All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
159.


__ADS_3

Arah jarum jam dinding kini menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Ketika El tersadar dari tidurnya, ia tidak mendapati suaminya di kamar itu.


Perlahan ia bangkit dari tidurnya dan merasakan kepalanya pusing. "Sssttt ..." ringisnya lalu memijat kepalanya. "Kai ... ke mana dia?" desis El lalu turun dari ranjang. "Apa aku sudah keterlaluan ya tadi? Lagian ... kenapa sih dia tiba-tiba merasa kesal?" El bertanya-tanya.


Ia memilih turun ke lantai satu dan menuju dapur.


Setelah meneguk air, El tampak termenung sejenak dan berinisiatif membuat teh untuk suaminya itu.


Lima menit kemudian, ia kembali ke lantai dua lalu menuju ke ruang kerja suaminya sambil membawa teh.


Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu. Ia terenyuh saat mendapati suaminya sedang tertidur di sofa dengan bertelanjang dada.


"Sayang ..." lirih El lalu meletakkan gelas di atas meja kerja suaminya. Matanya kembali terarah ke layar laptop suaminya yang masih menyala di bawah cahaya temaram.


El sedikit merasa bersalah saat membaca artikel yang terpampang di layar itu. Ia kembali melirik suaminya sejenak lalu menutup laptopnya.


"Ternyata dia mencari tahu semua informasi tentang kehamilan," desis El. Setelah itu, ia menghampiri Kai dan duduk tepat di depan wajahnya.


Perlahan tangannya terulur mengelus rambut dan wajah rupawan itu seraya berbisik, "Sayang ..." Namun Kai belum merespon hingga tangannya mengelus dada dan mengikuti gambar tatto, baru lah Kai terusik.


Ia menahan jemari itu lalu membuka matanya, menoleh ke sisi kanan di mana El sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang ... sedang apa kamu di sini?" tanya Kai lalu perlahan mendudukkan dirinya, menarik tangan El supaya duduk di pangkuannya.


"Aku membawakan mu teh hangat," jawabnya dan kembali berdiri meraih gelas di meja kerja suaminya. "Minum lah, ini masih hangat," pintanya kemudian duduk di samping Kai.


"Terima kasih, Sayang," ucapnya pelan lalu meletakkan gelas itu di meja samping sofa. "Ada apa? Kenapa menatapku begitu," bisiknya lalu membawa El masuk ke dalam pelukannya.


"Maaf sudah membentakmu tadi. Bahkan aku mengatakan jika aku membencimu," lirihnya lalu menangis.


"Sekalipun kamu mengatakan benci berulangkali, tapi aku tetap mencintaimu," bisiknya sambil mengelus punggung istrinya dengan sayang dan membenamkan dagunya di puncak kepalanya. "Sudah ... jangan menangis. Aku yang nggak peka dan kamu sensitif. Aku baru tahu jika mood wanita hamil itu up and down. Maaf aku terlambat mengetahuinya," bisik Kai.


El hanya mengangguk dalam pelukannya.


"Sayang, honestly ... aku takut banget kamu pergi meninggalkanku saat kamu membentakku. Aku takut kamu pergi tanpa kabar seperti setahun yang lalu," aku Kai dengan hela nafas.


"Mana mungkin aku meninggalkan mu. Jika pun iya, aku akan langsung ke Jerman dan tinggal bersama mama di sana," balas El lalu mengurai dekapannya.

__ADS_1


Kai tersenyum. "Dan kamu pasti nggak akan mau bertemu denganku. Benar kan?" tebak Kai seraya mengelus pipi istrinya.


"Hmm."


"Aku bisa gila dan frustasi jika kamu seperti itu," bisiknya.


"Cepat habiskan tehmu, setelah itu kita tidur," ujarnya.


Kai hanya mengangguk dengan seulas senyum. Hatinya kembali menghangat. Ternyata apa yang ia pikirkan jauh dari perkiraannya.


.


.


.


.


Tiga bulan kemudian ....


