All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
158.


__ADS_3

"Jangan lama-lama marahnya. Aku bisa gila jika kamu seperti tadi sekaligus membuatku khawatir dan frustasi," aku Kai lalu mengecup kening dan pundak polos El yang hanya mengenakan setelan piyama pendek tanpa lengan.


"Maaf ... abisnya kamu membuatku kesal," lirih El lalu membenamkan wajahnya ke ceruk lebar Kai seraya mengelus rahangnya.


"Aku seperti melihat El setahun yang lalu, saat membentakku dengan penuh amarah. Memaki dengan sorot mata tajam berapi-api," aku Kai lagi dengan hela nafas.


"Maaf ..." Untuk yang kedua kalinya El mengucapkan kata maaf.


"Nggak apa-apa, Sayang. Aku mengaku salah. Entah lah, tiba-tiba saja aku pengen berada di sana setelah mama memutuskan panggilan tadi," lirihnya dengan mengelus punggung istrinya dengan sayang.


"Apa mama menelfon tadi? Kenapa nggak membangunkanku?" protes El lalu menggigit dada Kai.


"Sssttt ..." ia meringis lalu melanjutkan kalimatnya. "Karena tidurmu nyenyak banget. Mama titip salam sayang buatmu dan ia meminta supaya kamu mengurangi aktifitasmu di kampus. Mama khawatir jika sampai terjadi sesuatu padamu dan si triple twins ini," ujar Kai seraya mengelus perut istrinya.


El hanya bergeming dan hanya menyimak kalimat suaminya sembari menatapnya.


"Ada apa?" tanya Kai lalu perlahan mencium bibir istrinya dengan lembut. Saat El membalas, ia semakin menuntut namun lagi-lagi harus merasa kesal ketika bibi menegurnya dengan membawa teh jeruk hangat.


"Nak Kai," tegur bibi dengan menggelengkan kepalanya memergoki keduanya.


"Ahh ... again?! Pasti lagi di moment seperti ini," gerutunya dalam hati lalu melepas tautan bibirnya.


"Bibi, makasih teh jeruknya," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sama-sama," balas bibi lalu meninggalkan keduanya dan kembali ke dapur menyiapkan makan malam.


Sepeninggal bibi, El langsung tertawa lalu menangkup rahang tegas suaminya.


"Ada apa? Kok wajahmu jadi tertekuk begini?" tanya El.


"Ck ..." decaknya kemudian meraih teh jeruknya lalu meneguknya sedikit. Ia kembali menatap El seraya menggenggam jemarinya.


"Sayang, apa kamu nggak ingin berlibur?" tanya Kai.


"Nggak, aku sudah nggak tertarik berlibur. Padahal tadinya aku sudah berencana menghabiskan waktuku dengan Bryan, Lois, Vira dan Dian. Gara-gara kamu mengajakku pulang, aku sudah malas," tegasnya lalu kembali membenamkan wajahnya di dada Kai.


Kai hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Jawaban telak istrinya membuatnya bungkam dan tak berani bertanya lagi.


"Baik lah," desisnya dengan pesimis.


.


.


.


Kediaman Tara dAn Dian ...

__ADS_1


Setelah tahu El berada di kota A, ia sudah membayangkan akan menghabiskan waktu dan berbelanja pakaian bayi bersama temannya itu.


Kini ia yang sedang berada di ruang tamu kembali menghubungi gadis itu dengan wajah berbinar bahagia, karena ingin mengundangnya makan malam di rumahnya.


Bahkan makanan sudah tertata rapi di meja makan sejak tadi.


Tak lama berselang, Tara ikut bergabung di ruang tamu dan menatap heran istrinya itu.


"Dian, ada apa? Sepertinya kamu lagi senang banget?" ujarnya.


"Banget, karena aku akan mengundang El dan Mike makan malam di sini."


"Benar kah?" tanya Tara.


"Hmm, aku baru saja akan menghubunginya," imbuhnya.


Tara hanya menatap Dian. Terlihat jelas jika ia begitu bahagia menanti kehadiran El di rumah mereka.


Dian menghubungi El dengan harapan gadis itu akan benar-benar menerima undangan makan malam di rumahnya.


