
"Kai ... kemarilah ..." Suara yang begitu tak asing menyapa gendang telinganya dikala ia masih kebingungan di hamparan pasir putih itu.
Berada di sebuah pulau tanpa ada satupun makhluk kecuali dirinya.
"Kai ..." Suara itu kembali memanggilnya.
"Pah ... Papa!!!" teriaknya sambil memutar badannya mencari arah sumber suara.
"Papa tahu kamu terjebak dipulau ini. Kemarilah Nak," pinta papa Abraham dari jarak yang tak jauh darinya berdiri tepatnya di belakang sang putra.
Kai berbalik dan tak kuasa menahan air matanya, ia langsung berlari memeluk sang papa sambil menangis.
"Pah ... Papa ke mana saja? Kenapa Papa meninggalkan aku sendirian di pulau ini? Aku takut," lirihnya sambil terisak.
"Sekarang kamu nggak perlu takut lagi, papa bersamamu sekarang."
"Segenap kerinduan Kai pada papanya selama ini akhirnya terbayar dengan pertemuannya di pulau tak berpenghuni itu. Papa Abraham tersenyum sambil mengelus punggungnya dengan sayang.
"Kai, putra papa satu-satunya. Papa nggak menyangka jika kamu besarnya akan setampan ini. Menjadi pria tangguh dan bertanggung jawab menjaga mama," kata papa, mengurai dekapannya lalu menyeka air mata putranya. "Tataplah wajah papa sepuas yang kamu inginkan Nak," pintanya sambil memegang kedua lengan kekar Kai lalu mengulas senyum.
Kai menatap lekat wajah sang papa sambil menangkup wajah tampan itu. Wajah yang begitu mirip dengannya bahkan ia merasa seperti sedang berhadapan dengan kakaknya.
"Ayo ... papa ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tempat di mana papa dan teman-teman papa tinggal selama ini," ajak papa sambil menggenggam tangannya.
Kai hanya mengikuti ke mana langkah kaki sang papa membawanya. Keduanya terus berjalan menuju sebuah cahaya berbentuk sebuah pintu lalu keduanya memasukinya.
Seketika keduanya langsung berada di tempat yang berbeda. Sebuah taman dengan udara sejuk, terasa damai dan menenangkan jiwa. Begitu indah penuh dengan berbagai jenis bunga dan aroma wanginya langsung terasa. Hamparan rumput hijau yang terbentang seolah tak berpenghujung. Kai memejamkan matanya sejenak merasakan ketenangan.
Namun ia merasa janggal karena semua penghuni taman termasuk papanya mengenakan pakaian sutra putih bahkan mereka semua tampak seumuran.
"Pah ... aku ingin tinggal di sini saja bersama Papa. Aku menyukai tempat ini."
Sang papa mengulas senyum lalu mengelus punggung tegapnya. "Kai ... apa kamu lupa, mama dan istrimu sedang menunggumu pulang?" kata papa.
Seketika itu juga Kai teringat istrinya dan juga mamanya. Sedetik kemudian ia menatap papanya lalu menggenggam kedua tangannya.
"Kalau begitu, Papa saja yang ikut aku pulang. Kita akan berkumpul lagi dengan mama, istriku dan calon cucu Papa. Rumah kita akan semakin rame dengan kehadiran triplets nantinya," kata Kai dengan senyum bahagia.
Papa Abraham hanya mengulas senyum lalu memeluknya, mengelus kepala turun ke punggung, begitu erat seolah berat melepas putra semata wayangnya itu.
"Papa ingin, Nak. Tapi papa betah tinggal di sini. Papa nggak mungkin bisa berkumpul lagi dengan kalian. Papa hanya berharap doa yang tulus dari kalian," lirih papa masih memeluknya.
"Kai putraku, pulanglah Nak, papa akan mengantarmu kembali ke pintu itu," kata papa. Ia mengurai dekapannya lalu menunjuk pintu yang tiba-tiba saja muncul dengan cahaya terang bahkan mulai menyilaukan matanya.
Seakan belum puas bersama sang papa, Kai seolah enggan mengikuti langkah papanya. Namun ucapan papanya kembali mengingatkan.
"Kai ... ayo Nak," papa menarik tangannya pelan menuju pintu itu. "Pulanglah Nak, istrimu sudah menunggumu, jangan biarkan dia terus menangis menanti kepulanganmu. Sudah lama kamu berada di sini. Sampaikan salam cinta papa buat mama. Papa menyayangi kalian," kata papa lalu memeluk Kai untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
"Papa," lirihnya.
"Nggak apa-apa, Nak," balas papa lagi, ia mengurai pelukannya lalu mengelus wajah tampan putra satu-satunya itu dengan senyum.
Setelah itu, papa memintanya membuka pintu itu. Seketika cahaya yang menerpa wajahnya begitu menyilaukan matanya. "Paaah ...." pekik Kai ingin kembali meraih tangan sang papa namun dirinya terasa semakin menjauh bahkan cahaya itu semakin menyilaukan matanya dan sosok papanya perlahan menghilang dari pandangan matanya.
Bersamaan dengan hilangnya sosok sang papa, cahaya yang menyilaukan matanya seketika membuat mata indahnya terasa perih.
