
Tidak beberapa lama dokter keluarga Matthew datang dan segera mengobati luka Luna, kebencian serta kemarahan yang berkecamuk di hati membuat perempuan cantik itu sama sekali tidak merasa kesakitan saat dokter mengobatinya. Matthew menatap ke arah Luna yang memperlihatkan raut wajah penuh kebencian dan dendam,
Seiring waktu berjalan aku berharap bisa menjadi obat bagi hatimu yang telah terluka, selalu mendampingi dan menjadi sandaran untuk mu Luna. Walau pun aku tidak bisa menggantikan Leon yang sudah mengukir namanya di hatimu gumam Matthew dalam hati menatap sendu ke arah Luna, sesekali dia mengernyitkan kening saat dokter melakukan tugasnya.
Malam hari di negara IN,
Leon tengah duduk termenung di balkon kamar apartemen, pandangan kosong serta perawakannya sangat berantakan dengan tangan memegang sebotol whiskey. Bayangan wajah cantik juga senyuman manis Luna bermain – main di relung mata, akibat pengaruh minuman Leon berimajinasi melihat berdiri di hadapan dengan mengenakan kemeja putih miliknya.
Senyuman manis terukir di bibir seksi Leon yang perlahan berdiri seraya tangannya terangkat ke udara berusaha untuk berdiri dari duduknya, perlahan dia melangkah mendekati bayangan Luna.
Hugo dan Adam berdiri di depan pintu apartemen Leon, ada yang berbeda dengan penampilan mereka Hari itu. Pakaian mereka yang di kenakan kali ini terlihat bersetelan rapi dan berwarna hitam, malam itu mereka baru saja kembali dari acara pemakaman Luna.
Hugo menekan kode sandi yang ada di depan pintu apartemen Leon, terdengar bunyi dari kode pengaman kunci yang menandakan jika sandi itu benar dan pintu dapat di buka. Hugo dan Adam terlihat heran dengan kondisi apartemen yang minim penerangan,
“kok gelap gini ya, kayak kagak ada orang?! “ ujar Hugo melangkah masuk sambil tangannya meraba – raba dinding apartemen, tangannya menyentuh tombol lampu dan langsung di tekan.
Seketika ruangan itu langsung terang benderang, mereka berdua mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen mencari sosok pemiliknya.
“Mana si mon mon yak? “ tanya Hugo memperhatikan dengan teliti setiap sudut apartemen.
“hmmmm... (Melihat ke arah kamar Leon yang ada di lantai dua) Dia kagak hadir di acara pemakaman Luna, sepertinya Leon belum bisa menerima kematian Luna” ujar Adam melangkahkan kakinya menuju lantai dua, mereka menuju kamar Leon yang pintunya tertutup rapat.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan bagi Hugo yang langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuknya sama sekali, Adam mengedarkan pandangannya ke kamar yang temaram. Dia lalu mencari tombol lampu yang terpasang di dinding dengan meraba – raba, Hugo melangkah hati – hati masuk ke dalam kamar. Entah mengapa perhatian Hugo tertarik ke yarah Balkon kamar yang pintunya terbuka sedikit.
Kamar itu langsung menjadi terang saat Adam menemukan kontak lampu, mata Hugo terbuka lebar saat melihat pemandangan di luar balkon. Leon tampak berdiri di tepian pagar Balkon dalam keadaan mabuk, dia berdiri dengan tidak stabil dan tangan kanan menggapai ke udara.
“LEOOOON... “ panggil Hugo yang langsung bergegas membuka pintu balkon, Adam pun mengikuti Hugo yang berteriak keras.
Adam terkejut saat melihat Leon yang berdiri di tepian pagar balkon, hanya dengan sedikit dorongan saja pria tampan itu bisa terjatuh dari sana. Hugo dan Adam bergerak cepat, tubuh Leon di tarik kuat hingga mereka bertiga jatuh terduduk di lantai balkon.
“lu udah kagak waras apa?! “ bentak Adam kesal pada Leon yang terbaring di lantai balkon, tangan kanan Leon menutup mata membuat Hugo dan Adam sama sekali tidak dapat melihat air mata yang mengalir dari sudut mata.
