
Suasana mendadak menjadi hening, Baron kembali berdiri dari tempatnya duduk lalu melangkah mendekat ke arah Leon dengan raut wajah penuh kebencian.
“Ojisan, Jangan percaya dengan perkataan dokter itu, Luna masih hidup dan aku sangat yakin dia akan... “ Ujar Leon perlahan terdiam saat Baron bersikap dingin.
“PERGI...” ujar Baron.
“ Ojisan... “ panggil Leon membuat Baron tidak dapat menahan diri lagi, dia menatap ke arah Jason yang berdiri tidak jauh dari Leon juga dia.
Jason mengerti arti tatapan Baron segera menghampirinya,
“Ojisan... “ panggil Leon sekali lagi.
Baron sama sekali tidak mengindahkan panggilan Leon, tangan kanannya terangkat mengode pada Jason yang langsung mengerti.
Tangan Jason lalu merogoh ke balik jas belakang mengambil senjata laras pendek yang tersimpan di punggung, senjata itu di berikan Jason ke tangan Baron. Jason menatap dingin ke arah Leon sejenak, lalu di mundur beberapa langkah.
Leon menatap senjata yang di pegang oleh Baron,
“PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA” ujar Baron kembali menyuruh Leon untuk meninggalkan tempat itu, tapi Leon yang keras kepala tentu saja tidak mau beranjak.
“tapi ojisan, Luna...”
Dorr....
Perkataan Leon terhenti saat Sebuah tembakan terlepas dari senjata yang di pegang oleh baron, peluru itu melesat menembus lengan kanan kekar Leon.
“AAARKKHH...” Leon meringis kesakitan, tangan kirinya langsung memegangi lengan yang tertembus oleh peluru sambil menatap ke arah Baron.
“oo... ojisan” Leon masih berharap Baron untuk tidak menyuruhnya pergi.
Dorrrr....
Kembali sebuah tembakan di lepaskan Baron, namun tembakan itu sama sekali tidak mengenai tubuh Leon. Peluru itu melesat melewati kepala samping kiri Leon lalu menembus dinding rumah sakit yang berada di belakangnya, Pria tampan itu terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
“kamu masih beruntung tembakanku meleset, tapi tembakan ku selanjutnya tidak akan meleset... PERGI.... TINGGALKAN TEMPAT INI SEKARANG” ujar Baron dingin, tangannya yang memegangi senjata masih terarah tepat ke kepala Leon.
“maaf... ojisan, hah hah ... tapi.. aaaku tidak....” ucapan Leon terputus saat Baron kembali menarik pelatuk senjata, pria tampan itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Tidak ingin suasana semakin kacau dan keadaan Leon semakin parah, Hugo dan Adam segera menarik Leon untuk mengikuti perintah Baron.
“Leon, “ panggil Adam mengalihkan tatapan Leon ke arahnya, dia lalu menggelengkan kepala perlahan menandakan jika situasi sudah tidak bersahabat.
"Tidak, aku masih ingin di sini. Luna sedang menunggu ku” ujar Leon menolak pergi.
Sikap keras kepala Leon membuat Baron semakin tidak senang, kilatan matanya sudah sangat ingin melepaskan tembakan tepat di kepala Leon. Hugo segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan sahabatnya,
“Sorry bro” ujar Hugo yang langsung memukul kuat tepat di dahi Leon.
Tiba – tiba saja pandangan Leon menggelap dan dia pun tidak sadarkan diri, Hugo dan Adam dengan sigap memegangi tubuh Leon yang lemah.
“maaf, Baron sama. Kami akan pergi sekarang... ” ujar Adam sebelum mereka beranjak pergi.
Baron sama sekali tidak menghiraukan ucapan Adam memilih pergi menghampiri dokter dan asisten yang terlihat semakin ketakutan, Hugo mengode ke arah Adam untuk membawa Leon pergi.
Lebih baik pergi sekarang juga, sebelum keadaan sohib kita semakin parah gumam Hugo dalam benaknya seakan bertelepati pada Adam, Setali tiga uang Adam langsung paham dan membantu Hugo membawa Leon.
“ oi Nyet...” panggil Adam masih memalingkan wajahnya ke arah belakang.
“apaan?!” ujar Hugo menatap monitor lift yang menunjukkan angka.
