
Kai masih saja berjongkok menatap wajah teduh nan tenang El. Melepas jasnya lalu meletakkan di atas meja.
Setelah itu, ia mengangkat sedikit kepala El lalu menjadikan pahanya sebagai bantal. Ia terus menatap wajah gadis itu sembari mengelus pipi dan rambutnya.
"Ssssttt ... God ..." ia kembali merasakan perih. Kai menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa lalu memejamkan matanya.
"Misi pertama berhasil," gumamnya dengan senyum tipis sebelum akhirnya ia ikut tertidur dengan posisi duduk.
Dua puluh menit kemudian ...
Saat El terbangun, ia merasa ada tangan yang menggenggam jemarinya. Ia mendongak.
"Sayang ..." lagi-lagi ia menautkan alisnya saat mendapati Kai terlihat gelisah dengan wajahnya berkeringat.
Niat hati ingin melampiaskan emosinya namun langsung lenyap seketika berganti dengan rasa khawatir. Ia pun perlahan melepaskan tautan jemarinya kemudian mendudukkan dirinya.
"Sayang ..." El mengusap keringat di wajah Kai. "Sayang ... sebenarnya kamu kenapa?" Mata El mulai berkaca-kaca.
"Kamu ini kenapa sih?! Berisik banget tahu," protes Kai sesaat setelah membuka membuka matanya kemudian terkekeh.
"Ayo kita ke rumah sakit, sepertinya kamu nggak baik-baik saja," sahut El.
"Sayang ... apa kamu sedang bermimpi? Bangun-bungun langsung mengajakku ke rumah sakit."
El bergeming menatap Kai. "Aku nggak bermimpi tapi perasaanku mengatakan kamu sedang sakit."
"Oh, come on, sayang. Jangan menatapku seperti itu," bisik Kai lalu mengecup kening El lalu memeluknya.
"Aku membencimu ..." bisik El lalu menangis.
"Tapi aku mencintaimu dan kamu milikku," balas Kai mengeratkan pelukannya. "Berhentilah menangis ... please. Sayang, sore ini aku akan kembali ke kota A. Soalnya ada urusan mendadak."
"Aku nggak mengizinkanmu pergi," tegas El.
"Come on, sayang. Tapi masalahnya ini mendesak," sahut Kai berbohong.
"No ... pleeeease," mohon El lalu menatap Kai dengan tatapan memelas.
"Melihatmu seperti ini, rasanya aku nggak tega. Jadi seperti ini wajahmu jika memohon? Gemes banget sih."
__ADS_1
"Baiklah." Kai mengalah lalu menyeka air mata El. "Sebentar ya, sayang. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sedikit lagi."
El hanya mengangguk. Begitu Kai kembali ke kursi kerjanya, ia langsung mengirim pesan ke Richard, meminta tolong untuk memesankan mereka makanan.
Setelahnya, ia meletakkan ponselnya di atas meja sambil sesekali melirik Kai yang terlihat serius mengutak-atik laptopnya.
"Sebenarnya kamu itu sakit apa? Kenapa harus menyembunyikan dariku? Aku sedikit curiga jika kamu itu liver atau sirosis."
El hanya bisa membatin. Sembari terus menatap Kai. Ia pun meraih jas Kai yang tergeletak di atas meja lalu menggantungnya di tempat khusus.
Karena tak ingin mengganggu, El hanya membiarkan Kai melanjutkan pekerjaannya. Ia menatap keluar lewat kaca besar ruangan Kai sambil termenung.
"Jika dulu aku begitu membencimu, jijik bahkan sering memakimu tapi sekarang itu berbanding terbalik. Ketulusanmu, kegigihanmu serta besarnya usahamu untuk meluluhkan hatiku membuatku sangat terharu, bahkan saat diriku menjadi Culun, kamu begitu yakin jika itu aku. Ternyata instingmu begitu kuat."
El kembali membatin, "Aku takut, jika kamu sampai kenapa-kenapa. Aku takut kehilanganmu. God ... not again." Air matanya kembali menetes.
