Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 174


__ADS_3

Apakah ini kesempatan bagiku untuk mengungkapkan isi hati ini? Gumam Matthew dalam hati, dia menatap wajah Luna dari sisi samping yang tergambar jelas rasa benci pada Leon.


Matthew membulatkan tekad dan memberanikan diri untuk berbicara jujur pada Luna tentang perasaannya,


“Luna... aku... (menghirup udara lalu melepaskan perlahan) aku “ Matthew sejenak terdiam berusaha mengumpulkan keberaniannya, Luna masih terdiam menunggu Matthew untuk berbicara. Raut wajahnya terlihat kebingungan dengan sikap Matthew yang masih memeluknya dari belakang,


“Luna.... aku tahu ini bukan waktu yang tepat tapi...(membulatkan tekad) Luna... aku hanya pria biasa yang memiliki banyak kekurangan dan mungkin tak pantas mengharapkan cintamu. Namun aku akan berusaha untuk menjadi terbaik, seseorang yang selalu ada untukmu dan akan selalu mencintaimu. Maukah kamu memberikan kesempatan untukku mengisi hati mu?” ujar Matthew masih memeluk tubuh Luna dari belakang, perempuan cantik itu dapat merasakan debaran detak jantung yang berdetak dengan cukup keras.


“Matthew.... aku... “ Luna terdiam dengan perasaan yang tidak menentu, perasaannya saat ini masih tersisa sedikit untuk Leon. Namun perasaan itu kalah di saat kebencian serta amarah menguasai hati Luna, diamnya perempuan cantik itu memberi jawaban dari pertanyaan Matthew yang perlahan melepaskan pelukannya.


“aku mengerti... kamu butuh waktu. Aku akan menunggu di saat kamu sudah bisa menjawab pernyataanku... “ Ujar Matthew dengan wajah tertunduk hendak melangkah meninggalkan Luna, langkah pria tampan itu terhenti saat tangannya ada yang menahan.


Mata Matthew menatap ke arah tangan Luna yang memegangnya,


“Maafkan aku Matthew... aku... aku tidak bisa menjawab perasaanmu saat ini, aku... “ ucapan Luna terhenti saat jari telunjuk Matthew menyentuh bibirnya, kedua tangan pria tampan itu menempel di pipi Luna yang putih kemerah – merahan.


Luna memberanikan diri menatap ke arah mata Matthew yang menatapnya penuh kelembutan dan rasa cinta,


“aku mengerti Luna, sampai saat waktunya tiba aku akan sabar menanti jawaban darimu” ujar Matthew sambil tersenyum hangat, Luna sejenak memejamkan matanya merasakan kehangatan dari tangan pria tampan di hadapannya.


Perlahan kepala Matthew mendekat ke arah kening Luna lalu mengecupnya lembut, seketika mata Luna terbuka lalu menatap ke arah Matthew yang balas menatapnya lembut serta tersenyum manis.


“sebaiknya kamu masuk sekarang, karena udara semakin dingin. Kamu bisa terkena flu nantinya” ujar Matthew mengusap – usap lembut lengan Luna, dengan patuh perempuan cantik itu melangkah masuk kembali ke kamar.

__ADS_1


Matthew dengan senantiasa menemani dan membantu Luna untuk kembali ke atas ranjang, tidak lupa dia menutup pintu kaca yang menuju balkon kamar. Remote ac di tekan oleh Matthew yang langsung menyalakan pada mode penghangat agar Luna merasa tidak kedinginan, setelah memastikan Luna nyaman dia perlahan keluar dari kamar itu.


Aku tahu kamu saat ini sangat terluka Luna, aku berharap dengan seiring berjalannya waktu aku bisa mengobati luka di hatimu. Aku juga Berharap kamu selalu bahagia meski suatu saat nanti kamu memutuskan untuk kembali pada Leon... gumam Matthew menatap ke arah ranjang di mana Luna tengah beristirahat, dia lalu melangkah dengan hati – hati keluar dari kamar.


*******


Lima tahun kemudian....


Seorang anak perempuan berumur lima tahun tengah berlarian di bandara international negara GV, anak perempuan itu terlihat imut dengan rambut panjang yang di kuncir dua.


