
Rasa sakit di jantung Raymond semakin terasa, keringat dingin membasahi keningnya dengan mata terbuka lebar menatap ke arah foto itu. Leon memperhatikan Raymond yang terlihat kesakitan,
“dad... daddy...” Leon memegang lengan Raymond yang masih tidak mengalihkan pandangannya. Anita dan Kaila yang duduk di samping mereka terlihat cemas saat melihat kondisi Raymond, suara panik Leon membuat semua yang hadir di sana terkejut dan menatap ke arah keluarga Willson.
“aaaaarrggghhh... “ terdengar erangan kesakitan Raymond saat kilasan peristiwa masa lalu tergambar jelas di benaknya. Anita terlihat panik begitu juga dengan Kaila,
“Alberto” panggil Baron terkejut saat melihat kondisi Raymond. Alberto segera menghampiri Baron,
“segera bawa dokter ke kamar tuan Raymond” ujar Baron yang langsung di laksanakan oleh Alberto. Luna memperhatikan kondisi Raymond yang terasa sesak dan kesulitan bernapas,
“Leon.... bawa daddy ke kamar sekarang” ujar Luna pada Leon yang sedang memegangi tubuh Raymond. Tanpa banyak tanya Leon segera mengangkat tubuh Raymond, rasa kemanusiaan tergerak di hati Matthew membantu Leon untuk mengangkat dan membawa ke kamar tamu. Leon sejenak menatap ke arah Matthew yang membantunya, dia ingin menolak namun melihat kondisi Raymond Leon tidak ada pilihan.
Anita dan Kaila mengikuti mereka dari belakang dengan tergesa-gesa menuju kamar tamu, Luna ingin menyusul tapi dia merasa tidak tega saat melihat raut wajah Soo He.
Luna memutuskan menemani Soo He yang terlihat cemas dan khawatir, dia merangkul obachan sambil menggosok-gosok lembut lengannya. Baron menatap wajah istrinya,
“Luna ajak obachan mu untuk beristirahat di kamar,” ujar Baron yang langsung di angguki oleh Luna. Kiandra memegang tangan Luna yang hendak membantu Soo He berdiri,
“Biar aku aja Lun yang menemani oba Chan, kamu pergilah bersama ojisan untuk melihat keadaan bokapnya Leon” ujar Kiandra mengerti jika Luna mengkhawatirkan kondisi daddy Leon.
“pergilah Luna, ada Kia yang menemani obachan” ujar Soo He menganggukkan kepalanya pada Luna.
Baron dan Luna melangkah beriringan menuju kamar Raymond di ikuti dengan Jason, Kiandra dan Soo He meminta maaf pada para tamu lain. Soo he terpaksa menghentikan acara peringatan itu, satu per satu para tamu memberi hormat dengan membungkukkan tubuh pada Soo He dan Kiandra Setelahnya mereka keluar dari kediaman dengan di antar oleh para maid.
****
__ADS_1
Hana tampak mondar mandir di dalam kamarnya, dia terlihat cemas dan berkali-kali mencoba menghubungi Simon. Beberapa saat yang lalu beberapa karyawan dan orang-orang dari penagih hutang datang ke rumah mewah mereka, Hana dan Cintia sangat terkejut saat mereka dengan kasar juga marah mempertanyakan tentang keberadaan Simon.
“pii.... papi ke mana.... kenapa ponsel papi sama sekali tidak terhubung begini?” ujar Hana berbicara sendiri, dia terus menerus mencoba menghubungi Simon kembali tapi gagal.
“piii... papi di mana?” Hana memperhatikan layar ponsel yang sudah menggelap. Hatinya Hana merasa tidak tenang,
Lebih baik gue nanya ama mami, mungkin aja mami berhasil ngehubungi papi gumam Hana dalam hati segera keluar dari kamarnya menuju kamar Cintia.
