
Ternyata hiasan kristal itu juga menarik perhatian Anita yang juga tengah berbelanja pada tempat yang sama, untuk menghadiri acara esok hari Anita bermaksud membelikan hadiah pertemuan untuk Baron dan sekeluarga.
“hiasan ini sangat cantik, bagaimana menurutmu Kaila?” tanya Anita, matanya menatap ke arah hiasan kristal yang sedang di bungkus rapi oleh karyawan.
“hmmm bagus mom, (tersenyum dalam hati) tapi sepertinya sudah ada yang mengambil hiasan itu duluan” ujar Kaila menatap ke arah karyawan itu.
“aduuh sayang sekali, padahal hiasan itu bagus banget” ujar Anita sedih.
“what Mom?! Are you serious right now?!”
“Lah memangnya kenapa?!”
“Mooom... Hiasan kristal di rumah udah banyak banget. Mommy tau Kaila musti sering pake kaca mata hitam agar ni mata nggak kesilauan, trus mommy sekarang mau nambah koleksi lagi. Bisa-bisa tamu-tamu yang datang ke rumah wajib pake kaca mata hitam biar mata mereka nggak pedih” protes Kaila yang tidak senang jika Anita membeli hiasan kristal, Dia teringat dengan hiasan kristal yang menghiasi setiap sudut rumah utama.
“Tapiiii.... hiasan itu bagus bingits, dan lagi mommy mau menghadiahkannya pada istri tuan Baron” ujar Anita dengan raut wajah sedih.
“maksud mommy, mau ngasih hiasan itu pada neneknya kak Luna?”
“ hmmm hmmm “ Anita menganggukkan kepalanya, Kaila menghela nafas panjang lalu menatap ke arah Anita.
“ya udah Mom, gi mana kalo kita nego ama yang membeli hiasan kristal itu? Siapa tahu dia mau membantu kita” ujar Kaila memberi ide pada Anita yang langsung menatapnya dengan berbinar-binar.
Mereka bergegas bertanya pada karyawan itu yang langsung menunjuk ke arah dua orang Tetua yang membelakangi, Anita dan Kaila segera menemui para tetua itu.
“Maaf permisi tuan dan nyonya” Anita menyapa dengan ramah para tetua itu. Baron dan Soo He membalikkan badannya menatap ke arah Anita juga Kaila.
“Ternyata dunia sudah begitu sempit, kita malah bertemu di sini lagi nyonya Anita, Kaila” sapa Baron ramah yang langsung di balas oleh Anita juga Kaila dengan senyuman, Soo He langsung melayangkan tatapan penuh tanda tanya pada suaminya. Tatapan itu di mengerti oleh Baron yang langsung memperkenalkan Anita dan Kaila,
“Soo He, perkenalkan dia nyonya Anita istri dari tuan Raymond Willson. Calon besan kita” Baron memperkenalkan Anita pada Soo He yang langsung tersenyum senang, bahkan Soo He memeluk Anita dengan hangat.
“senang sekali aku bisa bertemu dengan anda nyonya Anita, Luna dan suami saya sudah bercerita banyak tentang pertemuan kemarin” ujar Soo He perlahan melepaskan pelukannya.
“saya juga sangat senang bisa bertemu dengan anda, o ya nyonya perkenalkan ini putri tunggal saya Kaila” Anita memperkenalkan Kaila pada Soo He. Dengan lembut Soo He menggenggam tangan Kaila sambil menepuk lembut, pertemuan tidak terduga itu berlanjut dengan acara makan siang bersama di sebuah restoran.
Kaila meraih ponselnya yang tersimpan dalam tas, dia segera menghubungi Leon memberi tahu tentang pertemuan mereka dengan kakek dan nenek Luna. Panggilan pertama Kaila sama sekali tidak di gubris oleh Leon,
“iiiss... kebiasaan deh kak Leon, padahal Kaila mau ngasih kabar bagus buat dia” gerutu kesal Kaila membuat Baron, Soo He dan lainnya menatap ke arahnya, gadis manis itu menjadi salah tingkah saat di tatap oleh semua orang.
__ADS_1
“hehehe... maaf semuanya...” ujar Kaila canggung, mereka semua serentak tertawa berbarengan membuat wajah gadis manis itu bersemu merah.
