
Ke dua tangan Raymond memegang dadanya yang mulai terasa sakit, nafasnya mulai tidak beraturan. Rasa sakit yang bukan di picu lantaran terkejut dengan aksi Luna, melainkan dia terkejut saat perempuan cantik itu sudah mengetahui rahasia yang selama ini di tutupinya. Raymond jatuh terduduk di lantai dengan nafas terengah – engah,
“ba... ba... bagaima...na... ka... kam... “ ujar Raymond terbata – bata berusaha menahan rasa sakit yang di rasakan, mata Luna membesar saat mendengar ucapan Raymond. Dia terlihat sangat Shock terpukul dengan ucapan Raymond seakan membenarkan kebenaran yang di beri tahu Hana, Luna melangkah mundur ke arah balkon kamar yang kebetulan terbuka saat itu.
Jantung Luna berdetak dengan cepat seiring emosi yang berkecamuk di dalam jiwa,
“ kenapa?! Kenapa Kau membunuh mereka?! Apa kesalahan mereka hingga kau dengan tega mencabut nyawa mereka?“ tanya Luna berusaha menenangkan dirinya, senjata yang di pegang di tangan kanan terus mengarah ke arah Raymond.
“dad... Daddy.... Daddy... minta maaf.... Luna.... Sungguh.... Ap... Apa ya.... Ng... Sebenarnya.... Hah.... Hah ...Ter.... Jadi.... itu.... se.... buah kecelakaan hah.... Hah....se... mua... terjadi... begitu cepat... ter.... lebih... Kon....disi.... Le....on sang....at...kri....tis.... Dan....” nafas Raymond mulai tidak beraturan, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Kecelakaan?! Menurut mu itu sebuah kecelakaan.... Tidak.... Itu bukanlah kecelakaan tapi pembunuhan. Kau telah merampas kedua orang tua ku dan mengambil jantung Appa, bahkan kau di hari itu.... ” Luna sejenak terdiam menatap dirinya yang mengenakan gaun pengantin di cermin, dia teringat saat hari upacara kematian orang tuanya. Mata biru itu kembali menatap nanar ke arah Raymond,
“ di hari upacara kematian orang tua ku... Kau sudah mengetahuinya dan...“
“tidak... Hah.... Tidak.... Saat... Itu... Hah... Daddy benar.... Benar.... Tidak... Tahu... Sam.. Pai.... Pa... Da... Saat... Daddy melihat.... Foto.... Mereka... Hah... Hah.... Rasa... bersalah... membayangi... Dad... Daddy ber.. pikir... ini... ini... jalan... dad.... daddy menebus.... do...sa.... de...ngan ... Setu... Ju Leon... Menikah....” Raymond sudah hampir mencapai batasnya, pandangannya mulai mengabur dengan nafas yang tersengal – sengal.
Anita masih berdiri di depan pintu berusaha mencuri dengar gerangan apa yang di bicarakan Luna dan Raymond, hingga dia di kejutkan saat sebuah tepukan lembut menepuk pundaknya.
“Mommy... Ngapain?!” Tanya Kaila menatap heran Anita, Leon yang berdiri di samping Kaila menatap dengan tatapan yang sama.
Kening pria tampan itu tampak berkerut memperhatikan sikap ibu yang melahirkannya menguping di depan pintu kamar,
“ Kaila ... Leon... bikin kaget aja, ” ujar Anita terkejut.
“mommy ngapain nguping di depan pintu?!” tanya Kaila.
__ADS_1
“ siapa yang nguping? Mommy nggak nguping, sewaktu mommy dan daddy bersiap – siap Luna datang. Dia bilang ingin bicara penting dengan daddy... “ ucapan Anita langsung di potong oleh Leon saat mendengar nama belahan jiwanya.
“Luna?!! Apa dia di dalam?” tanya Leon dengan tangan terulur memegang handle pintu kamar.
“ Luna di dalam bersama daddy, tapi... ada yang aneh dengannya” ujar Anita membuat Leon menatap ke arahnya lagi.
“aneh?! Aneh gi mana My?” tanya Kaila penasaran.
“sikapnya terkesan dingin dan...”
Dor....
Ucapan Anita kembali terpotong saat mendengar suara tembakan dari dalam kamar di depan mereka, mereka bertiga serentak menatap ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Beberapa menit sebelum terdengar Suara tembakan.....
