All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
25. Merasa getir ...


__ADS_3

Tara memejamkan matanya, hingga seseorang memeluk dan meletakkan dagunya di pundaknya.


"El," bisiknya.


Lagi-lagi wanita yang memeluknya merasa sangat kesal dan marah. Ia langsung melepaskan pelukannya dan memukul punggung tegap Tara.


"Lagi?! Kamu menyebut nama El!! Sayang ... siapa dia?" geramnya.


Dan seketika itu juga, Tara langsung terkesiap. Ia langsung memeluk sang kekasih. Namun karena Clara sudah terlanjur kesal, ia memberontak dan meronta ingin melepaskan diri dari pelukan Tara.


"Maaf ... maaf, Sayang. Aku salah," sesalnya lalu mengecup bibir sang kekasih.


Clara hanya diam, ia merasa sangat kecewa dengan Tara. Tampak bulir bening di pelupuk matanya lolos begitu saja.


"Sayang ... apa kamu masih mencintaiku?" tanya Clara.


Tara hanya diam dan tidak bisa menjawab. Sesungguhnya ia juga merasa bingung dan dilema dengan perasaan yang ia miliki sekarang. Terjebak diantara dua wanita yang berbeda karakter dan latar belakang.


Dalam diam Tara hanya bisa memejamkan matanya lalu menghela nafasnya dalam-dalam.


"Sayang, bicaralah. Kenapa kamu diam?Biasanya jika aku bertanya seperti ini, kamu akan langsung menjawabku. Tapi sekarang kamu malah terlihat bingung," pungkas Clara dan terus menatap wajah tampan pria yang sedang memeluknya.


Tara hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kemudian mengelus wajah Clara yang tampak menanti jawaban dari bibirnya.


"Sayang, sepertinya kita pindah tempat saja, kita cari suasana baru," pinta Tara mengalihkan pembicaraan.


Clara menggelengkan kepalanya dan melepaskan pelukan Tara.


"Nggak ... aku nggak mau sebelum kamu menjawab pertanyaan ku tadi,"


Lagi-lagi Tara hanya diam.


"Ok fine ... jika kamu tidak ingin menjawab ku. Maka jangan salahkan aku, jika aku tahu siapa sosok El. Nama wanita yang sering kamu sebut tanpa sadar saat bersamaku," ancam Clara sambil mengepalkan keduanya tangannya.


Daniel yang sejak tadi berada di samping Tara, hanya bisa menyimak pembicaraan mereka. Daniel sendiri tidak terlalu ambil pusing, karena dia tidak terlalu mendengar apa yang Tara dan Clara bicarakan.


"Sayang, jangan seperti ini, El bukan siapa-siapa, dia hanya teman. Kami tidak memiliki hubungan apapun. Jangan cemburu gitu dong," jelas Tara sekaligus menenangkan kekasihnya itu.


"Kamu tidak bohong kan?" selidiknya.


Tara hanya mengangguk lalu menuang minuman ke dalam gelasnya dan langsung meneguknya.


Setelah itu, tidak ada pembicaraan di antara mereka.Yang terdengar hanyalah dentuman suara musik yang terus menggema di pub tersebut.


Tara terus saja meneguk minumannya dan sesekali menghisap rokoknya. Ia kembali terbayang akan sosok El.


Tara kembali teringat saat ia baru saja meneguk tiga gelas wiski, El sudah mengingatkannya karena khawatir dia akan mabuk.


Berbeda dengan Clara, ia malah ikut menenggak minuman itu bersamanya. Bahkan tak jarang Clara yang menawari.

__ADS_1


Jika El hanya pecandu rokok dan menjauhi free se*ks serta sangat menghargai dan menikmati pekerjaan nya. Berbeda halnya dengan Clara yang menganggap minuman, rokok, free se*ks adalah kebiasaannya dan ia sangat menikmatinya.


Begitu juga dengan pekerjannya sebagai seorang model dan designer, ia hanya menganggapnya hanya sebagai hiburan. Bukan tanpa alasan, itu karena Clara terlahir dari keluarga yang cukup berada dan terpandang.


Senyum Tara kembali terukir membayangkan wajah El yang tersenyum ramah kepada saat itu.


"Tara, kamu nggak sakit kan?" tanya Daniel sambil menyentuh keningnya.


Tara langsung menepis tangan Daniel sambil berdecih lalu menghabiskan sisa minumannya.


Daniel langsung terkekeh mendengar decihan sang boss.


"Aku mau pulang saja, Dan," ucapnya.


"Sayang, apa kamu masih ingin di sini?" tanyanya pada Clara yang sedang menuang minumannya ke dalam gelas.


"ini masih terlalu awal, Sayang," jawab Clara.


"Aku lelah dan pengen istirahat sayang. Aku antar kamu pulang dulu. Mobilmu, biar Daniel yang antar besok," pungkasnya.


"Hmm."


Mau tidak mau Clara menuruti perintah Tara. Ia pun beranjak dari duduknya lalu menggenggam tangan Tara dan keluar dari Pub itu.


Saat dalam perjalanan pulang, Tara tidak banyak bicara. Ia hanya fokus menyetir hingga sampai di kediamannya Clara. Setelah membukakan Clara pintu mobil, Tara mengantarkannya hingga ke depan pintu rumahnya.


