All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
174.


__ADS_3

Mike langsung menggenggam kedua tangannya.


"Sebulan setelah kamu menghilang dari kota ini," lirih Mike.


"What?!"


"Ya, bahkan dia beberapa kali memuntahkan darah. Kai sempat membaik setelah aku menyarankan untuk berhenti mengkonsumsi minuman keras dan lanjut berobat ke Jerman."


"Then ..."


"Setiap dua minggu sekali dia rutin control kesehatannya padaku," jelas Mike sekaligus menjeda kalimatnya. "Dear ... sudah beberapa kali aku menyarankan Kai supaya menjalani transplantasi hati tapi dia menolak. Dia sering mengatakan jika dia baik-baik saja," aku Mike.


"Kenapa kamu nggak memberitahuku sejak awal jika Kai sakit," lirihnya. "Sejak awal aku sudah curiga jika dia menderita penyakit itu. LIVER AKUT yang bisa saja menjadi SIROSIS. Apa diagnosa ku benar?" kata El lalu menatap manik Mike dengan wajah sendu berlinang air mata.


"El," lirihnya seraya mengangguk lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya. "Kai melarangku karena dia nggak mau melihat kamu sedih dan khawatir," aku-nya.


El terisak dalam dekapan ex dosen yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


"Kamu spesialis bedah terbaik di kota ini, dan rumah sakit ini salah satu rumah sakit terbaik dengan fasilitas lengkap dan canggih, tolong lakukan yang terbaik buat Kai, Mike. Aku mohon lakukan operasi secepatnya," pinta El sambil terisak. "Aku sendiri yang akan mendonorkan hatiku untuk suamiku sendiri. Please Mike," mohonnya dengan tubuh yang semakin bergetar karena tangisnya semakin pecah.


"Tapi El, kamu sedang hamil dan itu sangat beresiko," kata Mike.


"Resikonya nggak terlalu besar Mike, karena usia kandunganku masih muda. Please Mike," mohonnya lagi.


Mike bergeming sambil terus mengelus punggungnya. Ada kekhawatiran dalam dirinya.


Suara sesegukkan El terus terdengar di ruangan itu. Ia sedikit melonggarkan pelukannya dari Mike lalu mengelus perutnya yang terasa kram.


El menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengaturnya perlahan demi menetralkan perasaannya.


"Maafkan mamy," lirihnya sambil mengelus perutnya dan sedikit menegakkan badannya.


Setelah merasa agak enakkan ia kembali membuka suara.


"Mike ... aku yakin kamu pasti bisa," ucapnya seraya menggenggam tangan pria blasteran itu. "Aku tidak ingin triplets mengalami hal yang sama seperti aku dan Kai. Sama-sama kehilangan ayah dan ibu. Bedanya Kai hanya kehilangan ayah," lirihnya. "Jangan biarkan tripletsku kehilangan daddynya bahkan mereka masih ada di dalam kandunganku," lirihnya lagi dengan air mata yang mulai menggenang.


Mike bergeming dan merasa terenyuh mendengar ucapan lirih El. Air matanya pun seketika luruh tak tertahan.


"Baik lah, aku akan berusaha melakukan yang terbaik buat kalian. Tapi kita harus memeriksa kesehatanmu dulu sebelum melakukan operasi," jelas Mike seraya menyeka air matanya.


Jauh di belahan dunia tepatnya di Jerman, mama Glori terlihat begitu gelisah dan khawatir memikirkan kondisi putra satu-satunya itu dan sang menantu.


Bagaimana tidak, setelah mendapat kabar dari Mike, ia langsung menghubungi Damian dan mengajaknya ke kota A.


Ia merasa dunianya seakan-akan ingin runtuh, belum lagi memikirkan sang menantu yang kini dalam keadaan berbadan empat.


Kini keduanya sedang berada di bandara menunggu pemberangkatan ke Kota A.

__ADS_1


"Damian, mama nggak bisa bayangkan jika terjadi sesuatu pada Kai dan El. Mama takut," ucapnya sambil menyeka air matanya yang sejak tadi tak berhenti mengalir.


"Tenanglah, Mah. Mereka pasti akan baik-baik saja. Ada bunda dan papa yang akan menemani mereka nanti," sahut Damian sambil memeluk mama Glori.


"Mama merasa ingin cepat-cepat tiba di sana," lirihnya.