Selama tiga bulan itu pula ia memilih tinggal di Kota X dan hanya sesekali ke kota A dan Jerman hanya untuk bertemu klien penting dan investor dari luar negeri.


Belum lagi dirinya yang masih mengalami morning sickness selama trimester kehamilan El dan berbagai permintaan aneh-aneh yang cukup membuat istrinya itu sedikit kewalahan memenuhi keinginannya.


Syukurnya ada sang mama. Begitu tahu El hamil, seminggu kemudian mama Glori langsung terbang ke kota X demi memastikan El dalam keadaan baik-baik saja dan meminta menantunya itu mengurangi sedikit kegiatannya di kampus.


Saat ini Kai sudah bisa bernafas lega karena sudah seminggu terakhir ia sudah tidak mengalami morning sickness. Hanya saja nafsu makannya semakin bertambah. Dan otomatis membuat berat badannya bertambah.


Di sini lah ia dan El sekarang, di bandara kota X. Sebentar lagi ia akan berangkat ke kota A dan kembali fokus bekerja di perusahaannya di kota itu. Walaupun berat meninggalkan El dan mama Glori namun ia tetap harus rela.


Sejak tadi keduanya, masih duduk di bangku yang sama sedang menunggu pengumuman.


"Sayang, maaf ya. Aku terpaksa meninggalkanmu dulu dan si triplets ini," bisik Kai seraya mengelus perut El yang sudah terlihat sedikit membuncit. Mengecupnya berulang-ulang dengan perasaan gemas.


El hanya mengulas senyum sembari mengelus rambut coklat suaminya. Merasa lucu dengan tingkah konyol prianya itu tanpa memperdulikan tatapan orang yang sedang memperhatikan mereka berdua.


"Sayang ... sudah," kata El sambil terkekeh. "Bersiap lah, sebentar lagi kamu akan berangkat," pinta El.

__ADS_1


Kai hanya menghela nafasnya dengan kasar. Mau tidak mau ia harus bersiap. Ia kembali mengecup perut buncit El lalu mengajak calon bayinya berbicara.


"My triplets ... Daddy berangkat dulu ya. Jangan nakal di dalam sana. Seminggu lagi kita akan bertemu di kota A," bisiknya lalu menegakkan badannya menatap El. "Sayang ... minggu depan, biar Mike yang menjemputmu dan mama di jemput sama Alex. Kamu harus hati-hati," pesan Kai lalu mendekapnya erat.


El hanya mengangguk sembari mengelus punggung tegap suaminya dengan sayang. Sejatinya ia juga berat melepas suaminya itu.


"Hati-hati sayang. Sampaikan salam kangen ku untuk Mike dan Lois, Vira dan Daniel," pesan El lalu mengurai pelukannya.


"Hmm ... baik lah," bisik Kai lalu mendaratkan kecupan di kening dan bibir istrinya lalu ke perut.


Keduanya tampak berdiri. Perasaan El langsung melow, saat Kai kembali mendekapnya erat.


"Sayang, aku berangkat sekarang," bisik Kai lagi. Setelah itu, dengan terpaksa ia melangkah pelan meninggalkan El.


Setelah Kai menjauh dan menghilang dari pandangan matanya, El menghampiri Richard yang sejak tadi menunggunya di dalam mobil.


"Richard ... langsung antar aku ke kampus ya," pinta El.


"Baik, Nona El. Oh ya, pulangnya jam berapa nanti," tanya Richard dan mulai melajukan kendaraannya.


"Sekitar jam 15.00, itupun jika aku nggak ada kegiatan tambahan," jelas El dengan seulas senyum. "Aku akan menghubungimu nanti."


"Baik, Nona El," sahut Richard.


Ia terus melajukan kendaraannya hingga tiba di depan kampus El.


"Thanks ya, Richard. Aku masuk dulu. Hati-hati di jalan ya," ucap El lalu tersenyum.


Richard hanya mengangguk dan kembali melajukan kendaraannya menuju kantor.


.


.


.


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2