Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 104


__ADS_3

“aku nggak apa-apa, pi. Mungkin karena beberapa hari ini aku kecapekan dan juga kurang enak badan” kilah Cintia yang berusaha menutupi sesuatu.


“sebaiknya kamu istirahat saja, biar Aku dan Hana yang pergi makan malam dengan klien itu” ujar Simon melangkah menuju pintu kamar, Cintia mengikuti Simon mengantar sampai pintu depan.


Simon keluar dari kamar berbarengan dengan Hana yang sudah tampil dengan sangat perfect, wajahnya terlihat cemberut dan tidak senang. Hana menatap heran Cintia yang belum berpakaian rapi,


“mi... mami nggak ikut?” tanya Hana berdiri di samping Simon.


“nggak sayang, mami nggak enak badan. Kamu dan papi saja yang pergi, ya” ujar Cintia dengan kedua tangan terlipat di depan perutnya.


“yaaa mami... bakalan bosan dong Hana di sana, mami ikut saja ya...” pinta Hana dengan manja.


“ Hana, mami kamu kurang enak badan jangan di paksa ikut, biarkan mami kamu beristirahat di rumah. Dan lagi kamu bakalan tidak akan kebosanan, karena klien papi ini datang bersama putranya. Kalau tidak sala putranya ini seumuran dengan kamu ” Ujar Simon sambi melangkah menuju pintu.


“tapi pi, aku...” Ucapan Hana terhenti saat Simon menatap ke arahnya.


“Hana, kali ini jangan mengecewakan papi” ujar Simon menekan Hana yang mau tidak mau mengikuti keinginan Simon. Setelah berpamitan dengan Cintia, Hana dan Simon lalu duduk di kursi penumpang. Supir menyalakan mesin mobil mahal milik Simon, lalu melajukan mobil itu menuju restoran mahal, terkenal dan berkelas di kota JK.


****


Luna tampil begitu menawan dengan gaun brokat berwarna biru tua di hiasi bunga-bunga kecil berwarna perak, rok bagian belakang menjuntai dan di bagian depan sebatas lutut. Bagian atas gaun itu terbuka memperlihatkan bahu Luna yang putih mulus, tidak lupa persiapan senjata rahasia yang dia selipkan di paha putih mulus.


Di jarinya terpasang cincin berlian yang indah berwarna senada dengan gaun, pergelangan tangan Luna di hiasi dengan gelang yang merupakan modifikasi dari senjata mematikan. Tidak lupa Luna mengenakan alat wajib telekomunikasi di telinganya yang langsung terhubung dengan Kiandra, sebuah tas kecil di pegang di tangan Luna. Rambut panjang bergelombang di tata cantik oleh Luna dengan style half updo, wajah Luna sudah terlihat cantik alami hanya di poles dengan make over yang natural.


Persiapan sudah begitu sempurna, tidak lupa Luna menggunakan sentuhan terakhir menyemprotkan parfum di belakang telinga juga pergelangan tangan. Sebuah kalung berlian berwarna merah hati melingkar di leher jenjang Luna, menambah sempurna penampilannya malam ini.


Beberapa mobil memasuki halaman rumah Luna, Kiandra mengintip dari jendela kamarnya. Senyuman bahagia terlihat jelas di wajah Kiandra yang langsung bergegas menghampiri Luna yang berada di kamarnya. Jason mendengar suara bel pintu berjalan ke pintu dan membukanya,


“selamat malam, Tuan muda” Sapa Jason dengan Ramah mempersilahkan Leon masuk. Tampilan Leon malam itu terlihat gagah dengan celana dasar dan jas yang berwarna biru tua senada, kemeja putih yang membungkus dada bidang terlihat sempurna dengan beberapa kancing yang di biarkan terbuka begitu saja.


Jason tersenyum ramah mempersilahkan Leon untuk duduk di ruang tamu,


“di mana Luna? apa dia sudah siap?” tanya Leon duduk di salah satu sofa single.


“nona muda masih berada di kamarnya tuan muda, mungkin sebentar lagi beliau akan turun. Anda ingin minum apa tuan muda?” tanya Jason lagi.

__ADS_1


“air putih saja, terima kasih” ujar Leon sambil menganggukkan kepala pada Jason yang melangkah meninggalkan ruang tamu menuju dapur.


Kiandra berada tepat di depan pintu kamar Luna, dia lalu mengetuk sambil membuka pintu kamar itu.


“Luuun... ” panggil Kiandra membuka pintu, dia langsung termangu saat melihat tampilan sempurna Luna. Dia menatap dari atas kepala hingga kaki, sahabatnya kini terlihat seperti bidadari yang turun dari surga.


“oooo kesayangan aku... kamu cantik banget...” ujar Kiandra menghampiri Luna yang sudah selesai berhias diri.


“sorry Kia, aku lagi nggak pegang uang receh. Kamu pake ini buat jajan ya?!” ujar Luna memberikan black card pada Kiandra. Dengan senang hati Kiandra menerima black card itu,


“yeee.. thanksss yaaa....” Kiandra terlihat kecewa saat melihat black card pemberian Luna yang ternyata black card miliknya sendiri. Luna tersenyum jahil pada Kiandra,


“makanya lihat dengan teliti dulu sebelum merasa senang” ujar Luna melangkah keluar kamar, Kiandra mengikuti dengan wajah manyunnya.