Adam dapat merasakan perasaan sahabatnya yang terpuruk, tanpa sengaja dia melihat dari sudut mata air mata mengalir dan jatuh bebas ke samping kepala Leon. Perasaan kesal di hati Adam perlahan menghilang lalu berubah menjadi tatapan iba pada sahabatnya, begitu juga dengan Hugo yang berekspresi sama.
Leon langsung terbangun dari rebahannya, Hugo dan Adam semakin prihatin saat menatap Leon yang berantakan. Mata Leon yang merah mencari – cari di sekitar balkon, botol minuman tergelatak begitu saja di atas kursi dengan merangkak Leon mendekat ke arah kursi lalu meraih botol minuman yang masih tersisa. Punggungnya tersandar pada kursi dengan pandangan yang tidak fokus, tingkah laku Leon membuat Hugo kesal dan langsung merebut botol yang hendak akan kembali di teguk.
“Lu apa – apaan sih, bukan ginian yang menyelesaikan masalah ” ujar Hugo membanting kuat botol minuman itu, Leon langsung berdiri dan mencengkeram kemeja yang di kenakan Hugo. Amarah menguasai Leon yang tidak senang botol minumannya di banting ke lantai hingga pecah,
“Breng**k” tangan kanan Leon terkepal dan hendak melayangkan pukulan ke wajah Hugo.
“hajar gua sepuas lu sekarang, lebih bagus kita adu fisik dari pada lu lari ke itu” ujar Hugo tak gentar sedikit pun, mata Leon di liputi amarah seakan ingin melahap sahabatnya hidup – hidup.
Pukulan itu hendak melayang langsung di cegah oleh Adam yang memegang kuat tangan Leon, pandangan langsung teralih dengan tatapan tidak senang.
__ADS_1
“Tenang, bro” ujar Adam.
Mata tajam Leon menatap ke arah tangannya yang di tahan, dengan mengentakkan kuat lengannya membuat pegangan Adam terlepas. Leon lalu mencengkeram jas yang di kenakan Adam, dia terdiam sejenak saat melihat setelan yang di kenakan Adam lalu dia melihat ke arah Hugo yang juga mengenakan setelan sama.
“Hitam.... Kenapa... Kenapa Kalian berdua mengenakan pakaian hitam?!” tanya Leon masih menatap arah setelan ke dua sahabatnya, Adam dan Hugo saling menatap satu sama lain.
“Kami....( terlihat ragu – ragu) kami baru kembali dari menghadiri upacara di kediaman Baron sama” ujar Adam menatap ke arah Leon yang diam, terlihat jelas oleh mereka raut wajah Leon menyiratkan rasa penyesalan mendalam.
“tidak.... Tidak... Luna tidak mati, dia masih hidup dan pasti akan kembali” ujar Leon menolak percaya, Hugo dan Adam terlihat sangat prihatin dengan kondisi Leon.
“sampai kapan lu mau menyangkalnya Leon, lu harus bisa terima jika Luna udah... “ ucapan Hugo terhenti saat ke dua tangan Leon mencengkeram kuat leher kemejanya, pegangan kuat Leon membuat Hugo tercekik.
“Luna masih hidup dan dia pasti akan kembali padaku” ujar Leon marah, ke dua matanya terlihat merah.
PLAAAAK.....
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Leon, tamparan itu membuat pegangannya terlepas dan membebaskan Hugo dari rasa tercekik.
“Huk.... Huk.... Huk... “ Hugo terbatuk – batuk di pegangi oleh Adam, mata Leon beralih ke arah seseorang yang berdiri di samping mereka bertiga.
Seseorang itu adalah Kaila yang baru saja datang, dia di minta oleh Anita untuk menjenguk Leon. Perasaan khawatir selalu meliputi hati Anita pada putra sulungnya, dia ingin melihat putranya tapi mengingat Raymond yang dalam masa pemulihan mengurungkan niatnya.
__ADS_1