“Kaila... Kaila... , kamu ini ada ada saja. kamu lupa tabiat kakak mu saat sibuk dengan pekerjaannya?” ujar Raymond.
“Kaila ingat Dad, hanya saja Kaila ingin mengabari Kak Leon kalo kita akan ke kediamannya ojisan hari ini” ujar Kaila berencana mengirim pesan pada Leon, Baron menatap ke arah Kaila.
“Kaila”
“Iya ojisan”
“kamu hubungi Leon, biar ojisan yang berbicara dengannya” ujar Baron yang langsung di kerjakan oleh Kaila.
Di saat ini di ruang rapat perusahaan Alden,
“Ojisan?!”
Leon tertegun saat mendengar suara Baron di seberang sana,
“apa aku mengganggumu?”
“kamu tidak harus minta maaf dan lagi kamu tentunya tidak tahu jika aku yang akan berbicara. Aku akan langsung saja....” Baron memberi tahu Leon perihal rencana mengajak keluarga Willson ke kediaman utama hari ini.
Leon tersenyum senang mendengarnya, Baron juga menyampaikan pada Leon jika Alberto yang akan mengantarnya ke kediaman utama. Alex termenung saat menatap Leon yang terus menerus tersenyum, senyuman yang sangat jarang bahkan nyaris tidak pernah terlihat.
Suasana hati tuan muda sepertinya sedang senang, yesss... bisa pulang cepat buat ketemu ama Dion gumam Alex dalam hati tersenyum senang dan tertangkap basah oleh Leon yang menatap ke arahnya.
“kenapa kamu tersenyum seperti itu? (menatap heran) apa pekerjaanmu sudah selesai?” ujar Leon membuat senyuman di wajah Alex menghilang cepat.
“maaf tuan muda, segera saya akan menyelesaikannya” ujar Alex hendak melangkah keluar dari ruang rapat.
“tunggu?!” panggil Leon membuat Alex melihat ke arahnya.
“Iya tuan muda, apakah ada hal lainnya?”
“kamu ke toko ini sekarang juga, ambil pesananku” Leon menyerahkan secarik kertas pada Alex yang langsung di lihat olehnya. Mata Alex berbinar-binar saat melihat apa yang tertulis di secarik kertas itu,
“secepatnya kamu bawa barang ini kemari, dan beritahu pada receptionis untuk mengantar pria bernama Alberto ke ruanganku”
__ADS_1
“baik tuan muda, saya permisi” ujar Alex membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Leon.
Alex melangkah keluar dari ruang rapat dan segera menjalankan perintah dari Leon, dia bergegas menuju lift dan menekan tombol pada dinding lift itu.
***
Kiandra menuruni anak tangga dan bergegas menuju ruang tamu di mana Luna berada, dia pun berpapasan dengan Anne yang baru saja mengantar minuman.
“nona Kiandra” sapa Anne ramah sambil membungkukkan tubuhnya. Kiandra membalas dengan tersenyum manis padanya, dia pun menganggukkan kepala lalu bergegas menuju ruang tamu.
“sorry baby, aku lama ya” ujar Kiandra yang langsung di tatap oleh Luna, Matthew dan Ian.
“Ooopsss, sorry... “ Kiandra salah tingkah dan langsung duduk pada sofa samping Luna yang hanya menggelengkan kepalanya, Luna lalu mengambil cangkir teh yang berada di hadapan.
Luna meminum teh yang ada di tangannya dan mengabaikan Kiandra yang masih menebar senyumannya, Mata Kiandra terbuka lebar saat melihat ke arah Matthew.
“eh Lun bukannya dia yang baru saja .... hhhmmppp... ” ucapan Kiandra terhenti saat Luna dengan cepat menempelkan cangkir teh ke bibir Kiandra.
“Kia teh ini enak banget, kamu cobain deh” ujar Luna memaksa Kiandra untuk mencoba tehnya, senyuman iblis yang terlihat seperti malaikat tersungging di bibir Luna. Terpaksa Kiandra menenggak teh itu dengan tatapan kesal dan marah,
dasar iblisss.... gumam kesal Kiandra dalam hati. Luna membalas dengan tatapan dan senyuman jahil pada Kiandra, keakraban mereka menjadi perhatian bagi Matthew dan Ian.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1