
"Sayang ..." sapa El lalu meletakkan paper bag makanan di atas meja sofa lalu menghampiri suaminya.
"Syukurlah kamu sudah datang," desisnya dan meminta El duduk di pangkuannya.
"Ada apa? Apa kamu masih merasakan pusing?" tanya El lalu mendaratkan kecupan di bibirnya kemudian membenamkan wajahnya ke ceruk leher suaminya.
"Hmm ..." Kai mengelus perut istrinya lalu mengecup keningnya.
"Sayang ... makan dulu ya. Aku membawakan mu makan siang. Nanti sepulang kantor kita ke supermarket dulu. Aku ingin membeli susu hamil," kata El.
"Ok ..." bisik Kai.
Setelah itu Kai dan El berpindah duduk di sofa. El pun mengeluarkan box makanan lalu menyuapi suaminya dengan telaten.
Entah mengapa Kai merasa membaik jika El bersamanya. Namun saat El tidak berada di sisinya ia kembali merasakan pusing dan mual.
Sungguh aneh memang yang ia rasakan. Namun ada kesenangan tersendiri yang ia rasakan, setidaknya El tidak tersiksa dengan kehamilannya.
Setelah selesai menyuapi Kai, El kembali membersihkan meja dan membuang box bekas makanan ke dalam tong sampah.
"Terima kasih Sayang," ucap Kai lalu meneguk air mineralnya. "Oh ya, kita VC dulu sama mama. Mama pasti senang mendengar kabar bahagia ini. Sebentar lagi dia akan menjadi grandmother."
El hanya mengangguk lalu mengulas senyum. Ia pun meraih ponselnya dari dalam tas tangannya. Kai menautkan alisnya saat melihat layar ponsel itu retak.
"Sayang, kok layar ponselmu modelnya seperti ini?" tanya Kai.
"Habis jatuh karena nggak sengaja menabrak seseorang di restoran tadi," jelas El lalu memeluk manja suaminya.
Kai terkekeh. "Pasti jalannya sambil nunduk dan menghitung langkah, iya kan?" cecar Kai.
El cengengesan sembari menganggukkan kepalanya dan kembali menyandarkan kepalanya di dada suaminya lalu memejamkan matanya.
"Ya sudah, pakai ponselku saja," bisik Kai lalu ingin beranjak dari sofa namun El menahan tubuh besarnya.
"Nanti saja, aku masih ingin seperti ini," balas El yang sudah terlanjur nyaman bersandar di dada suaminya.
Kai mengulas senyum lalu mengecup puncak kepalanya sambil mengelus punggungnya dengan sayang.
Tidak seperti biasanya El akan bermanja-manja padanya, seperti yang ia lakukan sekarang ini. Biasanya ia malah risih dan selalu memprotes.
"Baik lah ... as you wan't, Sayang," desis Kai.
Sepuluh menit kemudian, El malah tertidur dengan nyaman di dada suaminya. Dan tak lama berselang, Alex mengetuk pintu lalu menghampiri sang CEO.
Seketika ia merasa canggung saat melihat keduanya.
"Maaf Tuan, saya ..." ucapannya terjeda.
"Nggak apa-apa, Lex," potong Kai cepat. "Ada apa?" tanyanya.
"Sebentar lagi ada klien yang ingin bertemu, Tuan," jelasnya.
"Baik lah, atur pertemuan di ruang meeting saja. Soalnya istriku ada di ruangan ini," perintah Kai.
"Baik Tuan," ucap Alex. Setelah itu ia pun meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Kai mengelus pipi istrinya lalu memperbaiki posisinya berbaring di atas sofa.
"Sayang, aku tinggal sebentar ya," bisik Kai lalu mengelus pipi istrinya kemudian ke perutnya.
Ia pun bergegas ke ruang meeting untuk menunggu kliennya.
.
.
.
Sementara di rumah sakit kota A ...
"What!! Seriously?! OMG!!! My Dear El. Mike kamu nggak bohong kan?" pekik Lois kegirangan saat tahu El sedang hamil anak kembar tiga.
"By the way, kok dia nggak mampir ke ruangan praktekku tadi," kata Lois.
"Mungkin El chek up di rumah sakit lain. Kamu tahu kan, Shakila yang menangani Dian?"
Lois mengangguk paham. "Oh ya, apa Sarah masih lama di kota ini?" tanya Lois.
"Sepertinya begitu," jawab Mike.
"Mike ..."
"Hmm ..."
"Apa kalian nggak mau rujuk kembali?" cecar Lois.
"Entah lah Lois. Sepertinya nggak soalnya Sarah sudah memiliki calon pendamping," jelas Mike. Then, how about you?"
Mike hanya mengangguk lalu melirik teman kerjanya itu.
"Oh ya, Mike. Bagaimana dengan perkembangan kesehatan Kai? Sebenarnya aku sedikit khawatir padanya. Apa dia masih merahasiakan penyakitnya?"
