All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
119. Apa kamu akan seperti ini terus ...?


__ADS_3

Dian terus termenung di meja makan itu hingga pagi menyapa. Ia pun naik ke lantai dua lalu ke mini bar.


"Sampai kapan kamu akan meminum minuman ini?" gumam Dian lalu ke wastafel mencuci wadah bekas minuman Tara.


"Jam segini, El pasti masih tidur. Andai saja dia tinggal di kota ini, ingin rasanya aku curhat sepuasnya. Bahkan ponselnya pun sudah nggak pernah aktif," gumam Dian.


Ia merebahkan dirinya lalu menatap langit-langit kamar. Sekelumit ingatannya kembali berputar mengingat betapa mesranya El dan Kai.


"Beruntung banget El. Aku penasaran dengan kisah cinta mereka. Setahuku El sangat membenci pria itu.Tapi sekarang mereka malah terlihat saling menyayangi saling mencintai."


.


.


.


Jika Dian masih larut dengan pikirannya sendiri, sebaliknya dengan El. Gadis itu masih tampak nyaman tertidur di atas tubuh Kai.


"Eeeeuughhhh ..."


Kai menggeliat lalu mengangkat kepalanya. Merasa tubuhnya begitu berat. "Sayang ..."


Ia mengelus kepala El yang berada di dadanya. "Nyaman banget ya tidur di tubuh om mesum ini," gumamnya lalu terkekeh merasa gemas.


Tak ingin mengganggu, ia hanya membiarkan sembari menunggu El membuka mata. Mengelus punggung serta rambutnya.


Bukannya bangun, El semakin memeluknya sekaligus merasa nyaman dengan elusan lembut di punggungnya.


"Sayang, maafkan aku karena pernah bersikap kasar serta arogan padamu. Rasanya aku nggak ingin melewatkan satu detik pun tanpa dirimu."


"Penderitaan dan luka yang pernah aku torehkan di hatimu, akan aku obati dengan cinta, kasih sayang serta kebahagiaan. Aku mencintaimu."


Sejenak Kai larut dengan pikirannya sendiri. Mengenang kejadian dua tahun yang lalu sekaligus merasa sangat bersalah.


Tak lama berselang El perlahan merubah posisi tubuhnya lalu membelakanginya.


Karena tak ingin menganggu, Kai memeluknya sejenak lalu mengecup pundaknya. Ia pun segera beranjak dari tempat tidur lalu ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian, ia kembali menghampiri El yang masih tertidur. Ia tersenyum menatap lekat wajah gadis itu lalu membelainya.


Seketika El menggeliat karena merasakan tangan Kai yang terasa dingin menyentuh kulit pipinya. Di tambah lagi air yang menetes dari rambut langsung mengenai wajahnya.


"Sayang," bisik Kai. "Pasti dia bakal mengomeliku," batin Kai. Pikirnya seperti itulah.


Ia langsung tersenyum ketika El mulai membuka mata. Gadis itu malah mengangkat tangannya lalu mengelus rahangnya. Menatap lekat maniknya dengan tatapan lembut.


"Tatapan lembut ini yang membuatku tergila-gila padamu bahkan aku selalu membayangkannya," gumam Kai dalam hati.


"Sayang, kenapa menatapku seperti itu?"


El menggelengkan kepalanya kemudian mendudukkan dirinya lalu memeluknya dengan erat.


Membenamkan wajahnya di ceruk leher lalu menghirup dalam-dalam aroma wangi sabun dari tubuh Kai.


"Sayang, jangan lama-lama memelukku seperti ini," bisik Kai.


"Why," balas El.

__ADS_1


"Apa kamu sengaja ingin membangunkannya? Aku nggak akan bisa menahannya sekaligus nggak yakin jika kali ini kamu bisa lolos," goda Kai.


"Lakukan saja jika kamu ingin. Aku nggak akan menolak, lagian kita sudah pernah melakukannya," tantang El. Pikirnya jika ia menolak, Kai pasti semakin menggodanya.


Seketika Kai menautkan alis. Merasa heran dengan sikap El yang seolah menantangnya. "Tumben dia seperti ini? Biasanya dia langsung panik lalu mengomel. Kok hari ini nggak ya," batin Kai.


Diamnya Kai membuat senyum tipis El terukir dibibir. "Huh!!! Sudah kuduga, dia nggak akan berani jika aku bersikap lembut seperti ini," gumam El dalam hati.


