Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 84


__ADS_3

“tolong bantu aku angkatin semua cangkir ama piring di ruang kerja”


“baiklah nona Kia” Jason meninggalkan perlatan di bangku dekat kolam renang, dia lalu mengikuti Kiandra menuju ruang kerja.


“nona muda...” sapa Jason saat melihat Luna tengah menatap layar monitor. Luna tersenyum hangat ke arah Jason yang segera mengangkat piring dan cangkir kotor dari meja juga lantai ruang kerja Kiandra.


Luna sejenak menatap ke arah Jason yang sedang mengerjakan pekerjaannya, teringat oleh Luna saat menceritakan hubungannya dengan Leon pada Jason juga Kiandra.


Walaupun status Jason seorang pelayan, namun bagi Luna Jason adalah kakak dan pengganti kedua orang tuanya yang sudah tiada. Dia bahkan tidak akan segan dan meminta pendapat Jason dalam setiap tindakan juga keputusan apa pun yang di ambil Luna.


“selama nona muda bahagia, aku akan selalu mendukung nona. Namun jika suatu saat dia menyakiti nona maka... hehehehe” ujar Jason dengan tawa menakutkan.


Lamunan Luna seketika buyar saat Kiandra datang dan menjentikkan tangannya tepat di depan wajah gadis cantik itu,


“Hei... malah bengong. Lagi mikirin idola aku ya..” goda Kiandra yang duduk di pinggiran meja kerjanya. Luna menatap ke arah Kiandra,


“siapa yang lagi mikirin idola kamu, Kia? Udah ah... nggak usah bahas ntu idola kamu, o ya udah cari tahu informasi email ini dan data dari target?” tanya Luna pada Kiandra yang segera mengotak-atik keyboard di depan Luna.


“email ini hanya spam dari wannabe baru dan udah ku bereskan, tapi yang menarik adalah targetnya ”


Tak... Tak... Tak... klik...


Jari jemari Kiandra menari cantik di atas keyboard yang di desain bergaya anime dark kesukaannya,


“Bobby?!” Luna menatap foto target yang terpampang di layar monitor. Jason yang tengah merapikan piring dan cangkir kotor ikut memperhatikan juga mendengar pembicaraan para gadis cantik itu.


Luna memperhatikan layar monitor, Mata cantik itu bergerak ke kiri dan ke kanan membaca setiap tulisan yang terpampang di layar monitor sebelah kirinya.


“nama target Bobby, seorang rentenir yang sangat di takuti Dalam dunia bawah. Udah banyak perusahaan menengah ke bawah yang di buat bangkrut olehnya, tidak sampai di situ aja. Pria ini juga melakukan perdagangan manusia dan jual organ dalam secara ilegal, dia sangat di incar oleh kepolisian dengan banyak kasus” jelas Kiandra sambil menekan kembali tombol keyboard miliknya. Luna terus memperhatikan informasi yang di dapatkan Kiandra,

__ADS_1


“dari data yang aku dapatkan, setiap kasus yang menyeret nama target berakhir tanpa ada kejelasan pasti” ujar Kiandra, monitor di depan Kiandra memperlihatkan beberapa kasus dan monitor lain menampilkan berita dari surat kabar.


“kenapa bisa begitu nona Kia?” tanya Jason penasaran dengan penjelasan Kiandra.


“ semua yang menangani kasusnya berakhir...” Kiandra mengodekan tangannya membentuk garis melintang di leher jenjangnya. Salah satu monitor Kiandra


Luna dan Jason mengerti dengan apa yang di maksud oleh Kiandra, mata Luna terus memperhatikan beberapa surat kabar di mana beberapa petugas kepolisian, hakim dan jaksa penuntut umum yang menghilang atau di temukan sudah tidak bernyawa.


“ sudah waktunya dia di kirim ke sana...” ujar Luna sambil tersenyum smirk, Kiandra masih terlihat bimbang dan khawatir dengan email spam itu. Perubahan raut wajah Kiandra di ketahui oleh Luna yang menatap ke arahnya,


“Kenapa Kia? Apa ada sesuatu yang mengganggu kamu?” tanya Luna pada Kiandra yang tengah memeriksa sesuatu.


