
Leon lalu memberi aba-aba pada waiter untuk menyediakan menu makanan yang sudah di pesan sebelumnya, para waiter menghidangkan makanan dengan berbagai macam alat makan yang di susun sedemikian rupa di atas meja itu.
Tampak di antara waiter yang sedang menghidangkan makanan seorang waiter memakai seragam berbeda, perbedaan seragam itu menandakan tingkat level pekerja di sana. Waiter yang memakai seragam berbeda itu adalah senior yang bertugas untuk melayani tamu penting, waiter senior itu tidak sengaja melihat ke arah Luna dan hendak menyapanya. Namun dengan koedan mata dari Luna membuat waiter senior itu diam dan memilih mengabaikannya, Kiandra yang menyaksikan dari CCTV menghela nafas lega saat waiter senior itu langsung berlalu pergi.
“A sigh.... Untung aja dia bisa kerja sama, waduh Lun... ini sangat menegangkan dari pada ketemu hantu atau Ratu” keluh Kiandra memegang dadanya merasakan jantungnya sedang berolah raga keras. Luna hanya bisa tersenyum menanggapi keluhan Kiandra yang terdengar olehnya.
Semua makanan sudah terhidang di atas meja, Raymond memulai terlebih dahulu tanpa berbasa-basi pada Luna. Anita melihat sikap dingin Raymond hanya bisa tersenyum canggung pada Luna,
“semoga kamu suka dengan menu makanannya ya Luna” ujar Anita mempersilahkan Luna untuk makan.
“ terima kasih nyonya” ujar Luna mulai meraih alat makan yang tepat untuk makanan yang di hidangkan.
“Lunaaa, kamu sudah berpacaran dengan Leon itu berarti kamu adalah calon menantu kami. Mulai sekarang kamu harus membiasakan memanggil mommy” ujar Anita pada Luna membuat Raymond yang tengah menikmati makanannya tersedak.
“huk... Uhukk.... Uhukkkk” Raymond terbatuk-batuk segera di bantu Leon dengan memberi segelas air putih padanya.
“Aduh dad... Daddy bukan anak kecil lagi, masak makan bisa tersedak gini” Anita ikut membantu dengan memberikan tisu untuk Raymond.
“Anda baik-baik saja, tuan?” Luna menatap ke arah Raymond.
“Ehemmm heemmm aku baik-baik saja” ujar Raymond kembali pada sikapnya yang dingin.
Acara makan malam kembali di lanjutkan, tanpa di sadari keluarga Willson juga Luna di seberang meja Hana dan Simon tengah memperhatikan mereka.
Tangan Hana terkepal kuat menahan gejolak amarah, iri dan dengki di hatinya,
Breng**k saat aku masih bertunangan dengan Leon sikap mereka sangat dingin dan cuek, giliran pelakor itu mereka menyambutnya dengan sangat baik juga terkesan hangat. Ini tidak bisa di biarkan gumam Hana sangat kesal, kekesalan Hana menular pada Simon yang terlihat menggenggam erat pisau steak yang di pegangnya sedari tadi.
Arah mata pisau steak itu mengarah ke atas, wajah Simon terlihat sangat tidak bersahabat. Kolega yang duduk bersama mereka pun terlihat sedikit cemas dan takut,
“Is there a problem Mr Simon with what we have to offer? ( ada masalah tuan Simon dengan apa yang kami tawarkan?)” tanya kolega itu pada Simon yang langsung mengalihkan pandangannya.
“oh no....no...no sir, what you have to offer is very interesting. Of course I agree with your offer ( oh tidak.... tidak... tidak tuan, apa yang anda tawarkan sangat menarik. tentu saja saya setuju dengan penawaran anda)” ujar Simon, raut wajahnya seketika berubah menjadi sosok yang ramah.
__ADS_1
Perubahan dari sikap Simon yang signifikan hanya di sambut senyuman canggung oleh kolega itu, mereka pun kembali menikmati makanan yang ada di atas meja.
Hana terlihat sangat kesal dia akan bangkit dari tempat dia duduk,
“Ini nggak bisa di biarkan” bisik Hana pada diri sendiri. Putra kolega itu menatap ke arah Hana dengan pandangan heran,
“what's wrong miss hana? ( Ada apa nona Hana?)” tanya putra Kolega itu penasaran.