Lama Dian menanti panggilannya dijawab. Hingga di panggilan yang ke-tiga baru lah El menjawab panggilan telepon darinya.


"Ya, Hallo Dian."


"El ... apa kamu sedang di rumah?"


"El aku ingin mengundangmu dan Mike makan malam di rumahku. Mau ya?" pinta Dian.


El yang saat ini sedang berada di kamar menoleh ke arah Kai.


"Terima kasih Dian. Tapi aku bukan berada di rumah suamiku, tapi rumah di kota X. Hehehe. Aku baru saja tiba. Maaf aku nggak sempat kasih kabar soalnya aku berangkat mendadak, ada yang harus aku urus di kampus," bohong El lalu menatap Kai.


Kai yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan, langsung mengirim pesan kepada Mike. Apa saja yang harus ia lakukan.


Sementara Dian, ia terlihat begitu kecewa bercampur sedih.


"Ya sudah ... lain kali saja, lirih Dian.


"Dian, sekali lagi maafkan aku ya," sesal El merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, El. Tapi berjanjilah jika aku melahirkan kamu harus datang menjengukku," mohonnya.


El terdiam sejenak. Sejatinya dia bukanlah tipe orang yang suka berjanji. Apalagi jika harus datang jauh-jauh ke Kota A.


"El ... apa kamu masih mendengarku?"


"I--iya, aku masih mendengarmu. Dian, aku nggak bisa berjanji. Apalagi saat ini, kegiatanku di kampus cukup padat. Belum lagi kota A dan X cukup jauh," jelasnya memberi alasan.

__ADS_1


"Baik lah, nggak apa-apa. Yang penting kamu menyempatkan waktu menjengukku nanti," lirihnya dengan harap.


"Baik lah, tapi aku nggak janji dan akan tetap mengusahakan ke sana nantinya," pungkas El.


"Ya sudah, aku matiin ya," kata Dian dengan perasaan kecewa.


Setelah panggilan berakhir, El kembali menatap tajam suaminya.


"Ini semua gara-gara kamu! Kasian Dian, dia pasti kecewa karena aku nggak bisa datang ke rumahnya," omel El lalu mencubit perut suaminya.


"Sssttt ... Sayang! Sakit," protes Kai. "Jika kamu memenuhi keinginannya untuk makan malam di rumah Dian, otomatis kamu akan bertemu dengan mantanmu itu," kesal Kai dan terlihat cemburu.


Tidak seperti biasanya ia seperti itu. Biasanya ia akan bersikap acuh tak acuh pada ex asisstennya itu. Tapi entah kali ini ia merasa jengkel dan cemburu. Tak pelak buntut dari undangan makan malam dari Dian, menciptakan perdebatan panas El dan Kai.


"Dia bukan mantanku," balas El tak kalah kesalnya. "Kamu ini kenapa sih, Sayang?"


"Jika bukan ex boyfriend lalu apa?" kesal Kai.


"Nggak ada!!! Hanya hubungan tanpa status," sentak El dengan tatapan menghunus. "Why?!!"


Keduanya kembali terdiam. El memilih ke balkon kamar dan malas berada di dekat suaminya. Merasa jika El sedang marah ia ikut menyusul.


Baru beberapa langkah, El melarangnya mendekat. Baru beberapa jam mereka berbaikan kini keduanya kembali terlibat adu mulut.


"Berhenti di situ dan jangan mendekat!!" larang El. Namun Kai tak perduli.


"Aku membencimu! Jangan mendekat!! Berhenti di sana!!" bentak El.


Sontak saja bentakkan itu membuat Kai langsung terpaku di tempat sekaligus tak berani mendekat. Apalagi tatapan penuh amarah bercampur benci membuatnya seolah tak berkutik.


Seketika ia takut jika El akan meninggalkannya lagi seperti waktu itu.


"Sayang ..."


"Keluar! Aku nggak mau melihatmu." El berbalik membelakanginya.


Kai menghela nafas dengan kasar sambil menatap nanar punggung sang istri.


"Sepertinya aku harus cari tahu artikel tentang bumil," gumamnya lalu meninggalkan El dengan terpaksa.


.


.


.


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2