Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 120


__ADS_3

Ponsel milik Simon bergetar di atas meja tepat di samping tangan kanan Bobby, matanya menatap tajam dan membiarkan ponsel itu terus berdering. Anak buah lainnya tampak memukul-mukulkan tongkat bisbol ke lantai yang berdebu,


Tang...tang... tang...


Suara dentangan tongkat bisbol itu perlahan membuat Simon tersadar dari pingsannya, perlahan-lahan matanya terbuka lalu melihat ke sekeliling area itu. Kepala Simon terasa sangat pening dengan wajahnya tampak memerah, aliran darah seakan berkumpul di kepalanya.


“kenapa kalian semua terlihat terbalik?” ujar Simon berusaha untuk menggerakkan tangannya yang terikat.


“ finally, bos putri tidur sudah terbangun dari tidur panjangnya” sindir anak buah melihat ke arah Simon yang melihat ke sekelilingnya.


“ di mana ini? Si... siapa kalian?!” tanya Simon dengan wajah panik.


“ternyata putri tidur ini bisa takut juga, Bos. Dia bahkan lupa dan mempertanyakan siapa kita” ujar anak buah lainnya menertawakan Simon.


Mata Simon terbuka lebar saat melihat salah satu di antara pria bersetelan hitam yang di kenalnya,


“ka... ka... kamu...” Simon terbata-bata saat melihat tangan kanan Bobby.


Pria itu tengah mempermainkan butterfly knife dengan sangat mahir dan menatap tajam ke arah Simon.


“ tidak perlu berbasa-basi lagi, katakan siapa yang lu suruh buat habisin bos besar kami?” tanya tangan kanan Bobby langsung pada intinya. Para anak buah lainnya dan Simon menatap heran ke arah tangan kanan Bobby, mereka kebingungan dengan pertanyaan yang di lontarkan olehnya.


“apa maksud kalian?” ujar Simon.


“ nggak usah lu bertele-tele, sebutkan nama orang yang sudah bunuh bos besar kami. Lu kira gua kagak bakalan tahu kalo lu make tangan orang lain untuk membungkam bos kami?” tangan kanan Bobby berdiri dari kursi yang di dudukinya, dia menghampiri Simon memperlihatkan beberapa pesan yang datang dari bos besarnya.


Saat Bobby masih hidup dia sangat curiga dengan rencana yang di atur Simon, dia pun memperingati tangan kanannya untuk terus mengawasi gerak-gerik Simon. Dia bahkan berhasil menangkap Hacker wannabe bayaran yang di perintahkan Simon, namun Bobby tidak menyangka jika hacker itu sangat setia pada Simon dan bertindak nekat dengan menghabisi nyawanya sendiri.


Simon terdiam dengan raut wajah yang terlihat sangat ketakutan, tangan kanan Bobby memegang butterfly knife lalu menempelkannya di dada bagian atas di bawah tulang selangka Simon yang terlihat.

__ADS_1


“lu mau bicara atau...” tangan kanan Bobby langsung menusuk pada bagian di mana pisau itu menempel.


“Aaaaaakkkhhhh” terdengar teriakan kesakitan dari Simon, Tangan kanan Bobby tersenyum smirk menatap Simon yang berteriak dengan sangat keras.


“breng**k kalian semua, beraninya kalian memperlakukan ku seperti ini.... Aaaaakkkkhhh...” ujar Simon kembali berteriak saat tusukan dari butterfly knife itu menancap lebih dalam. Darah sudah membasahi leher, wajah serta rambut dan menggenang di lantai gudang.


"udah mau mat* masih si rubah tua menunjukkan taringnya, kayaknya musti di kasih pelajaran biar dia tahu berhadapan dengan siapa" ujar anak buah lain yang merasa kesal dengan ucapan Simon. Tangan kanan Bobby berjongkok tepat di depan Simon,


“lebih bagus lu segera kasih tahu, siapa pembunuh yang lu bayar sebelum lu gua kirim buat menemani bos besar kami di alam sana” ujar Tangan kanan Bobby merasa tidak sabar. rasa sakit yang di rasakan Simon memaksa untuk mengatakan kebenarannya,


“Oke... Oke... aaakhhh... aku.. akuu... aku akan bicara, Pembunuh bayaran itu... hanya hacker itu... hacker itu yang tahu. Dia mengirim... email pada akun email tertentu di laptop miliknya... aaaakhhh...” ujar Simon merasakan dengan terbata-bata berusaha menahan rasa sakit, sebelah wajahnya sudah menjadi aliran darah yang keluar dari bekas pisau itu.