“Lu... Lu...na... ja... ngan.... jangan... kata.... kan.... kebe... naran... ini... pada Le... on.... dia... tidak... akan... sang... gup...” Ujar Raymond terbata - bata membuat Luna emosi.
“ha...hahaha kau meminta ku merahasiakan kebenaran ini dari putramu, karena kau takut dia tidak akan sanggup menerima kenyataan jika daddynya telah membunuh orang tua ku “ kesabaran Luna sudah mencapai batas, jarinya dengan kuat menekan pelatuk senjata yang ada di tangan.
Dor....
Segera saja senjata itu memuntahkan timah panas yang melaju pesat ke arah bahu kiri Raymond, seketika dia terjatuh ke arah belakang dengan tangan masih memegangi dadanya yang sakit. Darah segar segera mengalir keluar dari bahu yang di tembus oleh peluru tajam itu, mata Luna terlihat berkaca – kaca saat teringat ke dua orang tuanya.
Buliran air mata menetes ke pipi Luna saat teringat masa kecilnya bersama dengan ke dua orang tua, kasih sayang yang tidak akan bisa lagi dia rasakan.
__ADS_1
Braaak....
Pintu kamar itu di dobrak paksa oleh Body guard bersamaan dengan Leon, semua orang yang berada di depan kamar itu terkejut saat melihat kondisi Raymond yang bersimbah darah.
“Daddy...” ujar Anita dan Kaila bersamaan, mereka segera menghampiri Raymond yang sudah terlihat kepayahan.
Leon sangat terkejut saat melihat Luna yang masih mengarahkan Senjata miliknya ke arah Raymond, body guard keluarga Willson dengan cepat bertindak mengeluarkan senjata dan menodongkan ke arah Luna yang masih menatap ke arah Raymond. Mereka semua segera melindungi keluarga Willson dengan mata yang terus tertuju pada Luna,
“Luna... “ Panggil Leon yang langsung di tatap tajam oleh Luna, tatapan yang membuat siapa saja akan bergidik ketakutan. Anita dan Kaila menatap ke arah Luna dengan tatapan tidak percaya,
“Kak Luna... kenapa... kenapa?” tanya Kaila tidak percaya, begitu juga dengan Anita yang masih memegangi Raymond.
Leon hendak mendekat ke arah Luna yang masih diam membisu sambil menatap tajam ke arah Raymond,
“ JANGAN MENDEKAT” ujar Luna penuh amarah dengan senjata yang mengarah pada Leon, pria tampan itu menghentikan langkahnya. Salah seorang Body guard dengan sigap berdiri di samping Leon bersikap sangat waspada,
“ Luna... apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menembak daddy?" tanya Leon, namun pertanyaan itu sama sekali tidak di jawab oleh Luna. Senjata yang di pegangnya kembali mengarah ke arah Raymond dengan jari yang siap untuk menekan pelatuk itu, reflek Leon segera merebut senjata di tangan Body guard yang berdiri di sampingnya.
Senjata itu lalu di arahkan Leon ke arah Luna yang masih mengarahkan senjatanya pada Raymond, Anita dan Kaila beserta para body guard segera memasang badan menjadi tameng untuk melindungi Raymond yang setengah sadar.
“Luna... apa yang akan kamu lakukan? buang senjatamu ” tanya Leon menatap tajam pada Luna yang balas menatap tajam ke arahnya.
“DIA PANTAS UNTUK MAT*” ujar Luna penuh amarah.
“LUNA” Leon merasa sangat marah saat mendengar ucapan Luna, senjata yang di pegang oleh mereka saling mengarah satu sama lain dan siap untuk menembak. Raymond dengan sisa kekuatannya menatap ke arah Leon dan Luna,
__ADS_1
“Lu... Lun.... Luna... jan...jang...an... Jan... tung.... a....yah....” ujar Raymond terbata – bata nyaris kehilangan kesadaran, mata Luna membulat sempurna saat mendengar ucapan Raymond yang mengingatkannya pada rekaman bukti itu. Matanya menatap ke arah dada bidang Leon dengan air mata kembali jatuh menetes di pipinya yang putih, tergambar jelas kesedihan mendalam di mata yang di tatap intens oleh Leon.