“email ini spam, tentunya uang untuk misi ini hanya fiktif. Kamu yakin akan mengambil misi ini?” tanya Kiandra membuat Luna berpikir sejenak.


“demi kemanusiaan, sampah seperti dia harus di buang ke alam sana” ujar Luna tersenyum smirk menatapi foto pria itu. Begitu pun Kiandra yang tersenyum penuh makna, Jason menatap lama foto pria yang menjadi target Luna.


“Hampir lupa, Kia kamu selidiki orang di belakang hacker ini. Setelah tahu siapa orangnya, aku akan dengan senang hati memperhitungkan semua biayanya” ujar Luna tersenyum manis semanis gula, Kiandra mengacungkan ibu jari pada Luna.


***


“tuan Simon, aku melihat perusahaan mu begitu besar dan maju. Tapi, kenapa uang milikku sama sekali belum kembali?” Bobby menatap tajam ke arah Simon.


“tu... tuan Bobby.... uang anda sudah aku siapkan hanya saja... “ ucapan Simon tergantung saat semua ide muncul di benaknya. Bobby menatap heran ke arah Simon yang terdiam sejenak,


“hanya saja?” Tanya Bobby menatap Simon.


Melalui tangan rentenir ini aku akan memberi pelajaran pada pemuda sombong dan arrogant itu juga keluarga Willson, tua bangka itu sudah berani-beraninya mengabaikan ku. Sekarang saatnya untuk membuat kalian menangis darah gumam Simon dalam hati sambil tersenyum smirk membuat Bobby semakin heran. Anak buah Bobby bereaksi saat bos mereka di remehkan oleh Simon, salah satu dari mereka segera mengambil tindakan


Braaaakkk.... Praaang....

__ADS_1


“Beraninya kau mengabaikan pertanyaan bos kami” ujar salah satu anak buah Bobby memukul meja kaca hingga membuat pecah. Anak buah Bobby lainnya mulai meraih senjata yang mereka sembunyikan di balik jas mereka,


“buk.. bukan begitu maksud saya tuan Bobby... Tolong dengarkan dahulu penjelasan saya” ujar Simon berusaha untuk menenangkan Bobby dan anak buahnya. Sekretaris dan asisten Simon terkejut mendengar suara gaduh dari dalam ruang kerja Simon, mereka berdua baru saja kembali mengantarkan para petinggi perusahaan segera masuk ke ruang kerja dan terkejut saat melihat anak buah Bobby mengancungkan senjata ke arah Simon.


“tuan besar...” ujar mereka serentak terhenti dengan kodean tangan Simon untuk tidak ikut campur.


“tuan Bobby, tolong anda dan anak buah anda tenang.... Sebenarnya saya ingin meminta bantuan anda,” ujar Simon berusaha bersikap tenang, Bobby menatap tajam ke arah Simon. Dia lalu memberikan kode mata ke arah anak buahnya untuk tenang, para anak buah segera bersikap tenang dan menyimpan kembali senjata milik mereka.


“meminta bantuan ku? Tentunya harga dari bantuan itu tidak sama dengan nilai hutangmu” ujar Bobby tersenyum smirk, Simon ikut menarik nafas dan membuangnya perlahan, melihat ke arah asisten dan sekretarisnya yang masih berdiri dalam ruang kerja depan pintu masuk. Dia mengode dengan mata dan sedikit gerakan kepala untuk menyuruh mereka keluar dari ruang kerja Simon.


Mereka berdua sejenak membungkukkan tubuh sedikit memberi hormat lalu keluar dan menutup pintu ruang kerja itu kembali, sebelah alis Bobby terangkat ke atas saat Simon mengeluarkan sebuah foto gadis cantik yang tidak lain adalah adik Leon Kaila.


“ tentu saja Tuan Bobby, harga dari bantuan ini akan aku bayar tiga kali lipat jika anda berhasil menculik gadis ini” ujar Simon menunjuk pada foto yang terletak di atas meja.


Foto Kaila itu di ambil secara diam-diam oleh anak buah Simon, awalnya dia berniat menyuruh anak buahnya untuk menculik Kaila.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2