All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
67. Maukah kamu berteman denganku ...?


__ADS_3

Kota X ...


Lagi-lagi hanya untuk menyenangkan sang momy, Tara terpaksa menghadiri undangan makan malam dari Pak Devan Andrea dan Bu Indira yang merupakan calon mertuanya.


Tampak saat ini mereka sedang berada di ruang VIP restoran mewah milik Bu Cecilia. Tara hanya tersenyum tipis saat Dian duduk di sampingnya.


El mana ya? Biasanya jam segini dia masih bekerja. Apa dia kuliah malam lagi?


"Dian, Kamu kenapa?" tanya Tara.


"Tidak apa-apa, aku hanya kepikiran Culun saja," jawabnya. Ia pun meminta izin untuk ke toilet sebentar. "Maaf, aku ke toilet sebentar."


"Culun? Nama yang aneh. Honestly, jika dilihat dari segi penampilannya, dia cukup fashionable. Hanya saja ia berkacamata tebal dan bintik-bintik di wajahnya itu yang membuatnya beda," celetuk Andra.


Tara hanya manggut-manggut sembari mengaduk makanannya.


"Tara, kapan kamu ke Kota A?" tanya Andra.


"Besok."


"Kita barengan saja, soalnya aku juga akan kembali ke Kota A besok," sambung Andra lalu dibalas dengan anggukan.


Sementara itu, Dian yang sudah keluar dari toilet menyapa salah satu karyawan lalu bertanya.


"Maaf, aku mau nanya. Apa Culun masuk kerja hari ini?"


"Tidak, Mbak. Dia ambil cuti selama satu minggu. Katanya mau pulang kampung. Tadi pagi dia sudah berangkat," jelas karyawan itu.


"Hmm." Dian mengangguk.


Kok, El nggak bilang-bilang? Pantasan saja rumahnya tertutup sejak pagi. Nomornya pun nggak aktif.


Sesaat setelah berada di ruangan itu, Tara menatap gadis cantik itu.


Jika dilihat-lihat, sepertinya Dian seumuran dengan El.


"Dian, maaf, besok kami akan kembali ke Kota A. Jika aku nggak sibuk, aku akan ke sini lagi," kata Tara.


"Nggak apa-apa, Tara. Aku mengerti." Dian mengulas senyum.


Setelah selesai makan malam bersama, akhirnya mereka meninggalkan ruangan itu. Sesaat setelah berada di tempat parkiran Tara malah berpapasan dengan Candra.


"Tara," sapanya. "How are you, Bro?"


"Candra! Sebentar ya, aku antar Dian ke mobil dulu," kata Tara.


Sesaat setelah mengantar Dian ke mobil, ia pun mengecup singkat pipi sang calon istri.


"Kami duluan, ya," pamit Dian dengan seulas senyum. Namun dadanya berdebar-debar karena mendapat kecupan singkat dari Tara.


Tara hanya mengangguk lalu menghampiri kedua orang tuanya. "Pah, Mom. Kalian duluan saja," serunya dan dijawab dengan anggukan kepala keduanya.


Ia kembali menghampiri Candra. "Sebaiknya kita ke club malam saja, Can, biar aku yang traktir."


"Boleh, lagian sudah lama aku nggak ke club malam," timpal Candra lalu terkekeh.


.

__ADS_1


.


.


Sesaat setelah tiba di club malam, Tara dan Candra langsung ke ruang VIP club' tersebut.


Tahu jikansang big boss yang datang berkunjung. Karyawan club' langsung memberikan pelayanan. Seperti biasa, minta dibawakan wiski.


"Candra, kamu boleh minum sepuasnya," tawar Tara lalu mengangkat gelasnya untuk bersulang.


"Thanks, Tara. Oh ya, apa kamu ada urusan bisnis di Kota ini?" tanya Candra namun dijawab dengan gelengan kepala. "Lalu?"


"Aku ke sini semata-mata ingin membuat momyku senang. Aku dijodohkan dengan teman bisnis Papa di Kota ini," jelas Tara.


