All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
133. So sweet banget sih mereka bertiga ...


__ADS_3

Abraham Company ....


"Abraham Company? So ... ini perusahaan almarhum tuan Abraham? Ternyata perusahaan induknya di sini?" tanya Mike menatap kagum gedung megah itu.


"Iya Mike," sahut Kai lalu tersenyum.


"Waaah, El, ternyata kamu itu calon mantu seorang miliarder," bisik Lois.


El hanya mengulas senyum sembari menautkan jemarinya dengan Kai.


Tahu jika sang pemilik perusahan sedang berkunjung, karyawan di perusahaan itu langsung berdiri sembari memberi hormat.


"Selamat pagi, Tuan," sapa mereka.


Ceritanya dialog dalam bahasa Jerman. Berhubung otor gak bisa berbahasa Jerman, udah langsung translate aja ya. πŸ˜…βœŒοΈ


"Selamat pagi juga. Apa tuan Damian sudah berada di ruangannya?" tanya Kai dengan ramah.


"Iya, Tuan," jawab karyawannya.


Setelah itu, Kai memperkenalkan El, Mike dan Lois kepada mereka.


"Kai ... i'm speechless," kata Mike menatap kagum sosok serta kepribadian Kai.


Mereka kembali melanjutkan langkah menuju ke arah lift khusus yang akan mengantar mereka ke ruangan Damian.


Begitu pintu lift terbuka, Kai kembali mengajak El, Mike, dan Lois ke ruangan Damian.


Sementara itu, Damian yang tampak fokus menatap layar laptop, seketika mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang diketuk.


Ia mengulas senyum saat tahu siapa yang masuk ke ruangannya. Ia pun beranjak dari kursi kerjanya seraya menghampiri sepupunya lalu memeluknya.


"Welcome back, Kai," bisiknya sembari menepuk punggung tegapnya.


Setelah mengurai pelukannya dari Kai, ia mengulurkan tangan menjabat tangan Mike dan Lois.


"Thank you, Mike, Lois. Khususnya kamu, El. Calon Nyonya Kai," ucap Damian dengan seulas senyum.


El hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Damian. Jauh dalam sudut hatinya, ia merasa belum pantas disebut nyonya Kai.


El mengedarkan pandangannya hingga ekor matanya terarah ke sebuah pigura foto keluarga Kai. Ia tersenyum tipis menatap foto itu di mana terlihat Kai kecil sedang berada diantara mama dan papanya.


Terdapat juga beberapa foto saat ia di wisuda bersama mama Glori dan Damian.


Puas menatap foto itu, ia pun ikut bergabung duduk di sofa.


"So ... kalian akan ke mana lagi setelah berkunjung ke sini?" tanya Damian. "Bagaimana jika hari ini, aku ajak Mike dan Lois jalan-jalan. Mumpung CEO-nya sedang berada di kantornya."


Damian tersenyum penuh arti sembari menaik turunkan alisnya menatap Kai.


"Honestly, aku mana-mana saja. Mumpung masih ada waktu sampai besok," sahut Lois.

__ADS_1


"Me too," sambung Mike.


"Ok, fine. Kai ... aku ingin mengajak Mike dan Lois keliling kota, sekalian merekomendasikan tempat-tempat wisata menarik di kota ini," ujar Damian


"Baiklah," sahut Kai.


Setelah ketiganya berpamitan sekaligus meninggalkan ruangan itu, Kai mengajak El ke ruangan kerjanya.


"Sayang ... ayo kita ke ruanganku saja."


"Bukankah ini ..."


"No ... ini ruang kerja Damian sebagai wakilku," potongnya cepat. "Dia yang mengatur serta mengurus semua pekerjaanku di sini."


Sesaat setelah berada di ruang kerja Kai, El menatap kagum ruangan itu. Terkesan mewah sekaligus elegan.


"Amazing room ...." gumam El.


"Apa kamu menyukai ruangan ini, Sayang?" bisik Kai.


"Hmm ...." El menghampiri dinding kaca lalu menatap keindahan kota Berlin dari balik kaca ruangan itu.


Sedangkan Kai memilih duduk di kursi kerjanya sambil memandangi punggung wanitanya itu.


"Ssssttt ..." Kai mengusap perutnya yang kembali terasa nyeri.


Mendengar suara ringisan Kai, El langsung berbalik lalu menghampirinya.


