
Siang harinya......
El terlihat rapi dan anggun dengan setelan baju blouse vintage dipadukan dengan rok plisket selutut.
Seperti janjinya, ia akan menemui Lois dan Mike di salah satu restoran mewah, tempat biasa mereka makan bersama.
Setelah memakai sepatu sneaker dan mengambil tas tangannya, ia pun meninggalkan apartemennya dan menunggu taksi online yang sudah di pesannya lewat aplikasi.
"Maaf ya, Lois, Mike. Kemarin aku nggak menepati janjiku, tapi hari ini kita bisa sharing sepuasnya," kata El lalu terkekeh.
Tak berapa lama menunggu, taksi pesanannya pun tiba.
"Mbak Ellin Davina, ya?" tanya supir taksi.
"Iya Mas," jawab El dengan seulas senyum lalu membuka pintu mobil.
"Mas, ke Restoran xxx ya," pinta El ramah.
"Iya Mbak."
Di sepanjang jalan, El hanya memainkan ponselnya sambil membalas pesan dari Lois.
Setelah beberapa menit, taksi yang mengantarnya pun sampai di Restoran xxx.
"Mas, makasih ya, ongkosnya sudah aku bayar lewat aplikasi," jelasnya dengan seulas senyum.
"Iya Mbak."
Setelah itu El pun turun dari taksi online sambil merapikan rambut panjangnya.
"Habis dari sini, aku mau ajak Lois ke salon saja deh. Sekalian mau potong rambut. Sekali-kali minta dibayarin sama dia nggak apa-apa kali ya? Secara ... dia kan cewek tajir," tuturnya sambil terkekeh.
El pun melangkahkan kakinya ke restoran itu. Dari kejauhan, tampak Lois langsung melambaikan tangan ke arahnya.
"Mike, Lois ... Maaf, sudah membuat kalian menunggu." Ia memelu keduanya bergantian.
"Nggak apa-apa, El. Demi kamu kami nggak masalah," sahut Mike lalu tersenyum.
"Thanks my Dear."
"El, kita pesan makan dulu, ya. Setelah itu, aku ingin mendengar penjelasan darimu," pinta Mike sambil mengelus jemari El.
El hanya mengangguk.
Di salah satu meja yang tidak terlalu berjauhan dari tempat El. Tampak Tara dan Kai yang baru saja selesai bertemu klien.
Mereka tampak duduk santai sambil menikmati kopi. Sejak El masuk ke restoran itu, Kai terus saja menatapnya. Sedangkan Tara hanya terlihat santai dan tersenyum.
"Tara, itu kan, dokter Mike, direktur sekaligus pemilik Rumah Sakit Kota A," tanya Kai penasaran.
"Hmm, lalu kenapa?" tanya Tara lalu meneguk kopinya.
Kai mengerutkan dahinya.
"Lalu, cewek di sampingnya siapa?" tanya Kai lagi.
"Temannya dan seorang dokter juga," jawab Tara lalu mengisap rokok yang baru dibakarnya.
Kai hanya manggut-manggut namun merasa bingung.
Kai tersenyum sinis lalu menatap Tara yang terlihat santai dan sesekali menoleh ke arah El.
"Tara."
"Hmm."
"Kelihatanya El terlihat berbeda dengan pakaian yang dikenakannya? Seperti seorang wanita karir, terlihat anggun dan elegan." Tanpa sadar Kai memuji. Ia terus menatapnya yang terlihat mengobrol dan sesekali tersenyum ke arah Mike dan Lois.
Tara hanya tersenyum sinis dan membatin.
__ADS_1
Dia memang wanita karir, jika saja bukan karena ulahmu.
"Lalu?"
"Apa kamu nggak cemburu?"
Tara hanya menggelengkan kepalanya.
"Oh ya, apa kamu dan El memang sedekat itu? Kemarin seharian kalian menghabiskan waktu bersama." Ia sedikit kepo.
"Jika iya, memangnya kenapa? Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu juga menyukainya. Aku kan sudah bilang padamu, jika CINTA dan BENCI itu sangat berkaitan dan perbedaanya hanya sedikit," peringatnya.
