
Sesaat setelah berada di makam mertuanya, Kai berjongkok lalu mengelus kedua batu nisan itu bergantian.
"Mah, pah ... maafkan aku atas semua kesalahanku pada El. Aku berjanji akan menjaganya serta calon cucu kalian yang sedang dikandungnya. Jangan khawatir sebentar lagi semua mimpi dan impiannya akan segera terwujud."
Setelah itu, ia berpindah ke makam tante Karin.
"Tante, maaf, karena diriku El sampai menderita. Bahkan kita belum sempat berkenalan. Terima kasih sudah menjaga El selama ini," bisik Kai seraya mengelus batu nisan tante Karin.
Setelah itu ia berdiri lalu menatap ketiga pusara itu bergantian sebelum akhirnya ia pamit dan kembali ke mobil.
Alex yang masih setia menunggu segera membukakan pintu mobil ketika Kai menghampiri benda beroda empat itu.
"Lex, langsung ke kantor ya. Tapi sebelumnya kita singgah makan dulu," pesan Kai.
"Baik Tuan."
Alex kembali melanjutkan perjalanan, membelah jalan kota yang kini mulai padat karena memang waktunya jam makan siang.
Alex mendesah kasar karena harus melalui drama macet. Hal yang paling di bencinya. Melihat air muka kekesalan asistennya itu, Kai terkekeh.
"Dibawa santai saja, Alex," kata Kai lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil sambil memejamkan matanya. "My triplets, daddy kangen kalian," gumannya.
Seketika senyumnya langsung terukir di wajah. Ada sedikit kepuasan yang ia rasakan selama tiga bulan menghabiskan waktunya di kota X bersama istri dan mamanya.
"Aku menyayangi kalian."
Dua puluh menit kemudian ...
Kai dan Alex kini berada di sebuah restoran dan terlihat sedang menunggu pesanannya. Sambil menunggu pesanan, Kai menyempatkan waktu menghubungi El.
"Sayang, baru beberapa jam jauh darimu, aku seolah ingin terbang kembali ke sana." Kai bergumam dalam hati.
Beberapa kali ia menghubungi nomor istrinya, tapi yang menjawab hanya suara operator jaringan.
"Dia pasti masih belajar," gumamnya lalu mengirim DM.
Alex hanya menatapnya dalam diam dan sesekali melirik beberapa tamu restoran yang sedang makan.
"Lex, aku ke toilet dulu," izinnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Silakan Tuan," sahut Alex.
"Lord ... kok aku merasakan mual. Jangan bilang aku akan muntah lagi," desisnya sambil mengelus perutnya.
Karena tidak bisa menahan, ia mempercepat langkahnya ke toilet. Karena buru-buru ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, aku buru-buru," ucap Kai lalu segera masuk ke dalam toilet dan tak menghiraukan siapa yang ditabraknya tadi.
__ADS_1
Begitu ia berada di wastafel, Kai langsung memuntahkan isi perutnya.
"Please ... stop ... apa aku harus meminta El kuliah jarak jauh saja ya? Jika aku masih seperti ini aku nggak akan kuat. My triplets, kalian masih di perut saja, sudah nakal begini ya."
Kai membatin dalam hati lalu mengusap bibirnya kemudian terkekeh.
"Seperti apa kalian nantinya. Daddy sudah nggak sabar ingin adu tinju dengan kalian," desisnya.
Setelah merasa agak baikan, ia pun keluar dari toilet. Baru dua langkah kakinya melangkah, keningnya mengernyit menatap seseorang yang begitu dikenalnya sekaligus menghentikan langkahnya.
"Siska, sedang apa kamu di sini?" tanya Kai.
"Kamu menabrakku tadi," jawabnya.
"Maaf, aku nggak sengaja soalnya aku sudah nggak tahan ingin muntah," jelas Kai lalu kembali melanjutkan langkahnya, namun terhenti ketika Siska langsung memeluknya dari belakang.
"Siska! Apa kamu sudah nggak waras?! Ini tempat umum. Wartawan bisa saja memergoki kita," geram Kai.
"Aku merindukanmu Kai," bisik Siska. Ia semakin mengeratkan lingkaran tangannya di perut Kai.
"Siska! Dengarkan aku baik-baik. Aku sudah menikah bahkan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," tegasnya lalu melepas paksa lengan gadis itu.
"Apa wanita itu El?" geramnya.