"Maksudmu wanita tadi, Dian? Anaknya pak Devan Andrea?"


Tara mengangguk lalu meneguk minumannya.


"Sebenarnya, aku sama sekali nggak mencintainya. Aku hanya mencintai El, wanita yang sampai sekarang belum aku ketahui keberadaannya. Bahkan aku sudah melacak dan menyebar orang kepercayaanku ke semua Kota, namun hasilnya nihil," ungkap Tara.


Candra mengerutkan alisnya. "Maksudmu gadis yang hilang itu?"


Lagi-lagi Tara menjawab dengan anggukan kepala.


Ruangan itu kembali hening ...


"Oh ya, Tara. Apa kamu nggak bertemu Kai di Kota ini? Sudah sebulan loh, dia di Kota ini.


Tara tampak berpikir. "Benarkah? Apa dia masih berada di Kota ini? Aku ingin menemuinya." Tara mengepalkan tangannya.


"Dia sudah kembali Kota A tadi pagi. Dia ke sini hanya memantau perkembangan pembangunan rumah sakit. Dia buru-buru pulang soalnya ada klien dari luar negeri yang ingin bertemu langsung dengannya," jelas Candra.


Pembicaraan mereka terus berlanjut di club malam itu.


.


.


.


.


Hotel xxxx ......


Karena belum merasa tenang, El kembali lagi ke bengkel Bimbo. Setibanya ia di sana, ia buru-buru masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk.


Matanya langsung membulat sempurna menyaksikan live adegan panas Bimbo dengan seorang wanita.


Mungkin saja kekasih atau hanya partner.


Ia menggelengkan kepalanya. Dengan santainya ia menegur keduanya. "Ehem .... ehem ... woooii, Bro and Sist, apa nggak ada tempat lain untuk bercocok tanam?" tanyanya dengan seringai tipis di bibirnya.


Kedua sejoli itu langsung gelagapan mendengar suaranya lalu mengambil pakaian mereka yang teronggok begitu saja di atas lantai.


Sambil menunggu keduanya memakai pakaian,


El keluar dari ruangan itu lalu menghampiri motornya yang sudah mulai di modifikasi oleh karyawan Bimbo.

__ADS_1


Senyumnya langsung mengembang. "Thanks, Bim. Ternyata kamu memang benar-benar bisa di andalkan."


Tidak lama kemudian, Bimbo menghampirinya. "Cih .... kamu apa-apaan sih, El. Mengganggu orang saja."


Gadis itu langsung terbahak. "Sudah tuntas belum? Jangan-jangan juniormu langsung meleyot," kata El lalu kembali terbahak.


Bimbo hanya menggelengkan kepalanya.


"Ada apa lagi kamu kembali? Apa kamu masih merindukanku, hmm? Atau kamu ingin melanjutkan seperti yang tadi dan menuntaskan hasratku?" tanya Bimbo dengan seringai penuh arti.


"Never, lagian mana mau aku dengan bekas wanita tadi. Eeeewwww ... menjijikkan, apalagi tadi juniormu itu sudah menancap di lorong keramat partnermu tadi," jawab El lalu mendorong dada bidang Bimbo.


Bimbo terkekeh mendengar ucapannya. Ia mengacak rambut keriting gadis itu karena gemas.


"Bim, ini surat-surat penting. Aku minta tolong kamu urus motor ini untuk pindah ke Kota X. Kamu kan banyak kenalan orang-orang penting di situ. Pokoknya aku percayakan semuanya padamu," pinta El.


"Ok, no problem, El." Bimbo meraih amplop berisi surat-surat penting. "Imbalannya apa, jika besok semua urusan motormu selesai?" tanya Bimbo dengan suara berbisik menatap bibir tipis El


"Nggak ada, hanya ucapan terima kasih," jawab El dan lagi-lagi ia menahan bibir Bimbo dengan jarinya lalu terkekeh.


