Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 49


__ADS_3

“Mommy dan Daddy mendukung apa pun keputusan mu, secepatnya kamu ajak gadis itu untuk bertemu dengan kami” ujar Anita yang memberi lampu hijau pada Leon.


“Thanks Dad, mom. Secepatnya Leon akan mengajak gadis itu menemui mommy dan daddy” ujar Leon, di saat bersamaan maid datang memberi tahu jika makan siang sudah terhidang Mereka semua lalu makan siang bersama.


Sementara itu Iringan mobil Simon melaju di jalanan raya dengan kecepatan sedang, Raut wajah Simon tampak sangat kesal.


“breng**k... Breng**k... Semuanya menjadi kacau, jika saja mulut putrimu itu tidak gegabah kita tidak akan kehilangan kesempatan emas ini” Simon benar-benar kesal.


“pi, ini semua bukan kesalahan Hana... semua ini di rencanakan oleh Silvi dan Abby” ujar Hana mencoba membela diri dengan menyalahkan kedua sahabatnya.


“jangan pernah kamu menyalahkan orang lain jika kesalahan itu berasal dari kamu sendiri,” Simon menatap tajam ke arah Hana yang duduk di samping Cintia.


“Sudahlah pi, tenangkan diri papi. Sekarang sebaiknya kita pikirkan jalan lain untuk membuat keluarga Willson tidak marah dan mau kembali melanjutkan rencana pernikahan Hana dan Leon” Cintia berusaha menengahi Simon dan Hana.


“apa menurut kamu mereka masih mau melanjutkan setelah putri bod*hmu ini membeberkan kesalahannya? Lupakan keinginan putri bod*hmu untuk menjadi bagian keluarga Willson, ada hal yang lebih penting dari hal itu. Aku akan ke perusahaan sekarang, kalian lebih baik diantar oleh mobil bodyguard” ujar Simon segera menghubungi mobil body guard yang melaju di depan mobilnya.


“Tap....” Hana akan berbicara kembali langsung di tahan Cintia yang memegang tangannya, dia segera menggelengkan kepalanya.


Hana tampak sangat dongkol, mobil pun berhenti di pinggir jalan, begitu juga mobil body guard di depannya. Hana dan Cintia langsung turun, dua body guard juga turun dari mobil memberi hormat pada Hana juga Cintia lalu masuk ke dalam mobil Simon.


Mobil milik Simon sudah melaju lebih dulu menuju perusahaan, ponsel miliknya sedari tadi tidak berhenti berdering membuat darah Simon mendidih seperti lava panas.


Hana sangat tidak senang menaiki dan semobil dengan body guardnya, tapi mau tidak mau dia naik ke dalam mobil itu. Mata Cintia terbuka lebar saat melihat body guard yang duduk di dalam mobil itu, senyuman smirk tersungging di bibir pemuda itu saat pandangan mereka bertemu. Cintia belum juga naik ke dalam mobil, Hana heran melihat tingkah aneh ibunya.


“mami mau naik apa nggak sih? Gerah banget nih mi, bisa-bisa kulit aku rusak terus berjemur di sini” ujar Hana kesal sambil memperhatikan kulit di lengannya.


"i... iya, ini mami juga mau naik kok" ujar Cintia yang kemudian naik ke dalam mobil itu.

__ADS_1


Para body guard hanya menghela nafas mendengar ucapan sombong dari Hana, Cintia pun mau tidak mau naik dan duduk di samping body guard yang masih muda itu. Hana duduk di bangku tengah di samping body guard lainnya, dia duduk dengan perasaan dongkol dan marah. Untuk mengurangi rasa marahnya, Hana mengambil ponsel lalu menggunakan earphonenya untuk menonton drakor kesukaannya. Setelahnya supir lalu melajukan mobil menuju kediaman Miller dengan kecepatan sedang.


Suasana di mobil itu sangat tenang, body guard di samping Hana juga mengenakan earphone tengah menonton pertandingan pertarungan UvC. Supir dan body guard yang duduk di samping kemudi tengah asyik dengan obrolan.


Cintia mengalihkan pandangannya ke jendela mobil menatapi pemandangan di luar sana, Matanya terbuka lebar saat tangan kanan pemuda body guard itu singgah di kaki mulus yang terekspos. Cintia melihat ke arah body guard yang tersenyum ke arahnya, pergerakan tangan itu sangat lancang menuju.


Cintia ingin menepis tangan itu, namun belaian lembut dari tangan pemuda itu membuatnya terlena. Pemuda itu semakin berani, tangan itu mulai memasuki lembah yang di tutupi dengan pengaman.


Pemuda itu menatap Cintia, tatapan itu penuh dengan gai**h dan sangat panas, tangan kiri pemuda itu meraih tangan kiri Cintia yang di arahkannya pada banana yang sudah terbuka. Tanpa menunggu persetujuan, pemuda itu menggerakkan tangan kiri Cintia mengikuti kemauannya. Begitu juga tangan kanan pria itu yang beraksi dengan sangat liar, mereka berdua melakukan aktivitas itu tanpa siapa pun menyadari. Mereka berdua pun tampak berusaha menahan suara agar tidak mearik perhatian siap pun di mobil itu.


***


Perlahan sinar mentari pagi memasuki celah horden di jendela kamar Luna, sinarannya mengenai wajah cantik Luna yang kemudian terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Luna bangun dari tidurnya dan duduk sebentar sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, dia melakukan peregangan dengan mengangkat tangan ke atas kepalanya dan melakukan peregangan.


Di sebuah apartemen mewah di pusat kota JK, Leon baru saja menyelesaikan olah raga paginya. Sebelum melaksanakan ritual paginya Leon melangkah menuju dapur mengambil botol air mineral, dia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Beberapa dokumen terbuka di atas meja, di antara dokumen itu ada data informasi tentang Luna yang di dapat Hugo.


“selamat pagi nona muda” sapa Jason sambil menyerahkan handuk kecil pada Luna yang mulai memperlambat laju treadmill. Rambut panjang Luna terkepang rapi, dahinya di banjiri keringat. Leher jenjangnya tampak mengkilat dengan beberapa kiss mark yang masih terlihat jelas.


“persiapkan kesayanganku” ujar Luna meletakkan handuk kecil di pegangan tread mill, tangannya lalu meraih botol mineral yang di bawa Jason di atas baki.


“baik nona” Jason undur diri kembali ke dapur untuk meletakkan baki di sana. Setelah itu dia kembali melangkah menuju uang senjata sniper milik Luna, mempersiapkan beberapa senjata lalu meletakkannya di ruang latihan.


Leon tengah membaca dokumen yang tergeletak di atas meja, matanya menatap dengan teliti dan membaca dengan sangat serius data informasi tentang Luna. Konsentrasinya terpecah saat mendengar bunyi nada kode pintu yang di tekan, Leon memalingkan wajahnya ke arah pintu yang di buka oleh Alex.


“selamat pagi tuan muda” sapa Alex, sebelah tangannya memegang tablet yang berisi jadwal Leon hari itu dan sebelah tangannya yang lain memegang tas berisi laptopnya. Alex segera masuk ke dalam apartemen menghampiri Leon yang duduk di ruang tengah.


"apa jadwal ku hari ini?" tanya Leon, matanya masih menatap dokumen yang di pegangnya.

__ADS_1


“pagi ini ada beberapa rapat yang harus anda hadiri" ujar Alex sambil memperlihatkan tablet miliknya pada Leon.


"bukankah kampus UIN mengundangku untuk acara seminar di sana?" tanya Leon masih menatapi jadwal miliknya.


"benar tuan Muda, tapi sudah anda tolak karena menurut anda itu tidak penting" ujar Alex mengingat jelas apa yang di ucapkan Leon. tatapan tajam pun melayang tegas ke arah Alex yang langsung mengalihkan pandangannya.


"segera kabari pihak kampus jika hari ini aku akan datang untuk acara seminar di sana" ujar Leon membuat Alex termenung.


"tapi.... tuan muda, Rapat dengan perusahaan dari ** bagaimana? mereka sudah meminta dari jauh-jauh hari" ujar Alex melihat jadwal Leon kembali.


"kamu atur saja" ujar Leon berdiri dari tempat duduknya melangkah masuk ke kamar untuk melaksanakan ritual mandi di pagi hari.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2