"Sudah ya, aku mandi dulu," kata El lalu melepas pelukannya kemudian bergegas menuju kamar mandi.


Sepeninggal El, Kai memilih ke ruang ganti lalu mengenakan pakaian. Setelah itu ia turun ke lantai satu menuju ruang santai lalu meraih salah satu buku kesehatan milik El.


"Apa dia nggak pusing membaca buku setebal ini? Mana banyak istilah aneh. Seperti bahasa planet saja," gumam Kai lalu tertawa lucu.


Ia meletakkan kembali buku itu lalu membuka laptop kemudian membuka galeri fotonya. Senyumnya langsung mengembang menatap foto-foto gadis itu bersama kedua orang tuanya.


"Apa dia nggak punya foto lain selain foto-foto ini," gumam Kai lagi. Ia pun menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


Tak lama berselang El pun turun dari kamar. Ia memilih langsung ke pantry untuk menyeduh teh sekaligus membuat sarapan ala kadarnya.


Beberapa menit kemudian ia pun menghampiri Kai yang masih menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


Tanpa membuka suara ia langsung memijat pelan kepala prianya itu.


"Sayang ..." sebut Kai lalu memejamkan matanya merasakan pijatan lembut dikepalanya.El.


"Nggak apa-apa, Sayang," sahut El.


"Kebetulan kepalaku sedikit pusing," aku Kai dengan suara lirih.


"Sayang, ayo kita sarapan dulu. "Maaf, aku hanya membuat sandwich untuk sarapan kita."


"Nggak apa-apa, Sayang, bagiku itu sudah cukup," balas Kai.


.


.


.


.


Siang harinya ....


"Sayang, aku berangkat kuliah dulu ya," pamit El.


"Biar aku antar."


"Nggak usah, aku bawa motor saja," tolak El.


"Nggak, nggak, jangan membantah. Biar aku yang mengantarmu," tegas Kai.


"Tapi ..."


"Nggak ada tapi tapi, pokoknya no protes," tegas Kai lagi.


Dengan pasrah El hanya menurut sekaligus menggerutu kesal dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Dasar, om posesif!"


Kai langsung terkekeh mendengar nada kesal gadis itu. "Sebelum ke kampus kita cari makan siang dulu," cetus Kai.


"Iya, Om!" ketisnya sembari memutar bola matanya malas.


"Sayang, jujur saja aku lebih suka jika melihat wajah kesalmu itu. Bikin gemas," batin Kai.


"Ayo," ajak Kai dengan senyum jahilnya.


"Apa sih, kok senyumnya genit banget! Dasar om mesum."


"Biarin mesum kan calon suami kamu juga," balas Kai sambil tertawa gemas.


*******


Sesaat setelah berada di dalam mobil, El meminta Kai langsung mengantarnya ke kampus.


"Sayang, sebaiknya kamu langsung antar aku ke kampus saja. Takutnya aku telat. Aku makan siang di kantin kampus saja nanti."


"Baiklah," balas Kai lalu mulai menjalankan mobilnya.


"Sayang, sepertinya aku bakal pulang agak telat, mungkin malam," jelas El.


"Nggak apa-apa, Sayang tapi jangan lupa hubungi aku jika kamu sudah pulang," pesan Kai.


"Baiklah."


Satu jam berlalu ...


Akhirnya mereka pun tiba di depan pintu gerbang kampus.


"Sayang, aku masuk dulu ya," pamit El lalu memeluk Kai sejenak.


"Ya, tetap semangat ya, Sayang," bisik Kai dan dijawab dengan anggukan oleh El.


.


.


.


.


"Tara! Ayo bangun. Ini sudah siang!" kesal Dian.


"Ya Tuhan, setiap hari aku harus mengalami hal seperti ini. Apa kamu akan seperti ini terus?"


Dian menggelengkan kepalanya lalu kembali menepuk punggung suaminya dengan sedikit keras. Namun Tara tetap bergeming.


Karena merasa kesal, Dian memilih ke pantry kemudian mengambil segelas air. Dengan perasaan kesal, ia kembali ke kamar lalu menyiram suaminya itu.


Sontak saja ulah Dian langsung membuat Tara terkejut.


"Dian! Kamu apa-apaan sih?!" gerutunya sekaligus merasa kesal lalu mendudukkan dirinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2