
Mereka semua bergegas menuju belakang rumah sakit di mana Luna yang masih tidak sadarkan diri terbaring di atas bankar dalam sebuah minivan hitam. Orang – orang Baron mengawal dengan sangat ketat agar informasi tentang Luna tidak bocor, dengan hati – hati dan mengawasi setiap sudut mereka memastikan jika semua aman dan tidak ada kamera atau mata yang mengawasi.
Alberto membuka pintu minivan di mana Luna berada, beberapa alat medis dan infus terpasang di sisi lain bankar. Wajah cantik Luna terlihat pucat dengan nafas terlihat sangat teratur, dia terlihat seperti putri tidur yang tengah menanti seorang pangeran untuk membangunkan dari tidur panjang.
Baron menatap wajah Luna yang tertidur pulas, tangan kanannya membelai lembut rambut hitam yang tergerai indah.
“ jaga diri mu baik – baik, Luna“ ujar Baron membungkukkan tubuh untuk mencium kening cucu kesayangannya, setelah itu dia menutup pintu minivan lalu kembali menghampiri Hans.
“hati – hati” ujar Baron sedih.
Hans tahu jika saat ini sahabatnya sangat sedih dan berat melepaskan cucu kesayangannya,
“Kamu tidak perlu khawatir, dia juga cucuku sama dengan Matthew. Kamu tenang saja” ujar Hans memegang lengan Baron.
Mereka lalu melangkah bersama – sama menuju ke mobil mewah yang terparkir di belakan minivan itu, Matthew, Alberto dan Jason mengikuti mereka di belakang. Pintu mobil mewah itu terbuka pada bagian setir, asisten Hans turun dan segera membuka pintu pada bagian penumpang.
Matthew baru menyadari jika sedari tadi dia tidak melihat asisten kakeknya yang selalu senantiasa mengikuti Hans ke mana pun,
“tuan muda” sapa Asisten Hans pada Matthew yang terlihat bingung, dia ingin bertanya tapi pertanyaan itu harus di tahannya.
“apa semua persiapan sudah beres? “ tanya Hans pada asistennya.
“ sudah tuan besar, pesawat juga sudah stand by dan siap berangkat kapan pun” ujar Asisten Hans.
“Baiklah ( menatap ke arah cucunya) Matthew apa kamu mau semobil... “
“aku akan menemani Luna, grandpa” ujar Matthew yang langsung memotong pembicaraan Hans, dia langsung bergegas pergi menuju mobil minivan dan duduk di samping bankar Luna.
Hans tersenyum menatap tingkah laku cucunya, lalu dia kembali menatap Baron yang tengah memperhatikan Matthew.
__ADS_1
“Kamu jangan khawatir, Baron. Luna perempuan cerdas, kuat dan berani, dia akan bisa melewati ini semuanya” ujar Hans mengerti dengan kesedihan Baron.
“ tentu saja, aku yakin akan cucuku... Hanya saja.... Perasaannya.... “ Baron menatap sedih ke arah mobil minivan.
“ lebih baik dia mengetahuinya sekarang dengan seiring waktu berjalan luka itu akan perlahan sembuh, jika Luna terlambat mengetahui segalanya dia akan semakin hancur dan akan sangat sulit untuknya” ujar Hans bijak.
Alberto memperhatikan jam di pergelangan tangannya lalu menghampiri Baron,
“Baron sama, sudah waktunya keberangkatan” ujar Alberto mengingatkan Baron.
“Berhati – hatilah, “ ujar Baron pada Hans yang menganggukkan kepalanya.
Perlahan mobil milik Hans bergerak meninggalkan area belakang rumah sakit di ikuti Mobil minivan, Baron lalu mengalihkan tatapannya ke arah Baron dan Jason.
“ jangan sampai ada kesalahan sedikit pun” ujar Baron tegas dengan kilatan tajam matanya, para bawahan Baron langsung membungkukkan tubuh mereka memberi hormat.
“nona muda akan baik – baik saja, dia bukan nona manja yang akan menangis sedih. kamu tidak perlu khawatir” ujar Alberto pada Jason yang masih menatap ke arah jalan.