Di kamar utama Cintia tampak berkali-kali mencoba menghubungi dari ponsel yang di pegangnya, raut wajahnya terlihat sangat panik dan tangannya bergetar. Dia kembali mencoba menghubungi lagi, bukan nama Simon yang tertera dan dicoba di hubungi oleh Cintia melainkan body guard yang selalu ‘menemaninya’.
Di meja rias Cintia tergeletak beberapa tes pack elektrik, pada layar kecil yang terpasang di badan test pack itu bertuliskan kata Pregnant. Wajah Cintia tampak memucat saat melihat hasil test pack menunjukkan hasil positif, dia sudah mencari keberadaan body guard itu di segala penjuru rumah mewah itu. Namun, sosok body guard itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
Mata Cintia tampak berkaca-kaca, dia benar-benar kebingungan dan bertanya-tanya di manakah gerangan body guard itu. Tiba-tiba pintu kamarnya di buka dengan kasar oleh Hana,
“mi... apa mami berhasil menghubungi Papi?” tanya Hana membuat Cintia terkejut dan menjatuhkan ponsel yang di pegangnya.
“mami kenapa? Kok kelihatan gelisah dan ketakutan begitu? biasanya juga Hana masuk seperti ini dan mami sama sekali nggak keberatan” Hana menatap penuh selidik ke arah Cintia.
“mami... ma... ma mami nggak kenapa-napa, mungkin karena papi kamu tidak bisa di hubungi mami jadi panik begini” ujar Cintia yang membesarkan matanya saat melihat beberapa test pack di meja rias. Hana semakin penasaran dan ikut melihat ke mana Cintia menatap, keningnya berkerut saat melihat beberapa benda asing di sana.
“Itu apa mi?” tanya Hana menghampiri meja rias, Cintia bergegas lebih dulu mengambil benda itu dan memegangnya.
“bukan apa-apa, bukan hal yang penting” ujar Cintia berusaha menenangkan diri dan menyembunyikan test pack itu ke belakang punggungnya.
"MI!!!" ujar Hana yang tentu tidak percaya begitu saja, dia menatap Cintia penuh curiga dan langsung menghampiri Cintia.
__ADS_1
“Hana!!! Kamu mau ngapain?” tanya Cintia saat Hana berusaha merebut test pack yang di genggamnya kuat, dalam perebutan itu mendadak Cintia merasa ingin muntah. Hal itu membuat pegangannya pada alat test pack itu melemah dan berhasil di rebut Hana, Cintia sudah tidak bisa menahan lagi segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang ada dalam perutnya.
Hana terkejut saat melihat hasil test pack dengan dua garis dan tulisan pregnant di setiap alat itu, Dia lalu menatap ke arah kamar mandi.
Gila nih bokap ama nyokap gue, udah uzur juga masih aja doyan and nambah baby... kagak mau gue punya adek di umur segini, tengsin banget gue. Ntar orang-orang pada ngira kalo itu anak gue.... hiiii amit-amit deh... gumam Hana dalam hati tidak senang, raut wajahnya tergambar jelas rasa jijik saat membayangkan ketika adiknya lahir.
Cintia berkumur-kumur sambil mencuci wajahnya di wastafel kamar mandi itu, sejenak dia bercermin pada kaca kilasan bayangannya saat bersama body guard itu terproyeksi dengan baik. Dia masih merasakan kelembutan setiap sentuhan dari body guard itu pada titik-titik tertentu di tubuhnya, rasa cemas kembali menderanya saat dia tidak bisa menghubungi pria idamannya.
Cintia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak pucat, Hana duduk di kursi depan meja rias menatap kesal ke arah ibunya.
“mi, aku nggak mau punya adek... Hana malu mi. Mami ama papi gi mana sih? Begitu banyak pengaman masak nggak... “ ucapan Hana terhenti saat ponsel miliknya berdering, pada layar ponsel tertera nomor asing yang tidak di kenalnya. Cintia mengabaikan setiap ucapan dari Hana dan lebih memilih duduk di ranjang dengan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, dia mengatur nafas agar rasa mual itu berkurang.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...