
Setibanya di depan gedung hotel. Bimbo mengantar El sampai di depan pintu kamar.
"Bim, thanks. Aku akan sangat merindukan kalian di sini. Titip salam buat semua anak-anak club komunitas motor kita. Cepat atau lambat, aku akan tetap menginjakkan kakiku di tempat ini lagi."
Bimbo hanya mengangguk. "Ok, kami akan tetap menunggumu, El. Ya sudah masuklah," serunya.
El mengangguk patuh lalu membuka pintu. Setelah itu, Bimbo juga meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Keesokan harinya .....
Tampak El sudah rapi dan meletakkan helmnya di atas koper besarnya. Sebelum keluar dari kamar itu, ia kembali memesan jasa taksi online sekaligus membayarnya di aplikasi.
Setelah itu, ia pun memakai ranselnya lalu mendorong kopernya ke arah lift yang akan mengantarnya ke lantai dasar hotel. Begitu pintu lift terbuka, El kembali mendorong kopernya ke arah meja resepsionis untuk segera check out.
Setelah urusannya selesai, ia kembali mendorong kopernya ke arah sofa yang terdapat di hotel tersebut sambil menunggu taksi pesanannya.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya taksinya pesanannya tiba. Ia pun beranjak dari tempat duduknya.
Ketika ia berada di tangga depan hotel, ia malah teringat Kai. Ia mengulas senyum karena sempat mengerjai pria blasteran itu. Sedetik kemudian, ia tersadar dan kembali merasa kesal. "Cih! Kenapa juga aku kepikiran sama si bastard itu? Menyebalkan!!"
Ia kembali mendorong kopernya lalu di bantu oleh Bang supir.
"Bang, langsung ke bandara ya," pintanya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Bang supir.
Setelah berada di dalam mobil, El menyandarkan punggungnya sembari memejamkan matanya.
Selamat tinggal Kota A. Mah, Pah, tante Karin, aku pamit. Bimbo, thank you so much atas bantuanmu padaku. Tara, maafkan aku, mungkin inilah jalan yang terbaik buat kita. Kita di pertemukan namun tidak untuk di persatukan.
El kembali meneteskan air matanya, namun dengan segera ia menyekanya. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke luar kaca mobil.
Dua puluh menit kemudian ia pun tiba di bandara. El mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya pada Bang supir. "Bang, ini ambil lah, terima kasih sudah mengantarku," ucapnya.
"Tapi Neng. Pembayarannya sudah di aplikasi," kata Bang supir.
El tersenyum. " Nggak apa-apa, Bang. Anggaplah ini rezeki buat Abang. Doain saja semoga aku selamat sampai tujuan," timpal El.
__ADS_1
"Terima kasih, Neng." El hanya mengangguk. Bang supir kemudian mengeluarkan koper gadis itu dari dalam bagasi mobil.
Setelah itu, El kembali meletakkan helmnya di atas kopernya lalu kembali mendorong ke dalam ruang tunggu. Tidak lama kemudian terdengar pengumuman pesawat tujuannya akan segera berangkat.
Setelah lolos dari pemeriksaan, El terus berjalan sambil menenteng helm motornya, hingga ia benar-benar berada di dalam burung besi itu, baru lah ia merasa tenang lalu mendudukkan dirinya di kursi pesawat.
.
.
Siang harinya di apartemen Tara ...
Tara masih saja tertidur di atas ranjang empuknya. Mungkin karena semalam ia terus-menerus menenggak minuman keras di club miliknya setelah dari bengkel milik Bimbo.
Daniel hanya geleng-geleng kepala melihat sang big boss yang terlihat kacau. Ia pun menghampiri Tara lalu membangunkannya.
"Tara, bangun. Ini sudah siang." Daniel menggoyangkan tubuh pria itu sembari menepuk-nepuk punggungnya.
Tara hanya menggeliat kecil sambil meracau menyebut nama El.
"Tara, sadarlah. Ayo bangun. Papa dan momymu ada di kantor. Mereka mencarimu," kata Daniel.
"Apa kau sudah gila hah! Mereka sama Pak Devan dan putranya," tegas Daniel.
