
“kamu tunggu di sana Kia, aku sedang menuju ke sana sekarang. Kamu jangan mengambil tindakan apa pun, takutnya wannabe itu akan bertindak anarki dan mencelakai mu” ujar Luna tancap gas.
“oce baby, aku akan nungguin kamu” ujar Kiandra masih menatap layar tabletnya.
Dalam perjalanan menuju Bandara, ponsel Luna yang berada di sebuah alat khusus tepat di atas speedo meter berbunyi. Luna berhenti sejenak di lampu merah segera menggeser icon di layar datar itu, sebelum mengenakan helm full facenya Luna mengenakan earphone di telinga lainnya.
“halo Leon” sapa Luna sambil menatap layar ponselnya.
“halo sayang, kamu sedang ada di mana? Kenapa terdengar sedikit ribut di sana?” tanya Leon berada di balik kemudi mobil mewahnya, dia tampak tengah bersiap akan pergi menuju bandara. Para body guard juga tampak bersiap untuk mengawal Leon, mereka menaiki mobil khusus dengan setelan suit pada umumnya.
***
Beberapa menit yang lalu saat akan bersiap-siap untuk pergi makan siang bersama Luna, Leon mendapatkan telepon dar Anita mommy Leon.
“Leon sayang... mommy minta tolong kamu jemput Kaila di badara ya. Mommy dan daddy saatn ini masih di rumah sakit untuk check up kesehatan daddy”
“Bukankah ada body guard yang Bisa menjemput Kaila, my? Hari ini aku benar-benar tidak bisa karena ada janji bersama Adam dan Hugo”
“ ooo ayolah sayang, tolong mommy jemput adikmu. Kasihan dia sudah menunggu lama, kamu tahu bagaimana Kaila jika body guard yang menjemputnya. Pastinya dia akan pergi bermain menemui teman-temannya hingga lupa waktu” ujar Anita mengenal bagaimana tabiat Kaila, begitu juga dengan Leon.
“maaf my, tapi aku benar-benar tidak bisa....” Leon kembali berbicara tapi terhenti saat Anita mulai melancarkan jurus jitunya agar permintaannya di laksanakan.
“Halo... Halo... Leon... Haloo sayang... Halo.... Loh kenapa nggak kedengaran ya... Halo Leon... Kenapa suaranya malah kresek...kresek begini” omel Anita yang segera mematikan ponsel, Raymond yang duduk di sampingnya menatap ke arah istrinya yang menatapnya tanpa rasa bersalah. Senyuman nackal tersungging di wajah Anita yang terlihat awet muda,
Ternyata selama ini aku menikah dengan singa betina yang licik gumam Raymond dalam hati dengan sedikit menghela nafas.
Sementara itu Leon menatap layar ponselnya yang sudah menghitam, Ada perasaan sedikit kesal dalam hati Leon saat rencananya harus batal. Demi hari ini dia sengaja meliburkan diri dari kesibukan pekerjaan agar bisa bertemu Luna yang sudah hampir dua minggu tidak berjumpa.
Leon berencana mengajak Luna untuk makan siang bersama, dia juga ingin memperkenalkan Luna pada Adam dan Hugo. Lamunannya seketika buyar saat mendengar Luna berbicara,
“maaf Sayang , aku sedang berada di lampu merah mau menuju ke tempat Kia”
“kamu tidak kuliah?” tanya Leon dengan dahi sedikit berkerut.
“ udah selesai sayang, aku hanya memberikan tugas akhir saja. Sebentar Sayang aku udah harus jalan” Luna melihat lampu rambu lalu lintas yang sudah berwarna hijau.
__ADS_1
“sebentar sayang,” ujar Leon membuat Luna mengernyitkan dahi, di melihat ke kaca spion sebelah kiri dan kanan lalu mulai menepikan motornya di tepi jalan.
“Ada apa sayang?” tanya Luna sambil membuka kaca helmnya.
“maaf sayang, ada yang ingin aku sampaikan”
“Apa itu sayang?”
