin ke situ!" kesalnya.


"Hahahaha ..." tawa Kai langsung pecah mendengar ucapan kesal istrinya. "Ayo, kita keluar," ajaknya lalu mengecup kening dan bibir istrinya sekilas.


Sambil menunggu dokter, El terus berpegangan di bahu suaminya sambil melakukan gerakan-gerakan kecil seperti yang ia ikuti di kelas hamil.


Sesekali El meringis dan mengatur nafasnya demi mengurangi rasa mules yang semakin terasa.

__ADS_1


Melihat El sesekali meringis, Kai memberinya semangat dan sesekali mengecup puncak kepala dan keningnya.


Tak lama berselang, pintu dibuka dan tampak mama Glori dan dokter kandungan beserta dua perawat pembantu yang ikut menyusul di belakang, tersenyum ramah.


"Sayang," sapa mama seraya menghampirinya lalu mengelus kepalanya.


"Mah," lirih El lalu memeluk mertuanya dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, kamu harus semangat. Sebentar lagi kalian akan menjadi ibu dan ayah," bisik mama dengan senyum. "Kai, bawa El ke bed, Nak."


Kai hanya mengangguk lalu membantu El menghampiri bed pasien. Setelah itu ia berbaring untuk dilakukan pemeriksaan sudah pembukaan berapa.


"Maaf ya, Nyonya. Saya periksa dulu sudah pembukaan berapa," kata dokter kandungan.


El hanya mengangguk dan kembali meringis saat kembali merasakan kontraksi yang semakin terasa membuatnya mulas.


Kai yang ada di sampingnya terus menggenggam tangannya dan memberinya semangat.


"Sayang, come on ... kamu harus semangat," bisiknya lalu mengecup keningnya dan tak melepas genggaman tangannya.


"Akkhh ... Sayang ..." rintih El sambil memejamkan matanya. Air matanya ikut menetes.


"Nyonya, ini sudah hampir pembukaan sepuluh," kata dokter dan sang mertua yang menjadi translator-nya.


"Pantasan saja, semakin terasa mulesnya," lirihnya dan merasa ingin BAB. Setelah mendengar aba-aba dari sang dokter, El langsung mengatur nafas lalu mengejan beberapa kali.


Beberapa menit kemudian, suara tangisan pertama menggema memenuhi kamar itu. Mendengar suara tangisan bayi pertamanya, Kai dan El juga mama Glori tak kuasa membendung air matanya.


Ketiganya merasa terharu. El kembali mengejan beberapa kali dan kembali mengatur nafasnya. Tak lama berselang suara tangisan bayinya yang kedua kembali terdengar dan berjenis kelamin laki-laki dan yang terakhir berjenis kelamin perempuan.


Seketika Kai langsung memeluk istrinya dengan erat merasakan kebahagian luar biasa sambil menangis lalu menyatukan keningnya lalu mengucapkan terima kasih.


"Thank you so much, Sayang. Keluarga kita sudah lengkap," lirihnya lalu mengecup lama kening El lalu mengecup bibirnya lalu menatap bayi kembarnya yang masih di tangani oleh kedua perawat.


"Sayang, selamat ya, Nak," kalian kini sudah menjadi ayah dan ibu dan mama kini sudah jadi grandma. Lihatlah mereka bertiga ganteng dan cantik seperti kalian berdua," kata mama lalu mengecup kening menantunya lalu mengelus pipinya dengan sayang.


Beberapa menit kemudian setelah triplets di bersihkan, mama meminta Kai melepas kemejanya supaya mengendong putranya untuk contacts skin to skin.


Kai hanya menurut. Setelah itu ia meraih putranya yang masih polos lalu menggendongnya dan menempelkan ke dadanya, begitupun dengan El. Mama melepas kancing bajunya lalu meletakkan putra dan putrinya di atas dadanya.


Sama seperti Kai, El langsung meneteskan air matanya merasa sangat terharu menatap kedua bayinya lalu ke arah suaminya.