Kai bergeming menatap lekat wajah El. Matanya langsung berkaca-kaca.


"Kamu kenapa?" tanya El namun Kai tetap bergeming. "Bicaralah, jangan diam saja," bisik El lalu duduk di pangkuannya seraya memeluknya.


"Bagaimana bisa aku mengatakan ini? Aku nggak mau kamu khawatir," batin Kai.


"Sudah, jangan menangis. Dasar cengeng," ledeknya sambil mengelus punggung wanitanya.


"Sepertinya apa yang sedang kamu sembunyikan dariku? Katakan sejujurnya," desak El dengan suara tercekat.


Tak ada jawaban dari Kai. Terasa berat untuk mengungkapkan kebenaran penyakit yang saat ini menggerogoti tubuhnya


"Sayang ... sudah nggak ada yang aku sembunyikan darimu. Aku baik-baik saja," bisik Kai.


El bergeming lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Kai sambil mengelus perutnya dengan lembut.


Elusan lembut El di perutnya seketika membuat Kai merasa nyaman.


.


.


.

__ADS_1


.


Menjelang sore, Kai memutuskan mengajak El jalan-jalan ke Britzer Garten. Kebetulan saat ini adalah musim panas di kota Berlin, maka berbagai bunga mawar indah warna-warni menghiasi salah satu sudut taman kota itu.


Entah secara kebetulan atau tidak namun mawar yang menghiasi taman itu cukup membuat El takjub.


"Sayang, aku tahu ini pasti bunga favoritmu kan?" bisik Kai lalu mengecup keningnya.


El mengangguk pelan mengiyakan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Kai meminta bantuan salah satu pengunjung untuk mengabadikan foto mereka berdua.


Setelah puas berfoto ria, Kai kembali mengajak El menyusuri taman indah itu hingga ke salah satu sungai kecil dengan aliran air yang menyejukkan.


Keduanya kini duduk di pinggiran sungai sembari menikmati sore hari.


"So beautiful," ucap El setengah berbisik sembari memejamkan mata menghirup udara.


Sudut bibir Kai membentuk sebuah lengkungan. Hanya dengan hal sesederhana ini sudah cukup membuat sang calon istri bahagia.


Keduanya masih betah duduk di pinggir sungai sambil mengobrol bahkan sesekali keduanya tampak tertawa bahagia.


Setelah merasa puas berada di taman itu, Kai dan El terlebih dulu singgah di salah satu cafe hanya untuk sekedar minum kopi.


Keduanya menghabiskan waktu kurang lebih dua puluh menit di cafe itu sebelum akhirnya memutuskan pulang ke mansion.


Dalam perjalanan pulang, sesekali Kai melirik El yang tampak memejamkan mata.


"Sayang, rasanya aku nggak rela beranjak dari taman itu tadi. Indah banget belum lagi hutan kecil yang terdapat di sana dengan hamparan rumput hijaunya, danau, sungai ... so beautiful. Aku merasa seolah berada di negeri dongeng," tutur El.


Kai mengulas senyum. "Ya ... karena itulah Britzer Garten dinobatkan sebagai salah satu taman terindah di kota Berlin," jelas Kai.


El hanya manggut-manggut mengerti.


Tak lama berselang akhirnya keduanya pun tiba di mansion. Saat masuk ke dalam mansion, El langsung menghampiri mama Glori yang sedang duduk di sofa.


"Sayang, kalian baru pulang?" tanya mama Glori. "Kelihatannya happy banget, apa itu karena lusa kalian akan menikah?"


"Ya ..." sahut Kai cepat.


"Bukan kalian saja tapi mama juga," aku mama Glori seraya mengelus wajah calon menantunya. "Besok pagi kita sama-sama ke butik ya."


"Iya, Mah," ucap El lalu memeluk mama Glori.


"Kai, mendekatlah, Nak," pinta mama Glori pada sang putra. Begitu Kai mendekat mama Glori langsung merangkulnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, doa restu mama selalu menyertai kalian berdua. Berbahagialah Nak," ucap lirih mama Glori.


Dari ambang pintu, Mike, Lois juga Damian sama-sama memandangi ketiganya. Pemandangan yang membuat hati mereka terenyuh sekaligus terharu.


"So sweet banget sih mereka bertiga," ucap Lois.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2