"Aku rasa semua orang sudah tahu jika El menikah dengan siapa?" Kai tidak menjawab melainkan memberi clue pada gadis itu.
"Kenapa diam?" tanya Kai. "Jangan menyalahkan El karena dia sudah bahagia dengan pria lain. Nggak denganku dan nggak juga dengan Tara," tegas Kai menyakinkan padahal itu hanyalah alibi.
"Sekarang, hubungan ku dan El hanyalah sebatas teman baik termasuk suaminya. Walaupun aku nggak bisa memiliki dirinya, tapi setidaknya dia sudah memaafkan semua kesalahanku dan mau menjalin pertemanan baik denganku dan istriku," tegas Kai lagi.
Sayang, maafkan aku karena harus berbohong. Seperti inilah konsekuensinya karena menyembunyikan status pernikahan kita.
"Tapi aku masih mencintaimu Kai," aku Siska.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu, aku tidak pernah mencintaimu dan jangan berharap lebih. Hubungan kita waktu itu hanya sebatas bed partner dan nggak lebih."
"Kai ..." lirih Siska dengan mata berkaca-kaca.
"Lupakan aku Siska. Aku sudah berubah. Itu semua berkat El. El satu-satunya gadis yang banyak mengajariku tentang kebaikkan. Jika bukan karena dia, mungkin saat ini aku masih menjadi pria brengsek. Aku harap kamu tidak menyalahkan dirinya atau membencinya. Ingatlah kalian pernah menjadi partner kerja."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Kai berlalu meninggalkan Siska yang masih diam terpaku dengan buliran bening yang mulai menetes di pipinya.
"Kai," lirihnya lalu mengusap air matanya. Merasakan kekecewaan yang mendalam. Pria yang begitu ia cintai tak pernah membalas cintanya.
Dengan langkah gontai ia meninggalkan tempat itu dengan perasaan hampa dan kecewa.
Sementara Kai yang kini sudah berada di meja makan, hanya mengaduk-aduk makanannya. Selera makannya langsung hilang karena bertemu Siska.
__ADS_1
Yang ia khawatirkan adalah, wartawan yang bisa saja mengambil foto-foto mereka secara sembunyi-sembunyi lalu membuat berita yang tidak benar.
"Tuan, ada apa? Apa Anda ingin mengganti menunya?" tanya Alex karena merasa heran dengan sang big boss.
"Ah, nggak. Lanjutkan makanmu. Aku tunggu di mobil saja," kata Kai lalu menyerahkan black cardnya pada sang asisten.
"Baik Tuan."
Begitu Alex meraih black cardnya, Kai langsung beranjak dan meninggalkan tempat itu.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, Kai langsung bersandar lalu memejamkan matanya sambil memijat pangkal hidungnya.
Tak lama berselang ponselnya bergetar. Dengan cepat ia merogoh kantong jas-nya lalu menatap layar ponselnya.
Senyumnya langsung mengembang karena mendapat panggilan video dari istrinya. Dengan cepat ia menekan tombol video.
"Sayang ..."
El terkekeh mendapati wajah kusut suaminya.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Kamu terlihat jelek," ejek El.
Kai langsung tertawa merasa gemas melihat wajah istrinya lewat layar benda pipih itu. Perasaannya langsung membaik.
"Jelek-jelek begini, tapi kamu tetap cinta kan?"
"Hmm ... ada apa? Apa kamu baik-baik saja? Apa masih merasakan mual?" tanya El.
"Yaaa begitulah. Sepertinya si triplets nggak mau jauh-jauh dari daddynya. Buktinya baru beberapa jam aku kembali kumat," jelas Kai.
"Yang sabar ya, sayang. Mungkin karena kita baru pisah lagi makanya begitu. Mudah-mudahan besok sudah nggak. Semangat Daddy triplets," ucap El dengan senyuman.
"Thanks, sayang. Apa kamu sudah selesai?"
"Belum sayang, dua jam lagi. Aku lagi istirahat, makanya aku sempatkan waktu menghubungimu," jelas El.
Kai mengulas senyum, ingin rasanya ia memeluk wanitanya detik itu juga. Sayangnya itu hanya bisa ia bayangkan saja.
"Sayang ... sudah dulu ya. Jangan telat makan siang ya dan jaga kesehatanmu. Kami mencintai mu daddy," ucap El lalu melambaikan tangannya.
"Iya kalian juga," jawab Kai dan ikut melambaikan tangannya lalu memutuskan panggilan video.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