All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
41. Merindukan gadis itu ...


__ADS_3

Tara menggeliatkan badannya sambil meraba kesamping. Namun orang yang ingin dipeluknya sudah tidak berada di ranjang


"Tumben bangunnya cepat. Ke mana dia?" gumamnya lalu merenggangkan otot-ototnya.


Ia pun ke kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu ia menuruni anak tangga dan berhenti sejenak saat melihat El dengan cekatan menyiapkan sarapan.


"Rupanya kamu di sini," ia lalu mendaratkan ciuman di bibir kemudian memeluknya.


"Duduklah, aku sudah membuatkanmu kopi dan menu sarapan sehat. Aku buat salad buah, habisin ya," pinta El lalu mengedipkan sebelah matanya.


Tara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya menatapnya yang kini sudah duduk di sampingnya, meletakkan mangkuk salad buah di atas meja.


"Makasih, Sayang," bisiknya sambil mengelus pipi, leher juga dadanya yang terdapat tanda jejak kepemilikannya.


"Sama-sama," sahut El lalu memegang tangan besar Tara lalu mengecupnya.


"Maaf, semalam aku tidak bisa mengendalikan diriku El," sesalnya. "Honestly ... aku sudah berhenti menjadi player sejak aku menyatakan cintaku padamu," akunya. "Aku hanya menginginkanmu, my Dear," ungkapnya dengan jujur lalu menarik tangan gadis itu supaya duduk di pangkuannya.


"I'ts ok no matter Tara," sahutnya lagi lalu mengecup bibir Tara dan menyatukan keningnya.


Tara mengulas senyum sambil mengelus pipinya.


"Sudah, ayo sarapan. Habis ini kamu mandi biar aku siapkan baju kantormu," bisik El di telinganya lalu mencium pipinya.


Tara mengangguk lalu melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang ramping gadis itu.


Keduanya pun menyantap sarapan paginya hingga tuntas.


"El, aku mandi dulu ya," cetus Tara lalu meninggalkannya yang sedang mencuci wadah bekas sarapan mereka tadi.


"Ok."


Beberapa menit kemudian....


Sementara menunggu Tara selesai mandi, El memilih setelan jas berwarna abu rokok, senada dengan celananya dan kemeja berwarna putih.


Sambil menunggu, ia memilih merapikan tempat tidurnya. Begitu selesai, ia kembali ke walk in closet sambil menunggu Tara.


Tak lama kemudian Tara menyusul sambil menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.


Senyum El langsung mengembang menatapnya yang sudah terlihat fresh.


Dengan santainya Tara menghampirinya yang sejak tadi tersenyum menatapnya.


"Jangan menggodaku El," bisiknya.


"Cih .... siapa juga yang menggodamu." El memutar bola matanya malas.


Tara hanya terkekeh lalu memakai celana kantornya dan kemejanya.


"Kemari lah, biar aku bantuin pasang kancingnya," pintanya. Tara hanya menurut. Sementara itu, El memasangkan kancing kemejanya satu persatu.


Setelahnya El meraih jas pria itu sambil menunggunya memasukkan ujung kemeja ke dalam celananya.


"Mendekatlah," pintanya lalu memakaikan jas itu ke tubuh tegapnya.

__ADS_1


Setelah rapi, El kembali mengelus dada bidangnya lalu mengulas senyum manis.


"Sudah ... kamu terlihat sempurna," puji El lalu menangkup rahang tegas Tara kemudian mencium bibirnya.


Entah mengapa Tara merasa sangat bahagia dengan segala perhatian dari gadis itu yang melayaninya seperti seorang suami sungguhan.


"Jangan lama-lama membuatku menunggu, my Dear," bisik Tara lalu mengecup lama kening El.


"Hmm ... ayo kita turun, kamu belum pakai kaos dan sepatu," cetus El dengan nada lembut sambil menggandeng lengannya


Setelah memakai kaos kaki dan sepatunya, sesekali ia melirik El yang duduk disampingnya.


"El, aku berangkat ke kantor ya. Sebelum makan siang, kami akan ke kantormu, soalnya kami ada meeting dengan Daniel. Don't worry about Kai. Biarkan saja dia," pungkasnya lalu memeluk El.


"Hmm .... hati-hati ya."


Tara hanya tersenyum lalu membuka pintu lalu meninggalkannya.


Sepeninggal Tara, El pun kembali ke kamarnya lalu membersihkan dirinya.


Setelah itu, ia ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Sejenak ia menatap pantulan dirinya di depan kaca besar ruangan itu lalu menyentuh leher dan dadanya yang terlihat banyak tanda jejak kepemilikan Tara di sana.