Mengingat perjalanan udara yang memakan waktu yang cukup lama hingga belasan jam, membuat mama Glori merasa waktu berjalan begitu lambat.


Ingin rasanya detik itu juga ia merangkul anak dan menantunya itu. Air matanya pun seolah tak bisa berhenti mengalir.


Sedangkan Damian ia hanya bisa menenangkan sang tante supaya tidak berlarut-larut sedih. Walaupun ia juga sangat mengkhawatirkan sepupunya itu.


Kai ... bertahanlah. Aku tahu kamu pria yang kuat. Demi El dan triplets kamu harus sembuh.


.


.


Kembali ke kota A ...


Kini El sudah berada di ruang ICU. Terus menatap wajah pucat sang suami yang masih juga belum sadarkan diri.


Sejak tadi pula ia tidak mau melepas tautan jari jemarinya dari suaminya.


"Sayang ... sadarlah ..." lirih El. "Look at me and open your eyes, daddy triplets."


"Sayang ..."


El menoleh ke arah sumber suara. "Bunda Kiara, papa Jason," lirihnya. "Bagaimana Bunda ..."


"Damian yang mengabari, Nak," jelas bunda.


"Tapi bagaimana bisa Damian tahu jika Kai sedang dirawat?" tanya El sedikit merasa heran.


"Mertuamu, Nak. Saat ini mama Glori dan Damian mungkin sedang dalam perjalanan menuju kemari," jelas bunda lagi.


"Nak, yang sabar ya. Papa tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Jangan berlarut-larut sedih, kasian janin yang ada di dalam kandunganmu," kata papa Jason seraya mengelus kepala istri ponakannya itu.


"Iya, Pah," lirihnya.


"Sayang sebaiknya kamu istirahat saja, ini sudah larut. Pulanglah istirahat, biar bunda dan Papa Jason yang menjaga Kai."


El menggeleng tanda jika ia enggan meninggalkan suaminya itu.


"Sayang ... dengarkan bunda. Bunda tahu kamu khawatir tapi pikirkan juga janinmu. Kasian mereka," nasehat bunda.


El bergeming lalu menatap suaminya kemudian mengelus perutnya yang memang sejak tadi beberapa kali terasa kram.

__ADS_1


Setelah menimbang-nimbang akhirnya ia menurut.


"Sayang ... cepatlah sadar, jangan tidur terus seperti ini," lirihnya lalu mengelus kepala suaminya kemudian mengecup lama keningnya. Berharap ia akan sadar esok hari.


"Pah, Bunda, aku titip Kai," ucapnya dengan wajah sendu.


Bunda Kiara dan Papa Jason hanya mengangguk.


Setelah itu El meninggalkan ruang ICU lalu menuju ruang kerja Mike.


Sesaat setelah berada di ruangan Mike, El membuka pintu lalu menyapanya.


"Mike ..."


"Dear ..."


"Tolong antar aku pulang," pintanya.


"Bagaimana dengan Kai?"


"Ada bunda Kiara dan papa Jason yang menjaganya."


"Maksudmu, dokter Kiara dan suaminya?"


"Hmm," jawab El dengan singkat.


"Baiklah," ucapnya lalu merangkul bahunya dan mengajaknya meninggalkan ruangan itu.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, El terlihat memejamkan matanya sambil mengelus perutnya.


Khawatir dan takut ...


Dua kata yang kini mewakili dirinya. Lagi-lagi setetes air matanya jatuh begitu saja.


Melihat El seperti itu, Mike menggenggam jemarinya.


"Dear, calm down. Believe me, everything will be fine," ucapnya menguatkan El.


"Thanks, Mike," balasnya masih sambil memejamkan matanya.


Setelah itu, Mike mulai melajukan kendaraannya menuju mansion. Di sepanjang perjalanan, El sama sekali tak bersuara karena belum separuh jalan ia malah sudah tertidur.


Mungkin karena efek lelah atau beban pikirannya. Entahlah hanya dia yang tahu. Sedangkan Mike, ia larut dengan pikirannya, memikirkan resiko jika El akan ikut berada di meja operasi nantinya.


"Dear, semoga operasi kalian nanti berjalan sukses. Aku memikul tanggung jawab pada kalian berdua nantinya. Semoga tidak terjadi apa-apa pada triplets nantinya," lirihnya lalu melirik El. "Triplets maafkan uncle ya. Demi daddy dan mamy kalian. Kalian juga harus kuat. Berjuanglah bersama-sama."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2