Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 117


__ADS_3

Mobil mewah itu meluncur dengan kecepatan sedang menuju kediaman utama,


“orang-orang yang baru masuk itu tangan kanannya target, dia sekarang.... hmmm... (melihat Simon yang masuk lalu keluar dengan wajah ketakutan) Lun, sepertinya target mo ketemuan ama bokapnya ntu mak lampir. Bentaran Lun....” terdengar oleh Luna suara keyboard yang di tekan cepat oleh Kiandra.


Baron tampak mengetik sesuatu di ponselnya lalu mengirim ke nomor yang di tuju olehnya, setelahnya ponsel yang di pegangnya di simpan kembali ke dalam saku jas miliknya.


Luna masih menunggu laporan dari Kiandra, dia mengambil ponsel miliknya yang ada dalam tas kecil yang di pegangnya.


“dari data-data yang aku lihat sekarang ini, mereka anak buah dan tangan kanannya Bobby dan.... “ ucapan Kiandra terhenti saat melihat CCTV pada layar monitor itu.


“Dan?!” Luna menunggu Kiandra dengan penasaran dan kekepoan tingkat tinggi.


“Dan... semuanya beres sayangku” ujar Kiandra saat melihat dari layar monitor itu.


“good job Kia” ujar Luna hendak menonaktifkan sambungan telekomunikasinya dengan Kiandra.


“katakan pada Kia untuk bersiap dan minta Jason untuk mengantarnya menuju kediaman utama sekarang” ujar Baron membuat Luna mengurungkan niatnya untuk mematikan sambungan telekomunikasinya.


“Kia, setelah semua pekerjaan beres ojisan nyuruh kamu ke mansion utama sekarang, minta Jason untuk mengantar” ujar Luna.


“Oke baby... ampe ketemu di mansion” ujar Kiandra sambil mengakhiri sambungan telekomunikasinya dengan Luna.


Kiandra melanjutkan pekerjaannya memperhatikan CCTV di mana tangan kanan dan anak buah Bobby terlihat terkejut sekaligus marah, mereka pergi meninggalkan ruangan itu meninggalkan jasad Bobby begitu saja. Mereka menuju ke area belakang restoran di mana anak buah lainnya tengah menunggu perintah dan terus mengawasi Simon yang masih menunggu jemputannya.


Terlihat juga dari CCTV beberapa orang suruhan Baron sedang membereskan tubuh Bobby target Luna, tidak lupa pula mereka juga memperbaiki dan mengganti dengan cepat semua perabotan juga hiasan di ruangan itu.


Rekaman CCTV saat Simon masuk dan keluar dari ruangan target di simpan oleh Kiandra dengan aman,


Rekaman CCTV ini lebih baik aku simpan, siapa tahu nanti akan ada gunanya gumam Kiandra dalam hati. Kiandra membuka kembali ponsel Bobby yang di bajaknya, dia memastikan jika tidak ada sesuatu yang bisa membuat mereka dalam masalah.


Setelah semua layar monitor di matikan Kiandra, dia lalu melangkah keluar dari ruang kerja dan masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung menghampiri lemari untuk mengambil beberapa pakaian, tidak lupa laptop dan beberapa perangkat yang dibutuhkan di masukkan ke dalam tas.

__ADS_1


Hmmm... semuanya udah... oke let’s go... upss lupa lagi.... gumam Kiandra dalam hati teringat dengan pakaian yang harus di kenakan untuk pada upacara peringatan di kediaman Baron. Pakaian putih dan di kombinasikan dengan warna hitam di simpan dalam tas yang sudah di penuhi dengan barang dan pakaian, setelah itu Kiandra melangkah menuju pintu kamarnya.


Kiandra yang hendak keluar terkejut saat Jason berdiri tepat di depan pintu, sebelah tangannya terangkat hendak mengetuk pintu kamar itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Jason segera membantu Kiandra untuk membawa tas yang di peganginya, Jason menuruni anak tangga di ikuti Kiandra yang berjalan di belakangnya. Sebelum memanggil Kiandra di kamarnya, Jason mendapat pesan dari Alberto memintanya untuk kembali ke kediaman utama bersama Kiandra.


***


Mobil milik Simon baru saja memasuki area belakang restoran, sesekali dia melihat ke sekeliling tempat itu memastikan tidak ada siapa pun. Supir Simon turun dari mobil lalu membukakan pintu di bangku penumpang, tanpa membuang waktu Simon segera masuk dan duduk di dalam mobil itu.