"Cih ...." decih Bimbo. Lagi-lagi El menolak dicium olehnya.


El terkekeh menatap wajah kesal Bimbo. "Apa kamu masih ingin lanjut bercocok tanam? Sepertinya gadismu masih menunggumu?" bisik El sembari mengarahkan dagunya ke arah pintu yang sedikit terbuka. "Aku pamit, ya. Soalnya aku mau cari makan dulu." El mengelus pipi dan bibir Bimbo lalu sengaja mengigit bibir bawahnya kemudian mengedipkan sebelah matanya menggoda Bimbo. Setelah itu, El meninggalkannya yang sudah terlihat gelisah.


"Oh .... Damn! El ...... sssttt .... Aku harus segera menuntaskannya." Bimbo langsung kembali ke ruang kerjanya dan melanjutkan aktivitas panasnya dengan partnernya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Dengan santainya El berjalan di trotoar sambil mencari kuliner street food. Ia kembali memakai kacamata tebalnya dan terus berjalan sambil menikmati malam hari di Kota kelahirannya itu.


Ia duduk sejenak, di salah satu halte sambil memperhatikan jalan kota dengan kendaraan yang sudah mulai berkurang. "Ma, pa, tante Karin, besok aku akan ziarah ke makam kalian." El bergumam dalam hati.


Tin ... tin ... tin ...


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapannya. El tampak bingung lalu mengerutkan alisnya. "Cih! Nggak jelas banget sih, nih orang." El merasa kesal. Ia berdiri lalu kembali berjalan. Baru beberapa langkah, tangannya malah ditahan. "Lepas ....." El terdiam dan kembali merasa jengkel.


"Kamu! Lepasin nggak ... atau mau aku patahkan tanganmu itu?!" bentak El.


"Coba saja kalau bisa," kata Kai dengan santai.


El langsung memutar lengan besar Kai lalu melipatnya ke belakang, namun secepat kilat juga Kai membalikkan keadaan lalu memeluk El.


"Ternyata kamu cukup tangguh juga, ya," bisik Kai yang berada di belakang El sambil memegang kedua tangannya.


El memberontak. "Let me go bastard!" bentak El. Alih-alih melepas, Kai malah semakin mengeratkan pelukannya lalu mencium leher El.


Seketika El terdiam dan hanya membiarkan Kai. "Sh*it! ... What the fu*ck! ..." El mengumpat dalam hati. Ia menarik nafasnya dalam.


"Bro, let me please," pinta El dengan nada lembut. Pikirnya, jika ia terus melawan, Kai pasti akan berbuat hal yang sama.


"Biarkan seperti ini dulu, sebentar saja. Please. Sosokmu, sikap dinginmu, tatapan matamu dan aroma tubuhmu mengingatkan aku pada El. Gadis yang aku cintai. Sampai detik ini aku masih mencari tahu keberadaannya. Aku merasa bersalah padanya bahkan setiap malam aku tidak bisa tidur karena terus memikirkannya." Air mata Kai jatuh ke pundak El.


El hanya bergeming mendengar ucapan Kai.


Cinta??? ... Bulshit!!! Setelah merenggut segalanya dariku, baru kamu menyesalinya sekarang? Merasa bersalah? Apa aku nggak salah mendengarnya? Bahkan air mata penyesalanmu itu sudah nggak berguna. Aku membencimu Kai. Sangat ..."


Akhirnya Kai melepas pelukannya lalu membalikan tubuh El menghadapnya lalu. "Culun, maukah kamu berteman denganku?" tanya Kai lalu menatapnya.


El hanya bergeming. "Huh! Tidak ada salahnya menjadi temannya. Lihat saja, aku bakalan kerjain si bastard ini habis-habisan." El bergumam dalam hatinya. "Ok." sahutnya singkat.

__ADS_1


Kai langsung mengulas senyum. "Thanks." El hanya mengangguk namun dalam hatinya terus saja mengumpat.


...----------------...


__ADS_2