
Luna tengah duduk di atas tatami dengan mata terpejam, dia mengenakan kyudo-gi berwarna putih dan bawahan berwarna hitam. Pada bagian dadanya terpasang pelindung dan sarung tangan khusus terpasang pada jari-jari lentiknya, busur Jepang yang panjang di pegang dengan tangan kiri berdiri kokoh di depan Luna. Rambut panjang bergelombang terikat bergaya pony hair style, pengaturan nafas yang tenang membuatnya berkonsentrasi.
Luna berdiri dengan perlahan lalu mengambil posisi dengan membuka kaki selebar bahu, mata terfokus pada papan target. Tangan kanan meraih anak panah yang lalu di letakkannya pada senar busur, Setelah itu Luna menarik senar busur dengan pipinya. Luna menarik nafas dan menghembuskan perlahan, matanya masih terfokus pada papan target.
Baron menatap ke arah Luna dengan bangganya, begitu juga dengan Hans yang menyukai dan menginginkan Luna untuk Matthew. Dia bertekad ingin menjadikan Luna istri Matthew cucunya tentu saja keinginan itu pernah di ungkapnya pada Baron.
Namun, Baron menolak tegas karena dia sudah memilih Leon sebagai Calon suami Luna. Rasa kagum Hans semakin bertambah saat Luna melepaskan anak panahnya dan bergerak dengan elegan, anak panah itu melesat kuat dan tajam ke arah tengah papan target.
Maaf Hans kita memang berteman tapi, untuk urusan masa depan Luna Hanya Leon yang pantas untuk menjadi pendampingnya dan aku akan memastikan pernikahan ini terjadi gumam Baron dalam hati sambil mencuri pandang dari sudut matanya ke arah Hans.
Luna... dia gadis yang paling cocok untuk Matthew... hmmm aku harus memikirkan cara untuk bisa membuat Luna dan Matthew menikah... gumam Hans berpikir keras.
“Sudahlah... kamu menyerah saja, bagaimana pun juga kesempatan untuk cucu mu sudah tertutup?!” sindir Baron meminum tehnya.
"masa depan siapa yang tahu Baron sama, bisa saja Luna tertarik dengan Matthew cucuku. Lagi pula cucuku Matthew memiliki kemampuan yang tidak di miliki oleh pria mana pun ” ujar Hans percaya diri.
Matthew yang hendak masuk ke dalam ruangan itu mengurungkan niatnya saat mendengar pembicaraan Baron dan kakeknya,
Sigh.... Para kakek tua ini.... kelakuannya masih saja seperti anak kecil gumam Matthew dalam hati menghela nafas panjang. Dia lalu menatap ke arah pintu satunya lagi di mana Luna sedang latihan Kyudo,
Dari pada mendengar omongan para tetua ini, Lebih baik aku ke ruangan ini saja gumam Matthew sambil membuka pintu itu. Matanya langsung terpana saat menatap sosok Luna yang tengah menembakkan anak panah tepat ke papan target, Matthew tersenyum manis dan kagum melihat kehebatan Luna. Anak panah yang di lepaskan Luna meluncur dan melesat tajam ke arah papan target,
Prok... prok...prok...
Terdengar tepukan tangan dari arah pintu masuk memaksa Luna untuk menatap ke samping, matanya menatap heran ke arah Matthew yang melangkah menghampiri Luna sambil menatap ke arah papan target.
“Hmm.. not bad...” ujar Matthew membuat Luna tersenyum smirk. Tangan Luna kembali meraih anak panah dan bersiap akan menembakkan kembali,
“For the girl” ujar Matthew lagi membuat Luna menatap tajam ke arahnya. Tatapan itu berubah saat Matthew sudah memegang busur dan bersiap untuk menembak anak panah itu. Dia melangkah dan berdiri di samping Luna, Matthew berdiri membelakangi Luna lalu mengambil posisi untuk menembakkan anak panah itu.
