
Satu minggu kemudian ...
Setelah Damian mengutarakan niat baiknya untuk menggantikan dirinya sebagai pendonor, El sangat terharu dan tak kuasa mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih pada sepupu suaminya itu.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan benar-benar sehat dan siap melakukan operasi, Damian hanya berharap operasinya berjalan lancar dan sukses.
Karena ini merupakan operasi besar dan akan memakan waktu berjam-jam, Mike melarang El untuk ikut bergabung dalam tim bedah apalagi ia dalam keadaan hamil.
Setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya El menurut. Setelah menimbang-nimbang secara seksama, Mike memutuskan melakukan operasi di negara asal mama Glori dan membawa tim bedahnya yang akan bergabung dengan tim bedah di Rumah Sakit Helios, Berlin.
Serangkaian prosedur telah ia siapkan termasuk persetujuan tim bedah dari pihak Rumah Sakit Helios, Berlin. Ada 6 dokter spesialis bedah yang akan bergabung termasuk Mike sebagai kepala tim transplantasi hati.
Di sinilah mereka saat ini di kamar VIP dan sebentar lagi, Kai dan Damian akan dibawa ke ruang operasi.
Sejak tadi pula, El tak henti-hentinya menangis memeluk suaminya. Perasaan takut kehilangan benar-benar menyelimuti dirinya.
"Sayang ... jangan seperti ini? Berdoalah semoga aku dan Damian sama-sama bertahan dan operasinya berjalan lancar dan sukses," lirih Kai sambil terus mengusap punggung istrinya yang terus bergetar karena menangis.
"Aku takut kehilanganmu," ucap El dengan tersengal-sengal lalu membawa tangan suaminya memegang perutnya. "Berjanjilah pada triplets, kamu akan bertahan," pintanya.
Kai hanya mengangguk lalu mengecup lama keningnya turun ke bibir dan terakhir ke perut.
"Daddy janji akan bertahan dan akan kembali lagi," bisiknya.
Setelah itu, El menghampiri Damian, memeluknya dan memberi semangat serta tak lupa ia kembali berterima kasih.
"Damian, berjanjilah kamu juga akan bertahan, aku hanya berharap kalian akan kembali dan akan secepatnya sadar pasca operasi," bisiknya dengan suara tercekat. "Terima kasih, kamu sudah mau menjadi pendonor buat Kai."
Damian hanya mengangguk dan mengelus punggung iparnya itu. "Sudah ... jangan menangis lagi. Kasian ponakanku. Mereka juga pasti ikut sedih karena Mamy-nya bersedih," balas Damian lalu mengurai pelukannya.
El kembali menggenggam tangan Kai dan Damian. Menatap wajah keduanya dengan lekat sebelum akhirnya keduanya mulai dibawa menuju ruang operasi.
El, mama Glori, bunda Kiara dan pak Jason ikut mendorong bed pasien sebelum akhirnya mereka terpisah di depan pintu ruang operasi.
Tak lama berselang, Mike beserta tim bedah tampak menghampiri ruangan itu.
"Dear ..." Ia memeluk El sejenak. "Sebaiknya kamu istirahat," pesannya. "Ini merupakan operasi besar dan akan memakan waktu kurang lebih 6 sampai 16 jam. Berdoalah semoga kami tim dokter berhasil dalam operasi ini," lirih Mike.
"Tante, bunda, dan Paman akan terus berdoa, semoga operasinya lancar dan sukses," sahut mama Glori.
__ADS_1
"Ya sudah, aku masuk dulu," izin Mike.
Mereka hanya mengangguk lalu duduk di kursi tunggu depan ruangan operasi.
Sementara di dalam ruangan operasi Kai dan Damian tampak sudah tidak sadarkan diri efek obat bius yang sudah disuntikkan ke dalam tubuh keduanya.
Sebelum memulai pembedahan, Mike beserta tim bedah, terlebih dulu berdoa bersama menurut kepercayaan masing-masing demi kelancaran operasi yang akan mereka lakukan bersama.
Setelah itu mereka mulai bersiap-siap dibantu dengan beberapa asisten dokter masing-masing.
"Mah, Bunda, Pah, ini baru jam sembilan. Jika perkiraan Mike operasinya sekitar 6 hingga 16 jam itu artinya bisa sampai jam 01.00 dini hari operasinya selesai," lirihnya dan kembali menangis khawatir.
"Sayang ..." Mama Glori mengelus punggungnya begitupun dengan bunda Kiara.
Kok author pun ikut deg ... deg-an ya, menanti hasil operasinya. π€βοΈ
"Glo, Bunda, sebaiknya kalian membawa El kembali ke kamar rawat," saran pak Jason. "Biar aku yang menunggu di sini."