Kai terdiam namun terlihat kesal.
"Aku kan, sudah bilang padamu, jika kamu menyukainya kita harus bersaing secara sehat, tiidak dengan cara licik." Tara menyeringai. "El bukanlah wanita yang mudah ditaklukkan, seperti wanita yang biasa datang dengan sendirinya ke pelukkanmu," lanjutnya. "Jika kamu mengira El seperti itu, kamu salah. Baginya uang bukan segalanya," pungkasnya.
Kai hanya bungkam namun matanya terus mengarah ke arah El.
"Coba ingat, apa yang membuat El membencimu? Sejak awal kamu sudah bersikap kasar dan arogan padanya bahkan mengancamnya. Kamu benar-benar merampas kebebasannya dan membuatnya menderita. Apa itu pantas?" Tara kembali mengingatkan Kai peristiwa itu.
Lagi-lagi Kai hanya bisa bungkam dan terpekur.
"Oh ya, setelah ini jadwalmu kosong. So ... aku mau bergabung dengan El dan dokter Mike. Aku harap kamu tidak menggangu kesenanganku dengan El." Ia sengaja memancing emosi Kai.
"Aku tidak mengizinkan!! Ini perintah dari atasanmu dan bukan sebagai sahabat!!!!" tegas Kai dengan suara lantang karena terpancing emosi.
"Jika aku tidak menurut? Apa kamu akan memotong gajiku? Ataukah langsung memecatku?" tanyanya sambil menahan tawa melihat ekspresi Kai yang sudah terlihat marah dan emosi.
"Aku bilang ini perintah dari boss mu!! Kita balik ke kantor sekarang!!" tegasnya emosi lalu memukul meja.
Sontak saja ulah Kai itu menjadi pusat perhatian tamu di restoran termasuk El, Mike dan Lois.
"Itu kan, tuan Kai dan asistennya? Tapi kenapa dia terlihat marah," kata Mike bingung.
El dan Lois hanya mengangkat bahunya sambil melanjutkan makannya.
Pasti Tara yang membuatnya emosi.
Tara terlihat gemas pada gadis itu lalu memberinya kode supaya menelfonya nanti.
"Ok, baik lah kita balik ke kantor sekarang," kata Tara sambil melipat bibirnya menahan tawa.
Sebelum beranjak dari tempat duduknya, Kai menoleh ke arah El yang sedang menatapnya.
Gadis itu langsung memutar bola matanya malas dan kembali melanjutkan makannya.
Entah mengapa, El merasa aneh setiap kali Kai menatapnya apalagi saat menyentuhnya.
El bisa merasakan sentuhan yang berbeda. Walaupun Tara sering memeluk dan mengecupnya, ia bisa merasakan itu adalah sentuhan dan kecupan kasih sayang. Beda dengan sentuhan Kai yang begitu bernafsu. Namun saat El menatap manik hazel Kai dalam-dalam ia merasa aneh.
El mengusap tengkuknya. Apalagi saat mendengar suara berat Kai ketika berbicara padanya dan memeluknya. Pria blasteran itu seolah ingin memilikinya.
"El, ada apa?" tanya Mike.
El hanya menggelengkan kepalanya lalu mengusap bibirnya dengan tisu.
"Aku sudah selesai."
"El, sekarang bisa kamu jelaskan, kenapa kamu menghilang, gagal wisuda dan terpaksa di DO. Sangat disayangkan padahal kamu mahasiswi berpretasi?"
El menghela nafasnya lalu menatap Lois dan Mike bergantian. Matanya kembali berkaca-kaca.
"El, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lois lalu mengelus bahu temannya itu.
"Hmm." Ia mengangguk.
"Ceritakan lah semuanya pada Mike. Aku yakin setelah ini dia pasti membantumu."
El kembali mengangguk lalu menggenggam jemari dosen sekaligus teman kerjanya dirumah sakit saat itu. Ia mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak menghubungiku saat itu El? Aku bisa saja menunda dan membantumu," ucap Mike sambil menghapus air mata gadis itu.