"My triplets, welcome to the world," ucap El dengan suara bergetar. "Faith, Hope dan Joy.


Mamy dan daddy sudah bisa membayangkan cinta dan cahaya yang akan kalian bagikan suatu hari nanti kepada semua orang," bisik El dengan seulas senyum lalu menatap suaminya.


Beberapa menit kemudian, Faith, Hope dan Joy, terpaksa harus berpisah dengan El dan Kai karena harus di masukkan ke dalam inkubator.

__ADS_1


Dengan perasaan berat, mau tidak mau El dan Kai harus rela triplets mereka di bawa oleh ke ruangan khusus.


"Tuan, Nyonya, selamat atas kelahiran baby-nya," ucap sang dokter.


"Terima kasih, Dok," ucap Kai.


Setelah itu dokter dan juga perawat pembantu meninggalkan ruangan itu.


"Sayang ... aku seolah bermimpi," bisik Kai sambil menatap wajah El yang sedikit pucat. Istirahatlah dan jangan banyak bergerak dulu tenagamu sudah terkuras."


El hanya mengangguk lalu memeluknya dengan perasaan haru. Sedangkan mama hanya membiarkan keduanya lalu ikut menyusul sang dokter kandungan untuk melihat cucunya.


"Faith, Hope and Joy, apa nama itu sudah kamu siapkan jauh-jauh hari, Sayang bisik Kai dan dijawab dengan anggukan kepala. "Faith setia, Hope harapan and Joy sukacita, semuanya berarti baik."


"Faith Mayer Abraham, Hope Maynor Abraham and Joy Enzio Abraham yang memiliki arti mendalam. Aku ingin anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang kuat dan tangguh seperti kita dan selalu menebar kebaikan dan sukacita kepada orang-orang," jelas El dengan suara


tercekat lalu mendorong pelan dada telanjang suaminya.


Sengaja El sematkan nama Abraham karena merupakan nama sang kakek sekaligus indentitas keluarga mereka. Tidak seperti triplets yang memiliki huruf kapital yang sama, El sengaja memberi nama yang berbeda-beda agar beda dari triplets lainnya


"Istirahatlah, aku ingin melihat anak-anak kita dulu. Aku akan mengabari teman-teman kita di kota A," ucap Kai lalu mengecup bibirnya kemudian memakai kembali kemejanya. "Sayang, aku tinggal sebentar ya."


"Baiklah," balas El.


*******


Sesaat setelah Kai berada di ruangan inkubator bayinya. Ia merangkul bahu sang mama lalu menatap hasil mahakaryanya dengan El. Sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman sempurna.


"My triplets, my handsomeboy and my pretty girl. Mah, lihatlah mereka," lirih Kai dengan mata berkaca-kaca menatap bayi mungilnya.


"Sayang apa kamu tahu, Nak? Saat kamu masih merah seperti bayi mungilmu ini keduanya persis sepertimu," kata mama sembari mengelus lengan kekar Kai. "Si cantik ini persis seperti El."


Kai dan mama kembali menatap bayi kembarnya yang tampak masih tertidur dalam inkubator itu.


Setelah puas menatap bayinya di ruangan itu, Kai dan mama kembali ke kamar rawat El. Setelah itu, mama meminta salah satu karyawan hotel untuk mengantar makanan. Sedangkan Kai tampak sedang berbicara dengan seseorang lewat benda pipihnya sambil mengelus kepala istrinya yang sedang tertidur.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


Beberapa bab lagi kisah El dan Kai akan tamat. Jangan lupa mampir di novel author yang lainnya ya.


*101 Days to be your partner


*Retaknya sebuah kaca


*Azkiya Nursyifa (Ikhlas) sudah tamat namun masih tahap revisi. Maklum novel pertama dan masih banyak kesalahan dalam penulisan dan letak tanda baca.

__ADS_1


__ADS_2