"Cih, biarkan saja. Bilang saja aku kurang enak badan." Tara masih bergeming di tempat.
Daniel hanya geleng-geleng kepala.
Kesal? tentu saja.
Mau tidak mau dia harus mengikuti perintah sang big boss. Daniel kembali meninggalkannya dengan perasaan geram.
Setelah kepergian Daniel. Barulah ia mendudukkan dirinya. Ia megambil frame foto yang ada di meja nakasnya.
Ia menatap dalam-dalam wajah El yang sedang memeluknya sambil tersenyum, sebelum akhirnya ia melempar frame itu ke dinding kamarnya hingga hancur berkeping-keping.
"Baiklah, jika itu inginmu, El. Sepertinya kamu benar-benar sudah tidak ingin diganggu bahkan kamu sama sekali tidak ingin aku menemukanmu."
"Aku menyesal mengenalmu, aku menyesal berharap padamu, aku menyesal membantumu jika pada akhirnya hasilnya akan sangat mengecewakanku." Tara mengepalkan kedua tangannya dengan menggeretakkan giginya. Matanya ikut memerah.
Ia pun masuk ke dalam kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower air dingin. Namun bayangan wajah El terus saja bermain di matanya.
__ADS_1
"Damn!!" Tara langsung meninju kaca pembatas hingga benda bening itu langsung pecah dan berserakan di atas lantai kamar mandi mewah itu.
"Kenapa kamu melakukan itu El?! Bukankah kamu pernah mengatakan kepadaku supaya aku mau berjanji untuk terus menjadi pelindungmu? Tapi sebaliknya dirimulah yang tidak menginginkannya!!" geram Tara.
Ia tersenyum miris. "Kai yang melakukan kesalahan itu, kenapa imbasnya kamu timpakan juga kepadaku. Kenapa, El!!!!!!! Kenapa!!!!!'' Teriaknya dengan penuh amarah bahkan air matanya ikut menetes.
.
.
.
Rumah sakit kota A ...
Kai yang sedang berdiri di depan jendela kamar rumah sakit. Ia dibuat terkejut ketika menoleh saat suara seorang wanita sedang memanggilnya.
"Kai .... "
Kai seolah tidak percaya dengan kehadiran wanita paruh baya yang sedang memanggilnya. Madam Gloria begitulah orang memanggilnya.
"Ma--mama ... Bbbb--bagaimana Mama tahu jika aku ada di sini? Kapan Mama tiba?" tanyanya terbata.
"Baru saja dan Mama langsung kemari. Kemarin pagi Alex yang menghubungi Mama. Mama mengkhawatirkan dirimu, Nak."
Kai langsung memeluk mamanya lalu menangis. "Maafkan aku, Mah," ucap Kai lirih.
Mamanya hanya mengangguk sembari mengelus punggungnya. "Tenang lah, mama akan menemanimu di sini hingga kamu benar-benar sembuh dan bisa kembali beraktivitas," bisik mamanya lagi.
Kai mengajak mamanya duduk di sofa yang ada di kamar itu.
"Kai, kenapa kamu jadi seperti ini? Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk melakukan kekerasan pada siapapun." Madam Gloria menatapnya penuh sesal.
"Aku juga tidak ingin, Mah. Tapi aku terdesak." Kai menghela nafasnya. "Aku pantas mendapatkannya, Mah," ucapnya pelan lalu tertunduk.
"Apa kamu sudah menemukan gadis itu?" tanya mamanya. Kai hanya menggelengkan kepalanya.
"Kai, temukan gadis itu secepatnya dan nikahi dia. Mama akan sangat kecewa padamu selagi kamu belum menemukannya. Sebaiknya kamu fokus dulu pada kesehatanmu. Tunggu kamu benar-benar sudah pulih dan berusahalah menemukannya." Madam Gloria menasehatinya.
Kai hanya mengangguk sambil tertunduk. "Aku akan mencari dan menemukannya, Mah. Meskipun dia membenciku aku akan tetap berusaha meluluhkan hatinya serta meyakinkannya," gumamnya dalam hatinya.
...----------------...
__ADS_1