Saat tangannya ingin mengusap kedua matanya, ia baru tersadar ketika merasa dirinya sedang terbaring di bed pasien dan merasa tangannya digenggam erat oleh seseorang.
Kai menundukkan kepalanya. Saat tahu sosok yang menggenggam tangannya dengan erat, seketika air matanya langsung mengalir deras.
"Sssssttttt ..." ringisnya merasakan kepalanya terasa pusing. "Tangan satunya terangkat mengelus kepala istrinya yang sedang tertidur di samping bed dengan posisi duduk menggenggam tangannya.
"Sayang ..." lirihnya dengan suara bergetar. "Mamy triplets ..." sebutnya sambil mengelus kepala El. "Sayang ..." panggilnya lagi namun El sama sekali tak merespon.
Kai menatap jam dinding yang tergantung di tembok berhadapan dengannya. "What?! Sudah puku 02.30," desisnya lalu menatap wajah istrinya.
Karena merasa khawatir dengan posisi El yang tertidur sambil duduk dalam keadaan hamil. Kai kembali membangunkannya.
"Sayang ..." Kai menggoyangkan kepalanya lalu mengelus kepalanya.
Merasa seperti ada yang memanggilnya di tambah kepalanya seperti di elus, seketika El membuka matanya dengan perlahan lalu sedikit mendongak.
"Apa aku bermimpi? Sepertinya Kai memanggilku," lirihnya.
"Sayang," lirih El lalu menangis. Ia beranjak dari kursi lalu memencet tombol emergency khusus yang langsung terhubung ke ruangan Mike.
"Sayang ... jangan menangis ... sudah berapa banyak air matamu tumpah. Enough and stop it," bisik Kai menatap wajahnya.
"I'm scared ..." sahutnya seraya mengelus rahang tegas suaminya.
Kai terenyuh, tangannya terulur mengelus perut sang istri. "My triplets, daddy is back for you," desisnya lalu kembali menatap wajah El.
Tak lama berselang, Mike dan beberapa perawat terlihat memasuki kamar rawat itu.
"Oh Lord ... thank you so much ... finally you wake up, Kai," ucap Mike sambil memeriksanya dan melepas beberapa alat menis yang masih menempel di tubuhnya.
Setelah selesai memeriksa dan menyatakan Kai baik-baik saja, perawat yang bersamanya tadi kembali meninggalkan ruangan. Sedangkan Mike tetap tinggal bersama El dan Kai.
"Kai ... apa kamu tahu berapa lama kamu tidur?" tanya Mike.
"Mungkin beberapa jam setelah habis operasi tadi," tebaknya dengan.
Mike dan El saling berpandangan lalu menggeleng.
"No Kai but two weeks."
__ADS_1
"What?!!! Two weeks?" kagetnya.
"Yes, exactly right," sahut Mike. "Tapi apapun itu, syukurlah kamu sudah bangun."
Kai menggenggam tangan istrinya lalu mengelus perutnya menatap wajah yang sedikit pucat dan agak tirus.
"Forgive me, Mamy triplets," ucapnya.
El hanya menggeleng tak bisa berkata-kata. Air matanya cukup menjadi jawaban syukur dan bahagia.
"Kai, El ... sebaiknya kalian istirahat. Terutama kamu El," ujarnya. "Biar aku yang mengabari tante, paman, Damian dan ...." Mike menggantung kalimatnya.
"Tara ... maksudmu kan?" sambung Kai.
Mike langsung menatap heran padanya. "Bagaimana kamu tahu?" tanya Mike merasa penasaran.
"Yang jelas aku merasa, mendengar suara Tara, entah itu kapan tapi sangat jelas terdengar di telingaku. Hanya saja aku nggak bisa membuka mataku," jelas Kai.
"Tara dan Dian sudah tiga hari di kota ini Kai. Kemarin sebelum ke kamar ini ia menemui ku," jelas Mike.
Kai hanya mengangguk. "Kabari saja Mike, nggak apa-apa," kata Kai dan dijawab dengan anggukan kepala.
"Ya sudah, aku kembali ke ruanganku dulu," izinnya.
Sepeninggal Mike, Kai menatap istrinya yang kini duduk di sisi ranjang.
"Sayang, apa kamu nggak ingin memelukku," lirihnya seraya merentangkan kedua tangannya.
Tanpa menjawab El langsung mendekapnya erat sambil terisak. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya kecuali air matanya yang semakin deras mengalir.
Ruangan itu hanya dipenuhi oleh suara sesenggukan El hingga ia merasa puas menumpahkan semua air matanya lalu mencengkeram baju suaminya.
"I hate you bastard!" ucapnya.
"But i love you," sahut Kai lalu mengecup lama keningnya. "Jika kamu ingin marah, memaki dan mengumpat keluarkanlah dan ungkapkan semua. Aku akan menerimanya," bisik Kai.
Beberapa jam berlalu bahkan kini arah jarum jam sudah menunjukkan puku 04.30 dini hari.
"Sayang ... tidurlah," pinta Kai yang kini sedang berbaring dibed itu sambil mengelus perutnya.
El tak menjawab namun matanya sudah cukup mengisyaratkan jika ia memang sudah mengantuk. Tak lama berselang ia pun tertidur.
"Maaf sudah membuatmu khawatir," lirihn Kai.
...----------------...
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈππ
__ADS_1