“sepertinya rencana makan siang hari ini harus di tunda dulu, Aku di minta mommy untuk menjemput adikku Kaila di bandara, tidak apa-apa kan sayang?” Leon menyalakan mobilnya dan hendak melajukannya.
"ooo tidak apa-apa sayang..." Ujar Luna.
Mobil Leon kembali terhenti saat dua orang pemuda menghadang tepat di depan mobilnya.
Ciiiiiiiiiit...
Luna dapat mendengar jelas suara decitan mobil Leon yang berhenti mendadak,
“Sayang kamu kenapa?” Ujar Luna sedikit cemas.
“Tidak apa – apa sayang, hanya ada dua cecurut yang mengganggu” ujar Leon berwajah datar.
Hugo dan Adam termenung saat mendengar Leon mengucapkan kata ‘sayang’ dan berbicara dengan sedikit lembut. Mereka berdua sama sekali tidak mempermasalah ucapan Leon yang memanggil mereka dengan cecurut,
Jika kami cecurut, maka lu leluhur bapaknya cecurut gumam Hugo dan Adam dalam hati membayangkan wajah Leon memakai kumis curut yang panjang dan telinga yang lebar. Wajah mereka berdua terlihat kesal saat membayangkan wajah Leon yang terlihat masih tampan walau sudah di bayangkan dengan bentuk apa pun, Hugo dan Adam menatap staring ke arah Leon.
Ketampanannya sudah sangat mencemari gumam mereka kembali. Leon hanya mengabaikan mereka kembali berbicara dengan Luna,
“cecurut? Apa mereka...” ucapan Luna langsung di potong oleh Leon.
“Belum sayang karena kamu bisa dengar sendiri jika aku berhenti di waktu yang tepat. Tapi, sepertinya para cecurut ini sudah saatnya di kirim ke tempat yang sangat jauh” ujar Leon membuat Adam dan Hugo segera mengalihkan pandangan mereka. Pria tampan itu seolah tahu jika kedua sahabatnya tengah mengutuk dan memakinya dalam hati, Hugo dan Adam sama sekali tidak habis pikir bagaimana Leon bisa menyadari apa yang ada dalam benak mereka.
Hugo meraih ponselnya yang tersimpan di saku jasnya, ibu jarinya tampak menggeser-geser di atas layar datar itu.
Hugo : sepertinya leluhur si demon king seorang cenayang, bisa banget ntu anak tahu apa yang kita pikirin.
__ADS_1
Isi pesan dari pesan Hugo yang di kirimnya ke ponsel Adam, sesekali pria berkacamata itu menatap ke arah Leon yang masih berbicara dengan Luna.
Adam : woi marpu ah lu kalo mau ngirim pesan liat tempat ngirimnya, lu mau di kirim ke kutub Antartika. Trus jadi lakinya para beruang kutub betina di sana....
Adam terkejut saat menyadari jika Hugo mengirim pesan ke kolom chattingan group bersama, begitu juga dengan Hugo yang langsung bertindak cepat sebelum Leon membaca pesan darinya.
Dengan keahlian Hugo berhasil menghapus pesan itu saat Leon masih berbicara dengan Luna,
“Baiklah sayang, kamu hati-hati ya. Telepon aku jika urusan kamu sudah selesai oke” ujar Leon.
“iya, Leon aku harus pergi sekarang” Luna kembali menutup kaca helmnya.
“ Aku mencintaimu” ujar Leon membuat Hugo dan Adam segera menatap ke arahnya.
“Haaah....” mereka berdua melongo termenung saat Leon mengucapkan kata Cinta. Luna di seberang sana juga ikut terdiam saat mendengar pengakuan cinta dari Leon,
“aku tahu...” ujar Luna lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak. Kiandra yang juga mengenakan earpiece mata-mata di telinganya termenung mendengar ucapan Luna,
“Kamu tahu? Emang kamu udah nyampe di bandara? Di mana?” ujar Kiandra membalikkan badan melihat ke arah pintu masuk.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1