
Mereka tahu kemampuan Luna dan sama sekali tidak pernah meragukannya,
“Nih,” ujar Luna melemparkan dengan tepat dan cekatan ke arah Reynold yang menerimanya dengan baik. Aksi mereka mendapat tatapan bingung bercampur meragukan dari keluarga Willson, Anita dan Kaila terus memperhatikan obat yang di pegang Reynold. Mereka berdua ragu jika Luna memberikan obat yang salah, keraguan itu terlihat jelas pada wajah mereka masing-masing.
“anda tenang saja nyonya Anita, Luna sangat memahami tentang jenis obat-obatan. Dia juga sudah belajar dan sangat terlatih, benarkan dokter Rey?,” ujar Baron tersenyum memaklumi kekhawatiran keluarga Willson, Reynold tengah menyuntikkan sesuatu di lengan Raymond menatap ke arahnya.
Luna tersenyum smirk sambil menaikkan alisnya ke atas ke bawah,
Kagak cucu kagak kakek, seneng banget memanfaatkan keadaan. Besok-besok aku harus mendapatkan keuntungan dari setiap informasi yang aku berikan gumam kesal Reynold dalam hati, dia lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
Reynold selesai menyuntikkan isi obat dari jarum suntik itu, beberapa menit mereka menunggu reaksi dari obat yang di berikan. Perlahan wajah Raymond yang menunjukkan rasa sakit mulai terlihat tenang,
“kondisi pasien sudah dalam keadaan stabil sekarang, lebih baik biarkan beliau untuk beristirahat” ujar Reynold memberikan perlatan yang di kenakannya pada dokter pembantu.
“Terima kasih dokter, terima kasih banyak” ujar Anita merasa lega.
“sudah menjadi tugas saya, anda tidak perlu berterima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu” ujar Reynold melangkah keluar dari kamar itu, matanya sempat menatap heran ke arah Luna yang di lewatinya. Dia sangat terfokus dengan raut wajah dan kondisi fisik Luna yang menurutnya berbeda,
Ada yang berbeda ma ni anak? Seperti... Kagak mungkin... Siapa yang mau ama cewek tomboy and pshyco seperti dia... bahkan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) aja ogah dekat ma ni cewek.... Tapi.... Gumam Reynold penasaran dalam hati. Saking fokusnya Reynold sama sekali tidak melihat apa yang ada di depannya, perawat dan dokter pembantu yang melangkah di belakang hendak memberi tahu namun terlambat.
“Dok... Dokter...” panggil perawat dan dokter pembantu bersamaan hendak menghentikan Reynold melangkah
Rrrroooaaaar.... Rrrroooooaaaarrr...
Terdengar gelegar raungan kemarahan dari Ratu membuat yang berada di dalam kamar terkejut dan segera melihat ke arah luar kamar, kecuali Anita dan Raymond. Kaki Reynold sukses menginjak bagian ekor panjang Ratu, kucing hitam besar itu langsung menyeringai dan memperlihatkan wajah penuh amarah.
Ratu tampak marah dan hendak menyerang ke arah Reynold yang langsung terperanjat, refleks dia langsung melompat ke arah punggung Dokter pembantu yang langsung menggendongnya dengan posisi piggy back. Dokter pembantu dan perawat tampak gugup saat Ratu mulai memperlihatkan gigi taring yang tajam sambil berjalan mendekat ke arah mereka,
Wajah Reynold tampak memucat dan ketakutan dengan reaksi dari Ratu,
“Aaah.... kenapa dia bisa ada di sini?” Teriak panik Reynold. Luna dan lainnya yang berdiri di depan pintu kamar itu terlihat menahan tawa, Reynold yang mulai panik melihat ke arah Luna yang tersenyum penuh maksud padanya.
“Jangan hanya diam saja, cepat urus kucing kesayangan kamu itu?!” ujar Reynold ketakutan.
“Kenapa?! Dia saja sangat senang bertemu dengan kamu, Rey” ujar Luna berdiri santai di samping Leon. Luna melihat ke arah Ratu dan mengedipkan sebelah matanya ke arah kucing besar itu,
__ADS_1
Rooooaaaaarrrr...
Terdengar kembali suara Ratu yang menakutkan bagi Reynold,
“Lunaaaa.....” panggil Reynold panik.
