Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 141


__ADS_3

Berita kematian Simon menyebar cepat ke seantero negara IN, berita itu juga sampai ke telinga Luna dan keluarganya. Meninggalnya Simon membuat perusahaannya terbengkalai hingga jatuh bangkrut dan meninggalkan hutang yang cukup besar. Hana mencoba untuk mempertahankan perusahaan dengan jalan meminta bantuan kolega, tapi sama sekali tidak berhasil.


Seluruh harta kekayaan milik Simon dan juga saham perusahaannya terpaksa di jual untuk membayar gaji para pekerja yang mulai marah dan menuntut hak mereka, rumah mewah yang di tempati Hana bersama Cintia pun di sita oleh pihak bank.


Hana dan Cintia menolak meninggalkan rumah yang sudah sangat lama mereka tempati, mereka bahkan bermain kucing – kucingan dengan pihak bank dan rentenir yang menagih pembayaran ke kediaman mewah itu. Batas waktu dan kesabaran dari Pihak bank juga rentenir sudah melampaui batasannya, mereka pun terpaksa jalur kekerasan dengan melempar Hana juga Cintia ke jalanan berserta barang -barang milik mereka, para maid dan Body guard hanya diam menyaksikan hal itu dan memilih meninggalkan Cintia juga Hana.


“KALIAN NGGAK BISA SEENAKNYA NGUSIR KAMI BEGITU AJA, INI RUMAH KAMI” teriak Hana tidak terima atas pengusiran itu.


“maaf nona, tapi batas pembayaran hutang anda sudah melewati masa waktunya. Jadi, kami terpaksa menyita rumah ini silahkan anda keluar” ujar Pihak bank berusaha tenang. Rentenir yang berada di sana juga merasa tidak senang saat mendengar ucapan dan sikap Hana yang sombong.


“Kalo lo nggak mau rumah ini di sita, makanya bayar seluruh hutang bokap lo. Kalo kagak mampu segera angkat kaki lo dari sini” ujar rentenir kasar.


Pihak bank pun langsung melaksanakan tugasnya dengan memasang tanda segel pada rumah, penyegelan itu membuat para rentenir tidak dapat masuk ke dalam rumah untuk mengambil hak mereka.


“Woi lu pada nyegel rumah, gi mana dengan kami?” tanya rentenir yang terhenti di depan pintu.


“Maaf tuan Simon memiliki hutang yang cukup besar, anda semua bisa melihat di surat resmi ini jika beliau telah menggadaikan sertifikat rumah, tanah dan seluruh properti kepada pihak bank” ujar petugas bank.


“Kagak bisa gitu lah, gi mana juga ada uang gua yang harus di lunasi oleh mereka” ujar Rentenir itu tidak terima, tapi pihak bank sama sekali tidak peduli dan memilih pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Cintia menarik tangan Hana yang ingin melakukan protes kembali,


“Sudah sayang...” ujar Cintia menarik tangan Hana.


“tapi mi, kita di usir dari rumah kita sendiri”

__ADS_1


“ini bukan rumah kita lagi Hana, papi sudah menggadaikan semuanya tanpa ada yang tersisa. Kita harus menghadapi kenyataan kalo sekarang kita sudah tidak punya apa-apa lagi” ujar Cintia mengumpulkan semua barang – barang miliknya. Hana tampak menangis sedih menatap pintu rumah mewah dan seluruh aset miliknya sudah tersegel, dia merasa sangat marah dan dendam dengan apa yang terjadi padanya.


Rentenir itu terlihat kesal karena uang miliknya tidak kembali, dia melihat ke arah Hana dan Cintia yang tengah sibuk.


“woi, bayar hutang kalian” bentak kasar rentenir itu pada Hana dan Cintia.


“Yang berhutang pada kalian adalah Simon, maka tagih padanya. Aku dan putriku sama sekali tidak ada hubungan dengan hutang piutangnya” ujar Cintia menarik Hana untuk berdiri di belakangnya.


“lu malah nyuruh gua minta uang ke orang yang udah koit? Nyari mati ni perempuan tua” ujar salah seorang anak buah rentenir itu.


“Simon dan aku sudah tidak punya hubungan apa pun, jadi hutangnya pada kalian bukan tanggung jawab ku” ujar Cintia tidak mau kalah.


“Lu emang nggak ada hubungan ama itu tua bangka, tapi anak lu ada. Dia yang bakal membayar semua hutang bokapnya” Rentenir itu memerintahkan anak buahnya untuk menahan Hana.


Di saat bersamaan Silvia kembali datang untuk meminta hak atas kekayaan Simon, dia merasa jika anak yang di kandungnya juga berhak.


“MAMI” Hana berteriak histeris saat melihat Cintia di dorong kuat oleh anak buah rentenir itu, dia memberontak dan melawan hingga pegangan pada tangannya terlepas. Segera Hana mendekati Cintia yang terlihat sangat kesakitan,


“Mami... mami nggak apa – apa kan?” tanya Hana mencemaskan keadaan Cintia. Semua yang terjadi di halaman itu di saksikan oleh Silvia yang memandang dengan heran, rentenir itu tidak sengaja melihat Silvia dan langsung mengenalinya.


“dia... dia bukannya perempuan yang datang bersama dengan Simon saat itu?!” tanya rentenir yang mengenal wajah Silvia, rentenir itu teringat saat Simon datang bersama Silvia untuk meminjam uang padanya. Sosok Silvia yang berpenampilan seksi menarik perhatian rentenir itu, dia sempat bertanya pada Simon yang Silvia baginya. Simon tentu saja tidak merasa cemburu saat perempuannya menjadi incaran pria lain, dengan lantang dia mengatakan jika Silvia adalah istrinya.


Para anak buah rentenir itu menatap ke satu arah yakni Silvia yang masih belum menyadari apa pun, mereka juga mengenali sosok Silvia.


“benar bos,” ujar anak buah rentenir itu segera bergerak untuk menahan Silvia, mereka pun segera memeganginya.

__ADS_1


“apa – apaan ini ? Apa mau kalian?” ujar Silvia berusaha untuk membebaskan diri.


“gua mau uang gua balik, suami lu udah hutang banyak ama gua dan sekarang lu sebagai istri musti ngembaliin uang yang udah dia pinnjam” ujar rentenir itu menatap tajam ke arah Silvia.


“kalian salah, aku nggak punya hubungan dengan tua bangka itu (melihat ke arah Cintia dan Hana) mereka... mereka yang memiliki hubungan keluarga dengan Simon, perempuan tua itu istri sahnya” ujar Silvia menunjuk ke arah Cintia dan Hana.


Mendengar hal itu otak Hana langsung bekerja dengan cepat memberi ide ccermelang untuk bisa bebas dari rentenir itu, dia menatap dengan mengode ke arah Cintia yang masih menahan rasa sakit di perutnya. Tatapan mata Hana langsung di mengerti oleh Cintia dengan raut wajah kesakitan,


“bukan... nyokap gue udah pisah lama dengan Simon dan cewek itu istrinya yang sekarang. Gue dan nyokap sama sekali nggak ada hubungan apa pun” ujar Hana.


“nggak... itu nggak benar, gue sama sekali bukan istrinya Simon” ujar Silvia yang langsung menyangkal jika dirinya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Simon.


“lu nggak usah bohong, tua bangka itu sendiri yang bilang lu istrinya saat lu ama dia datang meminjam uang ama gua” ujar rentenir itu kasar, Silvia teringat dengan ucapan dari Simon saat itu.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2