Anak buah Bobby segera menyuruh temannya yang mengerti tentang IT, dia segera membuka laptop milik hacker itu dan mencari email yang di maksud oleh Simon. Tangan kanan Bobby menarik pisau yang tertancap itu dari tubuh Simon, seketika darah mengucur lebih deras dari sebelumnya.


“aaaaakhhh.....” kembali terdengar teriakan keras dari Simon. Tangan kanan Bobby meraih sapu tangan sutra yang menjadi hiasan di saku jas mahal milik Simon, dia mengelap darah yang ada di pisau itu sambil berjalan ke arah anak buahnya yang sedang memangku laptop.


“hacker itu cerdik, dia sudah menghapus bersih semua data yang ada di laptop ini. Tapi tenang bos, gua bisa mengembalikan ini secepatnya” ujar bawahan dari tangan kanan Bobby.


“bagus, secepatnya lu cari informasi pembunuh bayaran itu. Tangan gua udah sangat gtal buat ngabisin orang suruhan rubah ompong ini” tangan kanan Bobby menatap ke arah Simon yang sudah terlihat melemah.


“sudah saatnya lu gua kirim untuk bertemu dengan bos besar kami” ujar tangan kanan Bobby mengode kepada anak buah lainnya untuk bertindak. Mereka semua menyeringai senang dan mulai melaksanakan perintah, dengan membabi buta mereka menyiksa Simon tanpa ampun. Terdengar kembali teriakan Simon yang menyayat dan menggema di gudang itu, suara teriakan itu perlahan-lahan melemah seiring dengan nafasnya yang sudah tidak beraturan.


“bos” panggil salah satu dari mereka pada tangan kanan Bobby yang duduk santai pada sofa bekas dalam gudang itu. Mata tajamnya menatap dingin ke arah tubuh Simon yang terayun ke kanan dan ke kiri,


“kalian singkirkan dan bersihkan semuanya dengan rapi. Buat seolah-olah kecelakaan dan ledakan yang besar hingga ke duanya tidak bisa di identifikasi lagi” perintah tangan kanan Bobby.


“baik bos” para anak buah memberi hormat dan segera melaksanakan perintah bos mereka, Simon terlihat sangat lemah. Pandangannya mengabur perlahan-lahan mulai menggelap, para anak buah tangan kanan Bobby membagi-bagi tugas agar pekerjaannya mereka selesai dengan cepat.


Simon di masukkan ke dalam mobil mewah miliknya. Dia di dudukkan dengan baik di bangku belakang bagian penumpang, supir Simon yang sudah tidak bernafas lagi di dudukkan di bangku penumpang samping kemudi. Salah satu anak buah tangan kanan Bobby duduk di belakang kemudi, dia lalu menyalakan mesin mobil mewah itu dan melajukan menuju ke sebuah jalanan yang memiliki jurang tebing di setiap sisinya.

__ADS_1


***


Para pekerja baru berdiri mematung dan terkejut saat melihat para binatang buas yang mengelilingi Luna, mereka semakin terkejut saat melihat adegan selanjutnya.


“apa aku tidak salah lihat? Para binatang itu...” ujar dari salah satu pekerja yang terlihat masih melongo takjub


“tidak... kita semua tidak salah lihat, pasti ini di dunia mimpi” ujar pekerja lainnya.


Para binatang buas itu merebahkan tubuh mereka dengan manja mengelilingi Luna, Black panther masih memperlihatkan taringnya pada Luna seakan memberi tahu pada gadis cantik itu betapa dia bahagia bisa bertemu dengan tuannya. Black panther itu langsung berbaring manja dan bertingkah layaknya kucing rumahan, senyuman manis tersungging di wajah cantik Luna saat bertemu dengan binatang kesayangannya.


“Ratuuu.... aku sangat senang bertemu denganmu, bagaimana kamu di sini? Apa ojisan memperlakukan kamu dengan baik di sini? Hmmm” ujar Luna mengajak bintang buas kesayangannya berbicara. Seakan mengerti dengan apa yang di katakan tuannya, black panther bernama Ratu itu melihat ke arah Baron dan lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Luna.


Ratu terlihat menggeram seakan menggerutu kesal dan bertingkah manja pada tuannya, Luna tahu jika black panther kesayangannya sedang mengeluh. Cheetah yang berbaring di sisi kiri Luna bangun, dia berlari-lari kecil di seputaran Luna sambil kepalanya mengelus lembut pada tubuh gadis cantik itu.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2