“no....nothing, maybe Hana saw her college friend and wanted to say hello. right Hana? (tidak.... tidak ada apa-apa, mungkin Hana melihat teman kuliahnya dan hendak menyapa. benarkan Hana?)” ujar Simon yanh tahu jika saat ini Hana tengah merasa marah dan kesal, perubahan raut wajah Hana menjadi perhatian bagi anak dari kolega itu.
Dia hendak bertanya kembali pada Hana yang kembali duduk di kursi dengan perasaan marah, tapi tanpa sepengetahuan mereka di bawah meja Simon memegang tangan Hana dengan erat berusaha untuk meredam kemarahan putrinya.
Simon tersenyum sambil sedikit menarik tangan Hana untuk mendekat ke arahnya,
“Tahan amarah mu sayang, papi tidak ingin kerja sama yang sudah susah payah di dapat berakhir dengan kegagalan. Jangan sampai ada kesalahan” bisik Simon.
“Tapi pi...” Hana tidak bisa menahan diri.
Mendadak seluruh tubuh Luna bergidik merinding, dia melihat ke segala arah untuk memastikan sesuatu. Leon menatap Luna yang duduk di sampingnya,
“kenapa sayang?” tanya Leon, sebelah tangannya menggenggam tangan Luna.
“tidak ada apa-apa sayang,” ujar Luna menggelengkan kepalanya, sejenak dia menatap ke arah Raymond yang masih bersikap dingin.
Kiandra yang berada di ruang kerjanya tengah mengawasi CCTV di mana pada layar monitor menampilkan target Luna yang baru saja datang, target Luna tengah masuk ke dalam restoran yang sama dengannya.
“Lun, target udah menampakkan batang hidungnya” ujar Kiandra memberitahu Luna yang langsung menatap ke arah pintu masuk restoran. Mata Luna terus mengawasi pergerakan Target yang melangkah masuk, di temani oleh waiter target Luna melangkah menuju ruang khusus.
Leon menatap Luna yang sedang menatap ke arah lain,
“sayang, kenapa?” tanya Leon penasaran melihat ke arah Luna menatap.
“ tidak ada apa-apa, aku pikir sepertinya aku mengenal seseorang. Tapi sepertinya bukan” ujar Luna melanjutkan menyantap makanannya.
__ADS_1
“o ya Luna, mommy dengar dari Leon kamu tengah menyusun skripsi, berarti sebentar lagi kamu akan lulus ya. Lalu apa rencana kamu selanjutnya? Kalo kamu mau bekerja untuk mencari pengalaman, bekerja saja di kantor Leon” ujar Anita sambil menyuap makanan miliknya ke mulut, Raymond sangat tidak senang mendengar ide dari istrinya.
“ hmmm. Itu tan...” belum selesai Luna berbicara Leon sudah terlebih dahulu berbicara.
“Luna tidak mungkin bekerja di perusahaan kita Mom” ujar Leon santai sambil menikmati minuman yang tersedia,
“Loh, kenapa?” kening Kaila berkerut mendengar perkataan Leon.
“Iya Leon, bukankah bagus jika Luna bisa mencari pengalaman di kantor kamu. Dan lagi kalian bisa terus bersama, bukan?” ujar Anita.
“Kenapa Luna harus mencari pengalaman di perusahaan kita, kalo dia sendiri sudah memiliki dan mendirikan perusahaan sendiri” ujar Leon menggenggam tangan Luna.
“perusahaan sendiri?!” Anita dan Kaila terkejut mendengar ucapan Leon. Raymond tersenyum smirk mendengar pernyataan Leon,
“Perusahaan kecil saja sudah merasa Hebat dan berani untuk menjerat pria kaya. Merasa paling hebat dengan memberi hadiah murahan dan sama sekali tidak bernilai” sindir Raymond membuat Luna menatap ke arahnya langsung. Luuna sejenak terdiam perlahan Senyuman manis tersungging di wajah cantik Luna, Leon mendengar komentar Daddynya hendak membela tapi di cegah oleh Luna yang menggenggam tangan Leon.
fiks... daddy Leon tidak senang dengan keberadaan gue di samping Leon.... gumam Luna dalam hati menatap ke arah Raymond yang masih bersikap dingin dengan Luna.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1