“ya... Aku percaya Nona akan baik – baik saja ( teringat dengan Kiandra dan Soo He) apakah Baron sama akan memberi tahu nyonya besar tentang rencana ini? “ tanya Jason mengalihkan pandangannya ke arah Baron yang tampak memberi perintah pada bawahannya yang lain.
“perintah Baron sama, untuk mengelabui musuh kita harus membuat mereka percaya nona muda telah tiada. Cepat atau lambat ‘dia’ pasti akan mengirim orang – orangnya untuk memantau pergerakan kita” ujar Alberto melangkah menghampiri Baron diiringi Jason yang berjalan di sampingnya.
“jika saja satu – satunya milik tuan James tidak di dalam tubuhnya, tentu saja aku sudah mengirim ‘dia’ langsung menemui malaikat maut” ujar Jason tidak senang.
“akan ada saatnya hari itu” ujar Alberto dingin.
Mereka berdua berdiri di hadapan Baron dan membungkukkan tubuh memberi hormat, Baron lalu memberi instruksi pada Jason. Setelah itu Jason langsung berpamitan untuk segera melaksanakan tugas, Alberto menghampiri mobil hitam yang terparkir dan langsung membukakan pintu mobil bagian belakang.
“Bagaimana dengan Reynold? “ tanya Baron sambil masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“ menurut perkiraan saya Kemungkinan besar Reynold sudah sampai di mansion, Baron sama” ujar Alberto sambil perlahan menutup pintu mobil di samping Baron, setelah itu Alberto membuka pintu sisi lain dari kursi pengemudi dan duduk di sana.
Raut wajah Baron terlihat sedih sekaligus bingung memikirkan bagaimana cara untuk memberi tahu Soo He juga Kiandra, dari kaca spion Alberto dapat melihat kegelisahan tuannya.
“ anda tidak perlu khawatir, Baron sama. Aku sudah memberi tahu Reynold untuk menyiapkan segala yang dibutuhkan nyonya besar” ujar Alberto.
Baron menatap ke arah kaca spion yang sama, kepalanya mengangguk perlahan lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil.
*******
Empat hari setelah batalnya pernikahan Leon dan Luna...
Mata Luna perlahan terbuka menatap langit – langit kamar, kembali mata cantik itu terpejam berusaha untuk menyesuaikan dengan sinaran cahaya yang masuk. Terdengar suara nyanyian burung dan semilir angin menerbangkan tirai jendela yang terbuka, Luna memperhatikan keadaan sekeliling kamar.
Di mana ini? Gumam Luna dalam hati bingung saat mendapati diri berada di ruangan yang tidak di kenali, kilasan ingatan terproyeksi di benak saat Leon melepaskan tembakan ke arahnya.
Ceklek... Braak....
Terdengar suara pintu kamar yang terbuka lalu menutup, pandangan Luna otomatis melihat ke arah pintu.
“good morning princess” sapa Matthew tersenyum hangat pada Luna.
“Matthew... “ Luna terlihat bingung menatap Matthew datang dengan nampan di tangannya.
Nampan itu berisi sarapan serta susu yang di buat khusus oleh Matthew untuk Luna, selama tiga hari penuh perempuan cantik itu tidak sadarkan diri. Nampan itu segera di letakkan Matthew di atas nakas samping tempat tidur, tangannya langsung bergerak terulur membantu Luna yang hendak bangun dari rebahannya.
“di mana ini?” Tanya Luna duduk bersandar dengan beberapa bantal di punggung yang di atur oleh Matthew. Pria tampan itu lalu duduk di samping ranjang berhadapan dengan Luna,
“kita sekarang ada di mansion Grandpa di negara GV, lebih tepatnya kampung halaman grand pa. Sebaiknya sekarang kamu sarapan dulu, agar tenaga kamu segera pulih” jelas Matthew sambil mengambil mangkuk yang berisi bubur, tangannya menyendok bubur dan akan menyuapi Luna.
__ADS_1