"Sejauh ini, belum banyak perkembangan. Sekali-kali ia masih merasakan nyeri bahkan di sertai dengan mual. Tapi aku selalu resepkan obat untuk pencegahan."
"Honestly, aku nggak bisa membayangkan jika El tahu ini. Mike, apa sebaiknya Kai menjalani operasi transplantasi hati saja," saran Lois.
"Aku juga sudah menyarankan seperti itu, tapi dia belum mau, karena dia merasa baik-baik saja."
"Apa kita berterus terang saja ya pada El," cetus Lois.
"Sebaiknya jangan, apalagi saat ini El lagi hamil. Takutnya jadi kepikiran dan itu sama saja menganggu perkembangan janinnya."
"Benar juga," gumam Lois sambil manggut-manggut.
.
.
.
Sementara di ruang meeting Kai ....
__ADS_1
Ia tampak begitu kesalnya, bukan tanpa alasan sudah tiga puluh menit ia dan Alex menunggu namun klien yang di tunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya.
Kai menatap arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. "Sudah jam 14.30? What the fu*ck!!" umpatnya dengan geram.
Jika saja El sedang tidak berada di kantor, boro-boro dia mau menunggu, yang ada klien lah yang menunggunya.
Saking kesalnya, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan akan meninggalkan ruang meeting. Namun pintu baru saja dibuka dan klien yang sudah membuatnya kesal pun muncul.
Ia menyeringai menatap kliennya itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Valerie sang ex kekasih.
"Kebetulan Anda baru datang dan sudah membuang waktukku selama 30 menit. Anda tahu benar, jika saya paling tidak suka orang yang no on time. So ... silakan keluar dan tinggalkan ruangan ini sekarang juga, karena sudah tidak ada yang perlu di bahas," tegas Kai.
"Kai ta ...." ucapannya terpotong.
"Jangan panggil saya Kai, tapi Tuan Kai. Apa Anda bisa bersikap profesional!!" sentaknya. "Silakan keluar dan tinggalkan kantorku sekarang juga!!!" bentaknya dengan tatapan menghunus tajam.
Valerie bergeming di tempat, pikirnya Kai akan memaafkannya. Bahkan belum juga ia menjelaskan alasannya, ia sudah di usir mentah-mentah dari kantor itu.
Kai melirik Alex. "Kenapa kamu nggak bilang jika klien itu adalah wanita itu?" geram Kai.
"Ma-maaf Tuan," ucap Alex dengan terbata sambil menunduk.
"I'ts Ok, ini bukan salahmu. Lagian kamu juga nggak mengenalnya," kata Kai seraya menepuk bahu Alex.
Ia pun berlalu dan berhenti sejenak tepat di hadapan Valerie. "Jika saya sudah mengatakan, tidak ada yang perlu di bahas, itu artinya saya menolak segala bentuk tawaran dan kerjasama dari perusahaan Anda. So ... apalagi yang Anda tunggu. Bawa kembali proposal Anda dan silakan cari perusahaan lain yang mau bekerjasama dengan Anda. Permisi," pungkas Kai dan kembali melanjutkan langkahnya.
Valerie terhenyak mendengar ucapan tak bersahabat dari Kai. Bahkan ia tahu benar pria itu seperti apa.
Dengan perasaan kecewa, ia dan asistennya pun meninggalkan ruang meeting itu.
Sesaat setelah berada di ruang kerjanya. Seketika amarahnya langsung menghilang hanya karena menatap wajah teduh istrinya yang masih betah memejamkan matanya.
Ia pun menghampirinya lalu berjongkok mencium perut ratanya. Saat akan beranjak lagi-lagi ia meringis.
"Akkhhh .... ssssttt .... Lord." Ia mengusap perutnya yang terasa begitu perih lalu kembali berjongkok dan membenamkan kepalanya di atas perut El.
Merasa ada sesuatu di atas perutnya, El pun meraba lalu perlahan membuka matanya.
"Sayang ..." El mengelus rambut halus berwarna coklat suaminya. Alisnya kembali bertaut saat mendapati wajah rupawan itu berkeringat.
"Sayang, are you feel good?" tanya El merasa khawatir lalu mendudukkan dirinya.
Kai kembali menegakkan badannya lalu mendongak menatap istrinya.
"Wajahmu berkeringat," bisik El lalu mengusap keringat di wajah Kai lalu memeluknya.
"I'ts Ok, Sayang," balas Kai lalu duduk di sofa dan membawa El masuk ke pelukannya.
Aku nggak sanggup melihatmu khawatir begini, apalagi mengeluarkan air mata. Oh Lord, biarkan aku bahagia menikmati hari-hari ku dengan anak dan istriku walau hanya beberapa tahun lagi.
Kai membatin dengan mata berkaca-kaca dengan membenamkan dagunya di puncak kepala istrinya.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπππ