Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 126


__ADS_3

“ampun dah ni cewek, aku beneran nggak kenal nih nomor. Lagian kalo kamu nungguin aku di sini, ntar tu tamu bakalan komplain ke ojisan karena di anggurin gitu” ujar Kiandra.


“iye iye buk... santuy napa... kamu udah kayak emak-emak lagi ngomelin anak gadisnya. Aku ke bawah duluan, Setelah selesai langsung ke bawah” Luna berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju pintu kamarnya. Kiandra menganggukkan kepala dengan ibu jari tangan kanan terancung, dia lalu berbicara dengan seseorang yang menghubunginya.


“halo, siapa ini?” tanya Kiandra langsung to he point.


“halo, nona Kiandra. Aku Hugo sahabat Leon” ujar Hugo, kening Kiandra berkerut berusaha mengingat.


“Hugo sahabat Leon hmmm...”


“kita pernah bertemu saat penculikan Kaila adik Leon”


“aaaa... aku ingat, tapi Luna pernah bilang kalo dia memberi nomorku pada Leon bukan pada anda”


“ya.... aku memintanya pada Leon. Aku langsung pada intinya saja nona Kiandra, sebenarnya aku ingin meminta bantuan anda...” Hugo lalu menceritakan maksud dan tujuannya menghubungi Kiandra.


Gadis berkaca mata itu tampak senang dan merasa tertantang dengan apa yang di ceritakan Hugo, setelah mengetahui duduk permasalahannya Kiandra meminta Hugo untuk mengirimkan bukti yang di dapatkan Leon ke kediaman Luna.


***


Ruang tamu kediaman utama


Maid menghidangkan minuman juga makanan kecil untuk tamu yang di persilahkan duduk di ruangan itu, mata pria itu menatap ruang tamu yang pada dindingnya tergantung beberapa pigura foto dan piagam penghargaan. Mata pria itu menatap lama pada sebuah piagam yang bertuliskan nama Luna Freya Young Sun.


“Luna” Pria itu membaca setiap baris yang tertera pada piagam penghargaan itu, dia merasa pernah mendengar dan mengenal nama itu.


Tak...tak... tak...


Terdengar suara langkah kaki yang mendekati ruangan itu,


“maaf, anda harus menung...gu....” mata Luna tercenung pada pria yang langsung membalikkan tubuh dan menatap ke arahnya. Mereka berdua sama-sama terkejut dengan pertemuan yang tidak terduga itu,


“Kamu?!”

__ADS_1


“Anda?!”


Luna tercenung dengan kehadiran pria itu yang tidak lain adalah Matthew, sekilas dia teringat dengan informasi dari Kiandra tentang kerja sama Baron dengan pria tampan di hadapannya. Asisten pribadi pria itu juga menatap heran ke arah mereka berdua,


Sepertinya tuan muda mengenal perempuan ini, apa mungkin cewek ini yang di temuinya saat di toko bunga itu? Gumam asisten pribadi itu dalam hati.


“kita bertemu lagi. Aku sangat senang bisa bertemu dengan anda, apa mungkin ini yang di namakan dengan jodoh?” ujar Matthew mengulurkan tangannya ke arah Luna. Gadis cantik itu menatap penuh selidik pada Matthew, pandangan Luna mengarah pada tangan Matthew yang menunggu uluran tangannya di jabat oleh Luna.


“menurutku ini hanya sebuah kebetulan saja, tuan Matthew” ujar Luna menyambut uluran tangan Matthew dengan tersenyum profesional. Di luar dugaan Matthew memegang tangan Luna lalu mengecup punggung tangannya,


“kebetulan?! (tersenyum sehangat mentari) anda salah nona Luna, bukan sebuah kebetulan tapi sebuah keberuntungan” ujar Matthew percaya diri, Luna hanya menanggapi diam dengan apa yang di lakukan Matthew. Matanya menatap lama ke arah Matthew sambil berusaha mengingat,


Hmmm... dari mana ni cowok tahu nama ku? perasaan Sewaktu di toko bunga Leon sama sekali tidak memanggil nama dan bahkan pria pencemburu itu tidak membiarkan ku sendirian gumam Luna dalam hati dengan tatapan penuh curiga. Matthew tersenyum manis seakan bisa membaca apa yang ada di benak Luna.