"Sayang, masuk lah, sebelum tidur, bersihkan dirimu dulu dan mandi dengan air hangat ya," peringatnya.


"Sayang, aku masuk dulu ya, kamu hati-hati di jalan," bisik Clara.


"Hmm ... ya sudah masuk gih, salam sama mama dan papamu," pesan Tara sambil mengelus pipi Clara.


Setelah memastikan Clara masuk ke dalam rumah, baru lah ia menghampiri mobilnya dan duduk di kursi kemudi.


Tara menyandarkan kepalanya sejenak sambil menghela nafasnya lalu memijat kepalanya yang sedikit pusing.


Akhirnya Tara kembali melajukan mobilnya dan memutuskan ke kediaman orang tuanya.


Setelah beberapa menit, ia pun sampai di hunian mewah milik orang tuanya. Rumah yang jarang sekali ia injakan kakinya di tempat itu.


Satpam yang berjaga dan sangat mengenali mobil Tara, cepat-cepat membukakan pintu pagar rumah.


Selesai memarkir mobil, Tara pun menghampiri pintu rumah lalu membukanya.


Bu Arini dan Pak Mulia yang masih berada di ruang tamu, merasa terkejut dengan kedatangan Putra semata wayangnya itu.


"Son, kemari lah, sudah lama sekali kamu tidak menginjakkan kakimu di rumah ini," ucap Pak Mulia seraya merentangkan kedua tangannya ingin memeluk putranya.


Tara semakin menghampiri papanya lalu memeluknya dengan erat. Ada kerinduan yang mendalam di hatinya saat mendapat pelukan hangat papanya.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu habis minum lagi ya?" tanya Pak Mulia.


Tara hanya mengangguk dalam pelukan papanya. Setelah puas memeluk papanya, Tara kembali melepas. Ia menghampiri Mommy Arini lalu merebahkan kepalanya di pangkuannya.


Mommy Arini mengerutkan alisnya merasa heran dengan sikap Putra satu-satunya itu.


"Ada apa nak? Mommy merasa ada sesuatu yang kamu pikirkan," tebak Mommy Arini sambil mengelus rambut sang putra yang kini berada di pangkuannya.


Tara hanya diam sambil memejamkan matanya, ia sangat merindukan belaian momynya yang sudah tidak pernah ia rasakan karena ia lebih memilih tinggal di apartementnya.


"Tara, sampai kapan kamu mau seperti ini terus nak. Usia mu sebentar lagi sudah menginjak 32 tahun.Apa kamu tidak ingin memperkenalkan calon menantu Papa dan Momy?" tanya Pak Mulia kepada putranya.


Lagi-lagi Tara hanya diam dan masih memejamkan matanya.


"Tara, kamu dengar kan, apa yang papamu katakan barusan?" Mommy Arini ikut bertanya.


'Iya Momy, Pah, aku dengar kok," ucap Tara lalu membuka matanya dan mendudukkan dirinya.


"Pah, Mom. Apa Papa dan Mommy masih ingat dokter yang pernah merawat Papa di ruang VIP hampir dua tahun yang lalu?" tanya Tara.


Pak Mulia dan Mommy Arini tampak berpikir dan mengingat-ingat.


"Kalau Momy nggak salah, dia dokter yang sedang magang saat itu ... iya kan, Pah?" tanya Momy Arini lalu menoleh ke arah suaminya.


"Mungkin sekarang dia sudah menjadi dokter di rumah sakit itu. Papa senang dengan kepribadiannya. Anaknya lembut, telaten, ramah dan sopan," jelas Pak Mulia memuji El.


Hening sejenak...


sebelum akhirnya Tara kembali mengeluarkan suaranya.


"Pah, Mom ... seandainya calon menantu Papa dan Mommy dari kalangan orang biasa ... apa Papa dan Momy mau menerimanya?" tanya Tara penuh selidik.


Pak Mulia dan Bu Arini, langsung terkejut mendengar pertanyaan dari putra semata wayangnya itu.


"Apalagi dia sudah tidak punya siapa-siapa. Maksud ku, dia seorang yatim piatu," sambung Tara lalu menundukkan kepalanya.


"Apa papa dan momy nggak salah dengar? Bukankah kamu sudah lama menjalin hubungan dengan Clara anaknya Pak Surya? Lalu wanita yang kamu maksud ini siapa?" selidik Pak Mulia keheranan.


"Tara ... dengarkan Papa dan Momy. Papa dan momy tidak pernah memandang status sosial seseorang. Sebelum menjadi orang sukses seperti sekarang ini, papa dan momy juga pernah merasakan hidup susah. Jadi tidak masalah, Nak. Siapapun wanita pilihanmu, papa dan momy tetap menerimanya sebagai menantu kami."


Momy Arini ikut mengangguk menyetujui ucapan suaminya itu.


Tara hanya diam dan tampak berpikir sekaligus merasa getir.


Masalahnya, apakah El mau menerimaku? Lalu bagaimana aku menjelaskan ini pada Clara? Aku khawatir dia akan berbuat yang tidak-tidak pada El.


Merasa pikirannya sudah mulai kacau, Tara berpamitan. Ia memutuskan ke kamarnya.


Pak Mulia dan momy Arini hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap tidak biasa putranya itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2