Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 19


__ADS_3

“ apa kamu perlu bantuan?” tanya Luna yang tengah mengawasi target.


“bentar, aku hadapin dulu...” Kiandra fokus ke layar monitornya. Luna tidak bisa berdiam diri mendengar Kiandra yang tengah berusaha bertempur di dunia maya, dia harus segera melancarkan aksinya mengeksekusi target agar bisa membantu sahabatnya.


Dia mendapat celah saat tanpa sengaja target menjatuhkan ponselnya, mata jeli Luna melihat sebuah kesempatan. Luna melangkah santai mendekati target segera menembakkan jarum yang sudah di persiapkannya tadi. Secepat mungkin Luna mencabut jarum itu dengan berpura-pura tidak sengaja menjatuhkan tas ranselnya di samping target.


Target merasakan sengatan di sekitar lehernya, setelah memungut ponselnya sebelah tangan kanan target bergerak akan menyentuh jarum milik Luna. Tangan kanan target tidak sempat menyentuh jarum, saat Luna tanpa sengaja menjatuhkan ranselnya di samping dan dia segera mengulurkan tangannya membantu Luna mengambil tas ranselnya.


“Par...par....pardon...mmm....mm... me” ujar Luna mendalami karakter penyamarannya.


Target lengah kesempatan bagi Luna segera mencabut jarum tanpa siapa pun yang tahu, senyuman terpaksa dan sikap tidak senang tampak jelas di wajah target itu saat melihat penampilan Luna. Setelah mengucapkan terima kasih Luna melangkah pergi menghampiri pelayan restoran untuk bertanya di mana posisi toilet.


Segera setelah mengetahui di mana posisi toilet restoran itu, Luna melangkah masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Dia mengambil sarung tangan yang di gunakannya dengan hati-hati di dari tas ranselnya, dia membuang sarung tangan itu ke dalam wastafel.


Sebuah cairan juga di masukkannya ke dalam wastafel, sarung tangan itu segera hancur. Luna tersenyum smirk menekan tombol flush, setelahnya keluar mencuci tangan dengan bersih.


Perlahan target merasakan gatal seperti bekas gigitan serangga, Dia segera menggaruk sedikit bekas sengatan itu yang ternyata berakibat fatal baginya. Racun mulai tersebar di leher memasuki lapisan dan bercampur dengan darahnya. Target Luna tidak menyadari jika dia berada di ambang kematian.


Luna segera membaur dengan mengantre bersama pengunjung lainnya mengambil pesanan, sesekali mata cantik itu melihat ke arah Target yang masih tampak santai.


Satu persatu antrean itu berkurang, tangan Luna meraih pesanannya yang terletak di atas meja counter. Tidak lupa dia membayar dan memberi tip di kasir, melangkah santai keluar dari restoran itu.


“Mision complete” ujar Luna sekilas melihat ke arah restoran, target itu tampak masih menikmati sungguhan di mejanya.


Silahkan nikmati makanan hidangannya dengan puas, sebelum malaikat maut datang membawamu gumam Luna dalam hati, dia sengaja memutari bandara dan berhenti di sebuah spot yang tidak di perhatikan pengunjung bandara.


Tangan Luna dengan terampil melepaskan penyamarannya, berganti dengan penyamarannya seorang cewek cupu dan culun. Tidak lupa kaca mata tebal di kenakannya, dia kembali melangkah menuju ruang tunggu dengan dua cup minuman dan kotak kecil berisi makanan kecil.


Luna mengeluarkan ponselnya, berpura-pura menelepon Kiandra agar Sarah tidak curiga, dia masih mendengar suara keyboard yang di tekan Kiandra begitu cepat.

__ADS_1


“gi mana Kia?” tanya Luna duduk di samping Sarah sambil meletakkan pesanannya.


“game over...” ujar Kiandra sambil tersenyum smirk. Ternyata selain menanam virus Kiandra berhasil mendapat data-data milik Hugo, dia menutup aksinya dengan begitu cantik.


Di seberang sana Hugo tampak kesal, dia sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Laptop miliknya kini sudah terkena virus dan harus secepatnya dia perbaiki di IN, lebih tepat di kediaman miliknya yang memiliki sistem lebih canggih.


Hugo dan Adam saat ini berada di negara BD, anak perusahaan Adam di negara itu mengalami masalah di bagian IT nya. Adam pun mengajak Hugo untuk memeriksa kerusakannya, di saat bersamaan pula Alex menghubunginya memberitahu jika Leon membutuhkan informasi tentang seorang perempuan.


Dia tidak menyangka jika orang di balik perempuan misterius itu bisa mengalahkannya, hampir saja Hugo membanting laptopnya saking dia kesalnya. Adam segera menghampiri Hugo yang mengangkat laptop itu tinggi-tinggi, dia segera merebut laptop dari tangan Hugo dan menghentikan aksinya.


“wo...wo... wo... tenang bro. Jangan bersikap anarki dengan membanting benda yang kagak punya salah apa-apa” ujar Adam menenangkan sahabatnya.


"kali ini kagak ada ampun, emosi gua. Mana si demon king minta info cewek ini dalam waktu satu jam..." ucapan Hugo terhenti saat melihat layar ponselnya yang bergetar di atas meja.


Hugo dan Adam saling berpandangan.


Panjang umur ntu anak gumam mereka dalam hati serentak.


“kagak mau, gua masih pengen idup dan melaksanakan keinginan Bokap juga nyokap gua”


“ ya elah... tinggal bilang kalo gua sedang kagak ada di sini. Susah amat lu...”


“kagak, gua masih sayang ama nyawa gua”


“Dam.... tolongin gua... lu kan sohib gua yang paling baik seantero IN,” Hugo mulai melancarkan jurus merayunya pada Adam.


“sekali kagak, tetap kagak. Jurus rayuan cap monyet lu kagak mempan ama gua, bagusan lu gunain jurus lu ke cewek-cewek luaran sana” Hugo memilih untuk tidak ikut campur.


Deringan dan getaran di ponsel Hugo berhenti, dia menghela nafas sambil berdoa dalam hati Leon tidak akan menghubunginya kembali.

__ADS_1


Dddddrrrrrt... dddrrrtt....


Kembali getaran dan deringan telepon terdengar kembali dengan nama Leon di layar ponsel itu, Hugo tidak kehabisan akal. Dia menatap ke arah Adam yang sudah duduk kembali ke meja kerjanya.


“Dam, kalo lu kagak bantuin gua... ( senyuman iblis tersungging di bibir Hugo, membuat kening Adam berkerut saat menatap ke arahnya) ucapin selamat tinggal pada custom figur ini...” ujar Hugo memperlihatkan custom figur tokoh anime yang sangat di gemari Adam.


Mata Adam termenung melihat custom figur incarannya berada di tangan Hugo.


“ itukan.... kenapa?!!!” Adam terdiam sejenak, ponsel Hugo masih bergetar menunggu untuk di angkat segera.


“Bren**k lu, malah make cara kotor”


“mau kagak... ato...” Hugo mulai mengancam Adam dengan mendaftarkan figur itu pada situs penjualan. Hugo hanya tinggal menekan tombol enter dan Adam harus mengucapkan selamat tinggal pada figur itu.


Mau tidak mau dia pun menuruti Hugo, segera Adam meraih ponsel sahabatnya dan menggeser icon hijau.


“hallo bro” sapa Adam sambil menatap kesal ke arah Hugo yang hanya cengengesan sambil menaikkan turunkan alisnya. Dia berdiri di samping Adam sambil mempertajam kan telinganya mendengar pembicaraan sahabatnya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2