"Aku nggak sempat Mike. Mirisnya saat itu aku baru saja akan berangkat ke rumah sakit. Yang aku bawa hanya baju di badan," jelasnya sambil terisak.
"Bersabarlah, kamu bisa mendaftar ulang. Aku masih mengajar di kampus itu," kata Mike sambil menepuk genggaman tangannya.
"Lima bulan lagi El. Bersabarlah." Lois menimpali.
"Iya, thanks Mike, Lois, kalian memang teman yang baik. Oh ya, Mike, gimana kabar putramu Bryan?"
"Saat ini Bryan ikut maminya. Kamu tahu sendiri kan setelah berpisah, Sarah ngotot membawanya tinggal di luar negeri," jelas Mike sambil menghela nafasnya.
"Mike, nggak usah khawatir, masih banyak kok cewek yang mau jadi istrimu. Nggak usah jauh-jauh, dia ada di sini kok," ucap El lalu tersenyum jahil.
"Siapa?" tanya Mike dan Lois serentak.
"Lois, dia cocok kok jadi istrimu, apalagi kalian sama-sama kerja di rumah sakit yang sama dan bisa menghabiskan waktu bersama," tutur El sambil terkekeh.
"Uhuuk ... uhuuk ... uhuuk ..." Lois tersedak minumannya.
"Lois, kamu kenapa? Pelan-pelan dong minumnya," kata El lalu terkekeh.
"Mike, makasih ya untuk makan siangnya. Aku tunggu informasinya darimu my Dear. Jangan lupa save nomor ponsel baruku tadi," pesannya sebelum masuk ke dalam mobil Lois.
Mike hanya mengangguk lalu mengedipkan kedua matanya sambil tersenyum.
"So ... El, lokasi selanjutnya?" tanya Lois yang mulai mengendarai mobilnya.
"Ke salon tapi kamu yang bayarin boleh ya?" bujuk El lalu cengengesan.
"Huh!! kamu ini, benar-benar ya."
"Sekali-kali kamu yang bayarin nggak apa-apalah Dear. Hitung-hitung sudah dua tahun loh kita nggak ke salon bareng. Aku ingin memangkas rambutku."
"Tapi El, sayang banget jika kamu memangkas rambutmu."
"Nggak apa-apa, Lois. Hitung-hitung buang sial hahaha."
Tak lama berselang mereka pun sampai di salon langganan Lois.
"El .... aku sekalian perawatan, jika kamu sudah selesai, ke ruangan spa saja. Aku tunggu ya."
"Ok Dear."
.
.
.
Sementara di kantor Kai ......
Ia masih saja terlihat kesal dengan ucapan Tara sejak di restoran tadi.
Sedangkan Tara malah terlihat santai sambil tersenyum puas karena berhasil membuat Kai terpancing emosi.
"Ini belum seberapa Kai. Pasti dia kesal banget tadi," gumam Tara sambil menatap foto El di layar ponselnya.
Tara memejamkan matanya sambil memutar kursi kerjanya lalu membayangkan momen kemaren saat berada di Resort.
Sedang asiknya membayangkan momen kebersamaannya dengan gadis itu. Tiba-tiba saja, ia merasa seseorang duduk di pangkuannya sambil melingkarkan kedua tangannya di lehernya.
"Sayang ... kemarin seharian kamu ke mana saja? Bahkan ponselmu nggak aktif. Aku ke apartemen, kamu juga nggak ada. Saat menghubungi Kai, dia juga nggak tahu kamu ada di mana. Bahkan semalam di club, kamu juga nggak ada," tuturnya panjang lebar.
Tara membuka matanya lalu menatap Clara.
"Maaf Sayang, kemarin aku ada acara keluarga di Kota L," bohongnya dengan santai.
"Kenapa nggak mengajakku? Selama lima tahun kita pacaran, kamu belum pernah mengenalkan aku pada orang tuamu," imbuhnya lalu mengecup bibir Tara.
__ADS_1
"Belum waktunya, Sayang," bisik Tara.
...----------------...