All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
26. Menghirup udara bebas ...


__ADS_3

Setelah menjalani hukuman selama dua tahun lamanya, akhirnya hari yang El nanti-nantikan selama tiba juga.


Bertepatan hari ini akhirnya ia bisa menghirup udara bebas.


El tak kuasa menahan tangisnya saat harus berpisah dengan teman-teman satu kamarnya.


Semua Pakaian dan beberapa benda milik kesayangannya ia bagikan sebagai kenang-kenangan.


"Guys ... jika aku akan sangat merindukan kebersamaan kita di sini. Aku tidak akan lupa dengan semua kebaikan kalian selama ini kepadaku. Kita sudah berbagi tempat sempit ini dengan ikhlas. Terima kasih, ya," ucapnya lalu memeluk mereka satu persatu.


Setelah itu, dengan berat hati El melangkahkan kakinya menyusuri lorong berjeruji besi itu. Saat ia terus melangkah, El kembali berpapasan dengan Tasya and the geng.


El hanya tersenyum sinis saat gadis arogan itu menghadangnya.


"Ini belum berakhir El. Setelah aku bebas, akan aku pastikan kita akan bertemu lagi dan aku akan membalas mu," bisik Tasya sekaligus menebar ancaman.


Mendengar ancaman gadis itu, El tersenyum sinis lalu memberikan tatapan menghunus tajam tepat di bola mata Tasya.


"Silahkan saja. Apa kamu tahu, huh?! Tanganku ini sudah sangat gatal dan ingin sekali mematahkan tangan, gigi serta merobek mulut besarmu itu. Jika saja saat itu aku nggak mengingat akan hukumanku, maka akan aku pastikan dirimu sudah tidak bisa berjalan, bahkan wajah cantikmu ini sudah aku rusak dengan pisau yang kamu gunakan untuk menikamku," tegas El penuh penekanan.


"Apa kamu ingin tahu disebut apa dirimu?" sinis El. "PECUNDANG," pungkasnya sekaligus mengejeknya dengan senyum sinis. Bahkan tak mengalihkan sedikitpun tatapan matanya dari gadis itu.


Tasya yang masih mendapat tatapan menghunus tajam dari El, seketika merasakan jika El seperti seorang wanita psikopat. Nyalinya seolah menciut apalagi saat mendengar kalimat sinis El yang benar-benar mengancamnya.


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


"Apa masih ada yang ingin kamu katakan?Sebelum aku benar-benar meninggalkan tempat ini," bisik El dengan seringai tipisnya.


Tasya and the geng hanya bisa bungkam seribu bahasa. Tasya langsung menunduk karena tidak


kuat menatap mata El.


Apa dia wanita psikopat? Tatapan matanya membuat aku merinding. Mengerikan.


Merasa Tasya and the geng hanya bungkam dan diam di tempat. El kembali melanjutkan langkah kakinya hingga tiba di depan pintu gerbang lapas.


Daniel dan Tara yang sejak tadi sudah menunggunya, merasa sangat terharu sekaligus bahagia menyambutnya.


El langsung merangkul bahu kedua pria itu yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


Jika El hanya menganggap Tara dan Daniel seperti kakak sendiri, lalu Tara dan Daniel bagaimana? 🀭🀭🀭


"El ... aku punya sesuatu untukmu dan kamu pasti sudah sangat merindukannya," ucap Tara sambil menatap El.


"Apa?" tanya El penasaran.


Tara membawanya ke samping mobil. Saat melihat benda yang di maksud Tara, El langsung meloncat-loncat kegirangan seperti bocah yang baru saja mendapat permen.


"Oh God ... my Baby!!!" pekik El dan langsung memeluk motor besar kesayangannya.

__ADS_1


"Makasih karena sudah merawat dan menjaganya," kata El. Ia masih memeluk dan mengelus motornya.


Daniel dan Tara hanya bisa tertawa lucu sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd El.


"Daniel ... lihatlah ... El sudah kembali. El seperti ini lah yang aku inginkan. Ceria, sedikit konyol dan apa adanya," ucap Tara sambil merangkul asisten kepercayaannya itu.


"Ya ... biarkan dia menikmati harinya hari ini," timpal Daniel


"El, ini ponselmu. Sepertinya kamu harus mengganti kartu. Soalnya selama dua tahun, aku nggak pernah mengaktifkannya," jelas Tara lalu memberikan ponsel milik El.