“sebelum ke sini, Baron sama memberi tahu jika cucunya yang akan menghandle pertemuan ini. Beliau juga mengatakan nama anda,” ujar Matthew, mata biru Luna menatap pria tampan itu dari atas kepala hingga kaki.


Mata Luna berhenti pada tangannya yang masih berjabat tangan dengan pria tampan itu. Luna segera menarik tangan dan mengalihkan tatapannya ke pria di samping Matthew, asisten pribadi Matthew bernama Ian segera mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


Terbesit rasa kagum di hati Matthew dengan kehebatan Luna dalam menghandle pekerjaan kakeknya,


Luna, gadis yang unik. Tidak hanya cantik dia juga pintar, dia bisa menghandle pertemuan ini tanpa ada kendala yang berarti. memang pantas dia menjadi cucunya Baron sama, gumam Matthew dalam hati yang terus memperhatikan Luna.


Perusahaan Alden W,


Leon duduk di kursi kebesarannya tengah memimpin rapat, dia dengan tenang mendengar penjelasan dari Alex yang berdiri di samping layar besar berwarna putih. Pada layar itu terproyeksi gambar grafik dan tulisan-tulisan.


Ponsel Leon dalam mode senyap bergetar di atas meja rapat, getaran itu terdengar cukup keras membuat yang hadir pada rapat itu serentak menatap ke arahnya.


“teruskan saja” ujar Leon mengabaikan panggilan itu dan terus memperhatikan penjelasan dari asistennya. Lagi-lagi ponsel canggih yang di abaikan Leon bergetar memberi tahu jika ada telepon yang masuk. Mata tajam itu menatap ke arah layar ponsel yang tertulis nama Kaila di sana.


Leon gusar segera meraih ponsel itu, ibu jarinya menggeser tombol yang ada pada layar untuk mengangkat telepon itu.


“halo”

__ADS_1


“halo Leon” terdengar suara pria yang asing yang di rasa kenal oleh Leon. Suara yang begitu familiar dan sangat mirip dengan suara milik Baron, Leon memastikan jika dirinya tidak salah dengar dengan menatap layar ponsel itu kembali.


Pada layar itu tertulis jelas nama Kaila di sana, semua yang hadir pada rapat menatap heran pada Leon. Merasa ada yang menatapnya, pria tampan itu menatap ke arah peserta rapat.


“rapat kita akhiri, bubar...” ujar Leon membubarkan peserta rapat. Para peserta bergegas membubarkan diri meninggalkan Leon dan Alex di ruang rapat itu,


“Kaila?” ujar Leon memastikan.


“bukan Leon, ini ojisan” ujar Baron yang tengah duduk bersama keluarga Willson di ruang VVIP pada salah satu restoran milik keluarga Willson.


Beberapa saat sebelumnya


Baron dan Soo He mengunjungi toko furniture ternama di kota JRK, Saat itu Baron menemani Soo He memilih beberapa barang dan perlengkapan yang di butuhkan.


Sebelumnya Mereka ke toko lain untuk membeli beberapa barang dan keperluan untuk upacara esok, tidak lupa Soo He meminta Alberto yang ikut bersama mereka untuk memesan beberapa bahan makanan yang segar dan terbaik.


Di saat Tengah memilih-milih barang di toko furniture itu perhatian Soo He tertuju pada sebuah hiasan kristal yang terlihat indah, matanya terlihat berbinar-binar senang menatap kilauan yang terpantul oleh hiasan kristal itu. Soo He segera memanggil salah seorang karyawan untuk mengurusi dan membungkus dengan baik hiasan kristal yang di sukainya tu.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2