"Sayang, kemarilah," pinta Kai setelah menyelesaikan pekerjaannya. El langsung menyeka air matanya lalu berbalik. Menatap Kai yang kini sedang berdiri sambil bersandar di meja kerjanya.
Saat El mendekat Kai langsung mendudukkannya di atas meja kerjanya.
"Why? Please ... jangan ada air mata lagi. Cukup, Sayang," bisik Kai lalu memeluknya.
"jika kamu ingin membenciku bencilah diriku sewajarnya saja, bisa jadi aku yang kamu benci ini menjadi orang yang sangat kamu cintai."
"Sayang, i'm scared ..." ucapnya lirih disertai tangis.
Kai mengeratkan pelukannya bahkan ia tahu benar apa yang El maksud.
"Ck ... sudah, kenapa kamu jadi cengeng begini, hmm?" Kai coba mencairkan suasana. "Mana El yang aku kenal ketus, bar-bar, dan galak? Sayang, aku baik-baik saja, jangan khawatir."
El melerai pelukannya lalu menangkup rahang tegas Kau. "Katakan padaku apa alasanmu membawa semua pakaianku ke apartemen?"
"Aku ingin kamu tinggal bersamamu," aku Kai. "Sayang, berhentilah bekerja dan menikahlah denganku. Kamu mau kan? Aku juga ingin segera memiliki anak darimu," pungkasnya dengan sungguh-sungguh bahkan terlihat serius.
El bergeming menatap manik hazel Kai dalam-dalam lalu kembali memeluknya. "Beri aku waktu, Sayang. Karena ini nggak mudah bagiku. Sejujurnya aku belum siap."
"Nggak masalah, Sayang, aku akan tetap menunggumu tapi jangan lama-lama, karena aku nggak akan kuat menahannya," bisik Kai menggoda sekaligus ingin menghentikan tangisan El.
Tak lama berselang pintu ruangannya di ketuk.
__ADS_1
"Sayang ... itu pasti Richard," bisik El. "Aku memesan makanan darinya tadi."
"Tuan ... ini makanan pesanan Nona El," kata Richard sesaat setelah membuka pintu lalu meletakkan paper bag makanan itu di atas meja sofa.
"Thanks, Richard."
"Sama-sama, Tuan." Richard segera berlalu meninggalkanya ruangan itu.
Sepeninggal Richard, El menata makanan itu di atas meja lalu mengajak Kai makan bersama. Sesekali ia menyuapi Kai. Keduanya cukup menikmati makan siangnya meski pun sudah terlambat.
Selesai menyantap makan siang, Kai kembali menatap El.
"Bagaimana kuliahmu hari ini?" tanyanya dengan seulas senyum.
"Semuanya berjalan lancar. Oh ya, Sayang, aku harus temui bu Amanda dulu soalnya aku ingin bicara baik-baik sebelum resign dari restoran itu. Aku sekalian ingin berterima kasih kepada Candra, juga teman-teman kerjaku di restoran itu," jelas El.
"Baiklah."
"Sayang ... aku pulang dulu ya."
"Ayo, biar aku yang mengantarmu, kebetulan aku juga mau ke lokasi proyek," cetus Kai.
*******
Sesaat setelah tiba di depan gedung apartemen, El kembali berpamitan.
"Sayang, kamu hati-hati ya di lokasi proyek," pesan El.
Kai hanya mengangguk. Sebelum membuka pintu mobil El memeluknya sejenak lalu mengecup pipinya.
"Hanya pipi?" protesnya.
El terkekeh lalu mengecup bibirnya kemudian kembali memeluknya dengan gemas. "Aku mencintaimu, Sayang, semangat ya kerjanya."
Kai mengulas senyum bahkan hatinyan langsung menghangat mendengar ucapan tulus dari wanita yang ia cintai itu.
"Sudah ah ..." El melerai dekapannya lalu membuka pintu mobil.
Setelah Kai meninggalkannya barulah ia melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
...----------------...