
Area 21+
******************************
Ular sanca itu mencoba memasuki lembah tepatnya pada gua yang sudah licin oleh rembesan air yang menghiasi. Kepala ular sanca itu mencoba masuk dan terhenti saat sang pemilik gua memukul dada bidangnya.
“saaakiiit.....sssssshhhh” ujar Luna merasa sesuatu di sana.
“kenapa.... hanya segini.... bukannya kamu...” Leon menatap wajah Luna yang terlihat sangat kesakitan, ular sanca di tarik sementara dari gua itu. Ada noda merah yang melekat di atas kepala ular sanca membuat hati nurani Leon merasa bersalah,
“kamu....” Leon termenung menatap Luna, dari kedua mata cantik itu mengalir air mata sebening kristal. Leon terdiam sejenak menatapi wajah cantik Luna, ada sebuah sengatan listrik yang mulai mencoba meghidupkan hatianya.
Ternyata hah... hah... cewek ini... masih ... hah... hah... dasar.... obat sialan... gumam Leon yang merasakan gejolak keinginan di dalam dirinya dan ular sanca yang sudah tidak bisa di ajak kompromi, semua serangan itu menyerang dan menentang hati nurani CEO arrogant itu.
Bibir Leon mencium lembut kening, mata, pipi dan bibir pink natural Luna, dia memperlakukan gadis itu dengan penuh kelembutan. Tangannya membelai dan memberikan sensasi yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Tangan Leon bergerak lincah menari di atas perbukitan serta puncaknya, sebelah tangan yang lain turun ke lembah untuk memberi pijatan lembut di sana. Sensasi itu membuat Luna semakin kewalahan karena dia di serang oleh Leon di dua area sensitif miliknya.
Kembali gua itu mengalirkan cairan licin untuk memperlancar jalan ular sanca yang sudah tidak sabaran, ular berbahaya itu kembali mencoba masuk ke dalam gua yang masih tersegel. Baru di pintu gua sang pemilik sah gua itu berteriak kesakitan, kuku jarinya menekan kuat di punggung Leon yang membentuk garis panjang kemerahan.
Entah sejak kapan kemeja hitam milik Leon terbuka memperlihatkan dada bidang, perut dengan abs yang terpahat sempurna serta bahu yang kokoh. Dia sudah tidak ingat kapan dia melepaskan bajunya, kepala ular sanca sudah mulai memasuki mulut gua bergerak perlahan agar bisa masuk dengan lancar jaya. Segel gua itu belum terbuka cukup lebar, ular sanca sedikit menarik tubuhnya lalu dengan sekuat tenaga mendobrak penghalang pintu gua hingga akhirnya dia masuk hingga ke tempat yang terdalam.
Leon menatapi wajah cantik Luna, air mata kembali keluar dari mata indah itu wajahnya meringis menahan kesakitan teramat di bawah sana. Ular sanca memilih berdiam diri sejenak, menunggu gua itu menerima kehadirannya sambil menerima massage yang membuatnya semangat tingkat tinggi.
“maaf.... hah.... maaf.... haah....mmmh... haaah maaafkan aku haahh” ujar Leon merasa sangat bersalah, dia benar-benar tidak ingin melakukannya. Namun, karena obat yang di berikan Hana begitu kuat membuatnya menyakiti gadis yang tidak bersalah.
“maaf..... hah.... ma....aahh...haaah ....aaff” ujar Leon, dia merasakan pijatan yang sangat di inginkannya. Ular sanca perlahan-lahan melakukan pergerakan saat gua sudah menerima kehadirannya.
__ADS_1
“breng..... sssaaakkiiit.... haah... nnnnnggg....ssshhhh.... saakkiit ... ber....henti....” terdengar makian Luna meminta Leon untuk menghentikan aksinya. Makian itu perlahan-lahan memudar dan berubah menjadi nyanyian merdu saat ular sanca bergerak dengan tempo yang lambat dan perlahan hingga permainan di arena itu mengganas dan berubah liar.
***
Di lokasi pesta Adam dan Hugo mencari-cari keberadaan Leon bersama dengan body guard Leon. Beberapa menit yang lalu pesta tuan Mike sudah berakhir, para tamu sudah tampak meninggalkan lokasi pesta begitu juga dengan Jason bergegas kembali ke rumah.