"Nggak Pah, aku ingin di sini saja menunggu Kai dan Damian," tolaknya dengan suara tercekat.
"Tapi Nak, ini masih lama. Kasian sama janinmu. Perutmu bisa kram dan kamu juga bisa sakit jika kelelahan," kata pak Jason sambil berjongkok menggenggam tangan menantunya itu.
Tahu jika pak Jason ingin bicara, bunda Kiara beranjak kemudian menghampiri sang suami.
"Ada apa, Pah?" tanya Bunda.
"Apa kamu sudah siapkan obat biusnya," tanya pak Jason.
"Hmm."
"Bun, aku khawatir dengan El jika dia bersikeras menunggu. Dia bisa kelelahan dan kasian cucu kita nanti," bisiknya. "Papa sarankan jika El sudah tertidur kamu suntikan saja obat biusnya," pungkasnya.
"Bunda juga sepemikiran," balasnya. "Ya sudah bunda dan Glo harus membujuknya dulu," imbuhnya lalu kembali mendekati El dan mama Glori.
"Sayang kita kembali ke kamar dulu ya, Nak," bujuk bunda. "Kita istirahat dulu. Nanti jika kamu sudah bangun tidur kita kembali lagi ke sini."
Awalnya El enggan dan tetap bersikukuh ingin menunggu namun karena tak tega dengan bunda, mama dan papa Jason yang terus membujuknya, akhirnya dengan berat hari ia menurut juga.
Setelah beberapa menit berada di kamar rawat Kai, mama Glori terus menemaninya dan memberinya semangat supaya tidak berlarut-larut sedih.
__ADS_1
Seperti rencana awal, setelah El tertidur, bunda Kiara menyuntiknya dengan obat bius supaya ia tertidur hingga operasi suaminya selesai.
"Sayang, maafkan bunda ya. Sebenarnya bunda nggak tega, hanya dengan cara ini saja supaya kamu nggak ngotot. Kasian janinmu," lirih bunda lalu mengelus kepalanya dan perutnya.
Setelah itu, mama Glori dan bunda Kiara kembali menemani pak Jason yang masih betah dan terlihat harap-harap cemas menunggu di depan pintu ruang operasi putra dan ponakannya itu.
*******
Jauh dari kota Berlin, tepatnya di kota A, Tara cukup terhenyak mendengar kabar jika ex sahabat sekaligus boss-nya itu memiliki penyakit mematikan.
Ia baru tahu setelah Candra dan Daniel menceritakan padanya sehari sebelum Kai dan keluarganya berangkat ke Jerman bersama tim bedah dokter Mike.
Sekelumit ingatannya kembali berputar saat ia menghajar Kai habis-habisan hingga pria blasteran itu memuntahkan darah dan pingsan di tempat. Bahkan dengan teganya ia berharap Kai secepatnya mati.
Tara mengusap wajahnya dengan kasar dan terlihat gelisah memikirkan nasib Kai. Bahkan ia tidak tahu jika seminggu yang lalu setelah pengakuan El, Kai mulai drop dan tidak sadarkan diri selama beberapa jam.
"Jadi selama dia berhenti minum, itu artinya dia sudah menderita penyakit itu? Lord .... apa yang sudah aku lakukan," desisnya lalu menatap kedua tangannya yang sudah pernah membuat Kai hampir kehilangan nyawa saat itu.
"Aku harus bertanya pada, Daniel atau dokter Lois. Di rumah sakit mana Kai menjalani operasi transplantasi hati di kota Berlin."
Sedetik kemudian ia tampak berpikir memikirkan El. "Aku harus bagaimana sekarang? El pasti membenciku saat ini," ucapnya dengan frustasi.
Menyesal ....
Bersalah ....
Dua kata yang kini membuat dirinya seperti buah simalakama.
"El ... Kai ... maafkan aku ...''
Sebuah kata yang hanya mampu ia ucapkan tapi tidak bisa berhadapan dengan dua sosok yang pernah hadir mewarnai hidupnya.
...----------------...
Assalamu'alaikum readers terkasih, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembaca yang masih setia mengikuti kisah El dan Kai. ππ₯°π
Terima kasih juga buat para readers yang sudi memberi like dan komennya serta memberi gift dengan sukarela β€οΈβ€οΈ. Beberapa bab lagi novel ini akan TAMAT. Dukung terus ya karya author.
Jangan lupa mampir juga di novel author yang lain 101 DAYS TO BE YOUR PARTNER dan yang terbaru RETAKNYA SEBUAH KACA. Harus siapkan kanebo karena mengandung banyak bawang π€π€βοΈβοΈ. Salam hangat penuh cinta buat kalian semua, terima kasih.
__ADS_1