
Waktu terus berlalu, hari berganti hari, tiap detik, menit, dan jam, tak sedikitpun El lewatkan untuk terus memantau perkembangan suaminya.
Tanpa terasa, sudah dua minggu berlalu, namun Kai belum terbangun dari tidur panjangnya.
Setelah Vira dan Daniel menyempatkan waktu menjenguk Kai, tiga hari kemudian keduanya kembali lagi melanjutkan perjalan ke kota A karena masa cuti Daniel sudah habis.
Lagi-lagi dengan berat hati Vira dan Daniel terpaksa berpamitan padanya. Pun begitu Lois dan Candra ikut menyusul. Sedangkan Mike masih tetap berada di rumah sakit itu untuk tetap memantau perkembangan Kai.
Damian sudah diperbolehkan pulang dan saat ini masih dalam pemulihan. Sedangkan El, ia terpaksa mengajukan izin kuliah jarak jauh dari dosennya selama jangka waktu yang tak terbatas.
Hal itu terpaksa ia lakukan karena ia tidak ingin meninggalkan suaminya. Bahkan ia rela terus-terusan menginap di rumah sakit hanya untuk tetap bersama sang suami.
"Sayang ... ini sudah dua pekan kamu tertidur ... aku mohon bangunlah my Bastard Man," ucap El sambil terisak menatap prianya seraya mengelus rambutnya.
"Dear ..." lirih Mike lalu merangkul bahunya.
Perlahan El menoleh lalu memeluk Mike dengan erat menumpahkan semua air matanya.
"Mike ... sampai kapan Kai akan seperti itu? Menutup matanya dan sama sekali nggak mau bicara padaku dan triplets? Please bangunkan dia Mike, bangunkan dia. Buat dia supaya kembali membuka matanya," desisnya lalu mengurai pelukannya. Menatap Mike lalu mencengkeram kemejanya.
"Mike, aku harus bagaimana jika Kai nggak akan bangun dan malah meninggalkan aku dan triplets? Katakan Mike! Aku takut ... aku takut kehilangannya. Bagaimana nasib kami nantinya," ucapnya tanpa melepas cengkeramannya dari kemeja Mike.
"Dear .... calm down," lirihnya.
"Nooo, bagaimana aku bisa tenang jika Kai belum siuman," desisnya lalu kembali menatap suaminya.
"Sayang ... please ... open your eyes look at me and your triplets. Sebenarnya apa yang kamu lihat dalam tidurmu hingga kamu nggak mau membuka matamu dan menatap wanita bar-bar mu ini," ucapnya sambil menangis.
Mike hanya bisa menatapnya nanar, selama dua minggu ini, ia tak pernah lagi melihat wajah ceria El, yang ada hanya wajah sendu dengan air mata yang setiap detik terus mengalir. Ia bahkan terus mengajak suaminya berbicara meskipun ia hanya bisa diam.
Tanpa keduanya sadari, Tara dan Dian yang sejak tadi berada di luar kamar rawat, ikut terenyuh mendengar kata-kata ungkapan hati El.
Ya ... Tara bisa tahu rumah sakit tempat Kai dirawat setelah berusaha mencari tahu dan memaksa Daniel untuk memberitahunya alamat rumah sakit tempat Kai dirawat.
Awalnya Daniel yang masih merasa jengkel padanya enggan memberitahunya, namun karena melihat boss-nya itu benar-benar menyesali perbuatannya, akhirnya Daniel terpaksa mengatakan yang sejujurnya.
__ADS_1
Begitu tahu Kai di rawat di rumah sakit Helios Berlin, tiga hari kemudian ia pun mengajak Dian dan baby Bara berangkat ke negara berjuluk panser itu.
Setelah tiba di kota Berlin dua hari yang lalu, Tara dan Dian menginap di salah satu hotel. Sebelum benar-benar siap bertemu dengan El dan Kai, ia sudah menyiapkan mental jika El akan menolak kehadirannya nanti.
Namun ia bisa sedikit bernafas lega karena Dian tetap menyemangatinya.
"Dian ... kamu duluan saja, aku mau ke toilet sebentar," ujarnya lalu bergegas mencari toilet.
Dian hanya mengangguk namun terlihat gusar. Setelah Tara membuat pengakuan dan menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutup-tutupi, Dian awalnya begitu marah namun melihat kesungguhan suaminya benar-benar menyesali semua perbuatannya, akhirnya Dian bisa menerima bahkan menasehatinya.
Di sela isak tangis El yang sejak tadi terdengar, suara Dian seketika membuatnya terdiam sejenak.
"El ... Mike ..." lirihnya lalu menghampiri temannya itu.
