
Namun niat itu di urungkannya karena body guard Leon yang begitu menjaga ketat Kaila,
Aku bukan pria bodoh yang akan langsung turun tangan untuk menculik gadis ini, mata Leon tengah mengawasiku akan sangat berbahaya jika aku bertindak gegabah. Meminjam tangan pria tua ini akan memudahkan rencana ku dan Leon tidak akan menyangka jika ini semua adalah ulah ku gumam Simon dalam hati.
Bobby menatap ke arah Simon kembali dengan pandangan menyelidik,
“kau menyuruhku untuk menculik gadis ini? Nona dari keluarga Willson?” tanya Bobby kembali.
“ ya tuan Bobby, dengan bantuan anda tentunya akan memudahkan kita untuk menarik pundi-pundi dari keluarga Willson”
“apa menurut kau, aku ini bodoh mengantarkan leher ku begitu saja untuk menculik seorang gadis dari keluarga yang berpengaruh di negara ini? Jangan-jangan main-main kau” Bobby tampak kesal dan marah. Simon tampak tenang dan menatap penuh percaya diri, dia merasa sangat yakin dengan rencana yang sudah di pikirkannya dengan matang.
“tuan Bobby, aku memiliki rencana yang akan memudahkan kita untuk menculik gadis ini. Jika berhasil bukan hanya uang saja yang bisa kita ambil, tentunya anda bisa...” ucapan Simon menggantung sambil tersenyum penuh maksud. Bobby mengerti dengan maksud dari Simon, matanya menatap penuh nap** ke arah foto Kaila.
Simon pun menjelaskan rencana yang di pikirkannya secara matang, Bobby terdiam cukup lama dan larut dalam pikirannya.
Rencana tua bangka ini memang brilian, tapi berhadapan dengan orang seperti Leon. Sama saja mengantar nyawa dengan Cuma-Cuma pada pria yang di juluki demon king itu gumam Bobby dalam hati memikirkan resiko jika nantinya rencana itu gagal. Simon dapat melihat keraguan dari raut wajah Bobby,
“saya dapat melihat keraguan anda Tuan Bobby, ternyata saya terlalu tinggi menilai anda yang ternyata lebih takut pada anak baru kemarin sore” sindir Simon menatap dengan tatapan remeh. Sindiran itu menancap tepat pada harga diri Bobby yang seorang rentenir kejam dan paling di takuti di dunia bawah, Para anak buah Bobby bereaksi dengan kembali mengacungkan senpi ke arah Simon.
Para anak buah Bobby mulai menarik pelatuk bersiap untuk melepaskan peluru yang terpenjara di dalam senpi,
“ternyata anda Hanya serigala ompong yang berdiri di belakang anak buah mu, sebaiknya saya mencari orang lain yang lebih berani dan hebat tentunya” ujar Simon melukai harga diri Bobby yang langsung memberi reaksi tatapan tajam. Bobby memikirkan ucapan Simon,
Kenapa aku harus takut pada anak kemarin sore? Tentu saja tidak, aku adalah mafia yang paling di takuti di dunia bawah. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memandang remeh kepada ku gumam Bobby dalam hati sambil memegang erat tepian sofa yang di dudukinya. Dia lalu mengode ke arah anak buahnya untuk tidak bertindak apa pun, senjata api yang itu kembali tersimpan dalam jas anak buah Bobby masing-masing.
“informasi apa yang kau punya tentang gadis ini dan kapan kita akan melaksanakan rencana ini” ujar Bobby setuju dengan rencana Simon yang tersenyum senang. Mereka kembali berdiskusi kapan dan waktu yang tepat bagi mereka untuk melaksanakan rencana Simon, setelah semu pembicaraan itu Simon berdiri dari tempat duduknya melangkah menuju Meja kerjanya.
__ADS_1
Simon membuka pintu lemari kecil samping meja kerjanya dan mengambil tas koper berukuran sedang di dalamnya, dia kembali menghampiri Bobby dan para anak buahnya yang terus mengawasinya. Dia meletakkan koper itu tepat di depan Bobby,
“apa ini?” Tanya Bobby penasaran.
