
“gu gu gu gue nggak bohong, emang Simon pernah bilang kalo gue istrinya tapi itu hanya spontan aja. Gue benar – benar kagak punya hubungan apa pun” Silvia berusaha melepaskan diri.
“Jangan mau di bohongi ama tu cewek, dia emang...” Ucapan Hana terpotong saat rentenir itu sudah gerah mendengar alasan mereka.
“DIAM KALIAN...” Bentak keras rentenir itu seketika membuat Hana dan Silvia terdiam, Cintia sudah terlihat sangat kesakitan dan nyaris tidak sadarkan diri.
“Aaarkkkhh... Saaakiiit....” Ujar Cintia memegang erat perutnya.
“Hei hei hei, ntu perempuan tua kenapa bisa berdarah banyak begitu?” tanya rentenir melihat darah segar yang sudah merembes dan menggenang di sekitar Cintia, sontak Hana menghampiri maminya yang sudah terlihat pucat.
“Miii... Mami kenapa?!” tanya Hana cemas, Cintia tidak mampu menjawab akibat rasa sakit yang di rasakannya. Dia dapat merasakan sesuatu yang keluar dari dalam perutnya,
“Ha... Naa.... Pe Pe Pe... Rut... MaMi... Sakiiit... Banget...” Ujar Cintia terbata -bata, darah segar semakin banyak keluar bersamaan dengan janin yang di kandung Cintia. Hana terlihat ketakutan segera meminta tolong pada orang – orang yang ada di sana,
“To to to tolong... Tolongin mami gue, tolong please gue mohon tolongin mami gue” ujar Hana dengan mengatup kedua tangannya memohon pada rentenir itu.
Tangannya berlumuran darah karena sempat memegangi tangan Cintia, dia menatap dengan mengiba pada rentenir yang memandangnya dengan dingin.
“gua bukan badan amal yang ngasih pertolongan dengan percuma, hutang lu aja belum lunas udah mau nambah lagi” ujar Rentenir, Hana kembali menatap Cintia yang sudah sangat melemah.
“gue.... Gu gu gue akan melakukan apa pun untuk bayar semua hutang itu” Hana sudah terdesak dengan keadaan, kini keluarga yang tersisa hanya maminya dan dia tidak ingin kehilangan lagi.
“dengan cara apa lu bayar hutang itu? Lu jual organ tubuh lu aja belum tentu bisa melunasi semuanya” rentenir memandang remeh ke arah Hana.
“Gue... Gue.... “ Hana tidak bisa berpikir sama sekali dan terlihat kebingungan. Sedari kecil dia sama sekali tidak pernah bekerja dan lebih banyak di layani oleh maid, Hana juga tidak pernah kekurangan dari segi materi karena Cintia dan Simon selalu memberi apa yang dia mau.
“gue... Gue akan kerja” ujar Hana percaya diri.
“lu kerja?! Ha ha ha ha ha ha ha ha ha” rentenir itu tertawa dengan lantang di ikuti dengan yang lainnya.
“lu mau kerja? Kerja apa?” rentenir itu menatap remeh ke arah Hana.
__ADS_1
“gue... gue akan kerja di perusahaan milik teman papi dan... “ Hana belum selesai berbicara langsung di potong oleh rentenir itu.
“perusahaan?! Perusahaan mana yang bakalan terima nona besar yang kagak bisa kerja sama sekali dan lagi lu kerja ampe koit juga kagak bakalan lunas semuanya” ujar rentenir itu tersenyum smirk penuh maksud. Hana melihat ke arah Cintia yang sudah terbaring di tanah, keadaannya semakin melemah karena pendarahan yang belum berhenti.
“ gue akan lakukan apa pun, tolong selamatin nyokap gue. Gue... gue bakalan bayar semuanya.. please selamatin mami” ujar Hana panik, rentenir itu sejenak menatap ke arah Hana dari kepala hingga kaki. Dia juga menatap ke arah Silvia yang masih di jaga ketat oleh orang – orangnya,
Dua Perempuan ini bakalan jadi wajah baru di klub “black Roses”, mereka pastinya bakalan menarik banyak pelanggan nantinya gumam rentenir dalam hati. Dia lalu mengode ke arah anak buahnya untuk mendekat dan berbisik, anak buah itu menganggukkan kepala lalu memanggil temannya yang lain.