“hmmm....” Luna menatap sambil berpikir ke arah Reynold yang balas menatapnya dengan penuh harap.
Raut wajah Leon tampak tidak senang saat mendengar Reynold memanggil nama kekasihnya,
“Luna... “ terdengar panggilan Baron yang berdiri di sisi lain Luna,
“ayolah ojisan, biarkan Ratu bermain dengannya sebentar saja” ujar Luna tersenyum licik.
“Lunaaaa....” Reynold semakin panik menatap ke arah Ratu yang berjarak hanya beberapa langkah. Dokter pembantu itu perlahan melangkah mundur dan wajahnya terlihat panik, pegangannya pada kaki Reynold hampir terlepas.
Rrrrrrooooaaaarr....
Ratu semakin beringas dan bersiap untuk menyerang ke arah Reynold juga dokter pembantu,
“Lunaaaaa..... “ panggil Reynold lagi, dokter pembantu itu hampir terjatuh. Luna menghela nafas malas, dia harus mengakhiri kesenangannya saat melihat wajah kedua orang itu.
Mereka berdua terlihat sedang berkomunikasi melalui telepati,
Aku ingin menggigitnya gumam Ratu dalam benaknya.
Yakin... Gumam Luna dalam benaknya dengan sebelah alis terangkat. Ratu menatap ke arah Luna yang tersenyum smirk ke arahnya, tatapan tajam yang di layangkan Luna membuat hewan itu yang semula beringas mulai berubah.
Perlahan binatang buas itu menjinak layaknya kucing rumahan, dia merebahkan tubuhnya ke lantai. Merasa Ratu sudah bersikap tenang Reynold perlahan turun dari piggy back Dokter pembantu, matanya terus mengawasi pergerakan Ratu.
Reynold dan lainnya segera meninggalkan kamar Raymond melangkah pergi menuju gedung tempat mereka bekerja,
“Kalau begitu sebaiknya kita membiarkan tuan Raymond untuk beristirahat, ayo Luna” ajak Baron pada Luna untuk keluar dari kamar setelah melihat keadaan Raymond yang tertidur tenang.
“Terima kasih banyak ojisan, berkat bantuan ojisan Daddy bisa terlepas dari kondisi berbahaya dan... Kami mengucapkan maaf pada ojisan karena sudah membuat acara ojisan terganggu” ujar Leon merasa tidak enak hati.
__ADS_1
“ saat ini yang terpenting, kondisi daddy sudah baik-baik saja... Lebih baik sekarang kamu menemani mommy dan Kaila” ujar Luna memegangi lengan Leon yang membalasnya dengan menganggukkan kepala. Setelah berpamitan Luna dan Baron keluar dari kamar lalu melangkah pergi menuju ruang tengah, Leon kembali masuk ke dalam kamar Raymond dan duduk tepat di kursi yang berada di samping ranjang.
***
Dokter tengah memeriksa keadaan Cintia yang tampak lemah, terlukis jelas raut wajah bingung dan Kesedihan di wajah Hana. Air matanya jatuh menetes ke pipi saat teringat dengan kondisi Simon, dia tidak pernah menyangka jika nasib papinya akan setragis itu.
“Nona...” panggil Dokter itu membuyarkan lamunan Hana yang langsung menatap ke arahnya.
“Bagaimana keadaan Mami?!” tanya Hana.
“Keadaan nyonya Cintia sudah stabil dan kondisi janinnya juga baik-baik saja, sebisa mungkin nyonya Cintia jangan stress karena itu bisa mempengaruhi janin yang ada dalam kandungannya. Saya sudah meresepkan beberapa obat yang harus di minum oleh nyonya” ujar dokter itu pada Hana.
Kertas resep itu di pegang Hana sambil menatap sejenak ke arah Cintia,
“terima kasih banyak dok ( melihat ke arah salah seorang maid) lu antar nih dokter ke depan gih” ujar Hana dengan sedikit membentak.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah ruang tamu kediaman Simon,
“Hana... Hana.... Hana...” terdengar suara panggilan dari seorang perempuan yang di kenal oleh Hana, dia lalu keluar dari kamar Cintia dan mendapati Silvia yang akan menaiki anak tangga.
“Silvi?!” panggil Hana heran ke arah Silvia yang terlihat panik sekaligus cemas.
“ Hana?!” panggil Silvia dengan penampilan terlihat kacau.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...