“Ini adalah bayaran hutang dan juga setengah bayaran untuk pekerjaan, jika semua berjalan dengan baik setengah bayaran lagi akan saya berikan” ujar Simon kembali duduk di sofa yang di dudukinya semula, Bobby mengode ke arah salah seorang anak buahnya untuk membuka koper itu dan melihat isinya.
Mata Bobby tampak berbinar-binar melihat bertumpuk-tumpuk uang cash dan sebuah kantung beludru berwarna biru tua berukuran kecil, anak buah Bobby meraih kantung itu lalu memberikan padanya. Bobby membuka kantung itu dan tersenyum saat melihat beberapa berlian berukuran cukup besar,
“Senang berbisnis dengan anda tuan Simon” ujar Bobby sambil berdiri dari tempat duduknya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Simon. Mereka berdua saling berjabat tangan dan tersenyum senang, setelah itu Bobby menutup kembali tas koper itu lalu memberikan pada anak buahnya. Mereka semua lalu meninggalkan ruang kerja Simon dengan hati senang, asisten Simon segera masuk ke dalam ruang kerja bosnya dan menghampiri Simon yang duduk di kursi kebesarannya.
Tangan Simon memegangi secarik kertas yang di dapatkannya dari anak buahnya, kertas itu berisi sebuah alamat email.
“tuan Besar” sapa Asisten Simon yang langsung di tatapi oleh Simon.
“segera cari seorang hacker untuk mengirim email pada alamat email ini” ujar Simon menyerahkan secarik kertas pada asistennya yang terlihat bingung, dia mengenal alamat email yang di pegangnya.
“apa isi email yang harus dikirimkan pada alamat ini, tuan besar?” tanya Asisten.
“aku ingin pemilik email Ini melenyapkan Bobby, kamu atur untuk segalanya jangan sampai pemilik email ini tahu siapa kita” ujar Simon, dia tidak ingin nantinya kelak Assassins itu mengambil kesempatan dan membuatnya terancam.
“baik, tuan besar” ujar asisten membungkukkan tubuhnya sejenak lalu segera melangkah keluar untuk melaksanakan perintah Simon.
***
Di suatu siang yang cerah Kiandra tengah berada dalam sebuah taksi, mobil mewah miliknya baru saja di antarkan ke bengkel untuk service rutin. Kiandra membuka tablet miliknya dan mengetik sesuatu di sana, matanya menatap sebuah titik merah yang berada tepat di bandara internasional kota JK. Terdengar ponsel milik Kiandra yang berdering, ibu jari tangan Kiandra segera menggeser icon mengangkat telepon setelah layar ponsel tertulis nama Luna.
“what’s Up, Lun?” ujar Kiandra mengenakan earphone miliknya.
__ADS_1
“ kamu ke mana Kia? Sedari tadi aku nyariin kamu di kampus” tanya Luna tengah melangkah keluar gedung.
“eh maap... maap say, aku sedang ke bandara” ujar Kiandra melihat pemandangan di luar jendela mobil taksi itu.
“bandara?! Kamu ngapain ke bandara? Perasaan misi kita nggak mengharuskan kita pergi ke luar kota atau negara” ujar Luna duduk di sebuah bangku taman kampus, taman itu tampak sepi karena para mahasiswa memilih makan siang di kantin dan luar kampus.
“ tadi aku dapat signal dari hacker yang ngirim email spam itu dan signalnya berada di bandara. Aku yakin orang di balik hacker itu sengaja mengirimnya ke luar negara atau kota agar kita nggak bisa melacaknya. Makasih pak” ujar Kiandra turun dari taksi setelah membayar sesuai tarif. Matanya menatap tablet sekaligus mencari keberadaan hacker itu,
“kamu yakin bisa menghandlenya, Kia? Kenapa kamu nggak nungguin aku dulu?” ujar Luna berdiri dari bangku taman melangkah cepat menuju parkir kampus. Ucapan Luna membuat Kiandra tersadar dan kebingungan.
“maap sayangku, karena semangat buat nangkep tu hacker aku lupa ama kamu” ujar Kiandra cengengesan. Luna menepuk keningnya mendengar penjelasan Kiandra, dia lalu mengenakan earpiece yang sering di gunakan untuk melakukan misi.
Tidak lupa Luna memberi tahu Kiandra untuk mengenakannya juga, setelah itu Luna mengenakan helmnya menghidupkan mesin motor dan menggas menuju bandara.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...