All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
149.


__ADS_3

Setelah Kai menjauh, Tara kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran dengan perasaan dongkol.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, Tara melirik ke arah Dian yang tampak mengelus perut buncitnya. Entah mengapa ucapan Kai barusan begitu mengusik pikirannya.


Apa benar, El dan dokter Mike benar-benar sudah menikah? Tapi foto pengantin itu? Akhh ... kenapa aku masih tidak bisa menerima semua ini. Apa benar Kai sudah melupakan gadis itu?


Pertanyaan itu hanya bisa ia tanyakan dalam hatinya. Sejauh ini yang ia tahu, setelah foto terakhir, Kai sudah tidak pernah mengunggah lagi foto-fotonya kecuali aktifitasnya yang hanya berhubungan dengan kantor dan rapat-rapat penting.


Apa semudah itu dia move on dari El? Pria brengsek itu, rasanya aku ingin membunuhnya saja.


Dian yang berada disampingnya, dibuat terheran-heran dengan sikap suaminya yang sejak tadi masih juga belum meninggalkan tempat.


"Tara," tegurnya seraya menepuk lengannya. "Ada apa? Apa mobilnya mogok? Sejak tadi kamu belum juga melajukan mobilmu?" cecar Dian.


"Ah maaf," lirihnya lalu menyalakan mesin mobil kemudian perlahan menginjak gas dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir rumah sakit.


Sementara Kai yang saat ini sedang berada di ruangan praktek Lois, terlihat sedang di periksa oleh teman istrinya itu.


"Kai, sejak kapan kamu mengalami gejala ini?" tanya Lois dengan seulas senyum.


"Sudah seminggu Lois. Entah lah, aku belum pernah mengalami sakit seperti ini seumur-umur, baru terjadi sekarang," lirihnya sambil memijat kepalanya yang masih merasakan pusing dan mual.


"Apa El sudah tahu?" tanya Lois lagi.


"Ya ... aku sudah menelfonnya tadi, dan dia akan kemari hari ini juga," jelas Kai. "Oh ya Lois, tolong resepkan aku obat tidur. Rasanya aku ingin tidur saja sampai El tiba di mansion," kata Kai.


"Baik lah, tapi aku resepkan dengan dosis rendah, saja. Sebenarnya nggak ada yang aneh sama kamu, aku rasa El tahu apa penyebab kamu seperti ini. Nanti tanyakan lagi padanya," sahut Lois lalu terkekeh namun menyiratkan sesuatu yang sangat berarti.


"Terima kasih, Lois," ucap Kai lalu mendudukkan dirinya di bed pasien. Namun ia bingung dengan ucapan dari teman istrinya itu.


Sambil menunggu Lois meresepkan obat, tak lama berselang ponselnya bergetar. Ia pun merogoh kantong celananya lalu menatap benda pipih itu.


"Sayang," lirihnya lalu mengulas senyum. Ia pun segera menggeser tombol video.


"Sayang, apa kamu akan berangkat hari ini?" tanya Kai.


"Iya, aku sudah di bandara. Sepertinya kamu lagi di ruang periksa ya?" El balik bertanya.


"Hmm ..."


"Lalu ... apa kata Lois?


"Nggak apa-apa, katanya aku di suruh tanya sama kamu lagi nanti," jawab Kai lalu terkekeh.


"Lois gimana sih?" gerutu El sambil mencebikkan bibirnya.


Kai hanya terkekeh menatap gemas istrinya itu lewat benda pipih miliknya.

__ADS_1


"Ya sudah, aku tutup ya, Sayang. Nanti Alex yang akan menjemputmu. Be careful on your flight," kata Kai.


"Iya, Sayang," balas El dan melambaikan tangannya lalu memutuskan panggilan video.


Lagi-lagi Kai mengulas senyum lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Kai, aku sudah resepkan kamu obat, termasuk obat mual dan obat tidur," kata Lois lalu menyerahkan kertas kecil padanya.


"Thanks Lois," ucapnya lalu meraih kertas itu kemudian turun dari bed pasien.


"You're welcome Kai," balas Lois lalu tersenyum.


"Kai, sepertinya kamu kena couvade syndrome. El pasti akan meledek mu habis-habisan nanti. He.he.he."


Tentu saja ucapan itu hanya mampu ia ucapkan dalam hatinya dengan senyum penuh arti, sambil menatap Kai yang terlihat sudah keluar dari ruangannya.


Sedangkan Kai, ia terlihat mempercepat langkahnya ke arah apotik untuk menebus obatnya.