Setelah menutup pintu di samping Simon, supir itu bergegas menaiki dan duduk di belakang kemudi.


“jalan” ujar Simon kembali melihat ke kanan ke kiri. Baru saja mobil itu akan melaju sebuah mobil hitam segera menghalangi laju mobil itu, Supir Simon segera menginjak rem untuk menghindari tabrakan. Simon yang duduk di bangku penumpang mencium keras belakang kursi yang di duduki oleh supirnya.


“dasar Bo**h, kamu bisa menyetir atau tidak” ujar Simon sambil mengusap hidungnya yang membentur bangku kemudi.


“maaf tuan besar, tapi itu...” Supir itu meminta maaf sambil menunjuk ke arah mobil yang menghalangi jalan mereka. Simon melihat ke arah depan dengan tatapan tidak senang, dia segera turun dari mobil lalu melangkah menuju mobil yang menghalangi itu.


DUG...DUG...DUG...


“WOI... MINGGIR. MOBIL KALIAN MENGHALANGI JALAN KU, KALIAN MINGGIR SEKARANG JUGA ATAU AKU AKAN MENABRAK MOBIL KALIAN” ujar Simon kesal sekaligus emosi tingkat dewa. Orang-orang yang berada dalam mobil sama sekali tidak menanggapi bahkan membiarkan Simon begitu saja, tangan Kanan Bobby keluar dari pintu belakang dan melihat ke arah Simon yang masih berusaha untuk menyuruh mobil itu pindah.


Tangan kanan Bobby mengode ke arah anak buahnya untuk segera meringkus Simon, mereka segera bertindak menghampiri Simon yang berdiri membelakangi.


“WOI... MINGGIR...” ujar Simon kembali memukul kuat kaca mobil itu, orang yang berada dalam mobil melihat kedatangan rekan-rekan mereka. Mereka membuka kunci mobil itu lalu membuka pintu, Simon merasa dirinya menang dan lebih berani dari mereka.


Anak buah tangan kanan Bobby yang turun dari mobil menatap dingin ke arah Simon yang akan melabrak mereka,


“EMANG INI JALAN PUNYA BAPAK MOYANG KALIAN HAH... SEENAKNYA KALIAN MENGHALANGI JALAN KU. PINGGIRIN MOBIL BUTUT KALIAN SEKARANG” bentak kasar Simon merasa di atas angin.


Anak buah tangan kanan Bobby yang berdiri di belakang Simon meraih sebuah batang besi yang ada di samping tempat pembuangan daur ulang, dengan sekuat tenaga batang besi itu terayun kuat dan memukul tepat pada bagian belakang Simon.


BUUUGHH...

__ADS_1


Pukulan itu terdengar cukup keras, seketika Simon berdiri mematung dengan kepala terasa begitu pening.


GEDEBUUUUG....


Seketika itu juga tubuh Simon langsung roboh, supir yang berada dalam mobil Simon segera turun untuk membantu tuannya.


“Tuan besar... tuan besar...” ujar supir itu menghampiri Simon yang sudah tidak sadarkan diri. Supir Simon menatap ke arah orang-orang bersetelan hitam itu,


“kalian siapa? Kenapa kalian memukuli tuan besar saya, tolong... tolong... “ teriak supir Simon mencari pertolongan di area belakang restoran yang sepi.


Tangan kanan Bobby mengode ke arah anak buah lainnya untuk segera membereskan supir Simon, anak buah itu mengeluarkan sebuah belati cukup besar dan langsung di ayunkannya ke arah supir Simon yang masih berteriak dan berusaha mencari pertolongan.


JLLEEEB...


Belati menancap tepat di atas dada supir Simon yang terlihat terkejut dengan apa yang terjadi, matanya melihat ke arah pisau yang menancap. Darah segar perlahan mengalir dan membasahi baju yang di kenakannya, anak buah itu lalu menarik pisau belati itu kembali hingga membuat darah segar semakin mengucur deras. Supir Simon roboh seketika pandangannya mulai mengabur, kedua tangannya memegangi bekas luka tusukan itu. Supir Simon mencoba merangkak perlahan menuju mobil Tuannya, namun anak buah itu kembali menancapkan belati ke area punggung Supir itu.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2