Adam dan Hugo melihat ke sana kemari mencari sosok Leon yang menghilang sedari tadi, mereka juga meminta body guard Leon menelusuri semua tempat.
Tidak berapa lama ponsel Adam berdering dengan nama Leon tertera di layar ponsel, jari tangan Adam segera menggeser icon tombol di layar datar itu. kening pria tampan itu berkerut saat mendengar suara gaduh dan terdengar aneh.
“nape lu? Bukan bantuin nyari si demon king malah telepon-teleponan di ini mari ” tanya Hugo heran yang berdiri di sampingnya.
Kening Adam memperlihatkan urat kekesalan mendengar ucapan dan tuduhan Hugo, dia segera memperlihatkan layar ponselnya yang tertulis nama Leon di sana.
“lah si demon king hubungin lu?! Gua kira tadi lu ngomong ama cewek “ ujar Hugo santai, para body guard segera menghampiri Adam juga Hugo.
“lu lagi ngapain? Dari tadi kagak ngomong ama si demon king” Hugo ikut menempelkan telinganya pada punggung ponsel itu. Melihat sikap Hugo beberapa pelayan hotel terutama perempuan mulai berbisik-bisik sambil tertawa kecil.
Sebelah tangan Adam segera mendorong kepala Hugo untuk menjauh darinya, menatap tajam Hugo yang kebingungan dengan sikap Adam. Sebelah tangan Adam segera menekan tombol pada ponsel untuk meloud speker ponselnya, karena ponsel Leon yang terjatuh dalam lemari suara yang terdengar begitu samar-samar. Mereka berdua harus mempertajam pendengaran untuk bisa mendengar dengar jelas.
“apa kamu bisa mendengarnya” Adam menatap Hugo yang berusaha untuk mendengar kembali. Mereka berdua saling bertatapan mengetahui apa yang baru saja mereka dengar,
“apa mungkin?!! (Hugo menebak jika Leon saat ini sedang bersama dengan Hana) sepertinya demon king di paksa untuk melayani cewek ntu” Hugo berusaha terus mempertajam telinganya.
“sepertinya tidak...” Adam melihat ke arah pintu masuk lokasi pesta, Hana cs tampak sedang mencari sesuatu. Hana melihat keberadaan Hugo dan Adam yang juga sedang melihat ke arahnya, dia segera bergegas menghampiri mereka dengan wajah panik.
“kalian berdua pasti tahu di mana Leon saat ini, cepat katakan di mana dia sekarang?!” ujar Hana tidak sabaran.
__ADS_1
“ sakit mata lu sekarang? Kagak liat kalo kita berdua juga sedang nyariin dia juga, ato jangan-jangan lu udah sembunyiin Leon trus berakting depan kita. Dasar cewek muna” tuduh Hugo kembali pada Hana yang semakin kesal mendengar ucapannya. Adam menahan senyum mendengar celaan Hugo.
“lu...” Hana akan membalas Hugo, langsung di cegah oleh Silvia dan Abby.
"Han, lebih baik kita nyari sekali lagi sekitaran hotel siapa tahu dia ada di salah satu lantai” ujar Silvia menenangkan Hana sambil menarik tangannya meninggalkan Adam dan Hugo.
Sepeninggal Hana cs, Adam dan Hugo menatap ponsel dari sana samar-samar terdengar suara nyanyian merdu yang dapat membangkitkan sesuatu. Mereka berdua yakin jika salah satu dari suara itu adalah suara Leon.
Tangan Hugo segera meraih ponsel Adam dan mematikan sambungan telepon itu, senyuman nackal terkembang di wajah tampannya saat tangannya dengan cepat bermain di ponsel miliknya. Adam mengerti dengan arti senyuman dan mata yang berbinar-binar dari sahabatnya itu.
“sebaiknya kita ke sana sekarang” ajak Adam yang langsung di cegah oleh Hugo.
“kagak usah kita samperin, biarkan dia berkembang dengan sendirinya. Bagusan kita juga cari kesenangan sekarang, ato lu mau urusin tu kucing betina kepanasan yang masih nyariin teman kita” Hugo melangkah keluar dari lokasi pesta mengingatkan Adam tentang Hana.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...