__ADS_1
Dari sudut matanya dia mencuri pandang ke samping di mana Luna terlihat menunggu Matthew melepaskan tembakannya, merasa timing waktu yang tepat anak panah itu di lepaskan Matthew dan melesat tajam ke arah anak panah milik Luna. Anak panah itu langsung terbelah dua dan jatuh ke tanah, Baron yang menyaksikan hal itu tampak memandang serius ke arah papan target.
“bagaimana?!! Sudah aku katakan bukan?!!” ujar Hans membuat Baron merasa bete, dia melihat ke arah Hans yang tersenyum senang dan bangga pada cucunya.
“hanya kebetulan saja” ujar ketus Baron yang terlihat merajuk.
***
Leon dan Kaila akan pergi ke kamar masing-masing, tapi mereka bertemu dengan Kiandra yang hendak menuju ruang latihan Kyudo.
“kak Kiandra, mau kemana?” tanya Kaila.
“Kaila, Leon... oo ini aku mau pergi menemui Luna di ruang latihan” ujar Kiandra memperlambat langkahnya, Kaila berjalan beriringan dengan Kiandra di ikuti Leon yang berjalan di belakang mereka.
“kalau begitu kami ikut ya, kak” ujar Kaila menggandeng tangan Kiandra yang menganggukkan kepalanya. Mereka lalu bersama-sama menuju ruang latihan, Leon membuka pintu dan termenung sejenak saat melihat Matthew.
“Bagaimana kalau kita taruhan, Baron sama?!” ujar Hans yang langsung di tatap oleh Baron. Ucapan Baron dan Hans dapat di dengar oleh Leon juga lainnya, ada perasaan tidak enak yang di rasakan oleh Leon saat kakek Matthew mengajukan taruhan.
“Taruhan !!! taruhan apa?!” tanya Baron.
“taruhan, jika Luna menang aku berikan tujuh puluh lima persen keuntungan dari proyek untuk Young Sun grup...” ujar Hans membuat Baron berpikir sejenak.
“bagaimana jika Matthew yang menang?!” tanya Baron lagi.
“jika Matthew menang, Luna akan menjadi cucu menantuku!!!” ujar Hans yang sukses membuat semua yang ada di sana terkejut mendengarnya. Mereka semua menatap ke satu arah yakni kakek Matthew Hans, tangan Leon terkepal erat tidak senang mendengar ide itu begitu juga dengan Matthew. Dia tidak senang dengan cara yang di lakukan kakeknya, Matthew lebih mengutamakan prinsip mendapatkan wanita pujaannya secara gentle.
“Grandpa... aku tidak setuju” ujar Matthew menolak ide itu. Leon menatap dingin ke arah Matthew,
“kamu tidak setuju?! Aku meragukannya!!” ujar Leon membuat Matthew menatap ke arahnya.
__ADS_1
“ apa yang membuat anda meragukan ku?” Matthew berdiri tepat di hadapan Leon, tangannya masih memegang busur panjang itu.
“aku tahu kamu menyukai Luna, bisa saja ide itu kamu yang memberikannya” Leon menatap tajam ke arah mata Matthew.
"aku akui jika aku menyukai Luna, tapi aku sama sekali tidak tahu dengan rencana ini. aku lebih memilih untuk bertindak secara sportif dan sehat" ujar Matthew tidak mau kalah.
Kiandra, Kaila, Baron dan Hans menatap intens ke arah dua pria tampan itu, mereka bisa melihat bayangan binatang beast sedang berseteru di atas kepala mereka.
“wow Lun.. kamu sukses jadi musuh utama dari para fans fanatik kedua cowok ini” bisik Kiandra yang berdiri di samping kanan Luna, Kaila yang berada di sisi lainnya ikut menatap ke arah gadis berkaca mata.
“wah kak Luna harus hati-hati kalo mo pergi ke mana aja, dendam, iri dan dengkinya hati seorang cewek itu mengerikan loh kak” ujar Kaila berbicara dengan suara kecil sambil bergidik ngeri.
Luna bersikap tenang menatap ke arah ke dua pria itu, mata biru cantik itu menatap ke arah Baron yang langsung paham dan mengerti.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1