“menurut lu, apa mungkin Luna udah nggak ada?” tanya Adam penasaran, Hugo mengalihkan tatapannya ke arah Adam.
" jatuh dari ketinggian dengan dua luka tembakan, menurut gua kemungkinan Luna bakalan bisa bertahan sangat tipis” ujar Hugo yang menyangsikan jika Luna bisa selamat.
“Leon pasti akan semakin terpuruk saat sadar nanti” ujar Adam melihat ke arah Leon yang di papah bersama Hugo, mereka seketika terdiam seribu bahasa dan larut dalam pikiran masing – masing. Mereka berpikir mencari cara untuk menjelaskan dan membuat Leon mengerti jika Luna benar – benar sudah meninggalkan mereka semua.
Matthew tertunduk sedih, punggungnya bersandar pada dinding samping pintu ruang operasi. Hans mendekati cucunya yang bersedih lalu memegang pundak, Matthew menatap ke arah Hans.
Kedua mata Matthew terlihat berkaca – kaca, hatinya sangat sedih karena kehilangan perempuan yang membuatnya jatuh cinta.
__ADS_1
“Di mana cucuku sekarang? “ tanya Baron pada dokter yang masih terlihat ketakutan, asisten dokter itu memberanikan diri menatap ke arah Baron lalu kembali menundukkan kepala.
“pasien... Papapasien sed... Sedang... Itu” asisten itu terlihat gugup dan ketakutan.
“ bicara yang jelas” ujar Baron tegas.
“op op operasi pasien berhasil, keadaan nona Luna sekarang su su sudah stabil. Sesesesuai perintah anda, pasien sudah di pindahkan ke mobil yang berada di belakang gedung rumah sakit. Ka ka ka kami sudah mengatur sesuai dengan perintah anda” ujar Dokter itu gugup.
Pernyataan dokter itu membuat Matthew terkejut langsung menatap ke arah Baron,
“Ojisan... Apa maksud perkataan dokter ini? Kenapa.... “ belum selesai Matthew bertanya, Hans memegang pundak cucunya.
“tenanglah, ini sudah di rencanakan Baron” ujar Hans menatap ke arah Baron yang juga balas menatapnya penuh arti.
“maksudnya?” tanya Matthew bingung.
“nanti saja, Grandpa jelaskan semuanya” ujar Hans tenang.
Baron kembali menatap ke arah dokter dan asistennya,
“Kalian bisa melihat akibat apa yang akan terjadi pada kalian jika sampai kabar tentang cucuku bocor, tutup mulut kalian dengan rapat atau nyawa kalian termasuk seluruh keluarga kalian akan menghilang untuk selamanya” ancam Baron dengan sorot mata tajamnya, dokter dan asistennya langsung mengangguk cepat.Mereka segera undur diri untuk memastikan semua persiapan selesai tanpa ada kesalahan apa pun, Baron menganggukkan kepalanya lalu mendekat ke arah Hans sambil memeluk.
“Aku titipkan cucuku padamu” ujar Baron perlahan melepaskan pelukannya.
“Tenang saja, kamu jangan khawatir” ujar Hans membuat Matthew semakin kebingungan.
Alberto kembali menghampiri Baron dengan ponsel milik Baro yang terus berdering, tidak hanya ponsel milik Baron saja. Deringan ponsel itu bergantian dengan milika Jason juga Alberto, pada layar ponsel itu tertulis nomor serta nama yang di kenal Baron.
Hans menatap sahabatnya yang hanya memandangi layar ponsel,
“tidak di angkat?” tanya Hans.
“Tidak... belum saatnya, untuk menjauhkan Luna dari ‘dia’ jalan ini harus di tempuh. Jika Soo He tahu... tidak... rencana ini tidak boleh gagal” ujar Baron datar menatap ke arah Jason yang tengah menatap layar ponsel miliknya.
__ADS_1
“Jason” panggil Baron.
Jason melihat ke arah Baron sambil memperlihatkan layar ponselnya, pada layar ponsel itu tertulis nama Kiandra. Baron mengode pada Jason untuk tidak mengangkat ponsel itu sampai pekerjaan mereka semua selesai, agar tidak terjadi kesalahan Baron memerintahkan Alberto dan Jason untuk mematikan ponsel.