
“Leon... “ Raymond sedikit mengeraskan suaranya, Anita tampak khawatir segera menengahi keduanya.
"dad... tolong tenanglah, daddy bersikap seperti ini karena daddy belum bertemu dan mengenal Luna. Sebaiknya kita berikan Leon kesempatan untuk mengenalkan gadis ini pada kita, mommy mohon dad...” ujar Anita dengan sedikit melunak, dia tidak ingin kondisi Raymond kembali drop dan membahayakan nyawanya. Anita menatap ke arah putranya yang sudah tampak emosi, tatapan Anita meredam amarah dan emosi dalam diri Leon.
Pria tampan bermata tajam itu menghela nafas perlahan lalu menatap ke arah Raymond,
“dad... selama ini aku tidak pernah menentang keinginan daddy, kali ini berikan aku kesempatan untuk mengenalkan perempuan yang menjadi pilihan ku” ujar Leon mengontrol emosinya. Raymond terdiam sejenak menatap Leon di hadapannya, putra semata wayang yang selalu mengikuti semua permintaan dan perintahnya.
Tidak pernah sekali pun Leon membantah dan menolak, dia selalu melakukan semua permintaan Raymond tanpa sedikit pun mengeluh. Kaila menatap penuh harap pada Raymond untuk menyetujui permintaan Leon, begitu juga dengan Adam dan Hugo.
“terserah kalian” ujar Raymond melangkahkan kakinya menuju ke kamar utama. Anita menatap Leon sambil menepuk lembut lengan putranya, Kaila berdiri di samping sisi Leon lainya dengan memegang tangan seolah memberi kekuatan pada kakaknya.
“tenang bro, kami ada di pihak lu. Secepatnya saja lu kenalin tuh si Luna ke bokap Lu, gua yakin setelah mengenal Luna pandangan bokap lu bakalan berubah” hibur Hugo pada Leon yang masih berdiam diri.
“kakak tenang aja, Kaila akan bantu kakak untuk membujuk daddy” ujar Kaila mendukung Leon, sebelah tangan kekar itu membelai lembut kepala adiknya yang tersenyum manis padanya. Mata elang Leon melihat ke arah jam tangan yang ada di pergelangan tangannya,
“mom, aku pulang ke apartemen dulu. Jika daddy sudah tenang, secepatnya aku akan membawa Luna untuk mengenalkan pada kalian” ujar Leon pamit sambil mengecup lembut pipi Anita.
“kamu yang sabar, mommy akan mencoba membujuk daddy mu lagi. o ya kamu tidak makan malam dulu sayang?” tanya Anita.
“tidak usah mom, aku dan mereka akan makan di restoran saja. Apa lagi ada sesuatu yang harus kami selesaikan terlebih dahulu” ujar Leon pamit pulang ke apartemennya.
“baiklah sayang, kamu hati-hati di jalan ya, hubungi mommy jika kamu sudah sampai di apartemen” ujar Anita sambil melangkah mengantar putranya ke pintu.
“tante, kami juga pamit” ujar Adam tersenyum lalu mengikuti langkah Leon yang sudah lebih dulu berjalan ke samping mobilnya. Hugo dengan gaya khasnya memberi salam pada Anita dan Kaila, mereka tersenyum senang melihat tingkahnya.
Tanpa sepengetahuan mereka, Raymond menatap kepergian Leon dan para sahabatnya dari balik tirai jendela kamarnya.
__ADS_1
Leon, maafkan daddy... ini semua demi kebaikan kita semua... gumam Raymond dalam hati, ponsel miliknya kembali bergetar dengan beberapa notifikasi pesan yang masuk. Matanya menatap serius pada pesan itu, gigi Raymond bergemeretak marah saat melihat pesan dan beberapa email yang masuk.
***
Mobil milik Leon melaju di jalanan dengan kecepatan sedikit tinggi hingga meninggalkan mobil para body guard yang berjalan di belakangnya, Hugo dan Adam yang duduk di belakang juga di samping Leon untuk ke sekian kalinya harus menenangkan jantung mereka yang berolah raga dengan cepat.
Mobil para body guard Leon berusaha untuk mengejar, namun mobil yang mereka gunakan kalah jauh dengan mobil sport milik Leon yang memiliki cc di atas mobil mereka.