Mereka segera mengangkat tubuh Cintia dan membawanya masuk ke dalam mobil, Hana menatap bingung saat melihat ibunya di bawa pergi.
“mau kalian bawa ke mana mami gue?” tanya Hana panik. Dia hendak melangkah menghampiri mobil di mana Cintia berada, Segera anak buah lainnya menahan Hana dengan memegangi ke dua lengannya.
“eits.. tenang nona cantik, lu kagak usah khawatir. Gua utus anak buah gua buat ngantarin nyokap lu ke rumah sakit, Sengaja gua kagak ngasih lu ikut buat jaminan biar lu kagak kabur. Sekarang lu berdua ikut ama gua” ujar rentenir itu melangkah pergi menuju mobilnya, tapi langkahnya kembali terhenti saat Silvia memberontak dan menolak untuk ikut.
“lepasin... lepasin gue... gue bisa jalan ndiri... lepasin... ” ujar Hana memberontak memaksa melepaskan pegangan kuat dari para anak buah rentenir itu. Silvia juga memberontak berusaha untuk melepaskan diri,
“lepasin gue... kenapa lu malah bawa gue juga? Yang berhutang itu bokapnya dia dan gue nggak ada hubungannya” Silvia menolak untuk ikut.
***
Luna tengah duduk di sofa dalam sebuah butik ternama dan mewah, banyak kalangan artis, pejabat dan kaum para jetset yang datang ke butik itu. Anita, Sarah, Kaila dan Kiandra tampak berdiskusi tentang gaun yang cocok di kenakan oleh Luna, mereka tengah memperhatikan dan berdiskusi tentang model gaun yang bagus.
Tak ayal mereka berselisih paham dan sedikit bertengkar mengemukakan pendapat masing – masing, tindakan mereka membuat Luna menjadi pusing kepala.
“kak Luna yang ini baguskan” Kaila menunjukkan gaun pilihannya.
“nggak... ini yang bagus” ujar Kiandra menatap gaun pilihannya.
“no... no... ini yang paling cocok buat Luna” ujar Anita ikut memperlihatkan gaun pilihannya.
“jelas – jelas ini yang paling cocok” ujar Sarah.
__ADS_1
Luna hanya memperhatikan satu persatu raut wajah mereka yang menunjukkan gaun pilihannya, dia sama sekali belum memberi komentar apa pun.
Anita dan lainnya sangat antusias memilih gaun pernikahan untuk Luna, setelah pertemuan dua keluarga mereka sepakat jika pernikahan Luna dan Leon akan di laksanakan dalam waktu dua minggu ke depan. Kematian Simon membuat Raymond berani untuk mengambil keputusan menyetujui hubungan Luna dan Leon,
Mungkin ini jalan yang di tunjukkan Tuhan untuk ku dan kelurga menebus semua kesalahan di masa lalu gumam Raymond dalam hati saat menatap foto kedua orang tua Luna, matanya tercermin jelas rasa penyesalan dan sedih.
Di sela – sela ke sibukkan Kiandra mencoba membuka proteksi dari bukti temuan Leon, proteksi yang begitu sulit dan virus yang sengaja di tanam membuat Kiandra semakin tertantang. Akhirnya bukti itu berhasil di buka oleh Kiandra hanya dalam waktu beberapa jam setelah dia menerimanya, namun isi dari bukti itu sudah rusak parah.
Beberapa hari sebelumnya...
Kiandra dan Luna berada di cafe tempat mereka sering berkumpul dengan teman - teman kampus, tidak berapa lama menunggu Leon, Hugo dan Adam datang ke cafe itu. Kiandra melambaikan tangannya ke arah mereka, Luna menatap ke arah para pria tampan yang baru saja datang.
Kedatangan ketiga pria itu sukses membuat semua yang ada dalam cafe menatap ke arah mereka, para netijen berkumpul dan mulai bersuara riuh. Mereka histeris saat melihat ketiga pria tampan yang menggoda iman, Luna dan Kiandra hanya bersikap biasa sambil menyeruput minuman milik mereka yang ada di atas meja.
“seperti biasa kedatangan mereka pasti memicu keriuhan” ujar Kiandra, dari nada ucapannya Luna menangkap sebuah signal aneh yang membuat dia menatap heran ke arah sahabatnya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1