“nona.... Nona Hyuna.... tunggu...” terdengar panggilan suara seorang perempuan yang mengenakan pakaian seragam mencirikan seorang maid, perempuan itu tampak berusaha mengejar gadis cilik yang berlari ke sana kemari.


Berkali – kali gadis cilik itu menabrak beberapa orang yang berlalu lalang pada terminal kedatangan di bandara itu,


Para pengujung sama sekali tidak mempermasalahkan Hyuna yang berlarian, mereka tersenyum gemas saat


“Kejal... Kejal.... Hehehehehe” gadis kecil itu berlarian dengan semangatnya membuat maid itu kewalahan.


Hyuna mengalihkan tatapannya ke arah belakang di mana maid sejenak berhenti untuk mengatur nafasnya, setelah merasa tenaganya cukup maid itu kembali mengejar Hyuna yang berlari senang. Tanpa di sadari gadis cilik itu tepat di depannya berdiri seorang perempuan setengah baya tengah berdiri sambil memperhatikan ponsel di tangannya.


Brruuuk....


Hyuna menabrak kaki perempuan itu dan jatuh terduduk di lantai, perempuan itu langsung mengalihkan tatapannya ke arah anak kecil yang terduduk di lantai.

__ADS_1


“ah... Are you okay? (ah... Kamu tidak apa – apa?) “ ujar perempuan itu yang ternyata adalah Anita, dia segera bersimpuh berusaha membantu Hyuna berdiri lalu membersihkan pakaian dengan tangannya.


“solly gandma (Maaf nenek) “ ujar Hyuna dengan membungkukkan tubuhnya meminta maaf lalu berdiri dengan sikap sempurna. Seketika mata Anita tercenung saat melihat wajah imut Hyuna, sekilas wajahnya terlihat seperti Leon saat masih kecil.


Maid langsung menghampiri dan memegang pundak Hyuna sambil melakukan tindakan yang sama dengan gadis cilik itu,


“Sorry, ma'am.... Young Miss have bumped into you. Miss, come on, apologize (Maaf, nyonya.... Nona saya sudah menabrak anda. Nona ayo minta maaf) “ ujar maid mengajarkan Hyuna untuk meminta maaf. Hyuna hendak membungkukkan tubuhnya namun segera di cegah oleh Anita,


“Don't darling... I'm fine... I'm even worried about her... Are you okay darling? (jangan sayang... Aku tidak apa – apa.... Aku malah mengkhawatirkannya ( menatap ke arah Hyuna) apa kamu tidak apa – apa sayang?) “ tanya Anita membelai wajah imutnya.


“cit's oke, gandma (Tidak apa – apa nenek) “ ujar Hyuna dengan suara cadelnya membuat Anita semakin jatuh hati pada gadis cilik itu, Raymond di temani beberapa body guard segera menghampiri saat melihat Anita yang bersimpuh di depan seorang gadis cilik.


Mata Raymond juga melihat ke arah belakang gadis kecil di mana beberapa pria dan perempuan bersetelan ikut menghampiri, tepat di depan para orang itu melangkah seorang anak laki – laki dengan mengenakan setelan kasual.


Mereka datang bersamaan dan berkerumun tepat di dekat Hyuna, Anita juga Maid,


“istriku, kamu tidak apa – apa?” tanya Raymond khawatir, saat sedang berbicara dengan beberapa petugas bandara sekilas dia melihat dari kejauhan apa yang menimpa istrinya.


“aku tidak apa – apa (menatap ke arah Hyuna) suamiku, apakah kamu melihatnya?” tanya Anita pada Raymond lalu mengalihkan pandangan ke arah kedua anak kecil itu.


“Hyuna, are you okay? (Hyuna kamu tidak apa – apa?) “ tanya anak laki – laki itu memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki, mata Anita semakin terpana saat melihat wajah anak laki – laki itu yang begitu mirip dengan Leon saat masih kecil.


“suamiku, apa kamu melihatnya? “ tanya Anita pada Raymond yang juga termenung menatap ke dua anak kecil kembar itu.

__ADS_1


“mereka berdua... Mereka terlihat sangat mirip dengan Leon” ujar Raymond terus menatap tanpa berkedip.


__ADS_2