"Dian ..." sahutnya dengan suara tercekat lalu menyeka air matanya. "Bagaimana kamu tahu ..."
"Aku sudah tahu semuanya dari Daniel dan Lois. Maaf ... aku baru datang sekarang," ucapnya lalu.
"Baby Bara ..." lirihnya lalu meraih bayi mungil itu dari gendongan Dian.
"Dian, El ... kalau begitu aku keluar dulu ya," izin Mike dan dijawab dengan anggukan kedua-nya.
"El ... yang sabar ya. Aku nggak menyangka jika Kai yang selama ini terlihat sehat dan baik-baik saja ternyata menyembunyikan penyakitnya," kata Dian.
"Hmm ... dan itu sudah berlangsung hampir dua tahun," sahut El.
"Berarti sejak kalian pacaran ..."
"Nggak, sebulan setelah aku meninggalkan kota A. Bahkan Mike memintanya lanjut berobat ke sini," lirih El lalu mengecup baby Bara.
"El ... aku hanya bisa bantu dengan doa. Semoga Kai cepat sadarkan diri."
"Terima kasih, Dian," ucapnya. "Apa kamu sendiri saja?" tanyanya lagi.
"Nggak, aku sama Tara tapi dia ke toilet tadi," jelas Dian.
__ADS_1
El hanya mengangguk lalu kembali menatap wajah suaminya. "Sayang ... lihatlah siapa yang jauh-jauh datang menjengukmu," desisnya. "Baby Bara, Sayang. Apa kamu nggak mau membuka matamu dan menggendongnya?" tanya El dengan perasaan sedih.
Kai yang tampak tetap memejamkan matanya, sebenarnya bisa mendengar semua ucapan istrinya, bahkan tangisannya yang selalu terdengar lirih di telinga.
Namun entah mengapa ia tidak bisa membuka matanya. Ia seolah-olah tersesat dan terus berusaha mencari jalan keluar. Namun ketika ia hampir berhasil ia kembali berada di tempat yang sama.
Lord kembalikan aku ke dunia nyata. Kasian istriku dan calon bayi kami yang ada dalam kandungannya. Jangan buat dia terus menangis dan mengkhawatirkan aku. Aku mohon ...
Dalam penglihatannya, Kai berlutut seraya menggenggam butiran pasir putih bersih sambil menangis.
Kembali ke El dan Dian ...
"Sayang ... aku tinggal sebentar ya," bisik El lalu mengecup kening suaminya lalu mengajak Dian meninggalkan kamar rawat menuju ruangan Mike.
Kehadiran Dian dan baby Bara sedikit mengurangi kesedihannya dan membuatnya merasa terhibur.
"Sayang ... jika uncle Kai sudah bangun, aunty dan uncle akan mengajakmu jalan-jalan di kota ini," tuturnya. Kamu, triplets, mama Dian papa Tara dan uncle Kai."
Setelah memastikan Dian dan El sudah benar-benar menjauh, perlahan Tara mendekati pintu kamar lalu membukanya.
Sesaat setelah berada di dalam kamar, Tara langsung menghampiri bed pasien.
Tubuhnya langsung bergetar karena menangis, menatap nanar wajah pucat Kai.
"Kai ..." panggilnya dengan suara bergetar. "Maafkan aku. Bangunlah ... aku datang menjengukmu. Kamu bilang kamu ingin menggendong putraku. Ayo bangun Kai," desisnya sambil menggenggam tangan pria blasteran itu.
"Apa kamu tega membiarkan El menangis seperti tadi? Brengsek, bangunlah," umpatnya sambil menangis. "Hei pria bajingan, brengsek bangunlah, aku mohon," lanjut Tara dan tangisnya semakin menjadi. "Mana Kai yang aku kenal tangguh, angkuh dan kejam? Kenapa sekarang kamu terbaring lemah," lirihnya sambil tertunduk lesu menangis dan merasa menyesal.
Lagi-lagi Kai hanya bisa mendengar namun ia tidak bisa membuka matanya.
Setelah beberapa menit berada di kamar rawat Kai, ia kembali menatap lekat wajah Kai lalu menggenggam tangannya.
"Kai ... aku berharap kamu segera bangun dari tidurmu. Apa kamu nggak ingin kita seperti dulu lagi?" lirihnya. "Aku akan menunggu sampai kamu bangun. Aku nggak peduli harus berapa lama aku berada di kota ini. Aku hanya ingin melihatmu bangun dan meminta maaf padamu. Kita mulai persahabatan kita lagi seperti dulu," harapnya.
"Aku pamit Kai, besok aku akan menjengukmu lagi," pungkasnya lalu melepas genggaman tangannya dari Kai.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈππ