
“ sudah dengarkan?” Ujar Kiandra yang menyudahi pekerjaannya dan bangkit dari kursi melangkah pergi ke kamar untuk bersiap-siap.
“hmm hmmm...” gumam Luna sambil memperhatikan cermin, maid yang membantu Luna menatap heran pada gadis itu.
Maid itu hendak bertanya pada Luna tapi di cegah Anne yang sedang menatapnya dan menggelengkan kepalanya, tangan kanan Anne terangkat ke wajah dengan jari telunjuk mengetuk di dekat telinga. Maid itu tersadar jika Luna bergumam bukan berbicara padanya, melainkan sedang berbicara dengan orang lain di seberang sana.
Mulut maid itu membulat seperti huruf O saat menyadari telinga Luna mengenakan alat komunikasi, dia kemudian melanjutkan membantu Luna mengenakan flat shoes hitam dengan dekorasi bunga berwarna putih di atasnya. Anne membantu mengeringkan dan menata dengan cantik rambut Luna,
“Jangan lupa transferannya say...” ujar Kiandra dari seberang sana. Gadis berkaca mata itu menaiki anak tangga untuk ke lantai dua, Kiandra teringat dengan pembicaraannya di kamar Luna.
Setelah makan malam kemarin Kiandra tidak kembali ke kamarnya, dia memilih pergi ke kamar Luna untuk membicarakan perihal sahabat Leon yaitu Hugo meminta bantuannya, Luna terdiam sejenak mendengar penjelasan dari Kiandra. Rasa penasaran dan ke kepoan tingkat tinggi di rasakan kedua gadis cantik itu dengan bukti juga temuan penting Leon dan sahabatnya.
Saat ini Luna tengah menatap bayangan dirinya di cermin,
“dengan nominal yang sama” ujar Luna yang tengah memeriksa kelengkapan pakaiannya. Pintu kamar Luna terbuka dengan Kiandra yang masuk ke dalam kamar itu tanpa persimi upss maksudnya permisi, Luna menatap ke arah Kiandra yang memasang wajah cemberut.
“adduuuuh Luuun, tega bener ngasih harga yang sama. Tambahin dikit napa sih Lun? Itung-itung beramal ama kaum jomblowati ini “ keluh Kiandra duduk bersila di atas ranjang Luna, dia melihat Ratu yang sedang rebahan cantik di bangku sofa panjang. Luna menatap dengan sedikit memicingkan matanya, dia membuka ponselnya yang terkunci. Jari Luna menekan salah satu aplikasi di ponsel dan tampak mengetik sesuatu di layar ponsel itu, Kiandra begitu penasaran bangkit dari ranjang lalu menghampiri Luna.
Ponsel canggih itu mengarah ke arah Kiandra dengan foto dari barang yang sangat di inginkan olehnya, mata di balik kaca mata itu berbinar-binar penuh bintang berkela-kelip dengan lukisan senyuman yang terlukis sempurna di bibir gadis manis itu. Sebelah alis mata Luna terangkat ke atas menatap wajah berseri-seri Kiandra, dia hanya bisa menghela nafas saat melihat beberapa pundi uang miliknya berkurang.
“hehehehehe.... thanks my baby little devil” ujar Kiandra memeluk tubuh Luna dari samping. Hidung mancung Luna segera mencium sesuatu yang tidak mengenakkan, aroma yang membuat dirinya merasa tidak nyaman.
“hmmm... Anne ambil pakaiannya dan kenakan pada Kiandra” perintah Luna berusaha menjauhkan hidungnya, dia meminta Anne untuk mengambil pakaian yang sudah di persiapkan Soo He untuk Kiandra.
__ADS_1
“baik Nona besar” ujar Anne, dia lalu menghampiri seorang maid untuk meminta mengambilkan pakaian yang berada di kamar Kiandra.
“udahan meluk akunya, kamu segera mandi sana udah bau asem banget” ujar Luna sudah merasa tidak tahan, Kiandra melepaskan pelukan lalu mengibaskan tangan sebelah kiri ke bagian tubuh sebelah kanan untuk mencium aroma tubuhnya.
“enak aja bilang bau asem, nih bau asem” ujar Kiandra melekatkan tangan kirinya pada ketiaknya lalu mengarahkan ke hidung Luna. Gadis cantik itu segera melakukan gerakan mengelak sambil memutar badannya, gerakan itu sukses membuat Kiandra bergerak melesat ke arah Anne. Karena kurang seimbang kaki kanan Kiandra malah menjegal kaki kirinya membuat dia jatuh tepat ke arah Anne yang berdiri tepat di samping Luna, Mata Anne terbuka lebar saat melihat Kiandra jatuh dan memeluk mad itu.
Brruuughh...
Luna melangkah santai mendekat ke arah sofa panjang yang di duduki Ratu, kucing hitam besar itu bangun dari rebahannya melompat turun dari kursi itu. Dia lalu melakukan peregangan menarik semua otot-otot punggungnya, mulut Ratu terbuka lebar menguap setelah itu lidahnya yang panjang menjilati salah satu kaki depannya.
“aduuuhh .... sorry.. sorry Anne, itu si Luna mendadak aja” ujar Kiandra berusaha berdiri tegak, Anne yang terlatih dengan cakap menangkap dan memegangi tubuh gadis berkaca mata itu.
“tidak apa-apa nona Kiandra, sebaiknya sekarang anda melakukan apa yang di suruh oleh nona besar” ujar Anne dengan sopan. Bibir Kiandra tampak maju ke depan beberapa senti merasa tidak senang,
“maaf nona Kia, bukan begitu maksud saya. Tapi sebentar lagi upacaranya akan di mulai, tuan dan nyonya besar serta tamu yang lain mungkin sudah berada di sana” ujar Anne mengingatkan.
“udah sana cepat kamu mandi, ntar aku tinggal loh” ujar Luna duduk di sofa sambil bermain dengan Ratu. Bergegas Kiandra melangkah menuju kamar mandi di kamar Luna dan melakukan ritual mandinya, sambil menunggu Kiandra selesai Luna membaca email yang baru masuk di ponselnya.
***
Soo He dan Baron tengah duduk tenang sambil mendengarkan pemuka agama melantunkan beberapa doa, mereka berdua mendengarkan dengan tenang. Mata Soo He terlihat sedih memandangi foto yang berada di altar yang sudah di hias dengan baik, ada beberapa makanan juga buah-buahan di atas meja itu.
“Choon Hee... 당신과 제임스가 그곳에서 항상 고요하고 평화롭기를 바랍니다 (Choon Hee... ibu berharap kamu dan James selalu tenang juga damai di sana)” ujar Soo He, matanya terlihat jelas kesedihan yang mendalam menatapi lama foto kedua orang tua Luna. Foto mereka berada tepat di tengah altar dengan papan nama yang bertuliskan nama ke duanya, Alberto dan Jason yang berada di luar ruangan membukakan pintu untuk keluarga Willson.
__ADS_1
Raymond dan lainnya tampak mengenakan setelan hitam dan putih, Leon melihat ke dalam ruangan mencari sosok Luna yang belum terlihat lalu dia masuk ke dalam ruangan itu. Matthew dan kakeknya Hans ikut bergabung masuk ke dalam ruangan itu, Hans menyapa ramah keluarga Raymond yang duduk di sampingnya. Matthew memperhatikan siapa saja yang ada di dalam ruangan itu, dia tidak menemukan sosok Luna di antara yang hadir.
Beberapa tamu undangan mulai berdatangan, ruangan itu sudah mulai penuh dengan para undangan. Leon memperhatikan setiap tamu yang ada, beberapa di antara mereka ada yang di kenal olehnya. Luna, Kiandra dan Ratu menuruni anak tangga lalu melangkah menuju ruang upacara, pelatih Ratu segera mengajak kucing besar itu keluar untuk rutinitasnya.
Luna dan Kiandra melanjutkan langkah mereka menuju ruang tempat upacara, saat mereka berdua masuk semua perhatian tertuju pada mereka berdua. Para pria muda dan tampan terpesona saat melihat Luna yang melangkah tenang menghampiri ojisan dan obachannya.
Upacara itu berlangsung dengan begitu khidmat, Raymond memperhatikan foto yang berada di altar. Semula dia tidak terlalu memperhatikan foto itu, matanya terbuka lebar saat menatapnya. Wajah kedua orang tua Luna terasa tidak begitu asing bagi Raymond, tangan kanan Raymond mengucek matanya berharap apa yang di lihatnya adalah salah. Namun foto itu sama sekali tidak berubah, kini yang ada wajah Raymond yang berubah menjadi memucat dan panik.
Tangan kanan Raymond memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, kilasan peristiwa tergambar di benaknya saat seorang perempuan menggapai kakinya dengan tangan yang di penuhi darah. Perempuan itu berada di dalam mobil yang sudah terbalik, dengan sisa kekuatannya dia meminta bantuan Raymond yang berdiri tepat di samping mobil yang terbalik itu.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...