"Aku bahkan sudah lupa jika aku punya ponsel," kata El lalu terkekeh kemudian meraih ponsel itu dari Tara.


"Dan, Tara, makasih ya. Kalian sudah banyak membantuku. Entah bagaimana caranya aku akan membalas segala kebaikan kalian berdua nantinya." El lalu menggenggam jemari Daniel dan Tara.


"Kalian berdua lanjut ke kantor saja, aku ingin ke makam dulu.Tapi...."


El menjeda kalimatnya sekaligus membuat Tara dan Daniel saling berpandangan.


"Tapi apa?" tanya Tara.


El menadahkan telapak tangannya, mengisyaratkan jika ia ingin meminta sesuatu sambil cengengesan.


"Tapi minta duit dong. Aku nggak punya duit buat beli bunga. Soalnya tadi, duitku sudah aku bagikan ke teman-temanku di lapas," kata El sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Daniel dan Tara langsung tertawa menatapnya. Karena merasa gemas, Daniel langsung mengacak rambut gadis itu.


El menggelengkan kepalanya karena enggan.


"Aku nggak butuh itu. Yang aku butuhkan duit cash," tolak El.


"Nggak apa-apa, El. Ambilah," tawar Tara lagi.


El kembali menggelengkan kepalanya. Hingga akhirnya Daniel memberikannya uang cash.


"Thanks ya, Dan," ucapnya. "Oh ya helm ku mana?" tanya El.


"Bentar, aku ambilkan di dalam mobil," kata Tara.


Setelah memberikan helm gadis itu, Tara mengacak rambutnya dengan gemas.


"Ya sudah ... aku pamit ya. Sampai ketemu nanti sore," pesannya.


Tara dan Daniel hanya mengangguk lalu tersenyum.


Sebelum benar-benar meninggalkan Tara dan Daniel, El berteriak sepuasnya melepaskan segala uneg-unegnya.


Setelah puas berteriak ia mulai memacu motornya dengan perasaan bahagia.


"Thanks God .... sekarang aku benar-benar bebas!!!" bisiknya sesaat setelah memacu motornya meninggalkan pintu gerbang lapas.

__ADS_1


Sepeninggal El, Tara dan Daniel langsung membuka pintu mobil lalu duduk di kursi.


"Dan ... langsung antar aku ke kantor," perintahnya. "Aku nggak mau Kai sampai curiga," tegas Taranya.


"Siap, Boss," kata Daniel lalu terkekeh.


Setelah itu, Daniel mulai melajukan mobilnya membelah jalan kota yang sudah mulai padat dengan kendaraan.


"Dan ... apa kamu sudah menyiapkan apartemen untuk El?" tanya Tara yang terlihat serius menatap ke depan.


"Hmm."


"Bagus, aku berharap Kai nggak akan mengusik kehidupan El lagi. Sudah cukup dua tahun lamanya Kai merampas kebebasannya dan membuatnya menderita," pungkasnya.


.


.


Sesaat setelah tiba di depan gedung kantor Kai. Sang pemilik kantor juga baru saja tiba.


"Dan, habis ini jangan lupa antar mobil Clara ke rumahnya," pinta Tara dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Daniel.


Setelahnya Tara keluar dari dalam mobil lalu buru-buru masuk ke pintu gedung. Namun langkahnya tertahan karena Kai memanggilnya.


"Tara tunggu!!" Kai sedikit berteriak.


Dengan malas Tara menghentikan langkahnya sembari menunggu bossnya itu.


"Morning Mr. Kai," sapanya lalu terkekeh.


"Biasa saja, Bro," protes Kai.


Saat keduanya berada di dalam lift, Kai meliriknya lalu bertanya, "Semalam ke mana saja kamu? Tumben batang hidungmu nggak kelihatan di Bronze," tanya Kai sedikit penasaran.


"Biasa, cari barang bagus. Oh ya, apa kemarin siang setelah bertemu klien, kamu dan Bella ...."


Tara tidak melanjutkan ucapanya melainkan langsung terbahak. Otaknya langsung traveling ke mana-mana.


"Kamu sudah menebaknya. Lalu, apa perlu aku jelaskan lagi?" sahut Kai lalu meninju pelan lengan sahabatnya.


"Pasti semalam kamu lanjut lagi di Bronze kan? Dasar maniak," ledeknya.


"Bukan aku saja yang maniak tapi kamu juga," ejeknya balik lalu terkekeh.


Ting ...


Pintu lift terbuka, keduanya pun menuju ke ruangannya masing-masing.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2