“da*n it,” ujar body guard Yang mengemudikan mobil. Body guard yang lain berusaha mencari jalan alternatif O alat gps di mobil,
“Tenang ketua, kita masih bisa mengejar tuan muda. Lewati jalan ini saja..” ujar body guard sambil menunjukkan jalan pintas.
“kamu yakin?” tanya pengemudi mobil itu yang memiliki jabatan sebagai kepala bodyguard Leon. Body guard yang menunjukkan jalan mengangguk yakin sambil terus mengarahkan jalan, para body guard yang lain melihat ke sisi kanan dan kiri memastikan keberadaan tuan muda mereka.
Sementara itu, Hugo dan Adam dalam situasi yang tidak baik. Wajah mereka terlihat khawatir dan cemas melihat Leon yang mengemudi seperti orang kesetanan. Adam yang duduk di samping Leon merasakan jantungnya berdetak kencang, bukan karena dia menemukan cinta sejatinya tapi cara Leon yang membawa mobil sudah melebihi kehebatan pembalap F1.
“Bro.... gua tahu kamu marah ama bokap dan si rubah tua Simon. Tapi jangan ngajak-ngajak kita buat ketemu ama malaikat maut, gua masih belum ketemu ama ibu dari anak-anak gua kelak” ujar Adam memegang kuat pegangan yang berada di samping kepalanya. Tangan Adam yang lainnya memegang erat seatbelt yang melintang di depan dadanya, matanya menatap lurus ke depan dan sesekali melihat ke arah Leon yang tidak bersahabat.
“bro.... bro... bro... awas ntuu di depan... aduh bro.... nyantai... sayang ama nyawa... ” ujar Hugo sedikit panik. Leon sama sekali tidak memedulikan perkataan para sahabatnya, dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga pada akhirnya mobil Leon memasuki jalanan yang sedikit ramai, mata Adam terbuka lebar saat ada mobil yang berhenti tidak jauh dari di depan mobil Leon.
“awas Bro...” ujar Adam membuat Leon tersadar dan langsung menekan pedal rem.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiit...
Terdengar decitan mobil yang berhenti akibat Leon yang langsung menginjak rem, jarak mobil di depan mereka tidak berapa jauh dari mobil mereka. Adam dan Hugo terkejut saat melihat jarak mobil itu hanya beberapa centi meter lagi, mereka sangat beruntung dengan kelihaian Leon yang mengendarai mobil dan berhenti pada waktu yang tepat.
“bangun...bangun.... si Jamet ketiban bangku...” ujar Adam sambil mengurut dadanya, Hugo yang duduk di belakang ikut senam jantung mengira mereka akan mengalami tabrakan.
__ADS_1
“Bro, kalo lu mau meet and greet ama malaikat maut, kagak usah bawa gua. Lu mah enak udah ada pasangannya, nah gua masih nge jomblo. Kalo mau ngajak, ntu si Adam aja” ujar Hugo mengatur nafasnya.
Waduh jamet Si Alan... Malah usulin gua nemenin demon king buat ketemu ama ajudan dan anteknya... teman kagak punya akhlak lu gumam Adam dalam hati menatap kesal ke kaca spion yang berada di depan. Dia melihat senyuman jahil dari Hugo yang tengah memandangi ponsel miliknya, Leon masih diam dan tampak berpikir keras.
Mobil mereka berhenti sejenak karena kemacetan yang sudah menjadi hal lumrah di kota JK, pemilik mata tajam seperti elang itu tampak berpikir keras.
“Leon, sepertinya masalah bokap lu ama si rubah tua tidak sesederhana itu” ujar Adam mengalihkan pandangan pada Leon yang sedari tadi diam membisu.
“aku juga merasa begitu, setiap kali aku mencoba berusaha untuk betanya. Daddy pasti bungkam dan menutup mulutnya dengan sangat rapat” ujar Leon mulai bersuara.
Sebelah tangan Leon berada di setir mobil dan satunya lagi berada pada perseling mobil, matanya menatap lurus ke depan.
Leon melihat ke arah spion mobil yang berada di depan. Pantulan bayangan Hugo yang tengah sibuk dengan ponselnya terlihat jelas.
“ bagaimana dengan kemajuan barang yang aku temukan?” tanya leon pada Hugo yang membalas ikut melihat ke kaca spion di depannya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...