Setelah memberikan resep obat pada apoteker, ia pun duduk di kursi tunggu sambil memijat kepalanya dan sesekali memejamkan matanya.


"Ssssttt .... kenapa kepalaku sakit begini? Mana mual lagi!'' gumamnya.


Tak jauh dari tempatnya duduk, Mike yang akan melewati lorong itu, terpaksa mengurungkan niatnya dan mengarahkan langkahnya ke arah Kai.


"Kai, what strong? Looks like you are not well," tegur Mike seraya menepuk pundaknya.


Kai membuka matanya lalu menatap Mike yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Apa liver mu kambuh lagi?" tanya Mike sedikit khawatir.


"No ... tapi aku merasakan hal aneh bahkan sudah seminggu ini, aku merasakan pusing, mual, nggak nafsu makan dan muntah-muntah," jelasnya.


Mike hanya manggut-manggut. "Apa El sudah tahu?" tanya Mike.


"Iya. Sebentar lagi dia akan berangkat dari kota X," jawab Kai.


Mike tersenyum. "Biar aku saja yang menjemputnya nanti, biar orang-orang nggak curiga," tawar Mike.


"Benar juga ya," desis Kai sambil mengangguk. "Thanks Mike. Hampir saja aku kecolongan," ucapnya lalu terkekeh. "Maaf ... gara-gara secret marriage ini, kamu pun terkena imbasnya."


"Nggak apa-apa Kai, El sudah ku anggap seperti adikku sendiri. So ... no problem," pungkasnya.


Tak lama berselang, nama Kai pun di panggil. Ia pun menghampiri loket apotik lalu meraih obatnya.


Setelah itu ia pun berpamitan pada Mike lalu meneruskan langkahnya ke arah parkiran. Setelah masuk ke dalam mobil, ia pun meminta Alex langsung mengantarnya ke mansion.


*********

__ADS_1


Setelah menempuh perjalan kurang lebih 1 jam 30 menit dari kota X ke kota A, akhirnya El tiba juga dengan selamat di bandara kota A.


Dari kejauhan, senyumnya langsung mengembang saat melihat Mike dari kejauhan sedang melambaikan tangan ke arahnya.


Ia pun semakin mempercepat langkahnya menghampiri Mike.


"Mike," ucapnya kemudian memeluk gemas pria blasteran itu seraya menepuk punggungnya lalu terkekeh.


"Welcome back to the A city El," bisik Mike.


El hanya mengangguk lalu mengurai pelukannya.


"Maaf, sudah merepotkan mu," sesal El.


"Nggak apa-apa. Ayo aku antar ke mansion," ajak Mike.


"Baik lah, tapi antar aku ke supermarket dulu," pintanya seraya memeluk lengan Mike dan mulai melangkahkan kakinya.


Mike hanya menggelengkan kepalanya lalu mengulas senyum dengan tingkah manja El.


Seperti permintaan El, Mike menuruti keinginannya. Ia pun terus melajukan kendaraannya hingga tiba di supermarket.


Begitu keduanya memasuki tempat itu, Mike dengan sigap membantu El meraih salah satu keranjang belanjaan.


"Dear, kamu ingin beli apa?" tanya Mike.


"Pengen beli buah-buahan saja, Mike. Entah mengapa aku pengen banget bikin rujak," jawab El lalu terkekeh.


Saat menyebut rujak, El terdiam sejenak lalu melirik Mike.


"Why?" tanya Mike dengan menaikkan alisnya.


"Mike," lirihnya dengan mata berkaca-kaca. "Sepertinya aku sedang hamil," bisiknya lalu memeluk Mike tanpa permisi. "Apa yang Kai rasakan saat pasti karena couvade syndrom. After six months, finally i'm pregnant Dear,," bisik El lagi.


"El ..." lirih Mike lalu mengelus punggungnya. "Sudah, kita jadi pusat perhatian di sini. Rasanya aku seperti menjadi pebinor saja," kelakar Mike lalu terkekeh.


Rasa haru El hilang seketika dengan candaan Mike. "Ish, kamu ini," kesalnya lalu memukul pelan dada pria blasteran itu.


"Ayo ... katanya mau beli buah," kata Mike lalu merangkul punggungnya melangkah ke bagian buah-buahan.


El hanya mengangguk. Tanpa keduanya sadari, sejak tadi Tara terus memperhatikan keduanya.


"Jadi benar ... Mike dan El memang benar-benar sudah menikah?! I can't believe it," gumamnya sambil mengepalkan tangannya dan mengetatkan rahangnya.


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya 🀭☺️ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih ☺️πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2