"Tara, siapa pun wanita itu, mereka tidak akan bisa menolak pesona seorang player sepertimu. Oh God ... aku jadi khawatir," desisnya.


Setelah memakai seragam. El hanya menyisir rambutnya dan mengoles bibirnya dengan lip balm lalu menyemprot parfum ke leher dan lengannya.


"El, semangat cari cuan," ucapnya menyemangati dirinya lalu menenteng helmnya keluar dari unitnya.


****


Seperti biasa, El akan ke ruang kerja Daniel terlebih dulu untuk menyapanya.


"Good morning my Boss," sapa El lalu terkekeh.


"Morning too, El," sahut Daniel .


"Coffee, Dan?" tanyanya.


"Ya, El."


"Sebentar dan harap sabar menunggu ya, Boss?"


Daniel hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah absurd gadis itu.


El pun ke pantry dan menyapa temannya yang seprofesi dengannya.


Selang beberapa menit kemudian setelah menyeduh kopi, ia pun mengantarnya ke ruangan kerja Daniel.


"Daniel ... ini kopinya," kata El lalu meletakkan segelas kopi di hadapan pria itu.


"Makasih yah, El. Oh ya, El. Barusan aku sudah mentransfer gaji mu ya."


"Makasih ya, Dan. Aku keluar dulu soalnya masih banyak kerjaan," pungkasnya.


Satu demi satu ruangan El masuki untuk membersihkan dan merapikan meja, kursi dan komputer di ruangan divisi.

__ADS_1


El tampak menikmati perkerjaan nya bahkan ia tidak malu dengan profesinya itu. Sikapnya yang ramah dan supel membuat karyawan di kantor itu menyukai kepribadiannya.


Setelah membersihan ruangan divisi pemasaran. El pun keluar sambil membawa sapu dan kemoceng dan kembali menaruhnya ke tempat khusus.


****


Sementara di kantor Kai, tampak Tara sedang sibuk menyusun beberapa materi yang sudah disetting oleh Bella.


Tara hanya tersenyum sinis. Setelah itu, ia pun ke ruang kerja Kai.


Setelah mengetuk pintu, Tara pun masuk dan membawa materi itu lalu meletakkannya di atas meja kerja Kai.


"Kai, itu materi yang akan kita bawa ke Perusahaan B.A.M, silakan dibaca dulu baik-baik.


Kai hanya bergeming dan tampak sangat kesal.


"Ada apa? Kenapa kamu kelihatan kesal banget," tanya Tara.


"Sial!!! Ada yang sudah membobol sistem keamanan perusahaan ini dan sedikit informasi perusahaan sudah disebar!! Aku mengalami kerugian bahkan saham perusahaan pun anjlok. sh*it!!" umpat Kai.


Tara hanya tersenyum sinis.


Inilah akibatnya jika kamu berani bermain-main denganku.


"Kenapa bisa? Bukankah kamu sudah memasang keamanan yang cukup mumpuni agar tidak bisa diakses atau dibobol?." Tara pura-pura tidak tahu.


"Aku juga tidak mengerti, sepertinya orang ini sangat cerdas dan ahli di bidang itu," sahutnya frustasi.


"Oh ya, Kai, jam 11:00 siang kita ada meeting dengan Pak Daniel. Schedule mu hanya itu hari ini. Setelahnya kamu free," jelasnya.


"Ok ... thanks Tara."


"Hmm ... kalau begitu, aku kembali ke ruang kerja ku," pamitnya dan langsung meninggalkan Kai.


Kai menghela nafasnya dan kembali duduk di kursi kerjanya lalu mengambil sebatang rokok dan membakarnya.


Pikirannya kembali melayang ke sosok El. Sejak kejadian malam itu, ia sudah tidak pernah melihat gadis itu lagi. Sejujurnya ia sangat merindukannya.


"Ke mana dan tinggal di mana dia? Bahkan rumah lamanya sudah dijual," desisnya. "Kenapa aku nggak bisa melupakan gadis bar-bar itu bahkan aku merindukannya," akunya lalu kembali menyesap rokoknya.


Kai memejamkan matanya membayangkan wajah gadis itu dan kembali menyesapi aroma parfumnya dalam-dalam.


"Hanya dia satu-satunya wanita yang berani kepadaku bahkan menolakku secara terang-terangan. Dan dia juga satu-satunya wanita yang membuatku penasaran bahkan membuat jantungku berdebar."


Ia terus saja larut dengan pikirannya sendiri.πŸ˜…


.


.


.


☘️☘️☘️☘️☘️ πŸ™β˜ΊοΈ


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2