“Seneng banget sih jahilan aku,” gerutu Kiandra cemberut, Luna tersenyum nakal. Sebelah tangannya memegangi telinga yang terpasang alat komunikasi,


“jangan lupa untuk terus memantau lokasi target dan pergerakannya” Luna menuruni anak tangga bersamaan dengan Kiandra.


“iya, tenang aja” Kiandra menggandeng tangan Luna menuju ruang tamu. Mereka bertemu dengan Jason yang baru saja mengantarkan minuman untuk Leon,


Jika tuan dan nyonya masih hidup, mereka pasti akan sangat senang dan bangga pada nona muda. Semoga tuan dan Nyonya selalu tenang di sana gumam Jason dalam hati teringat dengan kedua orang tua Luna.


“Jason... Jason... kamu kenapa?” panggil Luna sambil melambaikan tangannya di depan wajah Jason. Dia langsung tersadar lalu tersenyum hangat pada Luna,


"maaf nona... saya begitu terpesona dengan penampilan nona muda, Anda terlihat sangat cantik mirip dengan nyonya” ujar Jason sejenak menundukkan pandangannya. Mata Luna menunduk sedih mengingat kedua orang tuanya yang sudah wafat, Kiandra merangkul pundak sahabatnya dan menyemangatinya.


“honey bunny ku, jangan sedih dong. Aku yakin saat ini bokap dan nyokap kamu tersenyum bahagia di atas sana... jangan sedih.... oke... ” hibur Kiandra sambil mengusap lembut lengan Luna yang terekspos. Jason tersenyum hangat ikut menyemangati Luna yang menganggukkan kepalanya, mereka bertiga melangkah bersamaan menuju ruang tamu.


Leon duduk di sofa sambil menikmati minuman air putih yang di hidangkan Jason, matanya berkeliling melihat ke arah sekitar ruang tamu yang di desain dengan sangat nyaman. Telinganya mendengar derap langkah mendekati ruang tamu, mata elangnya menatap ke arah suara langkah itu dan mendapati Luna, Kiandra juga Jason yang berdiri di hadapannya.


Leon termenung menatap Luna yang tampil sangat cantik, begitu juga Luna yang terpesona dengan tampilan Leon. Luna menatap pakaian yang di kenakan Leon berwarna mirip dengan gaun yang di pakainya saat ini, tapi dia memilih tidak mempermasalahkan dan menganggap ini hanya sebuah kebetulan saja.


Leon berdiri dari tempat duduknya melangkahkan kaki menghampiri Luna, matanya hanya terfokus ke arah perempuan yang sudah menjadi pemilik resmi hati dan cintanya.


“Kamu terlihat sangat cantik” puji Leon tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


“eheem... udahan dulu mengaguminya. Ingat di sini ada yang masih jomblo” sindir Kiandra sambil berdehem menyadarkan Leon dan Luna yang masih saling bertatapan. Senyuman Luna tersungging di bibirnya yang di poles dengan lipstik berwarna sama dengan bibir.


“hemmm ... kita berangkat?” Leon berdehem membersihkan kerongkongannya, lalu mengajak Luna dengan mengulurkan tangan agar di gandeng oleh perempuan cantik itu.


“baiklah, aku berangkat dulu ya (memeluk Kiandra lalu berbisik di telinganya) jangan lupa, untuk memberi laporan” ujar Luna menatap Kiandra yang langsung menjawab dengan menganggukkan kepalanya, kemudian setelah itu Luna memegang tangan Leon.


“Tuan muda, jagain Luna baik-baik ya” ujar Kiandra sambil tersenyum manis pada Leon.


"Selalu” ujar Leon menatap ke arah Luna, lalu di menganggukkan kepala ke arah Jason yang tanpa berkata apa pun.


Seolah Leon mengerti dengan arti tatapan dari Jason yang memberi tahu untuk selalu menjaga nonanya. Luna sejenak menganggukkan kepalanya pada Jason yang tersenyum ramah dan sedikit membungkukkan tubuh memberi hormat pada mereka, setelahnya Luna dan Leon melangkah pergi keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir di perkarangan.


Para body guard yang menunggu dalam mobil khusus juga supir mobil Leon yang duduk di belakang kemudi tidak sengaja melihat ke arah tuan muda mereka, sejenak mereka terpesona dengan penampilan Luna.


“cantiknya” komentar mereka serempak dalam hati. Mereka segera menggelengkan kepala dan berusaha untuk tidak menatap Luna, mereka lebih memilih mencari selamat dari pada menghadapi Leon yang seperti Iblis. Supir mobil turun dari mobil bermaksud untuk membukakan pintu untuk Luna, tapi Leon lebih dahulu meraih pegangan pintu mobil.


Leon membukakan pintu dan mempersilahkan Luna untuk duduk di kursi belakang penumpang, setelah memastikan Luna duduk dengan baik dia menutup pintu lalu melangkah memutari mobil untuk naik dari pintu lainnya. Supir sudah membuka pintu mobil di sisi lainnya untuk Leon, memastikan tuan mudanya duduk dengan nyaman lalu menutup pintu itu.


Supir kembali duduk di belakang kemudi setelah menutup pintu mobil yang berada di sisi sampingnya, dia lalu mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju restoran berkelas yang sudah di pesan oleh keluarga Willson.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2